Senin, 23 November 2009

10 Persen Saja


Sepuluh Persen Saja
Hasil Korupsi Diselamatkan,
Rakyat Makmur

Bicara anti korupsi di Indonesia, rasanya ada yang kurang kalau tidak menyebut tokoh ini. Teten Masduki.
Bukan semata karena komentar-komentarnya yang sering dijumpai di media massa berkaitan dengan kasus-kasus korupsi, tapi juga lantaran keistiqomahan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) ini dalam mengkampanyekan dan mengadvokasi masyarakat Indonesia untuk ‘benci’ korupsi. Dan itu dilakukan jauh sebelum kata korupsi menjadi wacana publik seperti sekarang. Pada masa ketika resiko dan tekanan rezim penguasa masih cukup kuat.
Maka tak heran, karena kiprahnya itu ia mendapat perhatian dari berbagai pihak. Termasuk dari dunia internasional. Terakhir, Teten mendapatkan penghargaan bergengsi tahunan, Ramon Magsaysay Award 2005 dari Filipina. Sebuah penghargaan yang diberikan kepada mereka yang dianggap telah memberi sumbangsih besar bagi kemanusiaan. Sebelumnya Teten juga pernah dianugerahi Suardi Tasrif Award 1999.
Ditemui selepas menghadiri Seminar mengenai Budget Journalism yang diselenggarakan BIGS kepada BUJET, blak-blakan pria yang berpenampilah sederhana ini bicara tentang korupsi di negeri ini.
Anda sudah lama memantau korupsi di Indonesia, bagaimana pendapat Anda setelah diadakan beberapa kali pergantian pemerintah?
Kalau saya lihat, dari semenjak jaman Presiden Habibie hingga Presiden Megawati, korupsi baru sekedar wacana. Pada tingkat kebijakan hanya membuat institusi-institusi baru, lalu memperbaiki Undang-undang Anti Korupsi, kemudian pembentukan KPK. Apakah program ini dijalankan atau tidak, masih diragukan atau belum meyakinkan. Termasuk pada masa Presiden SBY ini.
Alasannya?
Karena yang terjadi bukan perbaikan pada institusinya. Karena yang terjadi lebih pada penindakan hukum. Artinya yang diperbaiki pun hanya out putnya. Orientasi pada out put itu efektifnya hanya untuk kasus-kasus tertentu saja.
Bukankah sekarang ada KPK, apakah menurut anda KPK ini tidak akan efektif juga dalam memberantas koruptor?
Kalau dilihat dari wewenangnya KPK itu memang luar biasa. Saya kira KPK itu mestinya menjadi institusi hukum yang berada di depan. Tapi dengan sumber daya yang sekarang, KPK masih memerlukan banyak waktu. Selain itu tergantung juga pendekatan yang akan dipakai oleh KPK. Kalau sekarang, kelihatan pendekatannya masih sama dengan kejaksaan, kepolisian. Walaupun ada beberapa varian, misalnya penangkapan. Itu memang membuat orang agak takut.
Jadi apa yang bisa membuat jera para koruptor?
Menurut saya kalau hanya ditangkap, diadili, pendekatan orang per orang di hukum tidak cukup memadai. Menurut saya yang baik adalah pendekatan konprehensif. Pintu-pintu yang menyebabkan terjadinya kebocoran itu harus ditutup, system-sistem dan kebijakan yang rentan korupsi juga harus diperbaiki.
Kalau begitu, dengan kondisi sekarang, bisa disebut Indonesia masih jauh untuk bebas dari korupsi?
Ya begitu. Karena belum ada keamanan politik yang kuat untuk memperbaiki seluruh system. Penangangan korupsi itu bukan hanya dari pendekatan hukum saja.
Sebagai seorang lama beraktivitas di dunia anti korupsi, pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 6 Mei 1963 ini mengaku pernah merasa suntuk dan lelah. Bukan hanya karena faktor tekanan serta upaya penyuapan, tapi bisa karena rasa frustasi lantaran hasil yang dicapai tidak maksimum. “Akibatnya kita ingin lari dari masalah tersebut,” katanya.
Karena itulah menurut dia, bagi seorang aktivis anti korupsi musuh terbesarnya bukan lain adalah diri sendiri.
Soal intimidasi sebagai aktivis, dia tidak mau mengomentari. Cukup dirinya saja yang tahu. Alasannya Teten ingin ingin terus membangun keberanian masyarakat untuk memberantas korupsi tanpa perlu dirisaukan soal intimidasi Mmengungkapkan itu bisa berarti menurunkan spirit dan keberanian publik.
Pria lulusan IKIP Bandung ini juga tidak mengkhawatirkan akan ‘dimunirkan’. “Saya tidak takut sebab saya melakukan ini tanpa pamrih, termasuk saya tidak takut kehilangan sesuatu, saya tidak mengharapkan atau menginginkan sesuatu selain menghilangkan korupsi di Negara ini,” katanya.
Sepertinya pekerjaan anda telah diakui, buktinya anda telah menerima Magsasay Award. komentar anda?
Sebenarnya penghargaan itu adalah sesuatu hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Barangkali itu yang harus kita maknai sebagai dorongan untuk rakyat Indonesia dalam hal melawan korupsi. Kalaupun saya usaha kita ini nantinya membuahkan hasil, penghargaan ini merupakan dorongan untuk bekerja lebih keras dan untuk belajar lebih pintar.
Saya melihat penghargaan ini simbolik, untuk gerakan masyarakat dalam melawan korupsi. Jika dilihat dari gerakan masyarakat saja sudah luar biasa meskipun semisal law enforcement-nya lemah, partikelnya rendah tetapi masyarakat tidak pernah berhenti. Jadi menurut saya reward itu adalah simbolik untuk gerakan masyarakat tadi.
Menurut anda seriuskah pemerintah sekarang dalam memberantas korupsi?
Saya melihat, pemberantasan korupsi bagi pemerintah hanya pada pencitraan semata yaitu pencitraan politik.
Pada tahap awal, kira-kira apa alasan anda terlibat dalam gerakan anti korupsi ini?
Alasannya, kita geram karena pemerintah yang dahulu diam saja tidak berbuat apa-apa padahal korupsi menjadi salah satu masalah besar negara. Kita geram karena semua diam saja.
Menyinggung pengeluarannya sebagai seorang aktivis, Teten enggan menyebutkannya. Bapak dua anak ini cuma bilang cukup. Bahkan sangat cukup. “Sangat cukup dalam pengertian pola hidup kita tidak mewah,” katanya. Selain dari kantor, Teten memperoleh penghasilan dari kerja-kerja profesionalnya, yakni menulis, menjadi pembicara, dsb
Anda punya harapan apa terhadap masalah korupsi di Indonesia saat ini?
Saya pikir jika bangsa ini dapat mengurangi tindak korupsi hanya sepuluh persen saja, rakyat kita makmur, pendidikan bisa gratis dan kesehatan bisa gratis.
Mungkinkah yang cuma sepuluh persen itu bisa dicapai?
Ya itu tadi, menurut saya, pertama harus ada tindakan komprehensif membenahi sumber-sumber pendapatan negara dari berbagai kebocoran. Pada tingkat pelaksanaanya juga harus mulai dibenahi semua sistem yang rentan terhadap penyimpangan. Kedua, harus ada tindakan sesuai dengan hukum jika terjadi adanya penyimpangan.
Dua hal itu saja kalau diterapkan akan menjadi resep yang bagus dalam memberantas korupsi selain harus ada juga kemauan dan keberanian. Tidak cukup hanya dengan kebaikan Bapak SBY ataupun kebaikan pemerintah. Apalagi dalam politik itu kan selalu ada kepentingan.***
- marina s nugraha/hud.

GELAR PALSU dan KEPRIBADIAN

Oleh Johanes Papu
Team e-psikologi
Jakarta, 20 September 2002
Seringkali kita terheran-heran ketika seseorang yang kebetulan kita kenal dan sebelumnya tidak memiliki gelar apa-apa tiba-tiba sudah menyandang gelar setingkat Magister atau Doktor. Lebih heran lagi jika hal itu terjadi pada individu yang tinggal di kota dimana tidak ada Universitas resmi yang menyelenggarakan program setingkat S2 (magister) atau S3 (doktor). Komentar yang keluar dari sebagian orang adalah: kapan kuliahnya? Kok gampang amat dapat gelar doktor? Tesisnya tentang apa ya? Kok bisa dia dapat gelar itu padahal dia khan cuma tamatan SMU?
Komentar-komentar tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor) sungguhan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan, seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat S1 harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi: 4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas, dsb. Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang akan bisa meraih gelar yang diingingkannya karena ia masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu, membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis. Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar akademik yang pantas. Membaca berbagai buku teori, melakukan penelitian, menguji hipotesis, mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk jenjang pendidikan S2 adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10 tahun. Lamanya waktu yang harus ditempuh tersebut , bagi orang dewasa apalagi jika kuliah sambil bekerja, bukanlah suatu hal yang mudah. Oleh karena itu tidak jarang bahwa beberapa mahasiswa tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya
Kondisi tersebut amat berbeda dengan program S2 atau S3 yang ditawarkan banyak "lembaga pendidikan" model "instant" yang membuka program-program di hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir, memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya jutaan rupiah( contoh: Rp 5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan Rp 20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi dari pihak penyelenggara kapan ada "pertemuan" dan jadwal wisuda. Mahasiswa yang mengikuti program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan atau menyelesaikan beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang gelar. Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie Instant. Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah "jual beli gelar". Jual beli gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada seseorang yang telah berjasa dan memiliki prestasi luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan) pun tidak luput dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika suatu saat kita menemukan ternyata salah seorang rekan atau kenalan kita tiba-tiba sudah menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu dengan pasti orang tersebut tidak memiliki prestasi luar biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat
Beberapa pertanyaan yang perlu kita kemukakan untuk menyikapi fenomena jual beli gelar ini diantaranya adalah faktor apakah yang menyebabkan individu berlomba-lomba untuk memperoleh gelar sampai-sampai harus menggunakan jalan pintas dengan cara membeli gelar tersebut. Lalu bagaimana sebenarnya karakteristik para pembeli gelar tersebut jika dilihat dari kacamata psikologi. Tidakkah ada rasa malu dan tenggangrasa dari para pembeli gelar tersebut terhadap para individu yang benar-benar memperoleh gelar dengan cara menuntut ilmu dan mengikuti kaidah keilmuan yang berlaku? Apakah mereka mengalami suatu gangguan kepribadian? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang ingin saya jawab dalam artikel ini
Penyebab
Gelar adalah Lambang Status
Di sebagian masyarakat Indonesia yang cenderung masih memiliki pola pikir feodalistik, gelar (degree) merupakan suatu kebanggaan luarbiasa dan sekaligus lambang status sosial pemiliknya di dalam masyarakat. Tidaklah mengherankan jika seseorang yang telah berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh gelar akan disambut oleh pihak keluarga bagaikan pahlawan yang baru kembali dari medan perang. Serangkaian upacara dan selamatan/syukuran dengan mengundang relasi atau bahkan orang sekampung dilakukan untuk menyambut sang sarjana/magister/doktor tersebut. Tidak sebatas itu saja, ucapan selamat pun mengalir dan dipamerkan di koran-koran atau majalah
Tidak ada yang salah dengan tradisi tersebut diatas, asalkan memang sang penerima gelar benar-benar memperolehnya dengan cara yang layak. Sambutan maupun ucapan selamat merupakan suatu hal yang wajar dan pantas diterima sebab untuk memperoleh gelar yang asli memang ibarat memenangkan pertempuran. Bayangkan saja, berapa banyak peserta program S2 atau S3 yang harus berpisah dengan anggota keluarganya, tak jarang ia harus menggadaikan harta benda miliknya dan berjuang seorang diri demi memperoleh gelar dari sebuah universitas ternama di dalam maupun di luar negeri. Oleh karena itu sangatlah wajar jika mereka menganggap bahwa gelar yang diperolehnya merupakan suatu prestise dan kebanggaan tersendiri karena dihasilkan melalui kerja keras dan ketekunan selama bertahun-tahun. Sayangnya jika tradisi seperti ini juga berlaku untuk penerima gelar palsu (gelar belian) maka esensi suatu gelar yang seharusnya lebih mengutamakan bobot ilmu dan karakter pribadi yang dimiliki oleh sang pemegang gelar tersebut, daripada sekedar ijazah atau nama gelar yang mentereng, menjadi luntur
Mutu Pendidikan Nasional
Masyarakat sudah sangat paham dengan mutu pendidikan di negeri ini. Posisi SDM dan peringkat perguruan tinggi kita merosot amat rendah dibanding dengan negara-negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Oleh karena itu, bagi orang-orang berkantong tebal dan berpikir praktis mungkin akan timbul pemikiran untuk apa capek-capek meraih kesarjanaan formal yang hasilnya juga tidak membuat "lebih pintar", tidak siap kerja, lama selesainya, dan biaya yang dikeluarkan pun tidak jauh berbeda dengan "sarjana yang dibeli". Orang-orang seperti inilah yang kemudian tanpa ragu dan malu, memejeng gelar palsu. Hal ini bisa terjadi karena masyakarat terkadang sulit membedakan mutu antara gelar sarjana sungguhan dengan gelar sarjana belian.
Tuntutan Dunia Kerja
Tuntutan dunia kerja yang lebih menggantungkan penilaian pada sertifikat, ijazah dan gelar juga semakin menguatkan pendapat bahwa ijazah dan gelar merupakan jaminan kesuksesan dalam berkarir. Tidaklah menjadi rahasia lagi bahwa di Instansi-instansi tertentu, ijazah dan gelar adalah modal utama untuk kenaikan pangkat dan penghargaan (terlepas dari apakah itu gelar formal atau palsu) dibandingkan dengan performa kerja pegawai. Oleh karena itu jangan heran jika para pejabat di instansi tersebut tiba-tiba beramai-ramai mengikuti program S2 atau S3 kelas jauh dari universitas tertentu dalam rangka untuk mendapat promosi jabatan.
Kepribadian Sang Individu
Adanya gangguan kepribadian tertentu yang dialami seseorang dapat menyebabkan individu tersebut tidak merasakan adanya suatu yang salah dengan perilaku membeli gelar. Bagi mereka hal ini merupakan suatu kesempatan untuk meraih impian yang diinginkanya dengan cara tercepat dan termudah
Kepribadian Narsisistik
Jika kita bertanya pada masing-masing individu maka saya yakin sebagian besar akan menjawab bahwa gelar "tidak bisa dibeli dengan uang". Gelar hanya dapat dibeli dengan ketekunan, kerja keras, kejujuran akademik, kematangan berpikir, kedewasaan, sikap pantang menyerah, berkutat dengan teori dan data, persisten, dan tidak ada jalan pintas. Tak ada gelar yang ditawarkan begitu saja. Proses seleksinya sangat ketat, bukan masuk tanpa test dan cukup mengisi formulir saja. Teman-teman yang telah melalui proses ini pasti merasakan betapa sulitnya menuntut ilmu dan memperoleh gelar akademik.
Meski semua orang tahu bahwa gelar merupakan suatu yang membanggakan dan lambang status sosial, namun banyak juga individu yang justru tidak mau tahu dengan gelar yang diperolehnya. Bagi individu semacam ini gelar atau ijazah tidak lebih dari sebatas tanda penghargaan dan pengakuan atas jasa atau hasil jerih payahnya selama menuntut ilmu sebagai persyaratan memperoleh gelar tersebut. Individu-individu seperti ini tidak silau dengan gelar, bahkan sedapat mungkin mereka tidak akan mencantumkan gelar di depan atau dibelakang namanya. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh merupakan segala-galanya. Oleh karena itu mereka lebih banyak memperlihatkan karya nyata di bidang keilmuannya dengan cara memberikan pemikiran-pemikiran baru dan berusaha membantu orang lain sesuai dengan kompetensinya daripada menonjolkan gelar tersebut
Individu yang tidak silau dengan gelar seperti yang telah saya sebut diatas amat berbeda karakternya dengan mereka yang menganggap bahwa gelar adalah segala-galanya. Bagi individu seperti ini ijazah dan gelar adalah modal hidup sehingga harus diperoleh (apapun caranya) dan jika sudah didapat maka harus diketahui oleh semua orang. Bagi mereka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak lagi merupakan suatu hal yang penting. Individu-individu jenis inilah yang dengan bangga memasang iklan-iklan ucapan selamat dengan space dan tulisan besar di koran-koran. Lucunya ucapan selamat tersebut seringkali justru datang dari dirinya sendiri. Artinya ucapan selamat tersebut jika ditelusuri lebih lanjut ternyata dikirim oleh perusahaan-perusahaan miliknya atau sanak keluarganya sendiri
Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri si pembeli gelar yang tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah tersebut di depan orang lain. Apakah mereka mengalami gangguan kepribadian? Menurut pandangan saya, jika pembelian gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat dikatakan bahwa individu tersebut memang mengalami gangguan kepribadian. Namun demikian jika individu dipengaruhi oleh cara-cara yang tidak profesional atau dibohongi oleh para penyelenggara program gelar palsu maka tentu tidak adil jika dikatakan bahwa individu pembeli gelar tersebut mengalami gangguan kepribadian.
Untuk membedakan antara individu pembeli gelar karena dibohongi oleh pihak ketiga dengan individu yang dengan sadar memang ingin menempuh jalan pintas untuk memperoleh gelar demi ambisi pribadi dan mengabaikan rasa keadilan, maka saya mengajak pembaca untuk melihat salah satu karakteristik gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian yang dimaksud adalah Gangguan Kepribadian Narsisistik atau Narcissistic Personality Disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain (DSM-IV). Perasaan-perasaan tersebut mendorong mereka untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara apapun juga
Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders - Fourth Edition) individu dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian narsissistik jika ia sekurang-kurangnya memiliki 5 (lima) dari 9 (sembilan) ciri kepribadian sebagai berikut:
1. Merasa diri paling hebat namun seringkali tidak sesuai dengan potensi atau kompetensi yang dimiliki (has a grandiose sense of self-important). Ia senang memamerkan apa yang dimiliki termasuk gelar (prestasi) dan harta benda.
2. Percaya bahwa dirinya adalah spesial dan unik (believe that she or he is special and unique).
3. Dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati (is preoccupied with fantasies of unlimited success, power, briliance, beauty, or ideal love).
4. Memiliki kebutuhan yang eksesif untuk dikagumi (requires excessive admiration).
5. Merasa layak untuk diperlakukan secara istimewa (has a sense of entitlement).
6. Kurang empathy (lacks of empathy: is unwilling to recognize or identify with the feelings and needs of others).
7. Mengeksploitasi hubungan interpersonal (is interpersonally exploitative).
8. Seringkali memiliki rasa iri pada orang lain atau menganggap bahwa orang lain iri kepadanya (is often envious of others or believes that others are envious of him or her).
9. Angkuh (shows arrogant, haughty behavior or attitudes).
Meskipun mungkin tidak semua ciri tersebut diatas dimiliki oleh para pembeli gelar namun setidaknya beberapa ciri sudah cukup menunjang adanya gangguan kepribadian tersebut. Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan beberapa ciri kepribadian yang biasanya dimiliki oleh individu-individu yang seringkali mengambil jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gelar, sebagai berikut:
Merasa Diri Paling Hebat
Jika seseorang merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka ia tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra / image yang dibentuknya sendiri, individu rela menggunakan segala cara. Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka ia tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh "diri sendiri" dianggap bukan suatu hal yang aneh
Fantasi Kesuksesan & Kepintaran
Pintar dan sukses adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada individu pembeli gelar sangatlah mungkin mereka menganggap bahwa kesuksesan yang telah mereka capai (cth: punya jabatan) belum cukup jika tidak diikuti dengan gelar akademik yang seringkali dianggap sebagai simbol "kepintaran" seseorang. Sayangnya untuk mencapai hal ini mereka seringkali tidak memiliki modal dasar yang cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk sekolah lagi. Hal ini membuat mereka memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).
Sangat Ingin dikagumi
Pada umumnya para pembeli gelar adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan "simbol-simbol" yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik. Obsesi untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman tersebut.
Kurang Empathy
Para pembeli gelar pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar tersebut dengan penuh perjuangan. Jika mereka memiliki empati pastilah mereka dapat merasakan betapa sakit hati para pemagang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah
Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan
Setiap individu yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu mereka tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu keistimewaan yang layak mereka dapatkan.
Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik
Pada umumnya para penyandang gelar palsu sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka. Jadi tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada seseorang yang membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya maka ia akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan mereka akan menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik.
Kepercayaan Diri yang Semu
Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan orang lain mereka tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya mereka justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal dasar yang kuat. Para individu yang membeli gelar umumnya adalah mereka yang takut bersaing dengan para mahasiswa biasa. Mereka kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.
Tindakan
Dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul di masa mendatang sebagai akibat maraknya jual beli gelar, maka perlu diadakan tindakan-tindakan nyata agar negara ini tidak kebanjiran gelar yang hebat-hebat padahal isinya kosong. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
Individu
Segala keputusan dan tindakan yang akan dilakukan oleh individu sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu individu hendaknya menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk mencapai gelar kesarjanaan. Semua itu harus dicapai melalui tahapan-tahapan tertentu yang panjang. Jika anda memang tidak memiliki kapasitas sebagai seseorang yang layak untuk menyandang suatu gelar akademik (karena tidak pernah melalui tahapan yang dipersyaratkan) maka hendaklah tidak menipu diri dengan cara membeli gelar. Jika itu anda lakukan secara sadar maka hal tersebut adalah ibarat anda berjalan dengan menggunakan jubah raja yang kebesaran. Anda mungkin merasa diri hebat karena memakai jubah yang mahal dan bagus meskipun kedodoran. Tetapi jangan lupa bahwa orang lain pasti tahu bahwa jubah itu bukan untuk anda. Seandainya pun ada rekan atau relasi yang memuji atau menyanjung anda ketika menggunakan jubah tersebut, saya yakin bahwa orang tersebut tidak lebih dari seorang penjilat atau hanya mau berbasa-basi untuk menyenangkan anda. Inikah yang anda inginkan? Jika tidak maka raihlah gelar dengan cara-cara yang seharusnya
Masyarakat
Masyarakat Indonesia memiliki peran penting terhadap maraknya jual beli gelar. Dalam hal ini masyarakat dapat dibagi dalam 4 (empat) kategori
1. Akademik. Masyarakat akademik dapat mempelopori pemberantasan gelar palsu dengan cara meningkatkan mutu pendidikan (ilmu pengetahuan & pembentukan kepribadian) dan tidak semata-mata berorientasi pada materi. Hal ini mengimplikasikan bahwa para pendidik yang ada di perguruan tinggi benar-benar mereka yang telah diseleksi secara ketat dan memenuhi syarat sebagai pendidik. Selain itu Pembukaan program-program S2 & S3 kelas jauh hendaknya dipertimbakan secara cermat, bukan semata-mata demi kepentingan mengejar pendapatan.
2. Media Massa. Media massa dapat membantu upaya pemberantasan jual beli gelar dengan cara menolak menerbitkan iklan-iklan jual beli gelar yang dipasang oleh lembaga penjaja gelar palsu.
3. Perusahaan. Dalam dunia kerja atau industri cara-cara pemberantasan gelar palsu adalah dengan tidak mengutamakan ijazah & gelar sebagai dasar kenaikan pangkat atau pun penghargaan, tetapi lebih kepada kompetensi yang dimiliki dan kinerja. Selain itu ijazah atau pun gelar yang diperoleh hendaknya diperiksa dengan ketat sehingga gelar palsu tidak disamakan dengan gelar sungguhan. Tidak mempekerjakan karyawan yang membeli gelar atau memperoleh gelar secara instant merupakan langkah jitu yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah "diploma diseases".
4. Umum. Masyarakat umum dapat berperan dalam pemberantasan gelar palsu dengan cara tidak mempromosikan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada teman-teman atau pun keluarga, tidak memamerkan gelar yang diperoleh oleh anggota keluarga atau sanak saudara secara berlebihan seperti memasang ucapan selamat secara besar-besaran di surat kabar, melaporkan lembaga-lembaga penjual gelar palsu kepada pihak berwenang, dll.
Pemerintah
Pemerintah dapat secara aktif melakukan tindan-tindakan baik preventif maupun kuratif untuk mencegah maraknya jual beli gelar palsu. Cara-cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah:
1. Pembuatan kurikulum pendidikan nasional yang lebih seimbang antara pembentukan karakter individu dan ilmu dan pengetahuan. Selain itu rencana strategi pendidikan hendaknya lebih berorientasi pada pengisian lapangan kerja daripada hanya berhenti sampai mendapat ijazah atau gelar saja. Dengan demikian maka setiap individu yang berhasil memperoleh gelar akan mendapatkan ilmu dan ketrampilan untuk bekerja di bidangnya. Dengan demikian masyarakat pasti akan dapat membedakan dan menghargai gelar yang diperoleh seseorang sehingga gelar palsu mungkin tidak laku lagi.
2. Menindak tegas penyelenggara-penyelenggara program S1 (sarjana), S2 (magister) dan S3 (doktor) yang menyimpang dari prosedur yang sebenarnya; seperti ketentuan jumlah SKS, tempat perkuliahan, proses belajar mengajar, dll.
3. Menghentikan praktek-praktek jual beli gelar yang diselenggarakan melalui studi jarak jauh yang banyak terjadi di kota-kota kabupaten maupun ibukota provinsi di Indonesia.
4. Menolak gelar-gelar yang diperoleh secara tidak pantas untuk keperluan kenaikan pangkat atau penghargaan di instansi-instansi pemerintah, sehingga para pejabat tidak berlomba-loma "mengambil" gelar
Seandainya hal-hal tersebut diatas dapat kita laksanakan maka niscaya praktek jual beli gelar ini akan dapat dikurangi. Jika tidak maka bisa-bisa lembaga pendidikan formal kita dipenuhi oleh lembaga-lembaga penjual gelar dan setiap orang dapat memiliki gelar secara cepat. Jika sampai demikian yang terjadi, lalu apa artinya gelar itu.
Negara ini sudah terlalu lama berada dalam kondisi yang tidak sehat. Di berbagai sektor kita dapat melihat carut-marut penyelenggaraan negara kita ini. Relakah kita jika dalam dunia akademik, yang katanya menjadi ujung tombak untuk memajukan sumber daya manusia, dikotori oleh praktek-praktek jual beli gelar yang sangat memalukan dan merupakan pembodohan bangsa ini? Dan relakah kita jika negara ini dibanjiri oleh para doktor yang ternyata sebagian besar adalah doktor honoris causa dari universitas-universitas yang tidak jelas juntrungannya? Jika tidak rela, mari segera mengambil tindakan nyata. (jp)

Komunitas Anti Korupsi Jangan Uang Jadi Ukuran Rasa (KAK JUJUR)


Minggu, 22 November 2009

Khotbah Korupsi

SERIAL KHOTBAH HARI MINGGU
Diterbitkan Oleh :
Departemen Komunikasi dan Informatika RI
Jakarta 2005
M enuju Masyarakat Anti Korupsi
Perspektif Kristiani
ii
TIM EDITOR
Pdt. (Em.) DR. Darius Dubut, MM
Rm. Aloys Budi Purnomo, Pr, MHum
Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD
Alfred Benedictus Jogo Ena, SS
Prof. DR. Musa Asy’arie
DESIGN/LAYOUT
SEDIA BARUS
iii
Puji Tuhan, akhirnya buku Serial Khotbah Hari Minggu MENUJU
MASYARAKAT ANTI KORUPSI Perspektif Kristiani telah berada di
tangan para pembaca, dan melengkapi serial khotbah sebelumnya dalam
perspektif Islam yang diterbitkan oleh Departemen Komunikasi dan
Informatika untuk percepatan pemberantasan korupsi. Mudah-mudahan buku
ini dapat menjadi hadiah Natal dan Tahun Baru bagi bangsa Indonesia.
Tekad pemerintah untuk memberantas korupsi sesungguhnya
merupakan tekad yang sudah bulat dan telah mendapatkan dukungan rakyat
di mana pun berada, tidak pandang suku, agama, suku, adat-istiadat maupun
daerah.
Hal tersebut di atas disebabkan, karena korupsi ikut menyengsarakan
kehidupan rakyat dalam berbagai aspek kehidupannya, baik ekonomi, sosial,
budaya, hukum maupun ketahanan negara. Kekayaan negara yang diambil
para koruptor, telah membuat kemampuan negara untuk membiayai
pendidikan dan peningkatan kesejahteraan rakyat menjadi berkurang. Di
samping itu, korupsi juga telah menciptakan kesenjangan kehidupan sosial
ekonomi, yang pada gilirannya menjadi ancaman bagi ketahanan suatu negara.
Karena itu, pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dengan pendekatan
hukum dan politik semata-mata, karena korupsi sudah berkaitan dengan
berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam kaitan ini, diperlukan suatu
pendekatan lintas disiplin lintas agama dan lintas budaya.
Salah satu yang harus diwaspadai bersama, bahwa dalam masyarakat
yang permisif, maka tindakan korupsi bisa saja menjadi sesuatu yang diterima
dan dianggap wajar saja, karena masyarakat yang sudah terbiasa hidup dengan
cara-cara yang menyimpang, mereka tidak mempunyai batasan moral yang
jelas, sehingga mereka tidak tahu lagi membedakan mana yang benar dan
mana yang salah. Jika ini terjadi, maka pemberantasan korupsi tanpa
transformasi nilai-nilai fundamental masyarakat adalah sesuatu yang tidak
mungkin dihindari.
SAMBUTAN
MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
iv
Dalam kaitan ini, maka transformasi nilai-nilai moral dalam suatu
masyarakat, tidak bisa melepaskan diri dari perspektif agama-agama, apalagi
bagi rakyat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang beragama. Agama
adalah sumber nilai-nilai moral yang tidak pernah kering.
Jika selama ini terjadi ironi dalam kehidupan masyarakat kita yang
beragama/tetapi ternyata tingkat korupsinya tinggi, maka dalam ironi tersebut
telah mencerminkan adanya konflik nilai-nilai secara aktual antara nilai-nilai
agama dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat yang cenderung permisif.
Dalam kaitan ini, maka agama harus mempertegas peranan moralitasnya.
Hal itu disebabkan karena tidak ada satu pun ajaran agama yang
memperbolehkan pemeluknya untuk melakukan tindakan korupsi. Maka
semua agama di Indonesia sesungguhnya terpanggil untuk memberikan
sumbangannya dalam mengatasi dan memberantas korupsi secara bersamasama.
Kesadaran para pemeluk agama-agama untuk memberantas korupsi,
seharusnya dibangkitkan agar dapat dijadikan landasan memperkuat ikatan
solidaritas dan kebersamaan antara umat berbagai agama dalam memberantas
penyakit masyarakat lainnya, sehingga agama-agama dapat memberikan
konstribusinya secara konkrit untuk memperkuat eksistensi dan kelangsungan
hidup negara kita, dengan memberikan landasan moral yang jelas dan kuat,
sehingga masyarakat kita tidak menjadi masyarakat yang permisif.
Karena itu, buku ini sesungguhnya diharapkan dapat menggugah
kesadaran umat beragama dengan menggali potensi agama-agama untuk
pembangunan kemanusiaan yang lebih adil, aman, damai, sejahtera dan bebas
dari korupsi.
Semoga buku ini bermanfaat adanya.
Jakarta, Desember 2005
SOFYAN A. DJALIL
v
PENGANTAR EDITOR
Pembaca nan budiman, murid-murid Tuhan Yesus yang terkasih.
Korupsi. Sebuah kata yang biasa. Sebuah kata yang kerap kita
dengarkan, baca dan saksikan setiap hari. Kita bahkan menjadi sangat akrab
dengan kata itu karena seringnya diberitakan di media massa baik cetak dan
audio visual. Namun dampak korupsi sangat besar bagi kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Korupsi telah merasuk aneka kehidupan
berbangsa dan bernegara. Bahkan sebagai negara, Indonesia masuk dalam
peringkat 5 besar dunia sebagai negara terkorup. Banyak pihak mengatakan,
korupsi telah membudaya. Korupsi telah menjadi budaya? Apakah karena
dilakukan penuh kesadaran oleh orang-orang yang berbudi? Atau karena
korupsi telah dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi, dari
orde ke orde (orde lama- orde reformasi)?
Kini, korupsi (juga kolusi dan nepotisme telah menggerogoti hampir
seluruh aspek kehidupan berbangsa baik secara apokrif maupun terangterangan.
Korupsi telah dilakukan dalam berbagai bentuk, uang, jabatan,
waktu. Akibatnya ketidakjujuran, ketidakdisplinan, kebohongan terjadi di
mana-mana baik oleh aparat birokrasi pemerintahan dan dewan perwakilan
rakyat, maupun masyarakat pada umumnya
Kalau zaman Orde Baru Korupsi dilakukan secara sentralistik (di pusat
kekuasaan), sekarang korupsi malah semakin merata di seluruh pelosok tanah
air. Kini, semakin banyak pihak yang berlomba untuk melakukan korupsi
(mumpung masih ada waktu, mumpung masih menjadi pejabat). Apalagi
dengan berlakunya otonomi daerah, korupsi bertumbuh kian subur bak
cendawan di musim hujan. Money Politics dan korupsi berjamaah pun kian
mewabah. Tiap daerah, tiap pejabat daerah seakan-akan berlomba untuk
melakukan korupsi dengan menyalahgunakan jabatan atau kepercayaan
masyarakat pada mereka.
vi
Betapa kita harus bersedih melihat tingkat para elit politik yang atas
nama rakyat melakukan manipulasi dan menggelapkan uang rakyat dengan
hal-hal yang bersifat hedonistis, konsumtif, materialistis dan pragmatis. Segala
cara dilakukan (lagi-lagi demi dan atas nama rakyat) untuk mengeruk
keuntungan sebesar-besarnya. Jabatan politis bukan lagi sebagai jabatan
ministerial kepada publik, tetapi sebagai kesempatan untuk “bayar utang alias
mengembalikan modal”. Lalu, uang rakyat digelapkan demi “rakyat” juga.
Berbagai upaya hukum yang dilakukan untuk menangkap dan
menghukum para koruptor tidak bergema sama sekali. Para koruptor kelas
kakap seringkali lolos dari perangkat hukum. Pemerintah dan aparat penegak
hukum masih bekerja setengah hati, hanya janji-janji belaka yang diberikan
kepada masyarakat.
Melihat kebuntuan penegakan hukum terhadap praktek korupsi yang
kian marak, maka kita mencoba mencari alternatif penyadaran terhadap
masyarakat melalui jalur agama. Agama, melalui fungsi profetisnya mencoba
menyuarakan dan melakukan empowering terhadap masyarakat untuk
meminimalisasi praktek korupsi dalam berbagai bentuk. Bentuk penyadaran
yang ditawarkan oleh Agama-agama adalah lewat renungan/khotbah tentang
anti korupsi. Penyadaran ini bisa bersifat individual juga komunal. Diharapkan
dengan membaca renungan/kotbah semacam ini, setiap pribadi baik sebagai
individu maupun komunitas mampu membangun kesadaran dan sekaligus
mewujudkan tindakan yang tidak koruptigf dalam berbagai bentuk baik secara
apokrif maupun transparan.
Buku kumpulan khotbah yang ada di tangan Anda ini, merupakan salah
satu wujud panggilan Gereja - melalui para penulis dari berbagai Gereja dan
Denominasi yang berkenan menyumbangkan seruan profetisnya - untuk ikut
membebaskan negara Indonesia dari kehancuran. Buku kumpulan khotbah
ini terdiri dari 48 judul. Mengapa 48 Judul? Semula kami rencanakan 50
judul, tetapi karena pertimbangan redaksional, maka dengan berat hati kami
terpaksa “menyimpannya di laci redaksi”. Meski demikian, kami berterima
kasih atas kesediaan para penulis memenuhi permintaan kami. Betapa besar
sumbangan dan perhatian para penulis untuk memenuhi panggilan profetis
Gereja untuk menyelamatkan, menyadarkan anak-anak Allah yang “tersesat”.
vii
Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Sumbangan profetis Anda sangat
membantu. Selain itu, diharapkan keempat puluh delapan (48) Khotbah Anti
Korupsi ini dapat digunakan selama 48 Minggu sepanjang tahun.
Pembaca nan budiman,
Buku yang dibagi dalam 7 bagian ini diawali dengan sebuah surat
dari seorang koruptor. Setelah membaca surat ini, pembaca bisa memutuskan
untuk meneruskan atau berhenti membaca buku ini. Bagian Pertama tentang
Sikap Hati dan Korupsi. Harus diakui, bahwa keputusan untuk korupsi atau
tidak berawal dari hati kita. Sebab di hatilah pertimbangan dan keputusan
apakah akan korupsi atau tidak berasal. Bagian kedua, berisi tentang
Ketamakan dan Korupsi. Orang yang tamak, rakus, loba akan mudah tergoda
untuk berbuat korup. Bagian ketiga tentang Kekayaan dan Korupsi. Situasi
hidup seseorang cukup menentukan apakah seseorang bisa menjadi koruptor
atau tidak. Tapi sekali lagi itu tergantung pada kedalaman nurani seseorang
apakah ia mau korupsi atau tidak. Bagian keempat tentang Kekuasaan dan
Korupsi. Benarlah kata pepatah, power tends to corrupt. Pembaca bisa
membuktikan sendiri apakah benar pepatah itu. Kita lihat bahwa dewasa ini,
batas antara kekuasaan dan korupsi sangat tipis. Bukankah orang-orang (para
pejabat) yang berkuasalah yang selama ini paling sering terlibat dan tertuduh
sebagai koruptor? Bagian kelima, kita akan melihat bahwa praktek suap yang
telah terjadi hampir bersamaan dengan adanya manusia di atas bumi ini,
adalah praktek korupsi yang paling sering terjadi. Praktek-praktek suap telah
“berjejaring” dalam kehidupan kita. Bagian keenam tentang Ketidakadilan
dan Korupsi. Memang, korupsi telah menyebabkan ketidakadilan di manamana
dan telah menyengsarakan begitu banyak orang. Maka dari itu Anda
diajak untuk memerangi korupsi mulai dari diri sendiri, keluarga dan
masyarakat terdekat. Bagian ketujuh, diharapkan orang tidak terus menerus
menjadi koruptor. Koruptor diharapkan bisa bertobat dan berbalik kembali
ke jalan Allah. Kalau ingin menggapai surga (hidup bebas, nama baik terjaga)
dan menjauhi neraka (penjara, kutukan masyarakat, tercemarnya nama baik)
segeralah bertobat.
viii
Akhirnya, menjadi nabi dan menjalankan tugas kenabian sebagai
orang Kristen adalah panggilan kita bersama. Maka berlombalah kita menjadi
nabi yang membenci korupsi tapi yang mengasihi dan mencintai koruptor.
Berilah mereka kesempatan untuk bertobat dan hidup layak sebagai anakanak
Allah.
Pembaca nan budiman, mari kita bersatu dan berandengan tangan
memerangi korupsi, namun membuka tangan dan hati untuk menerima
koruptor yang bertobat. Itulah kepentingan buku ini hadir di tangan Anda.
Selamat membaca. (abje)
Jakarta, Desember 2005
Tim Editor
ix
DAFTAR ISI
Sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika RI .............................. iii
Pengantar Editor ...................................................................................... v
Daftar Isi .................................................................................................. ix
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor: Mari Belajar Dari Zakheus
(P. F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI) ............................................................. xiii
BAGIAN I: SIKAP HATI DAN KORUPSI ....................................... 1
1. KORUPSI ADALAH PERSEKUTUAN DENGAN IBLIS
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 3
2. DI MANAKAH ALLAH YANG MENGHUKUM ?
(Pdt. DR. Henriette Hutabarat Lebang) ...................................... 10
3. WANITA YANG ENGKAU BERIKAN PADAKU
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 15
4. BERBAHAGIALAH ORANG YANG JUJUR HATINYA
DAN YANG BERBALIK DARI KETIDAKJUJURANNYA
(Rm. DR. Y.B. Prasetyantha, MSF) .............................................. 19
5. KORUPSI: BERTINGKAH A LA YUDAS ISKARIOT
(P. DR. Mateus Mali, CSsR) ......................................................... 23
6. OPTION FOR THE POOR DARI KAUM OPORTUNIS
(Alfred Benedictus J.E.) ................................................................ 28
7. MENIADAKAN KEPENTINGAN DIRI
(Bambang Pujo Riyadi, STh. MPD) ............................................. 34
8. ORANG YANG BERBAHAGIA TIDAK TERBELENGGU
OLEH HARTANYA
(Pdt. Prof. Drs. John Titaley, ThD) .............................................. 38
BAGIAN II: KETAMAKAN DAN KORUPSI .................................. 43
1. BERLAKU ADIL DAN JUJUR
(Pdt. DR. Andreas A. Yewangoe).................................................. 45
2. WASPADALAH TERHADAP SEGALA KETAMAKAN
(Nathanael) ................................................................................... 50
3. NABOT MATI KARENA KESERAKAHAN SANG RAJA
(Sr. DR. Gratiana Tafaib, PRR).................................................... 55
4. PENGHARAPAN HIDUP
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD) ............................................. 61
x
5. PENYALAHGUNAAN AMBISI MEMBAWA PETAKA
(Freddy Benedictus) ..................................................................... 66
6. KORUPSI PERBUATAN IBLIS
(Pdt. R.P. Borrong, ThD. PhD) .................................................... 70
7. WAKTU PUN DIKORUPSI
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 75
BAGIAN III: KEKAYAAN DAN KORUPSI..................................... 81
1. MENCINTAI BUKAN MERUGIKAN YANG LAIN
(Rm. DR. Ag. Purnama, MSF) ..................................................... 83
2. CARILAH YANG BAIK, DAN JANGAN YANG JAHAT
(Pdt. Simon Rochmadi, MHum, M.A.) ......................................... 88
3. BELENGGU MATERIALISME
(Rm. Medardus Sapta Margana, Pr) ............................................ 93
4. ENTREPRENEUR DAN KORUPSI
(Pascalis Sopi) .............................................................................. 98
5. PUDARNYA KETULUSAN DAN KEJUJURAN DI
TENGAH MARAKNYA MENTAL KORUP
(Fr. Jack Umbu Barata, CSsR) ..................................................... 104
6. JANGANLAH MENJADI HAMBA UANG
(Rm. DR. Al. Purwa Hadiwardaya, MSF) ................................... 109
7. HIDUPLAH DALAM KECUKUPAN DAN SYUKUR
(Alfred B. Jogo Ena) ..................................................................... 117
8. BENCI ATAU RINDU
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD) ............................................. 122
BAGIAN IV: KEKUASAAN DAN KORUPSI .................................. 127
1. YESUS BUKAN KORUPTOR!
(Aloys Budi Purnomo, Pr) ............................................................ 129
2. CELAKALAH KAMU HAI PARA PEMIMPIN
YANG KORUP!
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 135
3. MENCARI MAKNA KEHIDUPAN SEJATI
(Pdt. DR. Daniel Nuhamara, MTh).............................................. 139
4. KORUPSI: “SESAT PIKIR” KEBAHAGIAAN HIDUP
DAN KESELAMATAN JIWA
(P. Silvester Nusa, CSsR) .............................................................. 145
xi
5. KORUPSI, ANTARA REALITAS, PENEGAKAN HUKUM
DAN PERINTAH PENGAMPUNAN
(P. Alberto A. Djono Moi, O.Carm) ............................................. 151
6. KORUPTOR KRISTIANI, PENGKHIANAT YESUS!
(Aloys Budi Purnomo, Pr) ............................................................ 165
7. KEKUASAAN KORUP, GLOBALISASI DAN
PENDERITAAN RAKYAT
(Pdt. Novembri Choledahono, M.A) ............................................ 169
8. ALLAH TIDAK MENGHENDAKI PEMIMPIN
YANG KORUP
(Pdt. Sri Handoyo, MTh) .............................................................. 177
BAGIAN V: SUAP MENYUAP = KORUPSI .................................... 181
1. KORUPSI: MENGHINA ALLAH YANG ADIL
(P. DR. Mateus Mali, CSsR) ......................................................... 183
2. KORUPSI, KEJAHATAN MELAWAN ALLAH
(Aloys Budi Purnomo, Pr) ............................................................ 187
3. YANG MENYUAP DAN DISUAP SAMA-SAMA KORUPTOR
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 191
BAGIAN VI: KETIDAKADILAN DAN KORUPSI......................... 195
1. CELAKALAH WAHAI KORUPTOR!
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 197
2. PEREMPUAN DAN KORUPSI
(Pascalis Sopi) .............................................................................. 202
3. KORUPSI BUAH KETIDAKADILAN
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD) ............................................. 208
4. KORUPSI: DEKADENSI MORAL DAN MURKA TUHAN
(Bert T. Lembang) ......................................................................... 213
5. MELAWAN KORUPTOR
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD) ............................................. 220
6. VOX POPULI VOX DEI: KEBERPIHAKAN PADA RAKYAT
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM) .............................................. 225
BAGIAN VII: KORUPSI DAN PERTOBATAN............................... 231
1. APAKAH KORUPTOR BISA BERTOBAT?
(Freddo Benedict J.E.).................................................................. 233
xii
2. PERANGI KORUPSI DARI DIRI SENDIRI
(P. Hironimus Radjutuga, OCD) .................................................. 237
3. PANGGUNG SANDIWARA
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD) ............................................. 242
4. MANUSIA: MAKHLUK PENCARI MAKAN DAN MAKNA
(Pdt. Suleiman Manguling, MTh)................................................. 246
5. JANGAN LARI WAHAI KORUPTOR
(Alfred B. Jogo Ena) ..................................................................... 252
6. TIDAK ADA TEMPAT DI SURGA BAGI PARA KORUPTOR
(Pdt. Tawar Soewardji, MTh) ....................................................... 257
7. MEMBANGUN KEMBALI KERENDAHAN HATI
DAN KEJUJURAN
(Pdt. Victorius Hamel, STh, MSi) ................................................. 261
xiii
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor:
MARI BELAJAR DARI ZAKHEUS!
Lukas 19:1-10
(P. F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI)*
(Perhatian: Bila Anda merasa sebagai seorang koruptor, sebaiknya Anda
jangan membaca renungan ini!)
Pada suatu hari saya menerima sebuah surat. Pengirimnya tanpa nama
alias anonim. Meski demikian, bagi saya, isinya sangat menarik dan ada
baiknya saya sharingkan juga kepada Anda sekalian pada saat ini. Demikian
bunyi surat itu:
Yth Pastor di tempat,
Salam sejahtera. Injinkan saya untuk berbagi cerita dengan Pastor.
Meski saya tidak mencantumkan nama saya pada sampul belakang surat
ini, sudilah Pastor tetap membaca surat ini. Saya tidak keberatan, bahkan
akan sangat berterima kasih, seandainya Pastor juga berkenan memuat surat
saya ini dalam majalah gereja.
Saya Suka Korupsi
Saya adalah seorang mantan koruptor. Saya pernah mengumpulkan
banyak uang dalam waktu yang relatif singkat, tanpa harus mengeluarkan
banyak keringat. Uang yang saya peroleh melalui korupsi, kadangkala
jumlahnya jauh lebih banyak dari pada gaji bulanan saya.
Saya adalah seorang sarjana teknik lulusan sebuah perguruan tinggi
di luar negeri. Sepulang dari luar negeri, saya bekerja di sebuah perusahaan
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
xiv
minyak swasta. Setelah beberapa tahun meniti karier, akhirnya saya menjadi
salah seorang manajer di perusahaan tersebut. Sebagai orang yang berposisi
manager, saya sering memberikan instruksi kepada karyawan untuk
membersihkan gudang dari timbunan material-material yang angka
penyusutannya sudah dianggap mencapai 100%. Saya kemudian menjual
material itu sebagai “rongsokan” kepada para pengumpul besi tua. Sebagian
besar hasil penjualan itu masuk ke rekening saya di bank. Sebagian kecil
masuk ke perusahaan sebagai pemasukan tambahan.
Di awal kisah tadi saya menyebut diri sebagai mantan koruptor. Saya
katakan “mantan”, karena sekarang saya sudah tidak suka lagi korupsi.
Saya telah berhenti korupsi. Apalagi sekarang saya memang telah berhenti
dari pekerjaan saya. Saya telah mengambil tawaran untuk masa pensiun
yang dipercepat. Saya kini mengisi hidup saya dengan kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan di sekitar RT atau pun kegiatan-kegiatan yang bersifat
rohani-keagamaan atau pun kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hobi
saya sejak dulu, yaitu memancing dan berkebun.
Bila Mati, Aku Tidak Ingin Dikenang Sebagai Koruptor
Mungkin ada orang yang bertanya: apa yang membuat saya akhirnya
berani berhenti korupsi? Semuanya berawal dari sebuah peristiwa yang
tampaknya sederhana. Suatu hari, saya mengikuti kebaktian di gereja dan
mendengar sebuah cerita yang singkat dari Pastor. Pastor memakai cerita itu
sebagai pembuka renungan/kotbah Pastor. Ceritanya demikian :
Ada tiga orang yang bersahabat. Ketiganya tewas dalam suatu
kecelakaan lalu lintas yang sama. Jiwa mereka langsung terbang ke surga
pada hari itu juga. Di pintu surga, abdi Tuhan menyambut mereka. Sambil
menanti giliran bertemu dengan Tuhan, mereka berbincang-bincang.
Abdi Tuhan: “Ketika besok keluarga, tetangga dan teman-teman
melayat, kamu berharap mereka akan berkata apa tentang kamu?”
Orang pertama: “Saya harap mereka berkata bahwa saya adalah seorang
bapak yang baik untuk anak-anak dan seorang suami yang sangat setia kepada
istri.”
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
xv
Orang ke dua: “Saya harap mereka akan berkata bahwa saya adalah
seorang pemuka jemaat yang hebat dan banyak berjasa untuk agama.”
Orang ke tiga: “Saya harap mereka berkata, ‘Lihat! Dia bergerak-gerak
lagi!”
Bagi banyak orang, cerita ini mungkin tidak lebih dari sebuah lelucon.
Namun TIDAK bagi saya. Ada hal yang amat serius dan penting yang mau
disampaikan di dalamnya. Setelah mendengar cerita tersebut, reaksi pertama
yang muncul dalam hati saya adalah saya takut mati. Untuk pertama kalinya,
ketakutan mati menjadi sesuatu yang begitu riil untuk saya. Kematian itu
bisa datang kapan saja, entah saya siap, entah saya tidak siap. Memang semua
orang akan mati. Tetapi tentu lain, mati sebagai seorang yang dikenal baik
dan bersih oleh orang-orang di sekitarnya dengan mati sebagai seorang yang
ternyata koruptor atau penjahat. Saya tidak mau mati dan dikenang oleh
keluarga dan orang lain sebagai seorang koruptor, bahkan seandainya hanya
saya saja yang tahu bahwa saya ini koruptor. Maka saya mulai berpikir untuk
berhenti korupsi. Secepatnya. Jangan sampai pepatah kuno,”sepandaipandainya
tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga”, menjadi kenyataan
pada diri saya. Bila itu sampai terjadi, saya pasti akan sangat malu, dan
keluarga saya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa, ikut menanggung rasa
malu juga. Jika itu sampai terjadi, itu sama saja dengan hari kiamat bagi
kami semua!
Lebih jauh, cerita pastor di atas membuat saya bertanya kepada diri
saya sendiri, “Apa sih yang sebetulnya saya cari di dalam hidup saya selama
ini?”
Apa yang Saya Cari dalam Hidup Ini?
Saya akhirnya menemukan jawaban, “Saya mencari kebahagiaan”.
Dan rupanya selama bertahun-tahun saya sebenarnya telah meyakini sebuah
“credo” bahwa hanya dengan memiliki banyak uang, maka saya akan bisa
membeli kebahagiaan, apa pun bentuknya. Sehingga tepatlah kata pepatah
Inggris berikut: “what money can not buy”.. Memang dengan mempunyai
Surat Dari Seorang Mantan koruptor
xvi
uang yang banyak, saya merasa aman untuk bepergian ke manapun. Dengan
uang, saya bisa membeli barang-barang yang saya suka atau kenikmatankenikmatan
duniawi yang saya angankan.
Namun ketika saya mengenang kembali kegembiraan-kegembiraan di
masa lampau yang pernah saya peroleh berkat uang, saya menjadi sadar bahwa
kebahagiaan saya pada waktu itu hanya berumur pendek dan cepat menguap
terbang. Tahukah Anda sebabnya? Karena setiap kali saya membelanjakan
banyak uang dari dompet atau kartu kredit saya, tidak lama kemudian saya
mendengar sebuah suara di dasar hati saya yang berkata,”Pakai uang haram
nih ye?” Saya maunya mengabaikan sindiran itu, maunya menutup telinga.
Namun sekali sindiran itu muncul, kegembiraan saya menjadi tidak sama
lagi. Ekspresi kegembiraan saya itu menjadi kurang asli dan spontan. Tawa
riang saya juga tidak ringan, nadanya seperti “dibuat-buat”.
Hal lain yang tiba-tiba sering “merusak” kebahagiaan saya adalah bila
membaca di koran atau mendengar di radio-televisi, berita tentang
pemberantasan korupsi, penangkapan koruptor, dan hal-hal yang berkaitan
dengan korupsi. Saya menjadi takut juga kalau korupsi yang telah saya lakukan
akhirnya sampai ketahuan orang atau pihak lain.
Saya Bertobat
Singkat cerita, akhirnya saya memang berhenti korupsi.
Anda mungkin bertanya,”Lalu ke mana uang hasil korupsi itu?
Apakah saya mengembalikannya kepada perusahaan? Atau saya
sumbangkan kepada lembaga-lembaga sosial? Atau saya kemanakan?”
Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Yang jelas, saya harus mengakui
bahwa saya tidak punya cukup keberanian untuk mengembalikannya secara
terbuka dan terus terang kepada perusahaan. Saya membayangkan resikonya
bila saya melakukan hal itu. Saya akan malu, tetapi mungkin sekali saya
akan kehilangan pekerjaan saya, bahkan mungkin juga saya akan
dipenjarakan. (Apakah mungkin diusulkan kepada pemerintah untuk
mendirikan suatu lembaga penerima pengembalian hasil korupsi dari orang-
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
xvii
orang yang mau bertobat tetapi tidak ingin diketahui identitasnya dan tanpa
harus melibatkan aparat kepolisian, kejaksaan dan pengadilan? Demi
kerahasiaan identitas orang-orang yang mau bertobat ini, pemerintah
mengakui hak bank-bank yang beroperasi untuk menjaga kerahasiaan identitas
nasabahnya. Adapun uang yang diterima oleh lembaga pemerintah itu,
sebagian bisa dimasukkan ke kas negara, dan sebagian besar yang lain
dimanfaatkan untuk karya-karya sosial bagi orang miskin dan terlantar.)
Hari berganti hari. Hingga pada suatu hari, karena perusahaan perlu
restrukturisasi, perusahaan menawarkan program pensiun dini kepada para
karyawan. Setelah memikirkan untung-ruginya, saya mendaftarkan diri saya
ikut program tersebut. Memang pada awalnya banyak teman yang merasa
heran dengan keputusan itu. Namun dengan berjalannya waktu, orang segera
meninggalkan rasa herannya itu.
Kini saya merasa hidup lebih tenang. Hobi dan kegiatan di sekitar RT
atau pun kegiatan yang sifatnya keagamaan bisa saya nikmati. Kegembiraan
ternyata ada di mana-mana. Dan tidak semua kegembiraan mengandaikan
adanya uang. Duduk di bawah rindangnya pohon setelah lelah mencangkul
kebun, sambil menikmati angir semilir dan menatap tanaman yang mulai
tumbuh pun dapat menghasilkan suatu perasaan gembira dalam diri saya.
Atau duduk pada malam hari di gardu pos ronda sambil berbincang-bincang
“ngalor ngidul” dan sesekali diselingi lelucon yang menyegarkan juga
membuat hati ini gembira. Tetapi dalam pengalamanku, kegembiraan yang
seringkali sulit diuraikan dengan kata-kata terjadi manakala saya bisa memberi
sesuatu kepada sesama, khususnya mereka yang sedang membutuhkan uluran
tangan, yang tidak punya uang untuk menebus obat, yang tidak punya uang
untuk membayar SPP, yang miskin dan terpaksa hutang sana-sini untuk
membeli beras dan lauk pauknya, dll. Sesuatu yang saya berikan itu bisa
berwujud macam-macam. Bukan hanya uang, tetapi juga waktu, tenaga,
perhatian. Singkatnya, memberi itu memang membahagiakan. Bukankah,
dengan cara hidup begini saya telah mulai menemukan apa yang saya cari
sejak dulu? Kebahagiaan itu.
Berbicara tentang kebahagiaan karena memberi, saya jadi teringat dan
ingin berterima kasih dengan sahabat saya dalam kitab suci. Namanya
Surat Dari Seorang Mantan koruptor
xviii
Zakheus (bdk.Luk 19:1-10). Berkat dia, saya menjadi tahu apa yang perlu
saya buat dalam hidup ini. Berkat kisah dan teladannya itu saya juga menjadi
tahu kepada siapa saya akan menggantungkan hidup saya.
Demikianlah sharing saya. Semoga berguna bagi Pastor dan siapa saja
yang ikut membaca surat saya ini. Saya senang bila Pastor memberikan
tanggapan atas surat saya ini. Mengingat surat saya ini tanpa nama jelas
pengirim, tanggapan Pastor boleh disampaikan secara terbuka, misalnya juga
dalam salah satu halaman majalah Gereja. Sekian. Banyak terima kasih atas
perhatian Pastor.
Demikianlah bunyi surat yang pengirimnya Seseorang Tanpa Nama
atau Anonim.
Setelah membaca atau mendengar bunyi surat itu, pertama-tama, tidak
ada jeleknya juga kita ikut bergembira karena ada saudara kita yang tadinya
seorang koruptor, kini sudah bertobat. Dan dalam rangka bertobat itu, kini
yang bersangkutan rupanya banyak tertobat dengan kegiatan sosial di
lingkungan RT-nya maupun dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani.
Yang kedua, saya kira kita bisa berkata: Betapa beruntungnya orang
itu! Dia menjadi bertobat (moga-moga demikian adanya) tanpa harus
ditangkap polisi atau dibawa ke pengadilan dulu. Semoga saja, selain
perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukannya, dia juga memang telah
berhasil mengembalikan 100% hasil korupsinya. Pengembalikan hasil korupsi
adalah hal yang mutlak perlu. Mengembalikan hasil korupsi adalah bukti
pertobatan. Tanpa kemauan dan usaha untuk mengembalikan 100 % hasil
korupsi itu, maka sulit dikatakan bahwa dia sungguh-sungguh mau dan telah
bertobat. Bagaimanapun yang namanya korupsi itu sama dengan mencuri,
bahkan seringkali lebih jahat dan amat pantas diberi sanksi hukum yang sangat
berat. Sebagai contoh, bila seorang pencuri seekor ayam yang tertangkap
polisi, akhirnya dihukum penjara selama 1 bulan; berapakah hukuman yang
pantas diterima oleh seorang yang katakanlah “hanya” korupsi uang 1 milyar
rupiah? Bila seekor ayam di pasar dihargai 50 ribu rupiah; dan 50 ribu
sebanding dengan hukuman penjara selama 1 bulan; maka 1 milyar rupiah
sebenarnya –secara matematis yang sederhana- sebanding dengan hukuman
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
xix
selama 20.000 bulan atau kurang lebih 1.666 tahun, bukan? Bila orang
melakukan korupsi uang senilai 1 milyar saja pantas dihukum sekian tahun,
apalagi bila orang melakukan korupsi puluhan atau ratusan milyar.
Yang ketiga, seandainya bapak tadi adalah seorang yang beragama
katolik, semoga ia juga tidak lupa untuk datang kepada sakramen Pengakuan
Dosa di depan seorang imam. Datang kepada Sakramen ini kadang menuntut
suatu keberanian yang luar biasa dari orang yang merasa berdosa itu. Ada
banyak hambatan yang kadang membuat orang urung atau menunda-nunda
untuk mengaku dosa. Misalnya, karena malu atau karena merasa dosanya
tidak berat. Maka bila orang tersebut berani mengaku dosa, orang itu sungguh
menjadi orang yang pantas dikasihi dan diterima kembali.
Yang keempat, semoga saudara kita itu sungguh tergerak oleh
pengalaman Zakheus dan oleh sapaan Tuhan Yesus. Dalam Injil Lukas 19:1-
10, dikisahkan bahwa pada suatu hari Yesus sampai di kota Yeriko, kota di
mana Zakheus tinggal. Zakheus adalah orang yang paling kaya di kota itu.
Pekerjaan sehari-hari adalah seorang kepala pemungut cukai. Supaya bisa
menghasilkan banyak uang yang nantinya sebagian disetorkan kepada
pemerintah penjajah Romawi pada waktu itu, tentu saja berbagai cara harus
ditempuh, dari cara yang paling halus sampai yang paling kasar untuk menarik
pajak dari masyarakat. Tentu tidak jarang seorang Zakheus mengutus “debt
collector” yang merangkap sebagai tukang pukul. Karena pekerjaan yang
macam itu, bagi saya, Zakheus bolehlah dikategorikan dalam kelompok para
koruptor. Dia menjadi “sahabat” penjajah Romawi dan merugikan negara
dan orang-orang sebangsanya sendiri. Itu sebabnya orang lain menyebutnya
sebagai pengkhianat bangsa dan “orang berdosa”. Nah ketika Yesus akhirnya
singgah di rumahnya, Zakheus merasa diterima, disapa dan dicintai olehNya.
Saking senangnya, Zakheus kemudian berkata, “Tuhan, setengah dari milikku
akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas
dari seseorang akan kumbalikan empat kali lipat” (lih. Luk 19:8).
Dan apakah tanggapan Tuhan Yesus? Dia berkata, “Hari ini telah terjadi
keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (lih.
Luk 19:9). Berkat pertobatannya, maka Zakheus tidak kehilangan “hak”-nya
Surat Dari Seorang Mantan koruptor
xx
sebagai salah seorang anak Abraham, yaitu ikut menerima berkat yang dulu
dijanjikan oleh Allah kepada Abraham.”
Singkatnya, Zakheus memberi banyak contoh kepada kita, yaitu: 1)
yang namanya bertobat itu bukan pertama-tama mengatakan, “Saya minta
maaf”; tetapi 2) terlebih membuka pintu hati bagi sapaan Allah yang
menghendaki kita meninggalkan dosa; dan 3) sungguh mengubah 180° gaya
dan sikap hidup kita yang lama ke hidup baru yang adalah menjadi saluran
berkat Allah kepada sesama kita, khususnya sesama kita yang menderita,
entah karena tertimpa bencana, entah karena miskin, entah karena menjadi
korban ketidakadilan, dll.
Semoga renungan ini makin memperkuat iman kita, mendorong tekad
kita untuk hidup dalam semangat pertobatan sekaligus menyemangati kita
untuk mempunyaii hidup yang berarti, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi
juga bagi sesama, masyarakat, negara, agama dan Tuhan. Amin.
*. Pastor dan Pembimbing Para Calon biarawan OMI, di Novisiat OMI, Jogyakarta
Surat Dari Seorang Mantan Koruptor
Sikap Hati dan Korupsi 1
SIKAP HATI
DAN KORUPSI
BAGIAN
I
2 Sikap Hati dan Korupsi
Sikap Hati dan Korupsi 3
S a t u
KORUPSI ADALAH PERSEKUTUAN DENGAN IBLIS
Matius 4:1-11
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM)*
Jemaat yang dikasihi Tuhan.
Ada tiga hal yang dicari orang di dunia ini, yaitu kekayaan, kehormatan
dan kekuasaan.. Ketiga hal tersebut saling terkait. Karena kaya orang bisa
memiliki kekuasaan, karena berkuasa orang dihormati, karena dihormati orang
bisa berkuasa dan sekaligus kaya. Ketiga hal itu paling dicari orang, karena
ketiga hal itu diyakini akan menjamin dan menjadi sumber kebahagiaan.
Karena ketiga hal itulah yang umumnya paling dicari orang, maka ketiga hal
itu mempunyai daya pikat yang luar biasa. Karena itu pulalah, banyak orang
yang menghalalkan segala cara untuk meraih ketiga hal di atas. Dan salah
satu cara yang paling populer dan tampaknya sudah menjadi budaya di
Indonesia sekarang ini, adalah korupsi. Itu sebabnya, dari ketiga hal itu,
tampaknya kekuasaan adalah yang paling dicari orang, sebab dengan
kekuasaannya itu orang bisa berbuat apa saja untuk memenuhi keinginannya.
Power tends to corrupt, kekuasaan memiliki kecenderungan untuk melakukan
korupsi, kata para ahli. Karena dengan kekuasaannya itu orang bisa berbuat
apa saja untuk memperkaya dirinya sendiri, kepentingan para kroninya, dan
kepentingan keluarganya, maka orang rela mengeluarkan biaya untuk
meraihnya. Kekuasaan itu memabukkan. Makanya lalu ada istilah post power
syndrome, yaitu suatu penyakit kejiwaan yang dialami oleh orang-orang yang
pernah berkuasa. Meskipun sudah pensiun, tidak lagi berkuasa atau turun
tahta, gayanya masih seperti pejabat, apakah pejabat negara, bahkan pejabat
gereja. Ini persis orang yang mabok, karena kekuasaan itu memang
memabokkan.
Nas kita menuturkan, bagaimana kiat Yesus melawan daya pikat dari
ketiga hal di atas. Dituturkan, bahwa pencobaan itu datang setelah Yesus
4 Sikap Hati dan Korupsi
berpuasa di padang gurun selama empat puluh hari-empat puluh malam. Bagi
Yesus, berpuasa bukan sekedar sebuah tradisi, melainkan sebuah persiapan
untuk tugas dan tanggungjawab yang maha agung, yang menentukan nasib
seluruh umat manusia. Berpuasa adalah sebuah latihan melawan diri sendiri,
melawan hawa nafsu, melawan segala keserakahan dan kerakusan,
mengendalikan serta menguasai hati. Puasa selama empat puluh hari dan
empat puluh malam juga dilakukan Musa di Gunung Sinai sebelum ia
menerima loh batu yang memuat sepuluh hukum.
Menurut Alkitab, hati adalah pusat dari kehidupan (Ul 6:5; Mat 22:37,
dll). Hati adalah “rumah kehidupan”, di mana kesadaran seseorang bertahta,
sebab itu hati mempengaruhi pikiran, kehidupan dan karakter seseorang.
Dalam Markus 7: 21-23 Yesus mengatakan: “sebab dari dalam, dari hati orang,
timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan,
keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat,
kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan
menajiskan orang.”
Puasa yang dijalankan oleh Yesus adalah “kawah candradimuka” yang
menggodok-Nya, untuk memberikan bekal kekuatan, apakah ia nantinya akan
tahan uji dalam peperangan yang sebenarnya ketika ia melaksanakan tugas
kenabian-Nya. Sebab itu pencobaan yang dialami Yesus adalah ujian awal
untuk menentukan apakah Ia akan sanggup untuk mengemban tugas dan
tanggungjawab yang maha agung, sebagai pemimpin dan menjadi “jalan,
kebenaran, dan hidup” (Yoh 14:6a).
Dari pengalaman Yesus ini, kita melihat betapa pentingnya makna
berpuasa. Hal inilah yang seyogyanya dilakukan oleh setiap orang yang
hendak memikul tanggungjawab yang lebih besar, bahkan yang hendak
menjadi bupati, gubernur, menteri, atau presiden. Sebab semakin besar
kekuasaan yang diemban, semakin besar pula cobaan yang akan dialami. Itu
sebabnya berpuasa bukan sekedar mengganti jadwal aktivitas dari siang ke
malam hari, melainkan melakukan latihan pengendalian diri untuk memasuki
arena peperangan yang sebenarnya.
Sikap Hati dan Korupsi 5
Dalam keadaan yang letih, lapar dan haus setelah berpuasa, maka
datanglah pencobaan itu. Pencobaan pertama menyebutkan bahwa Iblis
meminta Yesus mengubah batu menjadi roti (Mat 4:3). Kita membayangkan,
ketika dalam keadaan lapar dan haus setelah berpuasa, dan dengan karunia
yang diberikan Allah kepada Yesus, tidak ada mujizat yang tidak dapat
diperbuat Yesus.
Korupsi itu muncul dari dua hal: niat, dan kesempatan. Bagi Yesus,
kesempatan itu sangat terbuka. Bukankah tidak ada orang lain selain dia dan
Iblis? Bukankah Yesus bisa saja melakukan deal-deal dengan si iblis agar tidak
ada yang tahu kalau Yesus telah mengubah batu menjadi roti karena ia lapar?
Nah! Di sinilah pentingnya peranan hati! Niat itu datang dari hati. Niat yang
bersih datang dari hati yang bersih, sedangkan niat yang jahat datang dari hati
yang kotor. Jadi, kalau dari sononya sudah kotor, orang tidak hanya menunggu
kesempatan, malahan kesempatan itu dibuat-buat dan dicari-cari!
Kemampuan Yesus menguasai hati-Nya tampak dalam jawaban yang
Ia berikan kepada iblis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari
setiap firman yang keluar dari mulut Allah”(Mat 4:4). Jawaban Yesus ini
menegaskan dua hal. Pertama, bahwa hidup ini bukan melulu soal perut,
bukan melulu soal kekayaan dan materi. Sebab ketika hidup manusia
ditentukan oleh apa yang ia makan dan pakai, maka sebenarnya manusia
telah diperbudak oleh hartanya. Ketika manusia diperbudak oleh harta, oleh
persoalan perut semata, maka sebenarnya tindakan itu telah menghina Tuhan
sendiri, sebab perutnya telah menjadi tuhannya. Manusia harus dibebaskan
dari cara pandang yang melihat bahwa harta adalah segalanya. Sebab, ketika
harta adalah segala-galanya, maka hidup manusia lalu hanya dimotori oleh
keinginan untuk mengumpulkan harta, dan orang akan menghalalkan segala
cara demi harta. Di sini manusia sampai pada titik terendah dari harkat dan
martabatnya, karena ia sudah menjadi budak hawa nafsunya, dan budak dosa!
Dosa adalah salah satu penyebab penderitaan bangsa dan rakyat
Indonesia. Dosa itu ta
6 Sikap Hati dan Korupsi
telah memperanakan dosa, dan dosa itu telah mengakibatkan banyak orang
menderita! Banyak orang lupa, bahwa dosalah yang telah mengakibatkan
keterpurukan kehidupan bangsa Indonesia sekarang ini, dan dosa itu berakar
di dalam hati manusia yang jahat, dan sebab itu melahirkan kejahatan. Namun
bagi orang berdosa itu, hidup dalam dosa sudah menjadi keseharian, sehingga
korupsi – dalam segala bentuknya itu – lalu menjadi sebuah rutinitas. Sebab
itu, ketiadaan kesadaran akan dosa itulah dosa yang paling besar.
Kedua, bahwa mendengarkan Firman Tuhan itu juga penting untuk
kehidupan. Dengan hidup dari firman Tuhan maka hati akan disucikan dari
kerakusan dan keserakahan, dan mampu melihat dengan jernih, bahwa ada
begitu banyak persoalan – bukan hanya soal perut - dalam kehidupan ini yang
mesti diselesaikan dan dikerjakan, seperti persoalan HAM, lingkungan hidup,
ketidakadilan struktural, dll. Hidup dari firman Tuhan akan menumbuhkan
solidaritas dan berbela rasa dengan penderitaan orang lain, dengan demikian
akan menjadikan hidup ini bermakna bagi orang lain. Hidup itu baru bermakna
ketika kita bisa membahagiakan sesama manusia, dan hal itu tidak berarti bahwa
seseorang harus kaya terlebih dahulu. Malahan sebaliknya, hidup itu baru
bermakna ketika kita mampu membahagiakan sesama dari kekurangan dan
keterbatasan kita. Itulah solidaritas dan berbela rasa.
Pada pencobaan kedua, iblis membawa Yesus ke bubungan Bait Allah,
dan dengan mengutip Mazmur 91:11-12 ia berkata kepada Yesus: “Jika
Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis:
Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka
akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk
kepada batu” (Mat 4:5-6). Dengan kata lain, iblis berkata kepada Yesus, kalau
Yesus benar-benar yakin bahwa Ia adalah Anak Allah, meskipun Yesus
menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah yang begitu tinggi, niscaya kaki
Yesus tidak terantuk pada batu di bawah sana sebab Allah akan melindungi
Yesus. Jawaban Yesus adalah: “Ada pula tertulis, jangan engkau mencobai
Tuhan Allahmu” (Mat 4:7).
Kalau pada pencobaan pertama, iblis mencobai Yesus dari aspek
kekayaan material, maka pada pencobaan kedua ini iblis mencobai Yesus
dari aspek kehormatan. Bukankah Yesus begitu dekat dengan Allah, sehingga
Sikap Hati dan Korupsi 7
Allah akan melindungi Dia dari segala kecelakaan, meskipun dengan sengaja
menerjunkan diri ke bawah? Bukankah Tuhan itu maha kasih dan maha
mengampuni, sehingga orang boleh saja manusia berbuat salah karena toh
dosanya akan tetap diampuni Tuhan? Sebaliknya, akankah Tuhan melindungi
dan mengampuni orang dengan sengaja dan sadar berbuat kesalahan? Bagi
Yesus tindakan seperti itu sama sekali tidak bisa ditelorir, karena tindakan
seperti itu sama saja dengan mencobai Allah.
Banyak orang berpikir dan berkeyakinan, bahwa karena Tuhan itu maha
kasih, maha adil, dan maha mengampuni, maka kalau kita berbuat jahat pasti
akan diampuni. Pikiran seperti ini lahir dari pikiran yang korup, sehingga
kasih dan pengampunan Tuhan saja dimanipulasi untuk kepentingan diri.
Pemikiran seperti ini akan membenarkan tindakan yang korup. Sebab itu
banyak koruptor yang kemudian menjadi begitu pemurah dan dermawan,
bahkan menjadi penyumbang terbesar dalam pembangunan rumah-rumah
ibadah serta berbagai kegiatan keagamaan. Dengan cara seperti itu ia ingin
menjadi orang yang dihormati dan disegani di lingkungan komunitasnya.
Sebaliknya banyak dari kita juga berkolaborasi dengan para pencoleng dan
tikus kantoran dengan cara mempergunakan fasilitas kantornya; foto kopi
gratis, ATK gratis, dll. Jadi jangan heran, kalau amal ibadah kita tidak
berkenan bagi Allah. Tidak ada kehormatan yang bisa diperoleh melalui cara
tercela.
Banyak orang mengatakan bahwa korupsi di Indonesia ini sudah
berjamaah! Ia dilakukan secara kolektif, bahkan melibatkan lembaga
keagamaan yang semestinya menjadi benteng moral untuk melawan korupsi.
Banyak pengurus gereja yang meminta sumbangan untuk membangun gedung
gereja pada para pengusaha HPH yang jelas-jelas merusak dan menggunduli
hutan. Banyak pengurus gereja yang meminta sumbangan kepada para pejabat
yang kekayaannya diperoleh melalui cara yang tidak halal. Sebab itu seruan
bagi pertobatan nasional dan peperangan melawan korupsi dan kembali
kepada Tuhan lalu menjadi sangat relevan untuk dilakukan.
Pada pencobaan ketiga (Mat 4:8-10), iblis membawa Yesus ke atas
gunung yang sangat tinggi dan kepada Yesus diperlihatkan semua kerajaan
dunia ini dengan segala kemegahannya. Kepada Yesus iblis berkata, bahwa
8 Sikap Hati dan Korupsi
semuanya itu akan diberikan kepada Yesus kalau Yesus menyembah si iblis.
Terhadap pencobaan ini Yesus berkata: “Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis:
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti”.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, kekuasaan itu nikmat dan
memabukkan, sehingga orang akan menempuh segala cara untuk meraihnya.
Kalau kekuasaan sudah ditangan, maka orang juga akan melakukan segala
cara untuk mempertahankannya. Sebab itu banyak orang lebih suka menjadi
raja kecil ketimbang buruh besar. Sudah menjadi rahasia umum, banyak orang
yang datang ke perewangan, atau ke mbah dukun yang dianggap sakti untuk
meminta pertolongan agar orang bisa meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Namun kekuasaan yang diperoleh melalui persekutuan dengan iblis akan
melahirkan korupsi dan tindak kejahatann lainnya. Makanya praktik money
politics dalam dunia perpolitikan di Indonesia adalah sebuah bentuk korupsi
yang kemudian akan berbuah korupsi pula.
Pepatah Cina mengatakan “ikan itu membusuk mulai dari kepalanya.”
Artinya, pemimpin yang korup akan melahirkan masyarakat yang korup;
direktur, kepala kantor, kepala bagian, atau atasan yang korup akan melahirkan
karyawan yang korup. Barangkali inilah sebabnya, mengapa Indonesia dikenal
sebagai salah satu negara terkorup di dunia; sebuah gelar yang sesungguhnya
sangat memalukan ketika orang Indonesia mengklaim diri sebagai orang yang
paling beragama. Tetapi bukankah korupsi itu sendiri sudah bertentangan
dengan nilai-nilai keagamaan? Kalau korupsi – yang merupakan musuh agama
itu - seakan-akan sudah menjadi budaya di Indonesia, maka pastilah ada
yang salah dalam kita memahami agama dan beragama.
Sidang Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kisah pencobaan Yesus hendak mengajarkan kepada kita tiga hal..
Pertama, bahwa setiap orang yang akan memikul sebuah tanggungjawab
sebagai pemimpin haruslah mensucikan dan membersihkan hatinya dari
segala kotoran, keserakahan, kerakusan, dan hawa nafsu. Kalau hati sudah
disucikan dan pintu niat untuk kejahatan sudah tertutup, maka meskipun
Sikap Hati dan Korupsi 9
kesempatan untuk korupsi terbuka, bisalah dipastikan orang tidak akan
melakukan korupsi. Sebab itu berpuasa sebagai ajang untuk melatih diri
melawan segala godaan dan cobaan menjadi penting dilakukan sebelum
seseorang memangku jabatan atau menjadi pemimpin. Sumpah jabatan yang
diucapkan atas nama Tuhan, hanya akan menjadi sebuah hujat terhadap Tuhan
manakala hati tidak terlebih dahulu dibersihkan dari segala noda dan kotoran.
Kedua, korupsi dalam berbagai bentuknya adalah bentuk persekutuan dengan
iblis, dan itu berarti permusuhan dengan Tuhan. Kekayaan, kehormatan, dan
kekuasaan itu bukanlah tujuan akhir dari kehidupan, melainkan ia harus
menjadi alat untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat. Ketiga,
Kemenangan dalam menghadap cobaan demi cobaan hanya mungkin kalau
kita bersandar pada yang menang, yaitu Yesus sendiri. Ketika Yesus
memenangkan pertarungan mati hidup itu, iblis meninggalkan Dia dan
malaikat-malaikat datang melayani Yesus (Mat 4:11).
Begitu pula setiap kita yang berhasil melawan godaan demi godaan
untuk melakukan korupsi, maka malaikat-malaikat pun akan melayani kita.
Kiranya Tuhan memberkati dan menolong kita melawan segala godaan dan
cobaan. Amin.-
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
10 Sikap Hati dan Korupsi
D u a
DI MANAKAH ALLAH YANG MENGHUKUM?
Maleakhi 2:17-3:5
(Pdt. DR. Henriette Hutabarat Lebang)*
Pertanyaan di atas, “Di manakah Allah yang menghukum?” sering
disuarakan oleh orang yang lelah melihat kejahatan atau mereka yang menjadi
korban ketidakadilan yang merajalela di sekitar hidupnya. Di manakah Allah
yang adil? Mengapa orang yang melakukan kejahatan justru semakin makmur
hidupnya, sementara mereka yang setia kepada Tuhan justru semakin
menderita? Mengapa Allah berdiam diri; mengapa Allah tidak menghukum
orang yang terang-terangan menindas sesamanya serta asyik memperkaya
dirinya di atas penderitaan orang lemah? Tetapi, pertanyaan yang sama, “di
manakah Allah yang menghukum?” sering juga diajukan oleh mereka yang
justru tidak takut berbohong, tidak segan mencuri milik sesamanya, rajin
memeras rakyat kecil, tidak jemu melakukan pungutan liar dengan alasan
gaji tidak cukup atau apapun, bahkan menyingkirkan orang asing atau orang
yang bukan “gang”nya (kelompoknya). Pertanyaan itu menjadi semacam
ejekan. Tokh Allah tidak berbuat apa-apa terhadap pelanggaran dan dosa
manusia - sebab itu “marilah kita teruskan berbuat dosa.”
Dalam perikop kita ini, pertanyaan tersebut muncul dalam Maleakhi
2:17. Menurut nabi Maleakhi, umat Allah telah menyusahkan Allahnya
dengan menganggap bahwa “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik
di mata Tuhan; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan….” Umat
Tuhan di zaman nabi Maleakhi telah memutarbalikkan kebenaran. Orang
yang melakukan kejahatan justru disebut sebagai orang yang baik di mata
Tuhan. Bahkan diberi cap atau pembenaran religius, dengan mengatakan,
bahwa Allah berkenan atas orang-orang itu. Menurut nalar sehat kita, ini
cara berpikir dan sikap yang aneh. Tetapi yang aneh ini nyata!
Sikap Hati dan Korupsi 11
Bukankah dalam kehidupan kita dewasa ini, nilai-nilai pun sudah
diputarbalikkan? Nilai-nilai yang luhur: kebenaran, kejujuran, ketulusan,
mengutamakan kepentingan bersama, makin lama makin menipis bahkan
digantikan oleh nilai-nilai materialisme dan individualisme. Orang tidak segan
menyingkirkan atau membunuh sesamanya demi memperoleh uang, misalnya.
Manusia tidak takut lagi membabat habis hutan demi perhitungan keuntungan
yang besar. Korupsi atau tindakan yang busuk dan jahat makin lama makin
dianggap sudah biasa. Berbagai penyalahgunaan jabatan dan kedudukan tidak
asing dalam kehidupan kita. Justru makin lama makin dianggap aneh jika
orang yang berjabatan tidak memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya
diri. Mereka digelari orang bodoh!
Sakitkah masyarakat kita? Jawabnya tegas, “ya!” Seorang filsuf
kenamaan, Imanuel Kant mengatakan: “Jika keadilan sudah hilang, maka
percumalah manusia hidup lebih lama di dunia ini.” Ironisnya, ‘mafia
pengadilan’ makin mencuat ke permukaan dan ramai disoroti oleh masyarakat.
Lembaga terakhir yang diharapkan dapat menegakkan kebenaran ternyata
tidak sepi dari praktek suap. Jelas pola hidup yang ditandai korupsi (kebusukan
dan kejahatan) di mana keadilan sudah tidak dipedulikan, cepat atau lambat
membawa kepada kehancuran hidup. Kalau korupsi kecil-kecilan dan besarbesaran
tidak lagi membuat hati nurani terganggu, berarti masyarakat sudah
sakit. Inilah penyakit sosial yang paling parah dan jelas menyusahkan Tuhan,
kata Maleakhi. Sebab bukankah Allah yang telah mengikat diri-Nya dalam
perjanjian dengan umat-Nya, adalah Allah yang kasih (Mal 1:2) dan
menginginkan kehidupan yang disertai damai sejahtera (Mal 2:5).
Di masa Maleakhi, umat Allah masih rajin beribadah. Para imam sibuk
dengan tugas mempersembahkan korban. Tapi justru Allah menganggap
tindakan keagamaan mereka itu menghina diri-Nya (Mal 1:6-8). Mengapa?
Sebab kehidupan beragama pun tidak sepi dari korupsi. Kelihatannya, ibadah
dilakukan. Tapi motivasinya sudah kehilangan ketulusan. Praktek penipuan
pun terjadi di sana (Mal 1:6-14). Umat bernazar akan memberikan yang
terbaik sebagai persembahan bagi Allah (pada waktu itu yang dianggap yang
terbaik adalah binatang jantan). Tetapi yang dipersembahkan adalah
12 Sikap Hati dan Korupsi
sebaliknya: binatang yang sakit, timpang, cacat! Bagi Allah, tindakan ini
adalah penghinaan kepada-Nya.
Keadaan masa Maleakhi ini mengajak kita yang hidup di era globalisasi
ini untuk merenung diri! Bukankah masyarakat Indonesia dikenal sebagai
masyarakat yang religius? Kita sering berbangga bahwa kehidupan
keagamaan di Indonesia masih tetap terpelihara, bahkan mungkin semakin
marak: tempat-tempat ibadah penuh dihadiri oleh umat; hari raya keagamaan
dirayakan dengan semarak; sapaan-sapaan awal bernuansa religius, bahkan
sampai pakaian pun diberi label agama (baju gereja, busana Muslim, dst.).
Tetapi aneh, bahwa di tengah maraknya kehidupan beragama, ternyata
penyakit sosial pun makin merajalela. Moral masyarakat semakin merosot.
Ini sebuah indikasi bahwa kehidupan keagamaan tidak mempengaruhi pola
hidup umat sehari-hari. Ibadah dan cara hidup sehari-hari sepertinya terpisah
dan tidak mempunyai hubungan. Jangan-jangan kehidupan keagamaan hanya
marak secara lahiriah, tetapi hati manusia sebenarnya sudah keropos, sudah
rusak, sudah “corrupted.” Hati nurani manusia sudah tumpul.
Dalam situasi seperti ini, kehidupan keagamaan yang dari luar
kelihatannya suci, tidak jarang hanya menjadi tameng untuk menyembunyikan
noda-noda dosa yang makin dalam mempengaruhi hati manusia. Seorang
pejabat PNS memiliki mobil mewah, walaupun semua tahu bahwa dengan
mengandalkan gajinya hal ini sulit dibayangkan. Tetapi tugasnya mengurusi
para TKI, tempat yang marak dengan praktek pungli disertai tekanan terhadap
para TKI yang karena situasi ekonomi yang mencekam di kampungnya,
terpaksa menjadi kuli dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Mata
kasad manusia akan berkesimpulan bahwa praktek korupsi ada di balik mobil
mewah itu. Namun isteri PNS itu dengan mengangguk-angguk mengelus
mobil tersebut sambil “bersaksi” kepada kenalan di sekitarnya: “Ini hanya
mungkin karena berkat Tuhan!” Bayangkan, pasti hati Allah susah mendengar
komentar seperti itu. Sekalipun ungkapan itu kedengarannya sangat alim
serta bernada religius, namun di balik ‘kata-kata kesaksian’ itu, telah terjadi
penipuan dan penindasan hak orang lemah. (bdk. Am 5:7-13)
Allah yang sungguh mengasihi ciptaan-Nya, tidak akan membiarkan
korupsi berjalan terus sehingga kehidupan anugerah-Nya akan menjadi hancur
Sikap Hati dan Korupsi 13
total. Ia adalah Allah yang anti korupsi! Sebab itu Allah mengambil inisiatif.
Ia akan datang ke tengah hidup manusia yang sudah rusak. Mengapa Allah
capek-capek mengurusi manusia yang durhaka? Alasannya hanya satu: sebab
Ia setia kepada janji-Nya, sekalipun umat tidak setia bahkan menghina Dia.
Yang jelas, kedatangan Allah pasti terjadi, sekalipun tidak ada yang tahu
kapan persisnya. Dan tidak ada seorangpun yang dapat bertahan apabila Ia
metampakkan diri (Mal 3:2). Kehadiran Allah digambarkan “sebagai api
tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu” (Mal 3:3). Tujuan
Allah adalah untuk memurnikan yang kotor, membersihkan noda-noda dosa
manusia yang sudah tebal - sehingga manusia dapat mempersembahkan
hidupnya secara utuh, tidak setengah-setengah (bdk. Rom 12:1-2). Secara
khusus disebut bahwa Ia mentahirkan orang Lewi, kelompok kaum imam,
menyucikan mereka seperti emas dan perak... Justru para pemimpin agama
mendapat perhatian penting dalam proses pembersihan dan pemurnian itu.
Bukankah mereka adalah anutan umat dan masyarakat? Agar perubahan
terjadi, peran agama sebagai sumber spiritual dalam mengembangkan
kehidupan etik masyarakat dan moral para pemimpin, harus dibersihkan dan
dimurnikan kembali.
Manusia tidak mungkin lagi menutup-nutupi kebusukan itu. Bagaimana
pun kebusukan selalu menyebabkan, cepat atau lambat, muncul bau tidak
sedap. Pada waktunya, Allah sendiri yang akan mengungkapkan kebenaran.
Bahkan Ia sendiri yang akan menjadi saksi perbuatan-perbuatan maksiat
manusia: tukang-tukang sihir (yang menipu dan menakut-nakuti manusia
demi keuntungan tertentu), orang-orang berzinah dan bersumpah dusta dan
terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu,
dan yang mendesak ke samping orang asing. (ay. 5)
Ini berarti, Allah bukanlah Allah yang pasif atau tidak berbuat apa-apa
terhadap kejahatan manusia. Ia justru sangat prihatin dalam kasih-Nya
terhadap dunia ini. Jangan kita ragukan janji Allah tentang kehidupan yang
merupakan berkat! Di tengah keadaan masyarakat kita yang semakin terpuruk
secara moral maupun ekonomis, kita merindukan kehadiran Allah yang
membersihkan dan menyembuhkan penyakit sosial kita. Ya, datanglah
Immanuel! seharusnya menjadi doa kita. Doa dan harapan kita ini mesti
14 Sikap Hati dan Korupsi
disertai dengan kesediaan untuk berbalik dan meninggalkan kejahatan yang
kita perbuat, secara sadar atau tidak. Kecenderungan untuk mencari kesalahan
orang lain, menghakimi orang lain sambil membenarkan bahkan memuliakan
diri sendiri - tidak akan membuat situasi berubah. Justru kita bisa semakin
terpuruk dalam dosa kita. Sebaliknya, kesediaan membuka diri dijamah dan
disentuh oleh Tuhan sendiri akan menjadi awal dari kehidupan baru yang
membuat kita menjadi orang-orang yang anti korupsi! Orang-orang yang
‘sudah baru’, dari hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup yang
memberi kesejukan bagi sekitarnya (bdk Yoh 4:14; 7:37-38). Mereka akan
menjadi teman sekerja Allah menyatakan kebusukan serta menegakkan
kebenaran di tengah masyarakat. Allah berjanji bagi orang yang takut akan
Dia: “bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada
sayapnya.” (Yoh 4:2)
* Pendeta Gereja Toraja
Sikap Hati dan Korupsi 15
T i g a
WANITA YANG ENGKAU BERIKAN PADAKU….
Refleksi tentang Pelemparan Tanggungjawab
Kejadian 3:10-13
Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM*
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih,
Ada seorang suami yang begitu tiba di rumahnya langsung marah-marah
pada istrinya. Istrinya bingung, mengapa suaminya tiba-tiba marah? Ia hanya
diam saja. Rupanya sebelumnya, sang suami dimarahi oleh direkturnya karena
laporan bulannya belum lengkap. Dan sang direktur sehari sebelumnya ditegur
oleh para pemegang saham agar dia meningkatkan kinerja perusahannya.
Kita kembali kepada si istri tadi. Ia menjadi sangat marah pada putri kecilnya
yang masih berusia lima tahun karena menumpahkan susu dan mengotori
baju yang baru saja dipakainya. Si anak hanya bisa menangis sembari menatap
kucing yang telah menyenggol gelas susu.
Kalau kita memperhatikan secara saksama, maka kelihatan lingkaran
pelemparan kesalahan pada orang lain. Pelemparan kesalahan semacam itu
seakan-akan terjadi secara spontan dan berputar-putar. Mengapa orang bisa
menumpahkan kesalahannya pada yang lain?
Pengalaman “pelemparan” kesalahan dari kisah di atas dapat kita lihat
juga dari kisah Kejadian 3:1-24 khususnya pada ayat 10-13. “Pelemparan”
kesalahan dapat disamakan dengan upaya melepaskan tanggunjawab. Kisah
kejatuhan manusia ke dalam dosa, disebabkan manusia tidak puas dengan
kekuasaan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Mandat yang diberikan
Tuhan kepada manusia untuk mengelola ciptaan, berarti bahwa Tuhan
menjadikan manusia sebagai mitra kerjanya untuk mengelola kehidupan.
Tetapi manusia tidak puas dengan sekedar menjadi mitra. Ia juga ingin menjadi
pemilik. Manusia ingin menjadi sama seperti Tuhan. Ketidakpuasan itulah
16 Sikap Hati dan Korupsi
yang menyebabkan manusia melakukan segala cara agar mencapai apa yang
diinginkannya. Akan tetapi manusia tidak pernah mau bertanggungjawab
sendiri atas kejatuhannya. Ia mengkambinghitamkan orang lain.
Lihatlah….Adam, dia tidak mau disalahkan begitu saja. Adam malah
menyalahkan Hawa. ….”wanita yang Kau berikan padaku, dialah yang telah
membuat aku jatuh….” Dan sang Hawa pun tidak mau disalahkan. ….itu si
ular yang telah memperdayai dan menghasut aku untuk melanggar larangan-
Mu…” Mungkin ular itu akan mencari kambing hitam juga….”Engkau yang
telah menciptakan aku…..” Ular akan menyalahkan Tuhan karena telah
menciptakan dia.
Pengalaman kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa terus terjadi dan
senantiasa berulang dalam sejarah kehidupan manusia. Kejatuhan itu tentu
bukan karena salah Tuhan yang telah menciptakan manusia. Tetapi terutama
karena manusia tidak pernah merasa puas dengan anugerah yang diberikan
Tuhan. Selain itu kejatuhan manusia dalam dosa adalah akibat
penyalahgunaan tanggungjawab dan kepercayaan yang diberikan padanya.
Penyalahgunaan tanggungjawab itu didorong oleh ambisi manusia untuk
menyaingi Allah.
Dewasa ini ambisi untuk menyaingi Allah kian menjadi-jadi. Lihatlah
praktek korupsi yang mulai tersingkap satu per satu. Tetapi penyingkapan
kasus korupsi itu tetaplah misteri karena mengalami siklus “pelemparan”
kesalahan. Ketika seseorang ketahuan melakukan korupsi, dia tidak dengan
jujur dan tanggungjawab mengakui perbuatannya. Para pelaku korupsi selalu
melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Ia tidak pernah secara gentle
mengakui bahwa ia memang berbuat korup. Banyak contoh membuktikannya.
Ketika seseorang dituduh korupsi ia akan berusaha dengan segala cara untuk
menyangkal bahkan berani “bersumpah palsu” bahwa mereka tidak berbuat
korup. Yang korupsi adalah orang lain. Buktikan dulu secara hukum bahwa
aku memang korupsi, jangan-jangan cuma fitnah, atau salah orang. Akibat
lebih parah.....kasus korupsi tidak pernah terungkap dengan tuntas.
“Penyakit pelemparan” kesalahan dalam kasus korupsi terjadi secara
terang-terangan. Kasus korupsi yang melibatkan Komisi Pemilihan Umum
(KPU) adalah salah satu contoh yang sangat kasat mata. Tidak semua anggota
Sikap Hati dan Korupsi 17
KPU menyatakan dengan terus terang telah menikmati “kue-kue” korupsi.
Masing-masing anggota saling menyalahkan. Akibatnya hanya orang-orang
tertentu yang menjadi korban. Hanya orang tertentu yang menjadi “pahlawan”
demi menyelamatkan yang lain.
Dalam kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang banyak (korupsi
berjemaah) selalu ditemukan “lingkaran pelemparan kesalahan”. Kalau kasus
itu terus diusut maka yang salah bukan manusianya tetapi sistem yang telah
memungkinkan manusia melakukan korupsi. Manusia tidak pernah secara
terus terang, terbuka dan bertanggungjawab mengakui semua perbuatannya.
Orang-orang yang korupsi seolah-olah tidak bersalah. Yang salah adalah
peluang, kesempatan, system yang memungkinkan. Memang sangat
memalukan! Manusia yang berbudi dan bernurani berlaku culas dan tidak
dewasa.
Sebagaimana Adam yang menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan
ular, praktek korupsi dewasa ini pun demikian. Para koruptor tidak pernah
secara jujur di hadapan Allah mengakui perbuatannya. Mereka tidak pernah
mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Kalau “siklus pelemparan
kesalahan” masih terus terjadi, maka sampai kapan pun kasus korupsi tidak
akan pernah bisa diperangi. Namun kita jangan pernah pesimis. Kita harus
percaya bahwa membangun sikap tanggungjawab, kejujuran dalam kasus
korupsi akan terlaksana. Kita percaya bahwa sebagaimana Adam yang
akhirnya sadar bahwa ia telanjang (suatu pengakuan akan kepolosan,
kejujuran) di hadapan Allah, maka kasus-kasus korupsi pun akan teratasi.
Bagaimana mengatasinya?
Kita harus mengatasinya mulai dari diri sendiri. Kita perlu membangun
sikap “telanjang” di hadapan Allah dan berani untuk bertanggungjawab dan
menerima dan memikul segala risiko atas perbuatan kita sendiri. Kita perlu
memulai untuk menghentikan “siklus pelemparan kesalahan’ pada orang lain.
Berani berbuat berani pula bertanggungjawab. Berani korupsi berani pula
mempertanggungjawabkan perbuatan itu secara terbuka dan jujur.
Keterbukaan dan kejujuran hanya bisa kita lakukan kalau kita sendiri telah
dan selalu membiasakan diri.
18 Sikap Hati dan Korupsi
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kita semua dipanggil untuk
menghentikan “siklus pelemparan kesalahan, pelemparan tanggungjawab,
siklus kambing hitam yang sudah, sedang dan mungkin akan terus ada di
Indonesia. Panggilan menghentikan atau memutuskan mata rantai “kambing
hitam” yang marak terjadi dalam masyarakat kita. Panggilan itu dapat kita
mulai tumbuh-kembangkan dari dalam keluarga kita. Tanamkanlah sikap
jujur, terbuka, tanggungjawab pada anak-anak Anda sedini mungkin. Tidak
ada istilah terlambat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan religius bagi
anak-anak Anda, bagi Anda sendiri, bagi masyarakat dan Gereja kita, bagi
bangsa dan negara kita tercinta. Hentikan mental “Adam” yang menyalahkan
Allah….”wanita yang Kau tempatkan di sisiku yang membuatku ikut
berdosa….” (bdk.Kej 3:12).
Tidak malukah Anda menjadi “Adam-Adam” masa kini yang suka
“mencari kambing hitam?”
Mari kita mulai dari diri kita sendiri!! Siapa takut!!
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Sikap Hati dan Korupsi 19
E m p a t
BERBAHAGIALAH ORANG YANG JUJUR HATINYA
DAN YANG BERBALIK DARI KETIDAKJUJURANNYA
2 Raja-Raja 12:15
(Rm. DR. Y.B. Prasetyantha, MSF)*
Dalam Kitab Suci, kata “kejujuran” tidak pernah berdiri sendiri,
melainkan selalu dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan yang lain:
ketulusan, kebenaran, keadilan dan damai sejahtera (Bdk. Mzm 25:21; Mzm
111:8; Ams 1:3; Ams 2:9; Yes 11:4; Mal 2:6). Kejujuran adalah keutamaan
pribadi yang punya aspek sosial, berkaitan erat dengan hidup bersama.
Perjanjian Lama menekankan aspek sosial dari kejujuran pribadi itu
dalam suatu perintah yang sederhana: “Jangan mencuri” yang diperkuat oleh
larangan “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya,
atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau
keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel 20:15.17; bdk. Ul
5:19.21).
Perintah umum tersebut kemudian dikonkretkan dalam laranganlarangan
praktis hidup sehari-hari. Kitab Taurat, sebagai contoh, melarang
pencurian, perampokan, penipuan dan cara-cara yang tidak benar untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Sampai-sampai ada peraturan-peraturan
terperinci melawan pengelapan uang, timbangan yang tidak benar, takaran
palsu atau pengambilan untung yang mencekik orang. Untuk menjamin
pelaksanaan peraturan-peraturan ini, disertakan pula hukuman-hukuman dan
ganti rugi yang harus dibayarkan. Secara umum, ganti rugi ini harus lebih
besar dari kerugian yang disebabkan oleh pelanggaran terhadap peraturanperaturan
tersebut.
Pencurian dikutuk sebagai dosa yang serius karena bertentangan dengan
kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Pencurian jelas-jelas tidak adil,
20 Sikap Hati dan Korupsi
merugikan orang lain dan mengganggu hidup bersama. Mengingini, mencuri
dan merampas tanah, rumah dan segala isinya termasuk istri orang lain
merupakan pelanggaran terhadap hak dan kepemilikan orang lain. Sebagai
hak dasar manusiawi, kepemilikan adalah kekuatan moral seseorang untuk
mengatur harta dan penggunaannya sesuai dengan kebebasannya, tidak
tergantung pada orang lain sekaligus tidak melanggar hak orang lain.
Merampas kepemilikan orang lain berarti merampas hak, kebebasan dan
kesempatan orang lain untuk hidup, bertumbuh dan berkembang. Singkatnya,
pencurian bisa disejajarkan dengan pembunuhan, mengambil hidup
seseorang. Nabi Yeremia dengan terang-terangan menempatkannya dalam
deretan kejahatan-kejahatan besar yang Allah perintahkan supaya dihindari
oleh umat bila mereka ingin selamat (Yer 7:4-11; bdk. Am 5:6-15).
Keselamatan yang diwartakan oleh Yesus mencakup pula perintah
melawan ketidakjujuran. Kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Kristus
meliputi pula perwujudan kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Untuk
memperoleh hidup kekal, Yesus pun mensyaratkan pelaksanaan perintah
Hukum Taurat, termasuk “jangan mencuri” dan “jangan mengurangi hak
orang.” Namun, kiranya, tidaklah cukup sekedar mematuhi hukum dan
peraturan. Dalam kisah “orang kaya yang ingin sempurna,” (Mrk 10:17-27;
Mat 19:16-26; Luk 18:18-27) Yesus menambahkan unsur baru dan
menentukan: sikap hati yang benar terhadap harta dan kepemilikan duniawi.
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta
di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21).
Perjanjian Baru, seperti Perjanjian Lama, tidaklah mengutuk kekayaan
dan kesejahteraan, yang umumnya dianggap sebagai berkat Allah. Kerajaan
Allah mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk juga kesejahteraan
jasmani. Dalam pelayanan Yesus hal itu menjadi nyata: “orang buta melihat,
orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar,
orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”
(Mat 11:4-5). Memperjuangkan Kerajaan Allah berarti juga memperjuangkan
struktur masyarakat yang jujur, adil dan membuka kesempatan pada setiap
pribadi untuk mengusahakan kesejahteraan jasmani dan rohani. Namun, lebih
Sikap Hati dan Korupsi 21
dari itu, Kerajaan Allah merupakan suatu panggilan menuju tata penyelamatan
yang baru, suatu kebahagiaan sejati yang memang sudah bisa dialami di dunia
ini tetapi baru menjadi penuh pada akhir zaman.
Panggilan menuju tata penyelamatan baru ini diperuntukkan bagi semua
orang, tanpa kecuali. Bila dalam “sabda bahagia” (Mat 5:1-12) Yesus
menyebut bahagia orang miskin, orang yang berduka dan orang yang lapar
dan haus –sejajar dengan orang yang lemah lembut, orang yang murah hatinya,
orang yang suci hatinya, orang yang membawa damai, orang yang menderita
demi kebenaran– itu karena sikap keterbukaan mereka terhadap Kerajaan
Allah. Yang berbahagia adalah orang-orang yang jujur di hadapan Allah,
yang menyadari diri miskin di hadapan Allah.
Orang-orang kaya, tentu saja, dipanggil ke dalam Kerajaan Allah. Itu
berarti mereka pun dapat diselamatkan, meski hal itu tidak mudah. Bila Yesus
menyebut mereka celaka, (Luk 6:24) itu karena mereka akan kerap tergoda
untuk menyamakan kebahagiaan sejati –anugerah Allah sendiri– dengan
kekayaan. Terang-terangan Santo Paulus berkata: “Tetapi mereka yang ingin
kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai
nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia
ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta
uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari
iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:9-10).
Keselamatan dan kebahagiaan sejati pada akhirnya bukanlah soal
kemiskinan atau kekayaan duniawi, melainkan soal hati. Yang berbahaya adalah
keterikatan hati pada harta duniawi ini. Entah miskin entah kaya, kalau
seseorang terikat pada harta dan dibutakan olehnya, ia akan tergoda untuk
menomorduakan yang lain, sesamanya, bahkan Tuhan sendiri. “Karena di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21, bdk. Luk 12:34).
“Jika engkau hendak sempurna,” dengan sabda itu Yesus menyadarkan
orang kaya yang datang kepadanya, sekaligus menyadarkan murid-murid-
Nya, bahwa janji keselamatan Allah pada bapa-bapa bangsa dan para nabi
menjadi nyata dan penuh bukan dalam kepemilikan kekayaan dan
kesejahteraan duniawi. Itu semua hanyalah sarana. Keselamatan atau
22 Sikap Hati dan Korupsi
kebahagiaan sejati terletak pada Allah sendiri. Orang mengalami keselamatan
karena ia memiliki Allah, atau lebih tepat karena ia membuka diri untuk
dimiliki oleh Allah. Orang merasakan kebahagiaan karena Allah tinggal dalam
dirinya, atau lebih tepat karena ia tinggal dalam Allah.
Pengalaman keselamatan itulah yang terjadi di rumah Zakheus, kepala
pemungut cukai, orang kaya itu (Luk 19:1-10). Dalam masyarakat Yahudi
pada zaman Yesus, pemungut cukai dihina dan disamakan dengan orang
berdosa karena hubungannya dengan penjajah Romawi dan karena
ketidakjujurannya. Itu mengapa orang-orang bersungut-sungut ketika
mengetahui bahwa Yesus singgah di rumah Zakheus. Tentu saja, Yesus
sepaham dengan Hukum Taurat yang mengajarkan bahwa orang-orang perlu
bekerja dengan jujur. Orang-orang demikianlah yang selamat karena
mendengarkan dan melaksanakan perintah Allah (bdk. Luk 11:28). Akan
tetapi, dengan menumpang di rumah Zakheus, Yesus mau menyatakan bahwa
tidak ada jabatan atau pekerjaan apapun yang dikecualikan dari Kerajaan
Allah. Keselamatan pun bisa dialami oleh orang-orang yang pernah melanggar
perintah Allah, asal saja mereka mau berbalik dan menerima Yesus dalam
rumahnya dengan penuh sukacita. “Tuhan, setengah dari milikku akan
kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari
seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”
Keprihatinan Yesus hanya satu, yakni bahwa semakin banyak orang
yang diselamatkan, semakin banyak orang yang mengalami kebahagiaan.
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan
percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15) Kebahagiaan diperuntukkan bagi orang
yang melakukan kehendak Allah, yakni orang yang jujur hatinya. Akan tetapi
pintu kebahagiaan pun senantiasa terbuka bagi orang yang berbalik dari
ketidakjujurannya. Berbahagialah orang yang lepas bebas dari keterikatan
duniawi, karena merekalah anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang
dibebaskan dari keterikatan duniawi, karena mereka pun anak-anak Allah.
* Staf Pengajar Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Sikap Hati dan Korupsi 23
L i m a
KORUPSI: BERTINGKAH A LA YUDAS ISKARIOT
Yohanes 12: 1-8
(Rm. DR. Mateus Mali, CSsR)*
Menarik untuk kita renungkan teks Yohanes 12:1-8, perikop yang
berisikan cerita tentang Yesus yang diurapi oleh Maria di Betania. Cerita
Yohanes ini mirip dengan cerita yang disajikan penginjil Mateus (26:6-13),
Markus (14:3-9) namun berbeda dengan Lukas (7:36-50). Penginjil Matius,
Markus dan Yohanes menampilkan cerita ini sebagai cerita seorang wanita
biasa yang mengurapi Yesus, yang oleh Yohanes diberi nama Maria.
Pengurapan itu dilakukan menjelang sengsara dan wafat Yesus. Maka boleh
ditafsirkan bahwa pengurapan itu adalah antisipasi terhadap wafat Yesus itu
seperti kebiasaan orang Yahudi untuk meminyaki tubuh orang yang meninggal
supaya keharuman namanya tetap tinggal bagi mereka yang hidup. Penginjil
Lukas mengubah cerita itu dengan menempatkan wanita itu sebagai tokoh
“seorang wanita yang terkenal sebagai pendosa” dan sangat mengharapkan
belas kasihan dari Yesus.
Mari kita fokuskan diri pada cerita yang dibuat oleh Penginjil Yohanes
sebagai dasar permenungan kita kali ini. Cerita tentang pengurapan Maria
ini ditempatkan oleh Yohanes sesudah cerita tentang pembangkitan Lazarus
(11:1-44) dan kesepakatan untuk membunuh Yesus (11:45-57) dan menyusul
cerita tentang Yesus yang dielu-elukan oleh penduduk Yerusalem ketika Ia
memasuki kota Yerusalem (12:12-19). Maka Yohanes menggunakan kata
keterangan waktu, “Enam hari sebelum Paskah”. Kata keterangan ini mau
menggambarkan saat-saat terakhir karya Yesus di depan publik. Bagi Yohanes
karya Yesus itu dibagi dalam pekan-pekan yang berpuncak pada peristiwa
kemuliaan sebagai pekan terakhir dalam karya-Nya. Maka peristiwa
pengurapan Maria itu adalah peristiwa menjelang peristiwa puncak Yesus
itu, yakni peristiwa kemuliaan.
24 Sikap Hati dan Korupsi
Dari konteks di atas jelaslah bagi kita bahwa peristiwa pembangkitan
Lazarus adalah gambaran antisipatif tentang kebangkitan manusia dan peristiwa
pengurapan itu adalah gambaran antisipatif dari peristiwa kematian Yesus.
Tindakan yang dibuat oleh Maria adalah tindakan untuk menyatakan
bahwa hari kematian Yesus itu sudah dekat. Yang menarik dari tindakan Yesus
ini adalah reaksi dari Yudas Iskariot. Dalam cerita para Sinoptik (Penginjil
Mateus, Markus dan Lukas), reaksi negatif terhadap tindakan Maria itu datang
dari para murid (Mateus), orang kebanyakan (Markus) dan orang Farisi
(Lukas). Penginjil Yohanes mempersonifikasikan reaksi itu dalam diri Yudas
Iskariot yang adalah muridnya sendiri.
Yudas bereaksi, “Mengapa minyak itu tidak dijual tiga ratus dinar dan
uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Reaksi ini adalah reaksi yang
sangat positif. Ia kelihatannya sangat memperhatikan orang miskin. Sekedar
gambaran saja, satu dinar waktu itu adalah gaji sehari untuk satu orang buruh
(bdk. Mat 20:2). Maka tiga ratus dinar itu cukup banyak. Jelas logika Yudas
adalah: untuk apa pemborosan yang tidak ada gunanya macam itu? Mendingan
uang itu dipakai untuk menolong orang miskin! Jauh lebih berguna dari pada
minyak itu dipakai sekedar untuk mengharumkan kaki saja!
Apakah betul reaksi Yudas itu demikian positif? Penginjil Yohanes
mencatat lagi, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib
orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri: ia sering
mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Reaksi Yudas
Iskariot itu adalah reaksi yang palsu. Dia terkenal sebagai seorang penuh
dosa karena ketamakan, kelobaan dan ketidakjujurannya dalam mengelola
uang bersama itu. Singkatnya dia jahat. Dia “menjual” orang miskin demi
tujuan pribadinya. Dia sengaja mengatakan perhatiannya yang tinggi terhadap
orang miskin padahal hatinya busuk. Penginjil Yohanes melihat bahwa Yudas
Iskariot itu sebagai pencuri. Ia seorang pencuri….(Yoh 12:6). Kalau mau
dikatakan dalam bahasa kita sekarang, pribadi Yudas Iskariot itu adalah
seorang koruptor. Tegasnya, Yudas itu seorang koruptor, seorang pencuri yang
rakus, loba dan tidak jujur. Kelihatannya ia sangat memperhatikan orang
miskin padahal sebetulnya ia menggunakan orang miskin untuk kepentingan
pribadinya.
Sikap Hati dan Korupsi 25
Bagi Yesus, jelas orang miskin harus diperhatikan dengan serius (Yoh
12:8) namun Yesus meminta perhatian para murid, khususnya Yudas Iskariot,
tentang peristiwa yang akan menimpa diri-Nya, yakni Dia harus mati dan
akan dikuburkan. Tindakan Maria adalah gambaran antisipatif terhadap
peristiwa itu.
Menurut hemat kami, gambaran tentang Yudas Iskariot di dalam Injil
Yohanes tadi adalah gambaran yang sangat jelas tentang seorang koruptor.
Yudas Iskariot ini adalah seorang murid Yesus. Murid berarti orang-orang
yang dekat dengan Yesus; di mana Yesus berada di situpun mereka berada.
Mereka pula adalah orang-orang yang paling tahu tentang pribadi Yesus itu
karena mereka mengenal sangat baik Sang Gurunya itu. Namun ia
menyelewengkan kedekatan itu untuk tujuan pribadinya. Ia mau mencegah
Yesus supaya tidak memboros demi tujuan pribadinya. Gambaran lain dari
penginjil Yohanes tentang Yudas Iskariot adalah: dia seorang pemegang kas
(bendahara) keuangan kelompok mereka itu. Namun ia adalah seorang
koruptor karena ia menggunakan uang bersama itu tidak pada tempatnya,
bahkan ia mencurinya demi kepentingan pribadi. Gambaran yang paling
menarik namun kelihatannya paling suci dari seorang Yudas Iskariot adalah:
ia sepertinya mengutamakan kepentingan orang miskin di atas segala
kepentingan. Ia memberi perhatian kepada orang miskin namun sebetulnya
di sana tersimpan akal bulusnya: uang untuk orang miskin dipakai untuk
pemenuhan kepentingan pribadinya.
Kalau kita mengambil tokoh Yudas Iskariot ini dan menempatkannya
dalam bingkai situasi kita di Indonesia maka menurut hemat kami, personifikasi
Yudas Iskariot sebagai seorang koruptor sangat pas, sangat cocok.
Di bumi Indonesia ini seorang koruptor biasanya adalah seorang yang
mempunyai kedudukan tertentu di dalam pengambilan kebijakan tertentu. Ia
biasanya mempunyai kekuasaan atau dekat dengan elite pemegang kekuasaan.
Seperti Yudas Iskariot, kedudukannya itu dipakai untuk kepentingan
pribadinya atau ia akan mempengaruhi orang lain agar mengikuti
kehendaknya yang kelihatannya sangat masuk akal, misalnya, nasihat jangan
memboros, haruslah hemat, kencangkan ikat pinggang; persis seperti nasihat
Yudas Iskariot terhadap Sang Gurunya. Nasihat-nasihat atau usulan-usulannya
26 Sikap Hati dan Korupsi
itu cukup positif namun di sana tersimpan maksud jahat: uang hasil
penghematan itu dipakai untuk kepentingan pribadinya.
Seorang koruptor adalah seorang yang tamak, loba dan tidak jujur.
Ketamakan atau kerakusan atau kelobaan itulah yang mendorong seseorang
untuk melakukan tindakan korupsi. Ia ingin memiliki segala harta. Ia mau
lebih dari yang lain dan karenanya menghalalkan segala cara untuk
mendapatkannya. Seperti Yudas Iskariot, para koruptor di Indonesia juga
didorong oleh sikap hidup yang ingin mewah: ingin memiliki mobil mewah,
rumah mewah, fasilitas mewah. Mereka mau lebih dari orang lain. Untuk
maksud itu mereka tidak segan-segan menghalalkan segala cara. Bayangkan
dia hanya seorang bupati di sebuah kabupaten yang miskin namun dia
mempunyai mobil dan rumah mewah yang harganya selangit padahal gaji
seorang bupati di daerah itu tidaklah seberapa. Dari mana uang itu?
Jawabannya sederhana saja: pastilah terjadi penyelewengan kekuasaan untuk
tujuan pribadi.
Ide suci dan mulia juga bisa dipakai oleh para koruptor untuk
menggerogoti keuangan bersama. Seperti Yudas Iskariot, seorang koruptor
akan memberi perhatian kepada orang miskin. Orang miskin dipakai sebagai
alat untuk menimbun kekayaan pribadi. Bukan rahasia lagi bahwa dana
bantuan untuk orang miskin, seperti bantuan untuk para pengungsi, para
petani, para korban banjir ‘disunat’ oleh sang koruptor untuk kepentingan
pribadi. Dia tidak lagi mempunyai hati dan perhatian terhadap orang miskin.
Sebaliknya dia bersyukur bahwa ada orang miskin sehingga ‘jatah’ untuk
orang miskin bisa dipakainya. Orang miskin adalah kelompok yang tidak
mempunyai suara atau mereka tidak bisa bersuara sehingga gampang ditipu
dan dimanipulasi.
Menurut hemat kami, korupsi di Indonesia sudah sangat parah. Segala
macam cara dapat dipakai untuk melakukan hal itu. Kalau dulu orang berkata,
“korupsi adalah pemberian duit di bawah meja” sekarang orang berkata,
“Mejanya pun sekalian diambil”. Maksudnya jelas: koruptor sekarang sudah
tidak lagi mempunyai malu. Korupsi dilakukan secara terang-terangan.
Sikap Hati dan Korupsi 27
Korupsi mesti dilawan dengan apa? Menurut hemat kami, dari bacaan
Injil Yohanes tadi, korupsi hanya bisa dilawan dengan sikap iman: kedekatan
dengan Sang Guru dan kejujuran hati. Orang yang dekat dengan Allah yang
diimaninya akan menuntun diri dan hatinya agar berjalan pada jalan yang
benar. Kedekatan dengan Allah itu akan membuat ia menjadi seorang yang
taqwa dan penuh penyerahan diri kepada Allah. Inilah yang membuat orang
tidak bisa melakukan korupsi.
Demikian juga kejujuran hati dari seseorang akan membuat ia tidak
melakukan korupsi karena kejujuran itu akan menghantar orang itu kepada
keterbukaan diri, tidak sombong, tidak mau bermewah diri dan menerima
orang lain, khususnya orang miskin, sebagai saudaranya. Orang yang jujur
hatinya adalah orang setia pada tugas yang dipercayakan kepadanya dan
menganggap tugas itu sebagai pelayanan terhadap masyarakat umum dan
tidak pernah memanipulasi kedudukan atau jabatannya. Ia menjadi orang
yang setia.
Ajakan singkat sesuai dengan Injil Yohanes 12:1-8, yang sudah kita
renungkan bersama: jangan korupsi karena korupsi adalah tindakan Yudas
Iskariot, sang pengkhianat Yesus, Sang Guru.
* Pastor, Dosen Teologi Moral pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta
28 Sikap Hati dan Korupsi
E n a m
OPTION FOR THE POOR DARI KAUM OPORTUNIS
Sebuah Permenungan atas Perilaku para Murid Yesus
Matius 26:6-13
(Alfred Benedictus J.E.)*
Saya ingin mengawali kotbah ini dengan sebuah kisah yang sangat
bertentangan dengan judul permenungan di atas.
Ada seorang raja yang baru saja memecat bendahara kerajaannya sebab
ia didapati tidak jujur. Maka raja mulai mencari siapakah gerangan orang
yang dapat menduduki jabatan bendahara negara yang sangat penting itu?
Akhirnya, setelah melalui seleksi yang sangat ketat, raja mengangkat
seseorang yang tadinya hanyalah seorang rakyat jelata sederhana sebagai
bendahara kerajaan. Hal ini terjadi semata-mata karena kejujuran orang
tersebut yang sudah terkenal di mana-mana.
Tentu saja perubahan kedudukan ini segera membawa pengaruh yang
besar. Kalau tadinya ia dan keluarganya tinggal di sebuah pondok yang
sederhana, kini sesuai dengan kedudukannya, tinggal di sebuah rumah besar
dan mewah, tidak kekurangan suatu apa pun. Demikianlah hal ini berlangsung
selama kurang lebih satu tahun lamanya, sampai pada suatu waktu
disampaikanlah sebuah laporan kepada baginda raja.
Laporan itu menyatakan bahwa beberapa waktu yang lalu, pengawal
yang menjaga gedung perbendaharaan kerajaan melihat bendahara tersebut
pergi keluar dari gedung dengan membawa sebuah bungkusan. Ternyata,
menurut laporan, hal seperti itu bukan hanya terjadi satu-dua kali saja, tetapi
setiap kali ia masuk dan keluar gedung perbendaharaan kerajaan, ia selalu
membawa bungkusan seperti itu. Maka muncullah kecurigaan baginda raja.
Apakah ia mencuri sesuatu? Kemudian raja mengeluarkan perintah untuk
Sikap Hati dan Korupsi 29
menangkap bendahara itu pada keesokan harinya pada saat pulang kerja.
Ketika dibawa menghadap baginda raja, ternyata memang benar ia membawa
sebuah bungkusan. Kecurigaan raja demikian besar, sehingga dengan segera
ia memerintahkan agar bungkusan itu dibuka.
Ketika dibuka, apakah yang terdapat dalam bungkusan itu? Apakah
emas, perak, berlian? Ternyata bukan. Isinya hanyalah sebuah pakaian tua
yang sudah koyak-koyak.
Raja menjadi sangat heran dan bertanya: “Apakah maksudmu membawa
pakaian tua seperti ini masuk dan keluar ruang perbendaharaan kerajaan?”
Bendahara itu menjawab: “Baginda Raja, pakaian ini tak lain adalah
pakaian yang dahulu saya pakai sebelum baginda mengangkat saya sebagai
bendahara kerajaan. Setiap kali saya masuk ke dalam gedung kerajaan dan
melihat begitu banyak emas, berlian dan permata yang ada di dalamnya, saya
perlu sekali membawa pakaian tua itu. Maksudnya ialah agar saya tidak lupa
diri, tetapi selalu ingat bahwa dahulu saya hanyalah seorang yang miskin
dan hina, dan berkat kemurahan hati bagindalah saya dapat diangkat menjadi
orang yang terhormat. Maka begitu saya melihat pakaian tua ini segala
ketamakan dan ketidakjujuran saya hilang, berganti dengan rasa syukur yang
tak terhingga kepada baginda.”
Raja senang sekali mendapatkan kejujuran bendaharanya ini, dan segera
melepaskannya dari segala tuduhan yang tidak beralasan.
Banyak Orang Oportunis di Sekitar Kita
Kisah bendahara yang jujur dan tahu asal usulnya di atas sangat
paradoksal dengan sikap atau perilaku murid-murid Tuhan Yesus ketika
melihat seorang wanita yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu
yang sangat mahal. Memang, dalam kisah-kisah Alkitab kita menemukan
bahwa para pahlawan seringkali melakukan tindakan-tindakan yang
mengejutkan dan spektakuler, perbuatan yang tidak lazim bagi orang-orang
semasanya.
30 Sikap Hati dan Korupsi
Perikop Matius 26:6-13 yang menjadi acuan permenungan kali ini
memperlihatkan bahwa seorang wanita, dalam suatu perjamuan, mengurapi
kaki Yesus dengan minyak dan menyekanya dengan rambut. Tindakan si
wanita tersebut menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang melihatnya.
Bahkan para murid Yesus bertanya dengan heran: “Untuk apa pemborosan
itu? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan
kepada orang-orang miskin” (Mat 26:8-9). Apakah keprihatinan para murid
itu sungguh tulus?
Perilaku atau reaksi para murid tersebut sangat lazim dijumpai dewasa
ini. Kita saksikan bahwa ada banyak orang yang “gembar-gembor” peduli
pada rakyat kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Apakah benar bahwa orang
kecil, lemah, miskin dan tersingkir menjadi pusat perhatian dan
kepeduliaanya? TIDAK!! Itu hanya sebuah kedok. Bahwa orang miskin sering
menjadi target pengentasan, target proyek pemberdayaan memang sering
meluncur dari mulut orang-orang yang “berpihak”, yang berkomitmen pada
penderitaan rakyat. Tetapi keberpihakan itu hanya sebatas lip service.
Merekalah orang-orang oportunis, yang seringkali “merasa
bertanggungjawab” atas keselamatan orang lain.
Orang-orang oportunis adalah orang yang cerdik dan pandai
memanfaatkan kesempatan. Mereka selalu ditunggangi kelicikan untuk
menguasai orang lain demi kepentingan dan keuntungan diri dan
kelompoknya. Orang-orang oportunis tidak peduli apa yang mereka lakukan
benar atau salah. Mereka pandai memanfaatkan situasi tanpa terikat atau
repot dengan prinsip-prinsip nilai dan etika. Mereka cenderung bersikap plinplan,
yang terpenting tujuannya tercapai. Orang-orang semacam ini banyak
berkeliaran di sekitar kita dalam berbagai bentuk penampilan. Apakah kita
termasuk salah satu dari orang-orang oportunis itu?
Orang-orang oportunis selalu bersikap optimis untuk memanfaatkan
setiap limit kesempatan. Bagi mereka sekecil apapun kesempatan adalah
sebuah peluang untuk mementingkan dirinya sendiri. Mereka tidak pernah
puas dengan kejahatan-kejahatan kecil dan selalu memiliki alasan untuk
membenarkan tindakannya. Dan mereka selalu mencari celah untukmpak dalam kerakusan dan keserakahan manusia. Itu
pulalah yang telah mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup dan
mendatangkan banjir dan tanah longsor, lemahnya penegakkan hukum dan
keadilan, merosotnya disiplin, korupsi, dll, adalah berakar dari dosa. Dosa 6 Sikap Hati dan Korupsi
telah memperanakan dosa, dan dosa itu telah mengakibatkan banyak orang
menderita! Banyak orang lupa, bahwa dosalah yang telah mengakibatkan
keterpurukan kehidupan bangsa Indonesia sekarang ini, dan dosa itu berakar
di dalam hati manusia yang jahat, dan sebab itu melahirkan kejahatan. Namun
bagi orang berdosa itu, hidup dalam dosa sudah menjadi keseharian, sehingga
korupsi – dalam segala bentuknya itu – lalu menjadi sebuah rutinitas. Sebab
itu, ketiadaan kesadaran akan dosa itulah dosa yang paling besar.
Kedua, bahwa mendengarkan Firman Tuhan itu juga penting untuk
kehidupan. Dengan hidup dari firman Tuhan maka hati akan disucikan dari
kerakusan dan keserakahan, dan mampu melihat dengan jernih, bahwa ada
begitu banyak persoalan – bukan hanya soal perut - dalam kehidupan ini yang
mesti diselesaikan dan dikerjakan, seperti persoalan HAM, lingkungan hidup,
ketidakadilan struktural, dll. Hidup dari firman Tuhan akan menumbuhkan
solidaritas dan berbela rasa dengan penderitaan orang lain, dengan demikian
akan menjadikan hidup ini bermakna bagi orang lain. Hidup itu baru bermakna
ketika kita bisa membahagiakan sesama manusia, dan hal itu tidak berarti bahwa
seseorang harus kaya terlebih dahulu. Malahan sebaliknya, hidup itu baru
bermakna ketika kita mampu membahagiakan sesama dari kekurangan dan
keterbatasan kita. Itulah solidaritas dan berbela rasa.
Pada pencobaan kedua, iblis membawa Yesus ke bubungan Bait Allah,
dan dengan mengutip Mazmur 91:11-12 ia berkata kepada Yesus: “Jika
Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis:
Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka
akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk
kepada batu” (Mat 4:5-6). Dengan kata lain, iblis berkata kepada Yesus, kalau
Yesus benar-benar yakin bahwa Ia adalah Anak Allah, meskipun Yesus
menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah yang begitu tinggi, niscaya kaki
Yesus tidak terantuk pada batu di bawah sana sebab Allah akan melindungi
Yesus. Jawaban Yesus adalah: “Ada pula tertulis, jangan engkau mencobai
Tuhan Allahmu” (Mat 4:7).
Kalau pada pencobaan pertama, iblis mencobai Yesus dari aspek
kekayaan material, maka pada pencobaan kedua ini iblis mencobai Yesus
dari aspek kehormatan. Bukankah Yesus begitu dekat dengan Allah, sehingga
Sikap Hati dan Korupsi 7
Allah akan melindungi Dia dari segala kecelakaan, meskipun dengan sengaja
menerjunkan diri ke bawah? Bukankah Tuhan itu maha kasih dan maha
mengampuni, sehingga orang boleh saja manusia berbuat salah karena toh
dosanya akan tetap diampuni Tuhan? Sebaliknya, akankah Tuhan melindungi
dan mengampuni orang dengan sengaja dan sadar berbuat kesalahan? Bagi
Yesus tindakan seperti itu sama sekali tidak bisa ditelorir, karena tindakan
seperti itu sama saja dengan mencobai Allah.
Banyak orang berpikir dan berkeyakinan, bahwa karena Tuhan itu maha
kasih, maha adil, dan maha mengampuni, maka kalau kita berbuat jahat pasti
akan diampuni. Pikiran seperti ini lahir dari pikiran yang korup, sehingga
kasih dan pengampunan Tuhan saja dimanipulasi untuk kepentingan diri.
Pemikiran seperti ini akan membenarkan tindakan yang korup. Sebab itu
banyak koruptor yang kemudian menjadi begitu pemurah dan dermawan,
bahkan menjadi penyumbang terbesar dalam pembangunan rumah-rumah
ibadah serta berbagai kegiatan keagamaan. Dengan cara seperti itu ia ingin
menjadi orang yang dihormati dan disegani di lingkungan komunitasnya.
Sebaliknya banyak dari kita juga berkolaborasi dengan para pencoleng dan
tikus kantoran dengan cara mempergunakan fasilitas kantornya; foto kopi
gratis, ATK gratis, dll. Jadi jangan heran, kalau amal ibadah kita tidak
berkenan bagi Allah. Tidak ada kehormatan yang bisa diperoleh melalui cara
tercela.
Banyak orang mengatakan bahwa korupsi di Indonesia ini sudah
berjamaah! Ia dilakukan secara kolektif, bahkan melibatkan lembaga
keagamaan yang semestinya menjadi benteng moral untuk melawan korupsi.
Banyak pengurus gereja yang meminta sumbangan untuk membangun gedung
gereja pada para pengusaha HPH yang jelas-jelas merusak dan menggunduli
hutan. Banyak pengurus gereja yang meminta sumbangan kepada para pejabat
yang kekayaannya diperoleh melalui cara yang tidak halal. Sebab itu seruan
bagi pertobatan nasional dan peperangan melawan korupsi dan kembali
kepada Tuhan lalu menjadi sangat relevan untuk dilakukan.
Pada pencobaan ketiga (Mat 4:8-10), iblis membawa Yesus ke atas
gunung yang sangat tinggi dan kepada Yesus diperlihatkan semua kerajaan
dunia ini dengan segala kemegahannya. Kepada Yesus iblis berkata, bahwa
8 Sikap Hati dan Korupsi
semuanya itu akan diberikan kepada Yesus kalau Yesus menyembah si iblis.
Terhadap pencobaan ini Yesus berkata: “Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis:
Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah
engkau berbakti”.
Seperti yang sudah disebutkan di atas, kekuasaan itu nikmat dan
memabukkan, sehingga orang akan menempuh segala cara untuk meraihnya.
Kalau kekuasaan sudah ditangan, maka orang juga akan melakukan segala
cara untuk mempertahankannya. Sebab itu banyak orang lebih suka menjadi
raja kecil ketimbang buruh besar. Sudah menjadi rahasia umum, banyak orang
yang datang ke perewangan, atau ke mbah dukun yang dianggap sakti untuk
meminta pertolongan agar orang bisa meraih dan mempertahankan kekuasaan.
Namun kekuasaan yang diperoleh melalui persekutuan dengan iblis akan
melahirkan korupsi dan tindak kejahatann lainnya. Makanya praktik money
politics dalam dunia perpolitikan di Indonesia adalah sebuah bentuk korupsi
yang kemudian akan berbuah korupsi pula.
Pepatah Cina mengatakan “ikan itu membusuk mulai dari kepalanya.”
Artinya, pemimpin yang korup akan melahirkan masyarakat yang korup;
direktur, kepala kantor, kepala bagian, atau atasan yang korup akan melahirkan
karyawan yang korup. Barangkali inilah sebabnya, mengapa Indonesia dikenal
sebagai salah satu negara terkorup di dunia; sebuah gelar yang sesungguhnya
sangat memalukan ketika orang Indonesia mengklaim diri sebagai orang yang
paling beragama. Tetapi bukankah korupsi itu sendiri sudah bertentangan
dengan nilai-nilai keagamaan? Kalau korupsi – yang merupakan musuh agama
itu - seakan-akan sudah menjadi budaya di Indonesia, maka pastilah ada
yang salah dalam kita memahami agama dan beragama.
Sidang Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Kisah pencobaan Yesus hendak mengajarkan kepada kita tiga hal..
Pertama, bahwa setiap orang yang akan memikul sebuah tanggungjawab
sebagai pemimpin haruslah mensucikan dan membersihkan hatinya dari
segala kotoran, keserakahan, kerakusan, dan hawa nafsu. Kalau hati sudah
disucikan dan pintu niat untuk kejahatan sudah tertutup, maka meskipun
Sikap Hati dan Korupsi 9
kesempatan untuk korupsi terbuka, bisalah dipastikan orang tidak akan
melakukan korupsi. Sebab itu berpuasa sebagai ajang untuk melatih diri
melawan segala godaan dan cobaan menjadi penting dilakukan sebelum
seseorang memangku jabatan atau menjadi pemimpin. Sumpah jabatan yang
diucapkan atas nama Tuhan, hanya akan menjadi sebuah hujat terhadap Tuhan
manakala hati tidak terlebih dahulu dibersihkan dari segala noda dan kotoran.
Kedua, korupsi dalam berbagai bentuknya adalah bentuk persekutuan dengan
iblis, dan itu berarti permusuhan dengan Tuhan. Kekayaan, kehormatan, dan
kekuasaan itu bukanlah tujuan akhir dari kehidupan, melainkan ia harus
menjadi alat untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat. Ketiga,
Kemenangan dalam menghadap cobaan demi cobaan hanya mungkin kalau
kita bersandar pada yang menang, yaitu Yesus sendiri. Ketika Yesus
memenangkan pertarungan mati hidup itu, iblis meninggalkan Dia dan
malaikat-malaikat datang melayani Yesus (Mat 4:11).
Begitu pula setiap kita yang berhasil melawan godaan demi godaan
untuk melakukan korupsi, maka malaikat-malaikat pun akan melayani kita.
Kiranya Tuhan memberkati dan menolong kita melawan segala godaan dan
cobaan. Amin.-
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
10 Sikap Hati dan Korupsi
D u a
DI MANAKAH ALLAH YANG MENGHUKUM?
Maleakhi 2:17-3:5
(Pdt. DR. Henriette Hutabarat Lebang)*
Pertanyaan di atas, “Di manakah Allah yang menghukum?” sering
disuarakan oleh orang yang lelah melihat kejahatan atau mereka yang menjadi
korban ketidakadilan yang merajalela di sekitar hidupnya. Di manakah Allah
yang adil? Mengapa orang yang melakukan kejahatan justru semakin makmur
hidupnya, sementara mereka yang setia kepada Tuhan justru semakin
menderita? Mengapa Allah berdiam diri; mengapa Allah tidak menghukum
orang yang terang-terangan menindas sesamanya serta asyik memperkaya
dirinya di atas penderitaan orang lemah? Tetapi, pertanyaan yang sama, “di
manakah Allah yang menghukum?” sering juga diajukan oleh mereka yang
justru tidak takut berbohong, tidak segan mencuri milik sesamanya, rajin
memeras rakyat kecil, tidak jemu melakukan pungutan liar dengan alasan
gaji tidak cukup atau apapun, bahkan menyingkirkan orang asing atau orang
yang bukan “gang”nya (kelompoknya). Pertanyaan itu menjadi semacam
ejekan. Tokh Allah tidak berbuat apa-apa terhadap pelanggaran dan dosa
manusia - sebab itu “marilah kita teruskan berbuat dosa.”
Dalam perikop kita ini, pertanyaan tersebut muncul dalam Maleakhi
2:17. Menurut nabi Maleakhi, umat Allah telah menyusahkan Allahnya
dengan menganggap bahwa “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik
di mata Tuhan; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan….” Umat
Tuhan di zaman nabi Maleakhi telah memutarbalikkan kebenaran. Orang
yang melakukan kejahatan justru disebut sebagai orang yang baik di mata
Tuhan. Bahkan diberi cap atau pembenaran religius, dengan mengatakan,
bahwa Allah berkenan atas orang-orang itu. Menurut nalar sehat kita, ini
cara berpikir dan sikap yang aneh. Tetapi yang aneh ini nyata!
Sikap Hati dan Korupsi 11
Bukankah dalam kehidupan kita dewasa ini, nilai-nilai pun sudah
diputarbalikkan? Nilai-nilai yang luhur: kebenaran, kejujuran, ketulusan,
mengutamakan kepentingan bersama, makin lama makin menipis bahkan
digantikan oleh nilai-nilai materialisme dan individualisme. Orang tidak segan
menyingkirkan atau membunuh sesamanya demi memperoleh uang, misalnya.
Manusia tidak takut lagi membabat habis hutan demi perhitungan keuntungan
yang besar. Korupsi atau tindakan yang busuk dan jahat makin lama makin
dianggap sudah biasa. Berbagai penyalahgunaan jabatan dan kedudukan tidak
asing dalam kehidupan kita. Justru makin lama makin dianggap aneh jika
orang yang berjabatan tidak memanfaatkan kesempatan untuk memperkaya
diri. Mereka digelari orang bodoh!
Sakitkah masyarakat kita? Jawabnya tegas, “ya!” Seorang filsuf
kenamaan, Imanuel Kant mengatakan: “Jika keadilan sudah hilang, maka
percumalah manusia hidup lebih lama di dunia ini.” Ironisnya, ‘mafia
pengadilan’ makin mencuat ke permukaan dan ramai disoroti oleh masyarakat.
Lembaga terakhir yang diharapkan dapat menegakkan kebenaran ternyata
tidak sepi dari praktek suap. Jelas pola hidup yang ditandai korupsi (kebusukan
dan kejahatan) di mana keadilan sudah tidak dipedulikan, cepat atau lambat
membawa kepada kehancuran hidup. Kalau korupsi kecil-kecilan dan besarbesaran
tidak lagi membuat hati nurani terganggu, berarti masyarakat sudah
sakit. Inilah penyakit sosial yang paling parah dan jelas menyusahkan Tuhan,
kata Maleakhi. Sebab bukankah Allah yang telah mengikat diri-Nya dalam
perjanjian dengan umat-Nya, adalah Allah yang kasih (Mal 1:2) dan
menginginkan kehidupan yang disertai damai sejahtera (Mal 2:5).
Di masa Maleakhi, umat Allah masih rajin beribadah. Para imam sibuk
dengan tugas mempersembahkan korban. Tapi justru Allah menganggap
tindakan keagamaan mereka itu menghina diri-Nya (Mal 1:6-8). Mengapa?
Sebab kehidupan beragama pun tidak sepi dari korupsi. Kelihatannya, ibadah
dilakukan. Tapi motivasinya sudah kehilangan ketulusan. Praktek penipuan
pun terjadi di sana (Mal 1:6-14). Umat bernazar akan memberikan yang
terbaik sebagai persembahan bagi Allah (pada waktu itu yang dianggap yang
terbaik adalah binatang jantan). Tetapi yang dipersembahkan adalah
12 Sikap Hati dan Korupsi
sebaliknya: binatang yang sakit, timpang, cacat! Bagi Allah, tindakan ini
adalah penghinaan kepada-Nya.
Keadaan masa Maleakhi ini mengajak kita yang hidup di era globalisasi
ini untuk merenung diri! Bukankah masyarakat Indonesia dikenal sebagai
masyarakat yang religius? Kita sering berbangga bahwa kehidupan
keagamaan di Indonesia masih tetap terpelihara, bahkan mungkin semakin
marak: tempat-tempat ibadah penuh dihadiri oleh umat; hari raya keagamaan
dirayakan dengan semarak; sapaan-sapaan awal bernuansa religius, bahkan
sampai pakaian pun diberi label agama (baju gereja, busana Muslim, dst.).
Tetapi aneh, bahwa di tengah maraknya kehidupan beragama, ternyata
penyakit sosial pun makin merajalela. Moral masyarakat semakin merosot.
Ini sebuah indikasi bahwa kehidupan keagamaan tidak mempengaruhi pola
hidup umat sehari-hari. Ibadah dan cara hidup sehari-hari sepertinya terpisah
dan tidak mempunyai hubungan. Jangan-jangan kehidupan keagamaan hanya
marak secara lahiriah, tetapi hati manusia sebenarnya sudah keropos, sudah
rusak, sudah “corrupted.” Hati nurani manusia sudah tumpul.
Dalam situasi seperti ini, kehidupan keagamaan yang dari luar
kelihatannya suci, tidak jarang hanya menjadi tameng untuk menyembunyikan
noda-noda dosa yang makin dalam mempengaruhi hati manusia. Seorang
pejabat PNS memiliki mobil mewah, walaupun semua tahu bahwa dengan
mengandalkan gajinya hal ini sulit dibayangkan. Tetapi tugasnya mengurusi
para TKI, tempat yang marak dengan praktek pungli disertai tekanan terhadap
para TKI yang karena situasi ekonomi yang mencekam di kampungnya,
terpaksa menjadi kuli dan pembantu rumah tangga di negeri orang. Mata
kasad manusia akan berkesimpulan bahwa praktek korupsi ada di balik mobil
mewah itu. Namun isteri PNS itu dengan mengangguk-angguk mengelus
mobil tersebut sambil “bersaksi” kepada kenalan di sekitarnya: “Ini hanya
mungkin karena berkat Tuhan!” Bayangkan, pasti hati Allah susah mendengar
komentar seperti itu. Sekalipun ungkapan itu kedengarannya sangat alim
serta bernada religius, namun di balik ‘kata-kata kesaksian’ itu, telah terjadi
penipuan dan penindasan hak orang lemah. (bdk. Am 5:7-13)
Allah yang sungguh mengasihi ciptaan-Nya, tidak akan membiarkan
korupsi berjalan terus sehingga kehidupan anugerah-Nya akan menjadi hancur
Sikap Hati dan Korupsi 13
total. Ia adalah Allah yang anti korupsi! Sebab itu Allah mengambil inisiatif.
Ia akan datang ke tengah hidup manusia yang sudah rusak. Mengapa Allah
capek-capek mengurusi manusia yang durhaka? Alasannya hanya satu: sebab
Ia setia kepada janji-Nya, sekalipun umat tidak setia bahkan menghina Dia.
Yang jelas, kedatangan Allah pasti terjadi, sekalipun tidak ada yang tahu
kapan persisnya. Dan tidak ada seorangpun yang dapat bertahan apabila Ia
metampakkan diri (Mal 3:2). Kehadiran Allah digambarkan “sebagai api
tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu” (Mal 3:3). Tujuan
Allah adalah untuk memurnikan yang kotor, membersihkan noda-noda dosa
manusia yang sudah tebal - sehingga manusia dapat mempersembahkan
hidupnya secara utuh, tidak setengah-setengah (bdk. Rom 12:1-2). Secara
khusus disebut bahwa Ia mentahirkan orang Lewi, kelompok kaum imam,
menyucikan mereka seperti emas dan perak... Justru para pemimpin agama
mendapat perhatian penting dalam proses pembersihan dan pemurnian itu.
Bukankah mereka adalah anutan umat dan masyarakat? Agar perubahan
terjadi, peran agama sebagai sumber spiritual dalam mengembangkan
kehidupan etik masyarakat dan moral para pemimpin, harus dibersihkan dan
dimurnikan kembali.
Manusia tidak mungkin lagi menutup-nutupi kebusukan itu. Bagaimana
pun kebusukan selalu menyebabkan, cepat atau lambat, muncul bau tidak
sedap. Pada waktunya, Allah sendiri yang akan mengungkapkan kebenaran.
Bahkan Ia sendiri yang akan menjadi saksi perbuatan-perbuatan maksiat
manusia: tukang-tukang sihir (yang menipu dan menakut-nakuti manusia
demi keuntungan tertentu), orang-orang berzinah dan bersumpah dusta dan
terhadap orang-orang yang menindas orang upahan, janda dan anak piatu,
dan yang mendesak ke samping orang asing. (ay. 5)
Ini berarti, Allah bukanlah Allah yang pasif atau tidak berbuat apa-apa
terhadap kejahatan manusia. Ia justru sangat prihatin dalam kasih-Nya
terhadap dunia ini. Jangan kita ragukan janji Allah tentang kehidupan yang
merupakan berkat! Di tengah keadaan masyarakat kita yang semakin terpuruk
secara moral maupun ekonomis, kita merindukan kehadiran Allah yang
membersihkan dan menyembuhkan penyakit sosial kita. Ya, datanglah
Immanuel! seharusnya menjadi doa kita. Doa dan harapan kita ini mesti
14 Sikap Hati dan Korupsi
disertai dengan kesediaan untuk berbalik dan meninggalkan kejahatan yang
kita perbuat, secara sadar atau tidak. Kecenderungan untuk mencari kesalahan
orang lain, menghakimi orang lain sambil membenarkan bahkan memuliakan
diri sendiri - tidak akan membuat situasi berubah. Justru kita bisa semakin
terpuruk dalam dosa kita. Sebaliknya, kesediaan membuka diri dijamah dan
disentuh oleh Tuhan sendiri akan menjadi awal dari kehidupan baru yang
membuat kita menjadi orang-orang yang anti korupsi! Orang-orang yang
‘sudah baru’, dari hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup yang
memberi kesejukan bagi sekitarnya (bdk Yoh 4:14; 7:37-38). Mereka akan
menjadi teman sekerja Allah menyatakan kebusukan serta menegakkan
kebenaran di tengah masyarakat. Allah berjanji bagi orang yang takut akan
Dia: “bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada
sayapnya.” (Yoh 4:2)
* Pendeta Gereja Toraja
Sikap Hati dan Korupsi 15
T i g a
WANITA YANG ENGKAU BERIKAN PADAKU….
Refleksi tentang Pelemparan Tanggungjawab
Kejadian 3:10-13
Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM*
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih,
Ada seorang suami yang begitu tiba di rumahnya langsung marah-marah
pada istrinya. Istrinya bingung, mengapa suaminya tiba-tiba marah? Ia hanya
diam saja. Rupanya sebelumnya, sang suami dimarahi oleh direkturnya karena
laporan bulannya belum lengkap. Dan sang direktur sehari sebelumnya ditegur
oleh para pemegang saham agar dia meningkatkan kinerja perusahannya.
Kita kembali kepada si istri tadi. Ia menjadi sangat marah pada putri kecilnya
yang masih berusia lima tahun karena menumpahkan susu dan mengotori
baju yang baru saja dipakainya. Si anak hanya bisa menangis sembari menatap
kucing yang telah menyenggol gelas susu.
Kalau kita memperhatikan secara saksama, maka kelihatan lingkaran
pelemparan kesalahan pada orang lain. Pelemparan kesalahan semacam itu
seakan-akan terjadi secara spontan dan berputar-putar. Mengapa orang bisa
menumpahkan kesalahannya pada yang lain?
Pengalaman “pelemparan” kesalahan dari kisah di atas dapat kita lihat
juga dari kisah Kejadian 3:1-24 khususnya pada ayat 10-13. “Pelemparan”
kesalahan dapat disamakan dengan upaya melepaskan tanggunjawab. Kisah
kejatuhan manusia ke dalam dosa, disebabkan manusia tidak puas dengan
kekuasaan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Mandat yang diberikan
Tuhan kepada manusia untuk mengelola ciptaan, berarti bahwa Tuhan
menjadikan manusia sebagai mitra kerjanya untuk mengelola kehidupan.
Tetapi manusia tidak puas dengan sekedar menjadi mitra. Ia juga ingin menjadi
pemilik. Manusia ingin menjadi sama seperti Tuhan. Ketidakpuasan itulah
16 Sikap Hati dan Korupsi
yang menyebabkan manusia melakukan segala cara agar mencapai apa yang
diinginkannya. Akan tetapi manusia tidak pernah mau bertanggungjawab
sendiri atas kejatuhannya. Ia mengkambinghitamkan orang lain.
Lihatlah….Adam, dia tidak mau disalahkan begitu saja. Adam malah
menyalahkan Hawa. ….”wanita yang Kau berikan padaku, dialah yang telah
membuat aku jatuh….” Dan sang Hawa pun tidak mau disalahkan. ….itu si
ular yang telah memperdayai dan menghasut aku untuk melanggar larangan-
Mu…” Mungkin ular itu akan mencari kambing hitam juga….”Engkau yang
telah menciptakan aku…..” Ular akan menyalahkan Tuhan karena telah
menciptakan dia.
Pengalaman kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa terus terjadi dan
senantiasa berulang dalam sejarah kehidupan manusia. Kejatuhan itu tentu
bukan karena salah Tuhan yang telah menciptakan manusia. Tetapi terutama
karena manusia tidak pernah merasa puas dengan anugerah yang diberikan
Tuhan. Selain itu kejatuhan manusia dalam dosa adalah akibat
penyalahgunaan tanggungjawab dan kepercayaan yang diberikan padanya.
Penyalahgunaan tanggungjawab itu didorong oleh ambisi manusia untuk
menyaingi Allah.
Dewasa ini ambisi untuk menyaingi Allah kian menjadi-jadi. Lihatlah
praktek korupsi yang mulai tersingkap satu per satu. Tetapi penyingkapan
kasus korupsi itu tetaplah misteri karena mengalami siklus “pelemparan”
kesalahan. Ketika seseorang ketahuan melakukan korupsi, dia tidak dengan
jujur dan tanggungjawab mengakui perbuatannya. Para pelaku korupsi selalu
melemparkan kesalahannya kepada orang lain. Ia tidak pernah secara gentle
mengakui bahwa ia memang berbuat korup. Banyak contoh membuktikannya.
Ketika seseorang dituduh korupsi ia akan berusaha dengan segala cara untuk
menyangkal bahkan berani “bersumpah palsu” bahwa mereka tidak berbuat
korup. Yang korupsi adalah orang lain. Buktikan dulu secara hukum bahwa
aku memang korupsi, jangan-jangan cuma fitnah, atau salah orang. Akibat
lebih parah.....kasus korupsi tidak pernah terungkap dengan tuntas.
“Penyakit pelemparan” kesalahan dalam kasus korupsi terjadi secara
terang-terangan. Kasus korupsi yang melibatkan Komisi Pemilihan Umum
(KPU) adalah salah satu contoh yang sangat kasat mata. Tidak semua anggota
Sikap Hati dan Korupsi 17
KPU menyatakan dengan terus terang telah menikmati “kue-kue” korupsi.
Masing-masing anggota saling menyalahkan. Akibatnya hanya orang-orang
tertentu yang menjadi korban. Hanya orang tertentu yang menjadi “pahlawan”
demi menyelamatkan yang lain.
Dalam kasus-kasus korupsi yang melibatkan orang banyak (korupsi
berjemaah) selalu ditemukan “lingkaran pelemparan kesalahan”. Kalau kasus
itu terus diusut maka yang salah bukan manusianya tetapi sistem yang telah
memungkinkan manusia melakukan korupsi. Manusia tidak pernah secara
terus terang, terbuka dan bertanggungjawab mengakui semua perbuatannya.
Orang-orang yang korupsi seolah-olah tidak bersalah. Yang salah adalah
peluang, kesempatan, system yang memungkinkan. Memang sangat
memalukan! Manusia yang berbudi dan bernurani berlaku culas dan tidak
dewasa.
Sebagaimana Adam yang menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan
ular, praktek korupsi dewasa ini pun demikian. Para koruptor tidak pernah
secara jujur di hadapan Allah mengakui perbuatannya. Mereka tidak pernah
mau bertanggungjawab atas perbuatannya. Kalau “siklus pelemparan
kesalahan” masih terus terjadi, maka sampai kapan pun kasus korupsi tidak
akan pernah bisa diperangi. Namun kita jangan pernah pesimis. Kita harus
percaya bahwa membangun sikap tanggungjawab, kejujuran dalam kasus
korupsi akan terlaksana. Kita percaya bahwa sebagaimana Adam yang
akhirnya sadar bahwa ia telanjang (suatu pengakuan akan kepolosan,
kejujuran) di hadapan Allah, maka kasus-kasus korupsi pun akan teratasi.
Bagaimana mengatasinya?
Kita harus mengatasinya mulai dari diri sendiri. Kita perlu membangun
sikap “telanjang” di hadapan Allah dan berani untuk bertanggungjawab dan
menerima dan memikul segala risiko atas perbuatan kita sendiri. Kita perlu
memulai untuk menghentikan “siklus pelemparan kesalahan’ pada orang lain.
Berani berbuat berani pula bertanggungjawab. Berani korupsi berani pula
mempertanggungjawabkan perbuatan itu secara terbuka dan jujur.
Keterbukaan dan kejujuran hanya bisa kita lakukan kalau kita sendiri telah
dan selalu membiasakan diri.
18 Sikap Hati dan Korupsi
Dengan demikian menjadi jelas bahwa kita semua dipanggil untuk
menghentikan “siklus pelemparan kesalahan, pelemparan tanggungjawab,
siklus kambing hitam yang sudah, sedang dan mungkin akan terus ada di
Indonesia. Panggilan menghentikan atau memutuskan mata rantai “kambing
hitam” yang marak terjadi dalam masyarakat kita. Panggilan itu dapat kita
mulai tumbuh-kembangkan dari dalam keluarga kita. Tanamkanlah sikap
jujur, terbuka, tanggungjawab pada anak-anak Anda sedini mungkin. Tidak
ada istilah terlambat untuk menanamkan nilai-nilai moral dan religius bagi
anak-anak Anda, bagi Anda sendiri, bagi masyarakat dan Gereja kita, bagi
bangsa dan negara kita tercinta. Hentikan mental “Adam” yang menyalahkan
Allah….”wanita yang Kau tempatkan di sisiku yang membuatku ikut
berdosa….” (bdk.Kej 3:12).
Tidak malukah Anda menjadi “Adam-Adam” masa kini yang suka
“mencari kambing hitam?”
Mari kita mulai dari diri kita sendiri!! Siapa takut!!
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Sikap Hati dan Korupsi 19
E m p a t
BERBAHAGIALAH ORANG YANG JUJUR HATINYA
DAN YANG BERBALIK DARI KETIDAKJUJURANNYA
2 Raja-Raja 12:15
(Rm. DR. Y.B. Prasetyantha, MSF)*
Dalam Kitab Suci, kata “kejujuran” tidak pernah berdiri sendiri,
melainkan selalu dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan yang lain:
ketulusan, kebenaran, keadilan dan damai sejahtera (Bdk. Mzm 25:21; Mzm
111:8; Ams 1:3; Ams 2:9; Yes 11:4; Mal 2:6). Kejujuran adalah keutamaan
pribadi yang punya aspek sosial, berkaitan erat dengan hidup bersama.
Perjanjian Lama menekankan aspek sosial dari kejujuran pribadi itu
dalam suatu perintah yang sederhana: “Jangan mencuri” yang diperkuat oleh
larangan “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya,
atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau
keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu” (Kel 20:15.17; bdk. Ul
5:19.21).
Perintah umum tersebut kemudian dikonkretkan dalam laranganlarangan
praktis hidup sehari-hari. Kitab Taurat, sebagai contoh, melarang
pencurian, perampokan, penipuan dan cara-cara yang tidak benar untuk
mendapatkan keuntungan pribadi. Sampai-sampai ada peraturan-peraturan
terperinci melawan pengelapan uang, timbangan yang tidak benar, takaran
palsu atau pengambilan untung yang mencekik orang. Untuk menjamin
pelaksanaan peraturan-peraturan ini, disertakan pula hukuman-hukuman dan
ganti rugi yang harus dibayarkan. Secara umum, ganti rugi ini harus lebih
besar dari kerugian yang disebabkan oleh pelanggaran terhadap peraturanperaturan
tersebut.
Pencurian dikutuk sebagai dosa yang serius karena bertentangan dengan
kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Pencurian jelas-jelas tidak adil,
20 Sikap Hati dan Korupsi
merugikan orang lain dan mengganggu hidup bersama. Mengingini, mencuri
dan merampas tanah, rumah dan segala isinya termasuk istri orang lain
merupakan pelanggaran terhadap hak dan kepemilikan orang lain. Sebagai
hak dasar manusiawi, kepemilikan adalah kekuatan moral seseorang untuk
mengatur harta dan penggunaannya sesuai dengan kebebasannya, tidak
tergantung pada orang lain sekaligus tidak melanggar hak orang lain.
Merampas kepemilikan orang lain berarti merampas hak, kebebasan dan
kesempatan orang lain untuk hidup, bertumbuh dan berkembang. Singkatnya,
pencurian bisa disejajarkan dengan pembunuhan, mengambil hidup
seseorang. Nabi Yeremia dengan terang-terangan menempatkannya dalam
deretan kejahatan-kejahatan besar yang Allah perintahkan supaya dihindari
oleh umat bila mereka ingin selamat (Yer 7:4-11; bdk. Am 5:6-15).
Keselamatan yang diwartakan oleh Yesus mencakup pula perintah
melawan ketidakjujuran. Kehadiran Kerajaan Allah dalam diri Kristus
meliputi pula perwujudan kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Untuk
memperoleh hidup kekal, Yesus pun mensyaratkan pelaksanaan perintah
Hukum Taurat, termasuk “jangan mencuri” dan “jangan mengurangi hak
orang.” Namun, kiranya, tidaklah cukup sekedar mematuhi hukum dan
peraturan. Dalam kisah “orang kaya yang ingin sempurna,” (Mrk 10:17-27;
Mat 19:16-26; Luk 18:18-27) Yesus menambahkan unsur baru dan
menentukan: sikap hati yang benar terhadap harta dan kepemilikan duniawi.
“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan
berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta
di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21).
Perjanjian Baru, seperti Perjanjian Lama, tidaklah mengutuk kekayaan
dan kesejahteraan, yang umumnya dianggap sebagai berkat Allah. Kerajaan
Allah mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk juga kesejahteraan
jasmani. Dalam pelayanan Yesus hal itu menjadi nyata: “orang buta melihat,
orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar,
orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik”
(Mat 11:4-5). Memperjuangkan Kerajaan Allah berarti juga memperjuangkan
struktur masyarakat yang jujur, adil dan membuka kesempatan pada setiap
pribadi untuk mengusahakan kesejahteraan jasmani dan rohani. Namun, lebih
Sikap Hati dan Korupsi 21
dari itu, Kerajaan Allah merupakan suatu panggilan menuju tata penyelamatan
yang baru, suatu kebahagiaan sejati yang memang sudah bisa dialami di dunia
ini tetapi baru menjadi penuh pada akhir zaman.
Panggilan menuju tata penyelamatan baru ini diperuntukkan bagi semua
orang, tanpa kecuali. Bila dalam “sabda bahagia” (Mat 5:1-12) Yesus
menyebut bahagia orang miskin, orang yang berduka dan orang yang lapar
dan haus –sejajar dengan orang yang lemah lembut, orang yang murah hatinya,
orang yang suci hatinya, orang yang membawa damai, orang yang menderita
demi kebenaran– itu karena sikap keterbukaan mereka terhadap Kerajaan
Allah. Yang berbahagia adalah orang-orang yang jujur di hadapan Allah,
yang menyadari diri miskin di hadapan Allah.
Orang-orang kaya, tentu saja, dipanggil ke dalam Kerajaan Allah. Itu
berarti mereka pun dapat diselamatkan, meski hal itu tidak mudah. Bila Yesus
menyebut mereka celaka, (Luk 6:24) itu karena mereka akan kerap tergoda
untuk menyamakan kebahagiaan sejati –anugerah Allah sendiri– dengan
kekayaan. Terang-terangan Santo Paulus berkata: “Tetapi mereka yang ingin
kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai
nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia
ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta
uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari
iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:9-10).
Keselamatan dan kebahagiaan sejati pada akhirnya bukanlah soal
kemiskinan atau kekayaan duniawi, melainkan soal hati. Yang berbahaya adalah
keterikatan hati pada harta duniawi ini. Entah miskin entah kaya, kalau
seseorang terikat pada harta dan dibutakan olehnya, ia akan tergoda untuk
menomorduakan yang lain, sesamanya, bahkan Tuhan sendiri. “Karena di mana
hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21, bdk. Luk 12:34).
“Jika engkau hendak sempurna,” dengan sabda itu Yesus menyadarkan
orang kaya yang datang kepadanya, sekaligus menyadarkan murid-murid-
Nya, bahwa janji keselamatan Allah pada bapa-bapa bangsa dan para nabi
menjadi nyata dan penuh bukan dalam kepemilikan kekayaan dan
kesejahteraan duniawi. Itu semua hanyalah sarana. Keselamatan atau
22 Sikap Hati dan Korupsi
kebahagiaan sejati terletak pada Allah sendiri. Orang mengalami keselamatan
karena ia memiliki Allah, atau lebih tepat karena ia membuka diri untuk
dimiliki oleh Allah. Orang merasakan kebahagiaan karena Allah tinggal dalam
dirinya, atau lebih tepat karena ia tinggal dalam Allah.
Pengalaman keselamatan itulah yang terjadi di rumah Zakheus, kepala
pemungut cukai, orang kaya itu (Luk 19:1-10). Dalam masyarakat Yahudi
pada zaman Yesus, pemungut cukai dihina dan disamakan dengan orang
berdosa karena hubungannya dengan penjajah Romawi dan karena
ketidakjujurannya. Itu mengapa orang-orang bersungut-sungut ketika
mengetahui bahwa Yesus singgah di rumah Zakheus. Tentu saja, Yesus
sepaham dengan Hukum Taurat yang mengajarkan bahwa orang-orang perlu
bekerja dengan jujur. Orang-orang demikianlah yang selamat karena
mendengarkan dan melaksanakan perintah Allah (bdk. Luk 11:28). Akan
tetapi, dengan menumpang di rumah Zakheus, Yesus mau menyatakan bahwa
tidak ada jabatan atau pekerjaan apapun yang dikecualikan dari Kerajaan
Allah. Keselamatan pun bisa dialami oleh orang-orang yang pernah melanggar
perintah Allah, asal saja mereka mau berbalik dan menerima Yesus dalam
rumahnya dengan penuh sukacita. “Tuhan, setengah dari milikku akan
kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari
seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”
Keprihatinan Yesus hanya satu, yakni bahwa semakin banyak orang
yang diselamatkan, semakin banyak orang yang mengalami kebahagiaan.
“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan
percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15) Kebahagiaan diperuntukkan bagi orang
yang melakukan kehendak Allah, yakni orang yang jujur hatinya. Akan tetapi
pintu kebahagiaan pun senantiasa terbuka bagi orang yang berbalik dari
ketidakjujurannya. Berbahagialah orang yang lepas bebas dari keterikatan
duniawi, karena merekalah anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang
dibebaskan dari keterikatan duniawi, karena mereka pun anak-anak Allah.
* Staf Pengajar Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Sikap Hati dan Korupsi 23
L i m a
KORUPSI: BERTINGKAH A LA YUDAS ISKARIOT
Yohanes 12: 1-8
(Rm. DR. Mateus Mali, CSsR)*
Menarik untuk kita renungkan teks Yohanes 12:1-8, perikop yang
berisikan cerita tentang Yesus yang diurapi oleh Maria di Betania. Cerita
Yohanes ini mirip dengan cerita yang disajikan penginjil Mateus (26:6-13),
Markus (14:3-9) namun berbeda dengan Lukas (7:36-50). Penginjil Matius,
Markus dan Yohanes menampilkan cerita ini sebagai cerita seorang wanita
biasa yang mengurapi Yesus, yang oleh Yohanes diberi nama Maria.
Pengurapan itu dilakukan menjelang sengsara dan wafat Yesus. Maka boleh
ditafsirkan bahwa pengurapan itu adalah antisipasi terhadap wafat Yesus itu
seperti kebiasaan orang Yahudi untuk meminyaki tubuh orang yang meninggal
supaya keharuman namanya tetap tinggal bagi mereka yang hidup. Penginjil
Lukas mengubah cerita itu dengan menempatkan wanita itu sebagai tokoh
“seorang wanita yang terkenal sebagai pendosa” dan sangat mengharapkan
belas kasihan dari Yesus.
Mari kita fokuskan diri pada cerita yang dibuat oleh Penginjil Yohanes
sebagai dasar permenungan kita kali ini. Cerita tentang pengurapan Maria
ini ditempatkan oleh Yohanes sesudah cerita tentang pembangkitan Lazarus
(11:1-44) dan kesepakatan untuk membunuh Yesus (11:45-57) dan menyusul
cerita tentang Yesus yang dielu-elukan oleh penduduk Yerusalem ketika Ia
memasuki kota Yerusalem (12:12-19). Maka Yohanes menggunakan kata
keterangan waktu, “Enam hari sebelum Paskah”. Kata keterangan ini mau
menggambarkan saat-saat terakhir karya Yesus di depan publik. Bagi Yohanes
karya Yesus itu dibagi dalam pekan-pekan yang berpuncak pada peristiwa
kemuliaan sebagai pekan terakhir dalam karya-Nya. Maka peristiwa
pengurapan Maria itu adalah peristiwa menjelang peristiwa puncak Yesus
itu, yakni peristiwa kemuliaan.
24 Sikap Hati dan Korupsi
Dari konteks di atas jelaslah bagi kita bahwa peristiwa pembangkitan
Lazarus adalah gambaran antisipatif tentang kebangkitan manusia dan peristiwa
pengurapan itu adalah gambaran antisipatif dari peristiwa kematian Yesus.
Tindakan yang dibuat oleh Maria adalah tindakan untuk menyatakan
bahwa hari kematian Yesus itu sudah dekat. Yang menarik dari tindakan Yesus
ini adalah reaksi dari Yudas Iskariot. Dalam cerita para Sinoptik (Penginjil
Mateus, Markus dan Lukas), reaksi negatif terhadap tindakan Maria itu datang
dari para murid (Mateus), orang kebanyakan (Markus) dan orang Farisi
(Lukas). Penginjil Yohanes mempersonifikasikan reaksi itu dalam diri Yudas
Iskariot yang adalah muridnya sendiri.
Yudas bereaksi, “Mengapa minyak itu tidak dijual tiga ratus dinar dan
uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Reaksi ini adalah reaksi yang
sangat positif. Ia kelihatannya sangat memperhatikan orang miskin. Sekedar
gambaran saja, satu dinar waktu itu adalah gaji sehari untuk satu orang buruh
(bdk. Mat 20:2). Maka tiga ratus dinar itu cukup banyak. Jelas logika Yudas
adalah: untuk apa pemborosan yang tidak ada gunanya macam itu? Mendingan
uang itu dipakai untuk menolong orang miskin! Jauh lebih berguna dari pada
minyak itu dipakai sekedar untuk mengharumkan kaki saja!
Apakah betul reaksi Yudas itu demikian positif? Penginjil Yohanes
mencatat lagi, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib
orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri: ia sering
mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Reaksi Yudas
Iskariot itu adalah reaksi yang palsu. Dia terkenal sebagai seorang penuh
dosa karena ketamakan, kelobaan dan ketidakjujurannya dalam mengelola
uang bersama itu. Singkatnya dia jahat. Dia “menjual” orang miskin demi
tujuan pribadinya. Dia sengaja mengatakan perhatiannya yang tinggi terhadap
orang miskin padahal hatinya busuk. Penginjil Yohanes melihat bahwa Yudas
Iskariot itu sebagai pencuri. Ia seorang pencuri….(Yoh 12:6). Kalau mau
dikatakan dalam bahasa kita sekarang, pribadi Yudas Iskariot itu adalah
seorang koruptor. Tegasnya, Yudas itu seorang koruptor, seorang pencuri yang
rakus, loba dan tidak jujur. Kelihatannya ia sangat memperhatikan orang
miskin padahal sebetulnya ia menggunakan orang miskin untuk kepentingan
pribadinya.
Sikap Hati dan Korupsi 25
Bagi Yesus, jelas orang miskin harus diperhatikan dengan serius (Yoh
12:8) namun Yesus meminta perhatian para murid, khususnya Yudas Iskariot,
tentang peristiwa yang akan menimpa diri-Nya, yakni Dia harus mati dan
akan dikuburkan. Tindakan Maria adalah gambaran antisipatif terhadap
peristiwa itu.
Menurut hemat kami, gambaran tentang Yudas Iskariot di dalam Injil
Yohanes tadi adalah gambaran yang sangat jelas tentang seorang koruptor.
Yudas Iskariot ini adalah seorang murid Yesus. Murid berarti orang-orang
yang dekat dengan Yesus; di mana Yesus berada di situpun mereka berada.
Mereka pula adalah orang-orang yang paling tahu tentang pribadi Yesus itu
karena mereka mengenal sangat baik Sang Gurunya itu. Namun ia
menyelewengkan kedekatan itu untuk tujuan pribadinya. Ia mau mencegah
Yesus supaya tidak memboros demi tujuan pribadinya. Gambaran lain dari
penginjil Yohanes tentang Yudas Iskariot adalah: dia seorang pemegang kas
(bendahara) keuangan kelompok mereka itu. Namun ia adalah seorang
koruptor karena ia menggunakan uang bersama itu tidak pada tempatnya,
bahkan ia mencurinya demi kepentingan pribadi. Gambaran yang paling
menarik namun kelihatannya paling suci dari seorang Yudas Iskariot adalah:
ia sepertinya mengutamakan kepentingan orang miskin di atas segala
kepentingan. Ia memberi perhatian kepada orang miskin namun sebetulnya
di sana tersimpan akal bulusnya: uang untuk orang miskin dipakai untuk
pemenuhan kepentingan pribadinya.
Kalau kita mengambil tokoh Yudas Iskariot ini dan menempatkannya
dalam bingkai situasi kita di Indonesia maka menurut hemat kami, personifikasi
Yudas Iskariot sebagai seorang koruptor sangat pas, sangat cocok.
Di bumi Indonesia ini seorang koruptor biasanya adalah seorang yang
mempunyai kedudukan tertentu di dalam pengambilan kebijakan tertentu. Ia
biasanya mempunyai kekuasaan atau dekat dengan elite pemegang kekuasaan.
Seperti Yudas Iskariot, kedudukannya itu dipakai untuk kepentingan
pribadinya atau ia akan mempengaruhi orang lain agar mengikuti
kehendaknya yang kelihatannya sangat masuk akal, misalnya, nasihat jangan
memboros, haruslah hemat, kencangkan ikat pinggang; persis seperti nasihat
Yudas Iskariot terhadap Sang Gurunya. Nasihat-nasihat atau usulan-usulannya
26 Sikap Hati dan Korupsi
itu cukup positif namun di sana tersimpan maksud jahat: uang hasil
penghematan itu dipakai untuk kepentingan pribadinya.
Seorang koruptor adalah seorang yang tamak, loba dan tidak jujur.
Ketamakan atau kerakusan atau kelobaan itulah yang mendorong seseorang
untuk melakukan tindakan korupsi. Ia ingin memiliki segala harta. Ia mau
lebih dari yang lain dan karenanya menghalalkan segala cara untuk
mendapatkannya. Seperti Yudas Iskariot, para koruptor di Indonesia juga
didorong oleh sikap hidup yang ingin mewah: ingin memiliki mobil mewah,
rumah mewah, fasilitas mewah. Mereka mau lebih dari orang lain. Untuk
maksud itu mereka tidak segan-segan menghalalkan segala cara. Bayangkan
dia hanya seorang bupati di sebuah kabupaten yang miskin namun dia
mempunyai mobil dan rumah mewah yang harganya selangit padahal gaji
seorang bupati di daerah itu tidaklah seberapa. Dari mana uang itu?
Jawabannya sederhana saja: pastilah terjadi penyelewengan kekuasaan untuk
tujuan pribadi.
Ide suci dan mulia juga bisa dipakai oleh para koruptor untuk
menggerogoti keuangan bersama. Seperti Yudas Iskariot, seorang koruptor
akan memberi perhatian kepada orang miskin. Orang miskin dipakai sebagai
alat untuk menimbun kekayaan pribadi. Bukan rahasia lagi bahwa dana
bantuan untuk orang miskin, seperti bantuan untuk para pengungsi, para
petani, para korban banjir ‘disunat’ oleh sang koruptor untuk kepentingan
pribadi. Dia tidak lagi mempunyai hati dan perhatian terhadap orang miskin.
Sebaliknya dia bersyukur bahwa ada orang miskin sehingga ‘jatah’ untuk
orang miskin bisa dipakainya. Orang miskin adalah kelompok yang tidak
mempunyai suara atau mereka tidak bisa bersuara sehingga gampang ditipu
dan dimanipulasi.
Menurut hemat kami, korupsi di Indonesia sudah sangat parah. Segala
macam cara dapat dipakai untuk melakukan hal itu. Kalau dulu orang berkata,
“korupsi adalah pemberian duit di bawah meja” sekarang orang berkata,
“Mejanya pun sekalian diambil”. Maksudnya jelas: koruptor sekarang sudah
tidak lagi mempunyai malu. Korupsi dilakukan secara terang-terangan.
Sikap Hati dan Korupsi 27
Korupsi mesti dilawan dengan apa? Menurut hemat kami, dari bacaan
Injil Yohanes tadi, korupsi hanya bisa dilawan dengan sikap iman: kedekatan
dengan Sang Guru dan kejujuran hati. Orang yang dekat dengan Allah yang
diimaninya akan menuntun diri dan hatinya agar berjalan pada jalan yang
benar. Kedekatan dengan Allah itu akan membuat ia menjadi seorang yang
taqwa dan penuh penyerahan diri kepada Allah. Inilah yang membuat orang
tidak bisa melakukan korupsi.
Demikian juga kejujuran hati dari seseorang akan membuat ia tidak
melakukan korupsi karena kejujuran itu akan menghantar orang itu kepada
keterbukaan diri, tidak sombong, tidak mau bermewah diri dan menerima
orang lain, khususnya orang miskin, sebagai saudaranya. Orang yang jujur
hatinya adalah orang setia pada tugas yang dipercayakan kepadanya dan
menganggap tugas itu sebagai pelayanan terhadap masyarakat umum dan
tidak pernah memanipulasi kedudukan atau jabatannya. Ia menjadi orang
yang setia.
Ajakan singkat sesuai dengan Injil Yohanes 12:1-8, yang sudah kita
renungkan bersama: jangan korupsi karena korupsi adalah tindakan Yudas
Iskariot, sang pengkhianat Yesus, Sang Guru.
* Pastor, Dosen Teologi Moral pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma,
Yogyakarta
28 Sikap Hati dan Korupsi
E n a m
OPTION FOR THE POOR DARI KAUM OPORTUNIS
Sebuah Permenungan atas Perilaku para Murid Yesus
Matius 26:6-13
(Alfred Benedictus J.E.)*
Saya ingin mengawali kotbah ini dengan sebuah kisah yang sangat
bertentangan dengan judul permenungan di atas.
Ada seorang raja yang baru saja memecat bendahara kerajaannya sebab
ia didapati tidak jujur. Maka raja mulai mencari siapakah gerangan orang
yang dapat menduduki jabatan bendahara negara yang sangat penting itu?
Akhirnya, setelah melalui seleksi yang sangat ketat, raja mengangkat
seseorang yang tadinya hanyalah seorang rakyat jelata sederhana sebagai
bendahara kerajaan. Hal ini terjadi semata-mata karena kejujuran orang
tersebut yang sudah terkenal di mana-mana.
Tentu saja perubahan kedudukan ini segera membawa pengaruh yang
besar. Kalau tadinya ia dan keluarganya tinggal di sebuah pondok yang
sederhana, kini sesuai dengan kedudukannya, tinggal di sebuah rumah besar
dan mewah, tidak kekurangan suatu apa pun. Demikianlah hal ini berlangsung
selama kurang lebih satu tahun lamanya, sampai pada suatu waktu
disampaikanlah sebuah laporan kepada baginda raja.
Laporan itu menyatakan bahwa beberapa waktu yang lalu, pengawal
yang menjaga gedung perbendaharaan kerajaan melihat bendahara tersebut
pergi keluar dari gedung dengan membawa sebuah bungkusan. Ternyata,
menurut laporan, hal seperti itu bukan hanya terjadi satu-dua kali saja, tetapi
setiap kali ia masuk dan keluar gedung perbendaharaan kerajaan, ia selalu
membawa bungkusan seperti itu. Maka muncullah kecurigaan baginda raja.
Apakah ia mencuri sesuatu? Kemudian raja mengeluarkan perintah untuk
Sikap Hati dan Korupsi 29
menangkap bendahara itu pada keesokan harinya pada saat pulang kerja.
Ketika dibawa menghadap baginda raja, ternyata memang benar ia membawa
sebuah bungkusan. Kecurigaan raja demikian besar, sehingga dengan segera
ia memerintahkan agar bungkusan itu dibuka.
Ketika dibuka, apakah yang terdapat dalam bungkusan itu? Apakah
emas, perak, berlian? Ternyata bukan. Isinya hanyalah sebuah pakaian tua
yang sudah koyak-koyak.
Raja menjadi sangat heran dan bertanya: “Apakah maksudmu membawa
pakaian tua seperti ini masuk dan keluar ruang perbendaharaan kerajaan?”
Bendahara itu menjawab: “Baginda Raja, pakaian ini tak lain adalah
pakaian yang dahulu saya pakai sebelum baginda mengangkat saya sebagai
bendahara kerajaan. Setiap kali saya masuk ke dalam gedung kerajaan dan
melihat begitu banyak emas, berlian dan permata yang ada di dalamnya, saya
perlu sekali membawa pakaian tua itu. Maksudnya ialah agar saya tidak lupa
diri, tetapi selalu ingat bahwa dahulu saya hanyalah seorang yang miskin
dan hina, dan berkat kemurahan hati bagindalah saya dapat diangkat menjadi
orang yang terhormat. Maka begitu saya melihat pakaian tua ini segala
ketamakan dan ketidakjujuran saya hilang, berganti dengan rasa syukur yang
tak terhingga kepada baginda.”
Raja senang sekali mendapatkan kejujuran bendaharanya ini, dan segera
melepaskannya dari segala tuduhan yang tidak beralasan.
Banyak Orang Oportunis di Sekitar Kita
Kisah bendahara yang jujur dan tahu asal usulnya di atas sangat
paradoksal dengan sikap atau perilaku murid-murid Tuhan Yesus ketika
melihat seorang wanita yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu
yang sangat mahal. Memang, dalam kisah-kisah Alkitab kita menemukan
bahwa para pahlawan seringkali melakukan tindakan-tindakan yang
mengejutkan dan spektakuler, perbuatan yang tidak lazim bagi orang-orang
semasanya.
30 Sikap Hati dan Korupsi
Perikop Matius 26:6-13 yang menjadi acuan permenungan kali ini
memperlihatkan bahwa seorang wanita, dalam suatu perjamuan, mengurapi
kaki Yesus dengan minyak dan menyekanya dengan rambut. Tindakan si
wanita tersebut menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang yang melihatnya.
Bahkan para murid Yesus bertanya dengan heran: “Untuk apa pemborosan
itu? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan
kepada orang-orang miskin” (Mat 26:8-9). Apakah keprihatinan para murid
itu sungguh tulus?
Perilaku atau reaksi para murid tersebut sangat lazim dijumpai dewasa
ini. Kita saksikan bahwa ada banyak orang yang “gembar-gembor” peduli
pada rakyat kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Apakah benar bahwa orang
kecil, lemah, miskin dan tersingkir menjadi pusat perhatian dan
kepeduliaanya? TIDAK!! Itu hanya sebuah kedok. Bahwa orang miskin sering
menjadi target pengentasan, target proyek pemberdayaan memang sering
meluncur dari mulut orang-orang yang “berpihak”, yang berkomitmen pada
penderitaan rakyat. Tetapi keberpihakan itu hanya sebatas lip service.
Merekalah orang-orang oportunis, yang seringkali “merasa
bertanggungjawab” atas keselamatan orang lain.
Orang-orang oportunis adalah orang yang cerdik dan pandai
memanfaatkan kesempatan. Mereka selalu ditunggangi kelicikan untuk
menguasai orang lain demi kepentingan dan keuntungan diri dan
kelompoknya. Orang-orang oportunis tidak peduli apa yang mereka lakukan
benar atau salah. Mereka pandai memanfaatkan situasi tanpa terikat atau
repot dengan prinsip-prinsip nilai dan etika. Mereka cenderung bersikap plinplan,
yang terpenting tujuannya tercapai. Orang-orang semacam ini banyak
berkeliaran di sekitar kita dalam berbagai bentuk penampilan. Apakah kita
termasuk salah satu dari orang-orang oportunis itu?
Orang-orang oportunis selalu bersikap optimis untuk memanfaatkan
setiap limit kesempatan. Bagi mereka sekecil apapun kesempatan adalah
sebuah peluang untuk mementingkan dirinya sendiri. Mereka tidak pernah
puas dengan kejahatan-kejahatan kecil dan selalu memiliki alasan untuk
membenarkan tindakannya. Dan mereka selalu mencari celah untukSikap Hati dan Korupsi 31
melakukan kesalahan atau kejahatan berikutnya yang bertentangan dengan
hati nuraninya.
Orang-orang oportunis selalu mempunyai “kepedulian” terhadap orang
miskin tetapi sesungguhnya demi dirinya sendiri. Sangat jelas di hadapan
kita, ada sebagian wakil rakyat yang dipilih rakyat termasuk orang-orang
oportunis itu. Rakyat kecil, lemah dan miskin selalu ada dalam pikiran dan
perjuangan mereka. Padahal “rakyat” yang mereka perjuangkan adalah diri,
kepentingan, partai dan kelompok mereka sendiri.
Rasul Paulus pernah menasihati jemaat di Filipi sehubungan dengan
situasi dan kondisi umat yang demikian: “... dan janganlah tiap-tiap orang
hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain
juga” (Flp 2:1-11). Itulah yang sering terjadi. Bahkan dalam melaksanakan
tugas dan pelayanan demi rakyat kecil, mereka sering berselisih pendapat
yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Antara yang mereka
perjuangkan dan yang mereka lakukan selalu tidak sinkron. Yang mereka
cita-citakan adalah demi orang banyak, demi masyarakat, tetapi yang hendak
mereka capai adalah demi kepentingan diri mereka sendiri. Untuk
menghindari hal itu yang harus diusahakan adalah sikap mengalah (berkorban)
demi kepentingan bersama, asalkan jangan mengorbankan hal-hal yang
prinsipial yaitu kesatuan dan nilai etika hidup bersama.
Hai, Sadarlah.............!
Kembali pada bacaan Matius 26:6-13, kita menjumpai teguran Yesus
terhadap para muridNya. “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini?
Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik padaKu. Karena orangorang
miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersamasama
kamu.” (Mat 26:10-11). Teguran Yesus ini layak ditujukan kepada
orang-orang oportunis, orang-orang yang selalu “membawa” orang-orang
miskin dalam perjuangan mereka. Orang-orang oportunis termasuk saya dan
Anda seringkali menyusahkan orang-orang kecil demi kepentingan kita
sendiri. “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak
akan selalu bersama-sama kamu”. Kiranya jelas, bahwa orang-orang oportunis
32 Sikap Hati dan Korupsi
kebanyakan adalah orang-orang beragama dan beriman yang senantiasa
menyerukan nama Tuhan dengan mulutnya, tetapi tidak dengan hatinya. Sebab
hati mereka penuh dengan tipu muslihat, kelicikan, perhitungan dan penipuan.
Teguran Yesus dan kisah diawal kotbah ini memperlihatkan kepada
kita bahwa orang harus tahu diri, harus konsisten dengan yang diperjuangkan.
Kita seharusnya jujur dengan diri sendiri, sebagaimana bendahara yang selalu
menyadari asal-usulnya sebagai orang miskin, yang tidak menyalahgunakan
kesempatan, yang tidak silau oleh gelimangan harta, yang tahu
bertanggungjawab pada dirinya sendiri, raja yang memilihnya dan terutama
pada Tuhan yang dipercayainya.
Kata-kata Yesus “orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi
Aku tidak akan bersama kamu”, kiranya mengajak kita untuk senantiasa jujur.
Tidak menyalahgunakan nama mereka, “orang-orang miskin” demi
kepentingan kita. Mengapa kita harus bertindak jujur? Harus diakui bahwa
kejujuran sudah merupakan hal yang langka di tengah kehidupan kita sebagai
bangsa. Ketidakjujuranlah yang melahirkan krisis multi dimensi yang melanda
Indonesia. Kita masih dapat bertanya terus: Mengapa orang tidak jujur? Ada
beberapa kemungkinan orang bertindak tidak jujur:
Pertama, harga diri. Orang tidak mau dianggap ketinggalan zaman,
kurang pengetahuan, kurang pergaulan alias tidak gaul, miskin tapi ingin
mendapatkan banyak uang. Kedua, kebiasaan: orang jarang bekerja dan
berusaha memperbaiki diri, malas, menggantungkan diri pada teman, hidup
tidak teratur sehingga tidak dapat membagi waktu dan tidak mau bersusahsusah.
Ketiga, ingin dikenal, ingin menjadi populer dengan jalan pintas, dan
mencari perhatian. Keempat, tidak menerima diri apa adanya, tidak dapat
menerima kelemahan diri. Kelima, orang dapat menjadi tidak jujur jika ia
merasa tidak aman. Kebutuhannya akan rasa aman tidak terpenuhi. Maka
sebagai sarana perlindungan diri ia menyembunyikan kebenaran dengan
berlaku tidak jujur.
Persis inilah yang dilakukan para murid: “Untuk apa pemborosan
ini?.....uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Apa yang
dikeluhkan para murid itu ibarat ada udang dibalik batu, punya maksud
Sikap Hati dan Korupsi 33
terselubung. Orang-orang oportunis pun berlaku demikian. Dalam rencana
dan program mereka ada orang miskin, lemah dan tersingkir, tetapi dalam
pelaksanaannya yang ada hanyalah diri dan kepentingan mereka sendiri.
Belajar dari ketegasan Yesus dan kejujuran bendahara yang selalu tahu
diri, kita, dan terutama kaum oportunis diajak untuk berbenah diri. Kalau
kita mengakui ada orang miskin yang hendak kita tolong, maka hendaklah
kita benar-benar menolong mereka. Orang-orang miskin bukanlah “korban”
yang dapat dijadikan sarana untuk memperkaya diri, sebagaimana yang selama
ini dilakukan oleh anggota dewan atau pemegang jabatan. Banyak perilaku
orang-orang yang sering merasa sebagai “corong” atau pembela kaum miskin,
tapi ternyata hanya demi untuk memperkaya dirinya sendiri. Betapa
menyedihkan bangsa ini. Kapan kita akan bangkit kalau perilaku para pejabat
bangsa ini masih masih sama seperti para murid yang sering membawa-bawa
nama orang miskin? Walahualam!!
*. Editor, Penulis Buku-Buku Rohani Katolik.
34 Sikap Hati dan Korupsi
T u j u h
MENIADAKAN KEPENTINGAN DIRI
Filipi 2:2b-3a
(Bambang Pujo Riyadi, STh. MPD)*
Saudara-saudara kekasih,
Manusia tidak akan dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang
lain untuk dapat menjalani realitas kehidupannya, apapun yang dikerjakan
manusia pasti terkait dengan orang lain. Jadi ada saling ketergantungan antara
manusia yang satu dengan lainnya. Dengan itu maka, selalu dikatakan bahwa
manusia adalah makhluk sosial. Di sisi lain dalam diri manusia pasti ada
suatu keinginan untuk dekat, mengenal bahkan bergaul dengan Sang Pencipta.
Apapun perwujudannya entah pada agama-agama atau mungkin juga pada
ajaran-ajaran kebijakan lokal jelas menunjukkan ada sisi religius manusia.
Dengan itu dapat dimengerti bila agama-agama dan aliran ajaran kebijakan
lain tumbuh dengan subur dan menjadi kekayaan keberagaman dan
kepercayaan di Indonesia.
Seluruh bangunan, atau bagaimana membahasakan, merealisasikan
keberadaan sosial dan religius di atas, manusia memakai akal budinya dengan
bebas sesuai dengan latar belakang atau pertumbuhannya masing-masing.
Dengan akal budi ini manusia dapat merumuskan dan menjalankan pemikiran
atau tujuan hidup bersama. Namun rumusan-rumusan hidup bersama
terkadang tidak akan ada artinya manakala seseorang atau sekelompok orang
mencoba mengambil keuntungan lebih banyak dari yang lain. Memang untuk
mengantisipasi hal ini sebenarnya dalam kesepakatan hidup bersama juga
telah disepakati aturan-aturan main atau peraturan baik dalam kelembagaan
negara maupun swasta
Walaupun demikian tetap saja upaya-upaya pemenuhan kepentingan
diri terus terjadi bahkan dalam skala masif dan tanpa malu, risih atau takut.
Sikap Hati dan Korupsi 35
Pemenuhan kepentingan diri ini sekarang dikenal dengan korupsi, kolusi
dan nepotisme. Jadi ada peraturan bersama yang dilanggar, dan dampaknya
orang lain menderita. Manakala kepentingan diri semakin meluas, semakin
meluas juga penderitaan atau ketidak-adilan sosial.
Saudara-saudara, agaknya itulah yang sedang terjadi pada bangsa kita.
Hal itu jugalah yang diingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di kota
Filipi. Bahwa, memang ada kecenderungan manusia bersifat egosentris untuk
menyebut sifat yang mengejar kepentingan diri sendiri. Dalam nas tersebut
Paulus menekankan pentingnya kerendahan hati. Rendah hati yang
dimaksudkan Paulus di sini tidak lain adalah kesombongan. Yaitu suatu
perasaan yang berlebihan tentang kepentingan diri dan harga diri didalam
seseorang yang percaya akan kebaikan, keunggulan dan prestasinya sendiri.
Dapat dikatakan bahwa kesombongan merupakan kecenderungan yang tidak
dapat dielakkan dari sifat manusia dan dunia.
Bahkan dalam Filipi 2:5 Rasul Paulus mengingatkan agar dalam
kehidupan bersama kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam
Kristus. Pikiran dan perasaan yang didasarkan pada penanggalan kemuliaan
diri. Dengan kemuliaan yang ditinggalkannya demi menjadi sama dengan
manusia. Ketika itulah apa yang secara manusiawi disebut kepentingan diri
dibuang dan tidak dipikirkan. Dampak dari hilangnya kepentingan diri seperti
sikap korup, memeras sesama juga hilang. Manusia dapat menghargai normanorma
bersama, peraturan dan hukum ditegakkan dan keadilan dapat
ditegakkan dalam kehidupan bersama.
Saudara-saudara kekasih, disamping kita mesti belajar untuk tidak
memfokuskan diri pada pementingan diri, Rasul Paulus juga melihat perlunya
menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus. Pertanyaan kita sekarang
adalah, seperti apakah pikiran dan perasaan Kristus. Jawabannya dapat dirunut
pada kehidupan Yesus sendiri. Kita dapat mencatat beberapa hal: pertama,
Yesus senantiasa menjadi pembawa berkat; kedua, Yesus dapat menerima
dan diterima oleh siapapun dalam hubungannya dengan penyataan
keselamatan Allah; ketiga, Yesus sadar tentang siapa diriNya sebenarnya
dihadapan Allah.
36 Sikap Hati dan Korupsi
Saudara-saudara kekasih, kalau kecenderungan memfokuskan hidup
hanya bagi kepentingan diri sangat kuat pasti kita tidak dapat berpikir dan
berperasaan seperti Kristus. Sebab tindak mementingkan diri banyak terwujud
pada korupsi, kolusi dan nepotisme. Padahal tindak korup jelas merugikan,
merusak baik dinas pemerintahan, institusi atau lembaga-lembaga swasta
dan pada akhirnya kehidupan bersama mengalami kepincangan.
Ketidakadilan sosial yang membuat penderitaan, kecemburuan dapat
bermuara pada konflik sosial yang sulit untuk dihindari.
Masih adakah kemungkinan korupsi diberantas?
Jawabnya tentu saja mungkin, mengapa mungkin? Karena secara moral,
hukum, adat, dan nilai-nilai keagamaan tidak memberi tempat bagi seseorang
untuk melakukan korupsi. Jadi kemungkinan untuk memberantas korupsi
terbuka lebar. Bahkan secara formal pemerintah juga menunjuk satu lembaga
yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menjadi komando dalam niat
baik untuk memberantas korupsi. Kementerian Komunikasi dan Informatika
juga berupaya secara aktif menggemakan gerakan anti korupsi. Langkahlangkah
konkret dan jeli memang diperlukan untuk menggemakan atau
memasyarakatkan gerakan anti korupsi. Kalau hal ini terus menerus dilakukan
pasti cepat atau lambat budaya pementingan diri ini dapat direduksi kalau
mungkin dihilangkan.
Saudara-saudara, apa yang disebut dengan pementingan diri dimanamana
pasti tidak akan mendapatkan tempat. Pementingan diri terjadi ketika
manusia tidak mengelola hidup dan karyanya dalam keseimbangan. Di atas
sudah dikatakan bahwa manusia paling tidak mempunyai tiga macam
keberadaan ciptaan yaitu, memiliki akal budi, makhluk sosial, dan religius.
Ketiga keberadaan ini harus dikelola dengan seimbang dan tidak boleh kita
hanya menekankan satu atau dua keberadaan saja. Manakala itu terjadi
manusia gagal mengelola hidup yang telah diserahkan oleh Allah.
Manusia menjadi tidak seimbang hidupnya jika hanya sibuk dan
memikirkan kegiatan kelompok keagamaannya sementara secara sosial tidak
pernah peduli dengan tetangga kiri kanannya, tidak peduli jika tetangganya
membutuhkan pertolongan. Bahkan karena hanya memfokuskan diri pada
Sikap Hati dan Korupsi 37
bidang religiusnya tidak peka kalau tetangganya sakit keras sementara dia
menyelenggarakan doa semalam suntuk di rumahnya. Juga dapat dikatakan
tidak menjalani hidupnya dengan seimbang manakala hanya sibuk dengan
aktivitas RT, RW, Siskamling atau PKK sementara dia acuh dan tidak peduli
pada kegiatan keagamaan atau gereja. Dua contoh itu jelas mengingatkan
kita bahwa hidup dan pengelolaan hidup kita harus utuh. Kita harus
mempertimbangkan pemenuhan keberadaan sosial, religius dan akal budi
dengan seimbang.
Namun tidak bisa kita ingkari terkadang ada orang yang sangat cerdik
menutupi ketiga keberadaan tadi. Inilah topeng, dan kitapun tidak dapat
dengan segera menghakimi bahwa orang tersebut sudah berlaku tidak adil.
Seperti kita merunut apakah sebenarnya pikiran dan perasaan Yesus diatas
dan kita mendapatkan jawabnya pada tindakan konkret. Dari realitas interaksi
sosial dan religius seseorang akan diketahui juga sebenarnya siapakah dan
bagaimanakah pikiran dan perasaan saudara kita.
Sudara-saudara kekasih, kini kita memiliki panggilan untuk berpikir
dan berperasaan seperti Kristus yang diwujudkan dalam pemenuhan realitas
keberadaan manusiawi kita. Masalahnya sekarang sudahkah ini kita sadari?
Atau kita sadar tetapi kita berpikir ngapain repot? So What Gitu lho. Saudarasaudara
sadar atau tidak yang jelas kita hidup kedepan dan masa depan adalah
tanggungjawab kehidupan yang harus dikelola. Karena itu penting bagi kita
untuk sadar bahwa kita punya tanggungjawab mengelola hidup bersama..
Saudara-saudara nas diatas menggugah semangat kita untuk membuat
semacam reorientasi diri. Kita belajar kembali bagaimana hidup bersamasama
dengan orang lain yang tidak saja satu iman tetapi dalam kepelbagaian
iman. Bersama-sama hidup dalam kasih, memiliki tujuan hidup bersama.
Namur jangan dilupakan bahwa, bayang-bayang pementingan diri selalu
menghantui dengan penuh kesetiaan. Kita harus punya keinginan kuat untuk
tidak egois dan berujung pada penindasan terhadap saudara sendiri.
Saudara-saudara, perwujudan pementingan adalah awal dari tindak
korupsi, kolusi dan nepotisme karena itu, mari meniadakan pementingan
diri mulai dari diri kita sendiri. Amin.
* Warga Jemaat Kristen Jawa
38 Sikap Hati dan Korupsi
D e l a p a n
ORANG YANG BERBAHAGIA
TIDAK TERBELENGGU OLEH HARTANYA
Amsal 16:8
(Pdt. Prof. Drs. John Titaley,Th.D)*
Umat Tuhan yang berbahagia.
Kitab Amsal selalu dikaitkan dengan Salomo, sehingga sering
disebutkan pula sebagai Amsal Salomo. Salomo selalu dikaitkan dengan
Amsal karena kebijaksanaan yang dimilikinya. Kebijaksanaan Salomo selalu
dikaitkan dengan cerita tentang Salomo yang berdoa meminta hikmat kepada
Tuhan agar ia dapat memimpin kerajaannya. dan tindakannya yang dinilai
adil ketika menghadapi dua peremuan yang memperebutkan seorang anak
(1 Raj 2:3). Akan tetapi apabila dilihat pada pasal 2 dan pasal 11-12, menjadi
nyata bahwa pada akhirnya Salomo juga bukan raja yang bijaksana. Dalam
pasal 2 dapat dilihat bagaimana dengan keji ia merebut tahta kerajaan Israel
itu dari saudaranya Adonia. Juga dalam pasal 11-12 dapat dilihat bahwa
Salomo ternyata adalah seorang raja yang terlibat dalam penyembahan berhala
karena isterinya yang jumlahnya 300 dan gundiknya yang seribu orang (pasal
11). Sedangkan dalam pasal 12 diceritakan tentang pajak dan kerja rodi yang
dia bebankan kepada rakyatnya, sehingga ketika dia mati, rakyatnya yang di
Utara memisahkan diri dari kerajaan Israel Raya itu. Akibatnya kerajaan pecah
menjadi dua, yaitu Israel di Utara dan Yehuda di Selatan. Jadi Salomo ternyata
bukan raja yang bijaksana.
Kalau begitu kenapa Amsal yang berisi berbagai ucapan bijak itu selalu
dikaitkan dengan Salomo? Ada dugaan keras bahwa hal ini ada hubungannya
dengan kebijakan Salomo menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai
kerajaan secara internasional. Ketika hal itu terjadi, maka masuklah pula
Sikap Hati dan Korupsi 39
berbagai kebijakan yang dimiliki oleh bangsa-bangsa tersebut dalam mengatur
kerajaannya.
Berbagai ucapan bijak yang ada dalam Amsal ini diduga keras berasal
dari tradisi sastra bangsa-bangsa asing tersebut, terutama bangsa Mesir di
Barat dan Mesopotamia di Timur. Dalam tradisi bangsa-bangsa tersebut,
ucapan-ucapan bijak mengandung kebenaran tersendiri bagi kehidupan
manusia. Sama seperti pepatah bangsa Indonesia: “rajin pangkal pandai, hemat
pangkal kaya,” “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakitsakit
dahulu, bersenang-senang kemudian,” demikian pula dengan berbagai
ucapan bijak bangsa-bangsa tersebut.Ucapan-ucapan bijak tersebut oleh
bangsa Yahudi dinilai sangat berharga dalam kehidupan mereka. Karenanya
ketika mereka mengkanonkan kitab suci mereka, selain dua kumpulan utama,
yaitu Torat dan kitab para nabi, mereka memasukkan pula kumpulan tulisan
macam-macam (Ketuvim), di antaranya Amsal ini. Selain Amsal,
Pengkhotbah, Mazmur, Ayub dan Kidung Agung adalah bagian dari kitabkitab
ketuvim ini. Pertanyaan yang patut dikemukakan tentang kitab-kitab
ini adalah apa keistimewaannya sehingga diyakini bangsa Yahudi penting
bagi kehidupan mereka?
Satu hal yang membedakan kitab-kitab kebijaksanaan ini dengan bagian
lain dari Alkitab bangsa Yahudi adalah cirinya yang anti-dogmatik. Yang
dimaksud dengan anti-dogmatik adalah kitab itu dirumuskan berdasarkan
pengalaman pragmatik kehidupan manusia dan tidak selalu harus
berhubungan dengan Tuhan atau ajaran keagamaan. Ucapan-ucapan tersebut
sudah sangat terbukti kebenarannya dalam sejarah kehidupan manusia. Sekali
pun tidak berhubungan dengan Tuhan atau agama, apa yang diamanatkan
dalam ucapan-ucapan itu benar dan baik adanya karena sudah terbukti.
Dengan latar belakang pemahaman tentang kitab kebijaksanaan seperti itulah,
kita akan melihat Amsal 16:8: Lebih baik penghasilan sedikit disertai
kebenaran dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.
Ucapan-ucapan ini berbicara secara langsung bagi kita. Ada tiga konsep
yang penting dalam ucapan-ucapan ini. Ketiga konsep itu adalah penghasilan,
cara memperolehnya dan dampaknya bagi manusia.
40 Sikap Hati dan Korupsi
Pertama, tentang penghasilan. Disini dibedakan antara penghasilan
sedikit dan penghasilan banyak. Dalam ucapan bijaksana ini, sedikit
banyaknya penghasilan bukanlah ukuran. Hal ini sangat sederhana, akan tetapi
bagi orang-orang tertentu tidaklah demikian. Ada yang beranggapan bahwa
keberhasilan ditentukan oleh banyak tidaknya miliknya. Akibatnya orang
diukur secara kuantitatif. Ukuran-ukuran kuantitatif seperti ini menyesatkan
dan sulit untuk diatasi. Seluruh kehidupan kita rasanya sudah dikuantitatifkan.
Penilaian keberhasilan seseorang di sekolah diukur secara kuantitatif dari 1-
10, penghasilan (gaji) diukur secara kuantitatif, juga dengan kenaikan gaji,
dsbnya. Ini semua wujud penilaian secara lahiriah, atau secara fisik. Dalam
kenyataan kehidupan ini, yang tampak secara fisik itu tidak selalu
mencerminkan kenyataan yang sebenarnya, bahkan sering menyesatkan.
Kedua, tentang cara memperolehnya. Mengenai cara memperoleh ini
dibedakan dua cara, yaitu dengan kebenaran dan dengan tanpa keadilan.
Kebenaran disini dipertentangkan dengan keadilan. Kebenaran yang berasal
dari kata “benar” menunjuk kepada kenyataan bahwa dalam memperoleh
sesuatu seseorang menempuh jalan yang benar, yaitu bekerja dan menerima
imbalan sesuai dengan pekerjaannya. Sudah tentu kalau pekerjaannya
memang membutuhkan tenaga dan pikiran yang banyak, seseorang memang
pantas pula menerima imbalan yang setimpal dengan pekerjaannya itu. Dalam
cara yang ini, orang menerima sesuatu berdasarkan ukuran yang ada pada
dirinya sendiri, tanpa harus mengukur kemampuannya dengan kemampuan
orang lain. Ini penting, karena ketika seseorang sudah mulai menempatkan
dirinya dalam keberadaan orang lain, orang itu akan merasa kecewa, karena
memang dirinya tidak bisa sama dengan orang lain tersebut. Setiap orang
memiliki keberadaan dan kemampuan yang berbeda. Karenanya memaksakan
diri untuk harus sama dengan orang lain tidaklah jujur dengan diri sendiri
atau menyangkali diri.
Ketiga, tentang dampaknya bagi manusia. Senang tidaknya seseorang
dengan hidupnya sering ditentukan oleh harapan yang digantungnya. Kalau
harapan yang digantungnya terlalu tinggi dan diriya tidak dapat meraih
harapan tersebut, maka akan timbul kekecewaan dalam dirinya. Sebaliknya
kalau harapan itu terpenuhi, maka ada kepuasan tersendiri. Jadi senang atau
kecewa seseorang itu ditentukan oleh dirinya sendiri.
Sikap Hati dan Korupsi 41
Hal itulah yang disinggung ucapan bijak amsal ini. Senang tidaknya
seseorang dengan penghasilannya ditentukan oleh kenyamanan dalam dirinya.
Kenyamanan ini akan dicapai kalau seseorang tidak memiliki rasa bersalah
dalam dirinya. Rasa bersalah timbul kalau ada tindakan yang bertentangan
dengan norma atau aturan yang berlaku. Sekalipun tindakan secara fisik bisa
saja bertentangan dengan norma atau aturan itu, akan tetapi gugatan hati
nurani pasti akan mengganggu orang tersebut. Mungkin sekali lingkungan
sangat mendorong seseorang untuk bertindak tidak benar dan tidak adil, akan
tetapi hati-nurani selalu akan mengganggu. Akibatnya hidup menjadi tidak
nyaman.
Yang menjadi perhatian dari amsal ini adalah ketenangan hidup.
Ungkapan yang digunakan dalam amsal ini adalah “lebih baik . . . dari pada.”
Hidup yang berbahagia adalah hidup yang tidak diganggu oleh hati nurani
karena berbuat sesuatu yang tidak benar dan tidak adil. Sekali pun itu tidak
akan mendatangkan kekayaan secara kuantitatif, akan tetapi kenyaman
kualitatif jauh lebih berharga. Gangguan bisa saja datang dari dalam diri
karena ada perasaan tak nyaman yang mengganggu, sehingga memberatkan
pikiran. Dampaknya bisa menjadi pemarah, sakit tanpa sebab yang jelas,
dsbnya. Gangguan bisa juga datang dari luar diri karena ulah isteri, suami
atau anak.
Rasa nyaman inilah yang membuat hidup itu bahagia, bukannya banyak
penghasilannya atau banyak hartanya. Rasa nyaman itulah yang akan membuat
seseorang menjadi berkat bagi orang lain, bukannya banyak harta. Karena
rasa nyaman itu yang akan membuat seseorang berpeluang untuk melihat
hal-hal yang tidak tampak secara fisik, karena dia tidak diganggu oleh hati
nurani dan hartanya. Orang seperti itulah yang menikmati hidup ini, bukannya
yang berlimpah hartanya. Apalah artinya harta yang melimpah kalau tidak
memiliki kenyamanan dalam dirinya. Itulah orang yang berbahagia. Orang
seperti itulah yang amsal bicarakan. Amin
* Pendeta, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana
42 Sikap Hati dan Korupsi
Ketamakan dan Korupsi 43
KETAMAKAN
DAN KORUPSI
BAGIAN
II
44 Ketamakan dan Korupsi
Ketamakan dan Korupsi 45
S a t u
BERLAKU ADIL DAN JUJUR
Kolose 4:1
(Pdt. DR. Andreas A. Yewangoe)*
Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) telah menjadi kanker bangsa
ini. Bahkan Bung Hatta, salah seorang the founding fathers dan Proklamator
bangsa Indonesia pernah menyatakan bahwa korupsi telah menjadi budaya
bangsa kita. Ketika beliau menyatakan hal itu pada waktu itu banyak orang
kaget. Bahkan menolak. Jangan-jangan Bung Hatta terlampau pesimis dengan
bangsa kita? Bukankah bangsa kita sangat religius? Bukankah bangsa kita
sangat saleh di dalam menjalankan ibadah agamanya? Dalam perkembangan
perjalanan bangsa kita, ternyata sinyalemen Bung Hatta benar. Semua orang
mengakui bahwa korupsi (belakangan disebut KKN) memang telah sangat
dalam menusuk sumsum tulang keberadaan bangsa kita. Melihat kenyataan
yang demikian, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam kampanye
pemilihan umum untuk menjadi presiden menyatakan akan memimpin sendiri
pemberantasan KKN. Ketika beliau benar-benar telah menjadi presiden,
terlihat berbagai gebrakan dilakukan. Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK)
dibentuk, dan mulai terlihat hasil-hasilnya juga. Banyak pejabat atau ex
pejabat, yang pada waktu lalu tabu dijamah, sekarang telah menjadi sasaran
penyelidikan dan penyidikan. Bahkan sudah ada yang dimasukkan penjara.
Kendati semua gebrakan ini, kritik masyarakat masih saja santer. Pemerintah,
katanya hanya menggebrak orang-orang yang dukungan politiknya lemah.
Atau yang sama sekali tidak mempunyai dukungan politik.
Saya kira kritik masyarakat itu disampaikan karena ketidaksabaran
melihat praktek-praktek korupsi yang sekarang ini justru makin meluas ke
mana-mana. Kalau dalam era Orde Baru korupsi hanya terpusat di lembaga
eksekutif, sekarang justru telah memasuki lembaga legislatif, bahkan
yudikatif. Kalau dulu KKN hanya terpusat di Jakarta, sekarang telah menyebar
ke daerah-daerah. Maka secara sinis orang berbicara mengenai desentralisasi
46 Ketamakan dan Korupsi
KKN. Tetapi ada hal yang biasanya luput dari pandangan kita, yaitu bahwa
korupsi (boleh juga disebut pungutan liar) pun sangat marak di jalan-jalan,
di kalangan rakyat bawah. Lihatlah apa yang terjadi di tempat-tempat parkir
yang biasanya sudah di kapling-kapling oleh para “preman”, atau “mark up”
pembelian barang oleh pegawai kecil, atau pembayaran tanpa bukti kwitansi
di mana-mana. Seakan-akan melakukan korupsi, bukan saja tanpa perasaan
bersalah, tetapi juga dilakukan dengan bangga. Adakah Anda memperhatikan
bagaimana wawancara di televisi atau radio kepada seseorang yang disangka
melakukan KKN? Wawancara itu berlangsung tanpa ada perasaan rikuh atau
malu. Bahkan seseorang yang baru saja disidik Kejaksaan Agung menjadi
obyek buruan empuk pewawancara TV atau radio. Dan “beliau” dengan
senang hati melayani permintaan itu. Maka lengkaplah sudah, bangsa kita
yang konon sangat beragama ini, tanpa perasaan malu sedikitpun melakukan
pencurian besar-besaran terhadap harta-milik negara kita, maupun kepunyaan
sesamanya.
Tetapi pertanyaannya adalah, apakah akar dari semuanya ini? Ada yang
mengatakan bahwa akarnya adalah kemiskinan. Sinyalemen itu bisa benar,
terutama bagi para koruptor kecil. Gaji PNS yang demikian kecilnya sangat
tidak cukup untuk membiayai kehidupan seseorang dan keluarganya selama
sebulan. Tetapi bagaimana dengan seseorang yang gajinya sudah cukup,
bahkan lebih dari cukup? Mengapa masih juga melakukan KKN? Jawabannya
adalah, tidak lain dari kerakusan. Orang yang loba adalah laksana seseorang
yang meminum air payau. Makin diminum, makin bertambah kehausannya.
Sedangkan akar dari loba adalah tidak adanya perasaan keadilan di dalam
diri dan perilaku yang bersangkutan.
Keadilan yang dipadukan dengan kejujuran, memang sangat enak
diucapkan. Dalam berbagai pidato, apalagi yang sangat retorik, tanpa
mengucapkan perkataan keadilan dan kejujuran rasanya belum lengkap. Tetapi
bagaimana menerapkannya, sungguh-sungguh sulit.
Mirip-mirip itulah yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat
di Kolose ini. Surat ini ditujukan kepada Jemaat Kolose yang terdapat di
dalam sebuah kota di Pyrigia, terletak di selatan tepi sungai Lycus. Ada jalan
utama yang menghubungkan Efesus ke Efrat melalui kota ini. Jalan ini sangat
Ketamakan dan Korupsi 47
ramai, baik sebagai jalur ekonomi, maupun untuk melancarkan peperangan.
Regio Phrygia, yang di dalamnya Kolose terletak, merupakan bagian dari
Kerajaan Pergamun, yang diwariskan kepada rakyat dan Senat Romawi pada
tahun 133 M oleh pemerintahan terakhir dari dinasti Attalid, dan kemudian
menjadi salah satu propinsi Romawi di Asia. Kekristenan diperkenalkan ke
Kolose selama pemberitaan dan pelayanan Paulus sebagaimana dicatat di
dalam Kisah Rasul 19. Agaknya pemberitaan Injil itu dianggap luar-biasa
“sehingga semua penduduk Asia mendengar Firman Tuhan, baik orang Yahudi
maupun orang Yunani.”(Kis 19:10). Kepada jemaat inilah Paulus
mengirimkan suratnya dari Roma. Maksud terutamanya adalah untuk
mengingatkan dan menolak berbagai ajaran sesat.
Pada dasarnya, kesesatan itu adalah kesesatan yang berbau Yahudi.
Hal itu kelihatan dalam berbagai bagian yang mencantumkan berbagai
peraturan Torah, sunat, aturan makan-minum, peraturan hari Sabat, bulan
baru, dan berbagai hal lainnya sesuai dengan penanggalan Yahudi. Hal-hal
ini merupakan bayangan dari hal-hal yang akan datang, namun telah
kehilangan maknanya karena Kristus telah datang dan menggenapi semuanya
(Kol 2:16f). Dengan demikian, Kristus diyakini sebagai Gambar Allah yang
tidak kelihatan, Yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan (Kol
1:15) Sekaligus ini berarti, bahwa kepenuhan Allah berkenan berdiam di
dalam Dia (Kol 1:19).
Oleh adanya kepenuhan itu, Paulus tidak segan-segan untuk ikut
menderita demi jemaat itu. Maka ia menjelaskan hal menjadi pelayan jemaat
sesuai dengan tugas yang dipercayakan. Konsekuensinya, orang yang telah
mencapai kepenuhan di dalam Kristus diminta untuk mencari perkara-perkara
yang di atas. Hal-hal lain adalah sepele. “Janganlah kamu biarkan orang
menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari
raya….”, dan seterusnya. Manusia telah menjadi manusia baru. Bagaimanakah
wujud manusia baru itu? Itulah manusia yang mematikan segala sesuatu yang
duniawi di dalam dirinya, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu
jahat dan keserakahan. Semuanya ini disifatkan oleh Paulus sebagai
penyembahan berhala. Karena ini semua mendatangkan murka Allah, maka
48 Ketamakan dan Korupsi
semuanya itu harus dibuang: marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata
kotor (Kol 3:5-6).
Konsekuensi lain dari manusia baru adalah, mesti ada sifat dan watak
baru di dalam hubungan antara anggota-anggota rumah tangga. Hubungan
itu disifatkan sebagai hubungan saling kasih-mengasihi. Kasih-mengasihi
itu mesti tercermin dalam relasi suami-isteri, orang tua dan anak-anak, hambahamba
dan tuannya. Dalam kerangka sifat dan watak baru inilah maka kepada
tuan-tuan diserukan untuk berlaku adil dan jujur terhadap hamba mereka
(Kol 4:1). Bahkan kepada mereka, yaitu tuan-tuan itu diingatkan bahwa
mereka pun mempunyai tuan disurga. Jikalau hamba-hamba seperti Onesimus
mempunyai tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban, demikian juga tuan-tuan
seperti Filemon, mesti memperlakukan hamba-hamba mereka dengan adil
dan jujur. Mereka memang tuan di atas bumi, tetapi mereka juga mempunyai
tuan di surga. Inilah pertimbangan-pertimbangan serius, yang merupakan
lawan dari sikap-sikap yang bersifat menyiksa sebagaimana dilarang di dalam
Efesus 6:9. Tuan dari Onesimus, menerima nasihat mengenai apa yang
diharapkan darinya dalam hal ini (Fil 12-14); tetapi pada saat yang sama halhal
itu dilakukan bukan atas dasar paksaan, tetapi atas kemauan sendiri.
Artinya kehendak bebas di dalam manusia itulah yang mendorong untuk
melaksanakannya.
Paulus memang tidak memberikan nasihat yang mendetail bagi sebuah
masyarakat yanag sedang berubah menjadi sebuah masyarakat industri
modern yang kompleks. Bahkan pun untuk situasi kritis yang timbul di dalam
abad-abad pertama (kita teringat misalnya akan penindasan yang dilakukan
terhadap gereja pertama), tidak diberikan nasihat detail oleh Paulus. Namun
itu tidak berarti, bahwa tidak ada sama sekali nasihat itu. Ada berbagai prinsip
dikemukakan, yang oleh orang Kristen dapat diterapkan di dalam struktur
masyarakat yang sedang berubah cepat pada ssetiap waktu dan tempat.
Ayat-ayat ini tentu saja tidak secara langsung berbicara mengenai KKN.
Tetapi berbagai hal yang mengacu kepada ajakan untuk berbuat jujur dan
adil, secara tidak langsung mengindikasikan bahwa tidak akan mungkin terjadi
KKN kalau orang sungguh-sungguh melaksanakan ajakan itu di dalam
kehidupan sehari-hari. Hubungan-hubungan di antara manusia, yang
Ketamakan dan Korupsi 49
diwujudkan atas dasar kejujuran dan keadilan tidak akan menimbulkan
kecenderungan bagi timbul dan tumbuhnya KKN. Kalau masyarakat kita
diperlakukan dengan jujur dan adil, maka sangat kecil kemungkinan KKN
timbul. Manusia baru yang terwujud di dalam cara hidup baru, sebagaimana
dikatakan Paulus akan sangat sulit memunculkan KKN.
SR XIV PGI yang diselenggarakan di Jakarta, November-Desember
2004 memakai tema: “Berubahlah Oleh Pembaruan Budimu….”(Rom 12:2b).
Seruan ini juga berasal dari Paulus. Yang hendak ditekankan adalah, bahwa
apabila seseorang sungguh-sungguh memberi dirinya diperbarui dari “dalam”,
maka ia akan menjadi manusia baru. Seorang manusia baru tidak lagi akan
melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Seruan berlaku jujur dan adil,
kendati sulit, mesti dilakukan apabila kita mendambakan sebuah masyarakat
yang jauh lebih baik dari yang kita alami sekarang. Amin.
* Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia dan Dosen Sekolah Tinggi Teologi
Jakarta.
50 Ketamakan dan Korupsi
D u a
WASPADALAH TERHADAP SEGALA KETAMAKAN
Lukas 12:15
Nathanael
Mendengar kata “korupsi” rasanya bukanlah hal yang asing lagi bagi
kita yang hidup di negeri tercinta ini. Korupsi bukanlah nama sejenis makhluk
asing dari luar angkasa. Karena korupsi merupakan praktek tidak bermoral
yang sudah merajalela (kalau tidak mau disebut sebagai mentalitas atau
bahkan budaya bangsa ini) di tanah air, mulai dari elite pemerintah hingga
masyarakat kelas bawah. Juga telah merambah berbagai sektor kehidupan
berbangsa dan bermasyarakat kita. Bentuk dan modus operandinya pun
beraneka rupa, ada yang disebut ‘parsel’ hari raya, ‘amplop’, ‘iuran wajib’,
‘upeti’, suap, sogok, ‘uang damai’, ‘damai-tilang’, ‘damai-sengketa’, ‘damaipenjara’,
atau istilah kerennya mark-up, money laundring, money politic,
dan entah apa lagi yang lain.....
Memang benar korupsi bukanlah makhluk asing....tetapi anehnya
seolah-olah menjadi ‘makhluk yang asing’, yang begitu sulit untuk diberantas,
bahkan hukum di negeri ini pun tak ‘berdaya’ menjamah makhluk yang
dinamai korupsi ini. Sebagai contoh....sudah menjadi rahasia umum bahwa
seorang maling ayam lebih mudah diadili dan divonis oleh pengadilan
ketimbang seorang karuptor kelas kakap yang nyata-nyata telah merugikan
bangsa dan negara milyaran bahkan triliyunan rupiah. Kita simak saja betapa
alotnya proses peradilan dan vonis untuk seorang koruptor yang telah
menyalahgunakan dana reboisasi sebesar Rp.100. 931 milyar (Kompas, 10
November 2005). Apakah juga sedang terjadi proses korupsi baru di
baliknya.....wallahualam??? Apakah kita harus lebih bersabar hati lagi untuk
menjadi penonton yang menyaksikan aneka ‘sandiwara’ korupsi yang
berlangsung entah sampai kapan!? Sekali-kali tidak....lalu apa.... so what
gitu loh!?
Ketamakan dan Korupsi 51
Korupsi adalah ironi, mengingat bahwa kita kerapkali bahkan selalu
mengakui diri sebagai bangsa dengan predikat “bangsa yang religius atau
bangsa yang beragama.” Tetapi nyatanya, ibarat penyakit praktek korupsi
telah mencapai taraf akut. Maka pertanyaan reflektif yang patut kita renungkan
bersama adalah apa toh yang menyebabkan korupsi?
Menjawab pertanyaan ini baiklah kalau kita sejenak membaca dan
merenungkan perumpamaan tentang “Orang kaya yang bodoh” (Luk 12:13-
21). Dalam perikopa ini Yesus menegaskan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah
terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah
hartanya hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk
12:15). Karena ketamakannya, seorang kaya yang bodoh mengumpulkan
kekayaan untuk kepentingannya sendiri. Ia merasa bahwa kekayaanlah yang
membuat hidupnya menjadi aman dan nyaman: “...aku akan berkata kepada
jiwaku: Jiwaku ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun
lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!”
(Luk 12:19). Tetapi apa yang terjadi? Ternyata Allah berkehendak lain, nyawa
orang kaya yang bodoh diambil pada malam itu juga.......sia-sialah semua
yang telah dikumpulkannya.
Karena ketamakannya, orang kaya dalam perumpamaan tersebut
dijuluki sebagai orang kaya yang ‘bodoh’. Kebodohannya tidak berarti bahwa
dia memang bodoh secara intelektual. Tetapi karena ia menjadi tamak, menilai
bahwa hidupnya menjadi aman, dan bahagia hanya oleh kekayaan yang
melimpah. Ia merasa dirinya sebagai superman, tidak membutuhkan dan tidak
peduli dengan orang lain bahkan Tuhan pun tidak. Yang dipikirkan hanya
dirinya sendiri.
Ketamakan orang kaya yang bodoh tersebut kiranya pararel dengan
perilaku dan metalitas kebanyakan masyarakat kita. Mengacu pada teks,
setidaknya ada dua fenomena masyarakat kita yang patut dicermati. Yang
pertama adalah perihal kaya atau kekayaan. Kekayaan sifatnya relatif; kita
disebut kaya kalau diperbandingkan dengan orang lain yang lebih miskin.
Repotnya kriteria kaya-miskin ini tidak mudah untuk ditentukan secara hitamputih.
Masih hangat dalam ingatan kita bahwa semenjak 1 Oktober pemerintah
menaikkan harga BBM mencapai lebih dari 100%. Pemerintah berdalih bahwa
52 Ketamakan dan Korupsi
kebijakan tersebut akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional.
Lebih dari itu toh subsidi BBM yang selama ini dinikmati oleh orang kaya
kini akan dibagikan langsung pada rakyat yang dikategorikan miskin. Rakyat
miskin pun akhirnya mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp.
100.000,00 per kepala keluarga per bulan. Masalahnya siapa yang semestinya
disebut miskin?
Kebanyakan masyarakat kita adalah orang miskin. Tetapi sejujurnya
kebanyakan dari kita merasa gengsi untuk mengaku diri sebagai orang miskin.
Kita lebih suka untuk tampil sebagai orang kaya. Sebagai contoh, fenomena
mall-syndrome: belanja di mall boleh dikatakan sebagai gaya hidup orang
kaya, nyatanya yang masuk ke mall kebanyakan adalah orang yang bukan
kategori kaya. Tentu ada beraneka maksud dan motivasi.....tetapi dibalik
semuanya adalah rasa gengsi..... dengan masuk mall orang merasa diri kaya.
Rupa-rupanya ‘harga diri’ masyarakat kita terlalu tinggi, sehingga untuk
mengaku sebagai orang miskin saja harus malu. Tetapi anehnya ketika
pemerintah membagikan Bantuan Tunai Langsung (BLT), orang tidak malumalu
lagi mengaku diri miskin. Yang semestinya tidak layak disebut miskin
pun mengaku diri sebagai orang miskin. Di antara orang yang berjubel
mengantri untuk mengambil jatah kemiskinan.....e......ternyata ada yang
datang dengan penampilan mentereng sambil menenteng handphone....Lebih
parah lagi, banyak warga yang sungguh-sungguh miskin malah tidak terdaftar
sebagai penerima BLT.
Fenomena ini kiranya pararel dengan ‘orang kaya yang bodoh’
sebagaimana dalam perumpamaan Yesus. Kebanyakan dari kita adalah orang
yang bermental seperti orang kaya yang bodoh, yang melihat bahwa kekayaan
sebagai jaminan untuk hidup aman dan bahagia. Kekayaan menjadi tolak
ukur yang menentukan bahwa hidup ini bermakna. Terlihat kaya atau menjadi
kaya adalah kriteria untuk menilai kebahagiaan hidup. Akibatnya kekakayaan
yang semestinya sebagai sarana, berubah menjadi tujuan hidup yang harus
dicapai. Maka tidak mengherankan kalau berbagai upaya dilakukan agar
menjadi kaya atau setidaknya tampak kaya. Orang miskin pun malu disebut
miskin, sehingga berusaha untuk tampil kaya. Dan yang lebih parah lagi,
orang yang sudah kaya rela melepaskan ‘harga diri’ dan mengaku miskin
Ketamakan dan Korupsi 53
agar mendapat ‘jatah’ untuk semakin memperkaya diri. Ambil contoh, dalam
kondisi masyarakat yang gonjang-ganjing akibat kenaikan BBM, anggota
DPR malah mendapat tunjangan operasional (yang diterima dengan malumalu
kucing). Inilah mentalitas tamak.
Bertolak belakang dengan mentalitas tamak, Yesus dalam perumpamaan
tentang orang kaya yang bodoh menawarkan suatu pandangan baru. Makna
hidup tidak ditentukan oleh kepemilikian atas kekayaan materi. Orang boleh
saja menjadi kaya bahkan memiliki seluruh dunia ini, tetapi apalah artinya
kalau ia kehilangan diri atau jiwanya (bdk. Luk 9:25). Kekakayaan yang
dituntut dari kita adalah ‘kekayaan spiritual’, yakni hendaklah kita menjadi
‘kaya di hadapan Allah’ (Luk 9:21).
Perihal yang kedua berikut ini akan menjelaskan maksud ‘kaya di
hadapan Allah’, yakni perihal iman. Secara ideologis tak dapat disangkal
bahwa bangsa kita adalah bangsa yang beragama (sila pertama Pancasila).
Persoalannya apakah orang Indonesia sungguh beriman? Nyatanya korupsi
sudah menjadi ‘penyakit’ akut bangsa ini? Beragama dan beriman adalah
dua hal yang berbeda, yang tidak bisa disamakan begitu saja.
Dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh, Yesus menegaskan
perihal iman. Iman menunjuk pada intimitas dan penuh kepercayaan pada
Allah. Orang kaya yang bodoh disebut bodoh tidak karena kekayaannya,
tetapi karena ia percaya bahwa kekayaannya menjadi jaminan untuk hidup
aman dan damai. Dengan kata lain ia menolak untuk percaya pada Allah,
yang sesungguhnya menjadi jaminan untuk hidup kekal. Orang kaya disebut
bodoh karena dalam praksis hidupnya ia mengabaikan Tuhan atau ateis
praktis. Tidaklah keliru kalau istilah yang sama juga menjadi julukan bagi
model hidup beragama untuk kebanyakan dari kita di tanah air ini. Sudah
bukan hal yang aneh kalau di negeri ini korupsi bisa terjadi dalam lembaga
yang berlabel agama.
Singkatnya, korupsi dipicu oleh mentalitas pribadi yang tamak. Karena
ketamakannya seseorang menyalahkan informasi, keputusan, pengaruh, uang
atau kekayaan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Praktek
ketidakadilan ini jelas-jelas merugikan orang lain dan merupakan perilaku
tak bermoral yang tidak pantas dilakukan oleh siapapun atau pihak manapun
54 Ketamakan dan Korupsi
di negeri yang selalu mengusung jargon ‘bangsa beragama’ ini. Karena korupsi
sendi-sendi hidup bersama menjadi rusak, cita-cita kebebasan dikhianati,
terbentuknya institusi yang adil terhalangi, cita-cita hidup bersama yang adil
dan sejahtera yang menjadi slogan bangsa ini sejak awal kemerdekaan menjadi
mustahil untuk dicapai.
Mengakhiri permenungan ini baiklah ditegaskan kembali beberapa
penilaian berikut:
�� Ketamakan adalah benih dosa, yang oleh karenanya orang menjadi lekat
pada harta kekayaan. Bahkan menilai bahwa kekayaanlah satu-satunya
yang menjadi jaminan untuk hidup bahagia. Kekayaan menjamin
keamanan hidup. Kekayaan membuat hidup bermakna, atau meminjam
slogan sebuah iklan: kekayaan bikin hidup lebih hidup.
�� Kekayaan yang sesungguhnya adalah ‘orang yang kaya’ di hadapan Allah.
Kepada mereka yang mendengar dan melakukan firmanNya, Allah akan
menganugerahkan berkat yang sesungguhnya (Luk 8:21; 11:28). Jaminan
hidup kekal adalah Allah sendiri, dan Ia telah menganugerahkan kepada
kita melalui dan dalam diri Kristus Putera-Nya.
�� Karena itu sebagai orang beriman (bukan hanya beragama) kita dituntut
untuk: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan,
sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya hidupnya tidaklah
tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk 12:15).
�� Harapannya adalah: di negeri di mana korupsi sudah menjadi ‘penyakit
akut’ bangsa, kita dipanggil untuk membentuk komunitas alternatif yang
menjunjung tinggi kejujuran dan transpransi. Hal ini hanya mungkin
bila setiap orang dari kita, dengan bantuan Roh Kudus, menyucikan
diri dari dosa ketamakan. Dengan demikian semoga ‘penyakit akut’
bernama korupsi sirna dari komunitas bangsa ini yang terlanjur terkenal
sebagai negara berperingkat ‘terbaik’ untuk korupsi.
* Aktivis Awam Gereja Katolik, Sedang menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas
Teologi Weda Bhakti Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Ketamakan dan Korupsi 55
T i g a
NABOT MATI KARENA KESERAKAHAN SANG RAJA
1 Raja-raja 21
(Sr. DR. Gratiana Tafaib, PRR)*
Pada zaman dahulu ketika bangsa Israel masih berada di Mesir, mereka
merasa hidup sebagai budak-budak Firaun. Ketika Tuhan membebaskan
mereka dari Mesir dan mengembara di padang gurun, mereka mengakui Allah
sebagai Penguasa Tertinggi dan menghormati setiap orang Israel sebagai
saudara dan saudari seketurunan. Akan tetapi ketika mereka mulai menetap
di Kanaan dan mendapatkan sebidang tanah untuk diolah, suku-suku itu mulai
membentuk sebuah kerajaan, maka di situlah awal dari perubahan. Raja mulai
memilih pegawai-pegawai kecil mau pun besar. Mereka diberi upah dan
hadiah-hadiah dari raja, atau menjadi kaya karena memperoleh barang barang
rampasan dari perang. Kemudian muncullah sebuah golongan baru yang hidup
lebih mewah, kaya, dibanding menjadi petani kecil.
Peran seorang raja Israel memang berbeda dengan yang lain, dia menjadi
wakil Allah di dunia dan berfungsi untuk melaksanakan roda pemerintahan
atas nama Allah. Atas nama Allah raja bertanggungjawab untuk memimpin
rakyatnya hidup setia kepada Allah dengan melaksanakan firman-Nya.
Kesetiaan kepada Allah dan firman-Nya terwujud di dalam masyarakat yang
diwarnai oleh keadilan, kesejahteraan, perdamaian, kasih persaudaraan yang
senantiasa bersemi di tengah bangsa ini. Dalam perjalanan sejarah sesudah
raja Daud, terdapat banyak penyelewengan. Raja membelok dari tujuan yang
sebenarnya. Ia lebih banyak mencari keuntungan-keuntungan untuk pribadi
dan keluarganya dari pada setia kepada firman Allah dan mewujudkan
masyarakat sejahtera dan adil di Israel. Kita akan melihat salah satu contoh
tindakan korupsi yang sangat tak bermoral oleh raja Ahab.56 Ketamakan dan Korupsi
Kebun Anggur Nabot dan Raja yang Serakah
Dalam cerita tentang kebun anggur Nabot, ditampilkan raja Ahab dan
istrinya Izabel yang memerintah di kerajaan Utara, Samaria pada waktu itu.
Sebagai wakil Allah, raja Ahab dihormati oleh seluruh rakyat kendati banyak
kesalahan dan kejahatannya. Sang raja ternyata memiliki kepribadian lemah,
pikiran picik dan wawasannya sebatas hal-hal materialistik yang memuaskan
nafsu-nafsu keserakahannya. Ingat peristiwa kemarau panjang yang melanda
wilayah Utara, seluruh rakyat jatuh kelaparan dan mati. Anehnya, waktu itu
raja tidak berusaha mengurangi penderitaan rakyat, melainkan dia hanya
memikirkan keselamatan kuda dan ternak-ternaknya. Sewaktu nabi-nabi Baal
yang setiap hari melayaninya dibunuh oleh rakyat, dia merasa biasa saja dan
makan-minum tanpa terusik.
Raja mengabaikan tangungjawabnya sebagai wakil Allah yang harus
menunjukkan dan mengingatkan pada rakyat tentang kesetiaan terhadap
hukum-hukum Allah. Raja Ahab tidak mau mengenal hukum Allah dan
menolak untuk menghormatinya. Salah satu contohnya adalah ketika ia
mengincar kebun anggur Nabot. Pada suatu sore raja Ahab mengamati kebun
anggur Nabot yang ada di sekitarnya. Raja tertarik dan ingin memiliki kebun
anggur itu. Raja mulai tawar menawar dengan Nabot. Tawaran raja untuk
memperoleh kebun tersebut menunjukkan bahwa ia tidak mau tahu tentang
hukum agama yang berlaku tentang tanah. Masalah kepemilikkan tanah di
Israel pada waktu itu bukan sekedar urusan sosial atau ekonomi. Tanah
memiliki nilai agama dan spiritual yang sangat luhur. Orang Israel percaya
bahwa tanah yang mereka miliki adalah Tanah Perjanjian yang diberikan
oleh Allah. Karena itu mereka hanya memperoleh hak untuk menggarap tanah
tersebut yang diwarisi turun temurun dari leluhur dan bukan hak mutlak
mereka (bdk Im 25:23-28, Bil 36:7). Oleh karena Nabot setia pada hukum
agama maka sekali pun raja memintanya dengan sangat, ia tidak dapat
memberikan tanah warisan itu. Akhirnya raja pulang ke istana dengan gusar
dan kesal bagaikan anak kecil yang permintaannya tak dilayani (1Raj 20:43).
Keserakahan sang raja tak dapat dibendung, maka istrinya Izebel yang
keras dan licik merancang sebuah tuduhan palsu untuk Nabot. Maklum, raja
Ahab sangat lemah. Dalam banyak hal istrinya ikut menjalankan roda
Ketamakan dan Korupsi 57
pemerintahan dari balik layar. Kata sang istri kepadanya: “Aku akan
memberikan kepadamu kebun Nabot, orang Yizreel itu” (1 Raj 21:7). Dengan
sebuah rancangan palsu, Nabot diadili dengan tuduhan dan saksi-saksi palsu.
Tanpa diberi kesempatan untuk membela diri, akhirnya Nabot divonis dengan
hukuman mati secara sah. Anak-anak Nabot juga dihukum mati (2 Raj 9:26)
agar dikemudian hari tak ada turunan Nabot yang bangkit dan menuntut raja
atas tanah itu. Sejak itu raja Ahab dengan bebas mengambil kebun anggur
yang diimpikannya.
Pemimpin yang Tidak Setia pada Tuhan dan Manusia
Apa yang dilakukan raja Ahab adalah suatu pelanggaran hukum,
menginjak hak asasi manusia dan memperlakukan orang bawahan sewenangwenang.
Ahab tidak lagi memperhatikan perjanjian Allah, “Tuhan adil di tengahtengahnya,
tidak berbuat kelaliman. Pagi demi pagi Ia memberikan hukumNya;
Ia tidak pernah ketinggalan pada waktu fajar” (Zef 3:5); hukum Tuhan itu
menuntut raja dan seluruh umatNya untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan,
hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Oleh karena itu nabi-nabi tidak
mengajarkan hukum baru, melainkan memanggil semua orang yang percaya
untuk ingat akan kemurahan dan keadilan Allah serta hidup menurutnya.
Kenyataannya, para pemimpin menggunakan jabatan mereka dengan kekerasan
hati dan semangat egoisme bernyala-nyala yang tak dapat disembunyikan.
Mereka menjual orang benar karena uang, menginjak-injak kepala orang lemah
ke dalam debu.Nabi Amos mengecam perbuatan jahat tersebut: Sebab Aku
tahu bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar,
hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap
dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang (Am 5:12). Nabi
Yesaya mengingatkan bahwa para pemimpin mereka adalah kelompok
pemberontak yang suka bersekongkol untuk mencuri; semua mereka suka uang
suap bahkan mengejar sogok-sogokan; mereka putar-balikan hukum dengan
mempermainkan orang-orang kecil yang susah (bdk. Pewartaan Nabi Yesaya
dan Mikha). Semuanya demi memenuhi keserakahan mereka.
Dalam kenyataannya, korupsi di negara kita sudah membudaya, artinya
sudah menjadi suatu kebiasaan yang wajar karena sudah mendarah daging
58 Ketamakan dan Korupsi
dalam masyarakat. Korupsi merupakan suatu bentuk pencurian yang
bertentangan dengan Firman Allah (Kel 20:15). Biasanya para pemimpin
seperti raja Ahab menggunakan kuasa dan kewenangannya untuk mencuri
dan merebut milik orang lain, apalagi terhadap si petani kecil. Para koruptor
menutup-nutupi kejahatan mereka dengan hukum dan sebagainya. Mereka
diibaratkan dengan kuburan yang dilabur putih (bdk. Mat 23:25-27).
Seorang pejabat adalah pemimpin yang harus menunjukkan bahwa
kesetiaan terhadap hukum negara pada dasarnya tidak berbeda dengan hukum
Allah. Kesetiaan kepada Allah dan menjamin kesejahteraan seluruh rakyat.
Namun apa nyatanya? Banyak lembaga negara dan swasta menderita kerugian
akibat tindakan korupsi, baik berkaitan dengan barang material mau pun
waktu dan jaza orang lain. Jauh lebih buruk lagi kalau itu dilakukan orangorang
terpandang dan membahayakan orang-orang lemah. Seorang pemimpin
seharusnya memberikan teladan bagi yang lain dalam hal kesetiaan pada
hukum, kejujuran dan keadilan.
Mahatma Gandhi mengatakan bahwa “Seluruh jagat raya menyediakan
segala sesuatu cukup dan berkelimpahan bagi manusia, namun tetap tidak
cukup bagi seorang yang rakus”. Orang yang serakah bagaikan padang pasir
yang tak pernah jenuh sekali pun dituangi seberapa banyak air. Tindakan
korupsi kelas berat hidup dikalangan para pejabat yang kaya raya, yang
tidak jenuh dan tak pernah puas dengan apa yang diperolehnya secara tidak
adil.
Korupsi dan Andil Perempuan
Istri raja Ahab yaitu Izebel dalam cerita di atas hanyalah salah satu dari
banyak peran perempuan yang dimunculkan dalam Kitab Suci. Perempuan
ini mengendalikan kebijakan-kebijakan raja atas seluruh kerajaan. Ia pandai
mengambil keuntungan-keuntungan besar dari posisi jabatan suaminya.
Dalam soal korupsi dan ketidakadilan Nabi Amos sangat mengecam para
perempuan yang menuntut dari suami mereka (para pemimpin) berbagai
perhiasan, pakaian, kemewahan dalam rumah tangga (bdk.Yes 3:16). Para
perempuan kelas atas di Yerusalem pada waktu itu mungkin hanya
Ketamakan dan Korupsi 59
memikirkan soal kecantikan dan berlomba-lomba dalam hal mode pakaian
dan perhiasan. Nabi Amos mempertanyakan dari mana datangnya uang untuk
membeli segala kebutuhan mewah istri-istri para pejabat itu? Sudah pasti
mereka ikut menindas dan memeras orang-orang miskin karena
menginginkan banyak uang dan kebutuhan-kebutuhan mewah dari suamisuami.
Nabi Amos mengibaratkan istri-istri ini dengan sapi-sapi gemuk yang
ambil bagian dalam ketidakadilan.
Rupanya semangat Izebel dan kelompoknya pada waktu itu masih
berkembang dengan sangat subur di dunia sekarang. Tidaklah berlebihan
kalau dikatakan bahwa salah satu faktor pendorong korupsi adalah karena
tuntutan-tuntutan para istri mau pun perempuan-perempuan pujaan lainnya.
Orang Kristiani, Lawan Arus atau Ikut Arus?
Ajaran Kristiani membahas keutamaan keadilan sebagai usaha untuk
menghormati hak setiap orang dan membangun relasi antar manusia dalam
sebuah keharmonisan yang dijiwai semangat kejujuran dan solidaritas.
Korupsi terjadi karena orang yang memiliki modal dan mempunyai kekuasaan
mengambil hak orang yang lemah dan tidak berdaya dalam segala aspek
kehidupannya. Iman akan Tuhan dan nurani kemanusiaan kita mendorong
untuk melawan kemerosotan yang disebabkan oleh korupsi.
Mewartakan kebenaran, keadilan dan kejujuran di tengah lingkungan
kerja dan struktur yang korup bukanlah soal gampang, namun tidak berarti
tidak dapat diusahakan. Ditemukan pada banyak lingkungan yang korup,
seseorang yang berlaku jujur dan bersih, sering diolok-olok, dijadikan bahan
tertawa dan bahkan dianggap orang aneh. Tidak jarang seorang yang berjuang
untuk mempertahan nilai-nilai kejujuran, keadilan, pada akhirnya terpaksa
ikut arus “menyesuaikan diri” dengan dalil “solider” karena takut dikucilkan
dari kelompok, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan jaminan dan
seterusnya. Orang seperti itu kemudian berani ikut memeras dan mencuri
dari orang-orang miskin, berani menindas orang lemah, berani mengutamakan
kepentingan keluarganya, berani kehilangan jiwa, berani kehilangan
keselamatan kekal. Sebagai orang Kristen kita diingatkan selalu pada pesan
60 Ketamakan dan Korupsi
Yesus Kristus, jadilah garam dan terang bagi dunia (Mat 5:13-16). Tetaplah
berpegang pada kejujuran dan kesetiaan di tengah lingkungan yang korup.
Hidup seperti itu ibarat bunga teratai yang tetap segar, bersih dan harum
aromanya di tengah lingkungan kotor.
Dalam melawan arus kotor hendaklah kita tetap memperhatikan ramburambu
hukum. Kita tidak menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum.
Orang Kristiani perlu lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia;
artinya siap menanggung segala resiko yang mungkin terjadi dalam upaya
menegakkan kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini kita belajar dari Nabi
Elia, Elia menghormati raja Ahab tetapi dia berani mengecam kesalahankesalahannya.
Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi nabi-nabi
pengharapan bukannya menjadi nabi kesuraman; “Hendaklah terangmu
bersinar di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik,
lalu memuji Bapa-Mu yang di surga” (Mat 5:15).
Bagi setiap orang Kristen yang menduduki jabatan pada level mana
pun, perlu sadar dan menjauhkan diri dari dosa-dosa Ahab dan Izsebel.
Menghindari tindakan penyelewengan jabatan untuk kepentingan diri sendiri,
nafsu keserakahan, menempatkan kepentingan pribadi atau keluarga di atas
kepentingan umum, menghindar dari tanggungjawab yang sesungguhnya.
Dalam hal ini perlu pembinaan suara hati. Orang yang korupsi sudah tumpul
suara hatinya, atau sudah mati dan tak berfungsi atau sesat. Pembinaan suara
hati memang sulit namun harus dimulai sejak dini dalam keluarga. Suara
hati adalah suara yang murni, tanpa noda. Mendengarkan suara hati artinya
mendengarkan suara Allah. Negara ini akan berhasil mencabut akar korupsi
di kemudian hari, bila mulai sejak dini menawarkan pada anak-anak dari
dalam keluarga nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, keadilan, solider dengan orang
miskin, sejak dini pada anak-anak dari dan dalam keluarga sendiri.
* Anggota Tarekat Putri Rehna Rosari, (PRR) Dosen Fakultas Teologi, Universitas Sanata
Dharma - Yogyakarta
Ketamakan dan Korupsi 61
E m p a t
PENGHARAPAN HIDUP
Imamat 19:13
(Bambang Pujo Riyadi, S.Th. MPD)*
Realitas teks Kitab Imamat
Isi Kitab Imamat dibagi dalam enam tema besar. Imamat 19:13 masuk
dalam tema yang kelima yaitu tentang kekudusan hidup (Im 17:1-26:46).
Memang bagian ini meliputi bermacam-macam pokok tetapi disatukan dalam
tema kekudusan.
Kitab ini merupakan serangkaian standardd praktis yang diberikan
kepada bangsa Israel sebagai bangsa yang dipanggil Allah untuk hidup dalam
kemurnian dan kekudusan. Hidup murni dan kudus itu harus dijalani dalam
ketaatan serta disiplin pada masalah-masalah aktual seharí-hari. Ketaatan
tersebut tidak lain sebagai permulaan panggilan keimaman bangsa Israel yang
diwujudkan dalam hidup suci baik secara rohani maupun moral yang terpisah
atau berbeda dengan bangsa-bangsa lain
Dalam Imamat 19:13 dapat dilihat bahwa ayat ini melarang orang kaya
atau kuat memperoleh keuntungan dengan memperlakukan orang miskin atau
lemah secara tidak adil. Upah seorang buruh harian harus dibayar pada petang
hari dengan segera sesudah dia menyelesaikan pekerjaannya sebab jika tidak
keesokan harinya seorang pekerja yang miskin tidak akan dapat makan. Jika
ini terjadi maka tindakan memeras, merampas dan menahan upah merupakan
wujud ketidakadilan. Artinya terjadi tindakan yang merusak peraturan, moral
dan kehidupan.
Agaknya standard praktis ini mengingatkan bangsa Israel agar
memberlakukan keadilan sebab di sana ada kekudusan. Jika dihubungkan
dengan Perjanjian Baru maka dapat dimengerti bahwa peraturan dalam
62 Ketamakan dan Korupsi
Imamat dijalankan bukan sebagai cara untuk memperoleh keselamatan tetapi
karena umat telah selamat dan harus selalu menjaga kekudusannya.
Realitas konteks kehidupan di Indonesia kini
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, Indonesia memiliki Pancasila
sebagai dasar yang telah diletakkan bersama oleh para founding fathers. Sila
yang kelima berbicara tentang Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia. Dasar ini menjadi harapan bersama seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mencapai itu sudah tentu dengan sistem yang ada para pengelola negara
memiliki kewajiban untuk mengelola dengan baik sehingga dapat tercipta
keadilan social. Tentu saja mereka yang secara formal memiliki tugas dan
memperoleh wibawa atau kekuasaan untuk mengelola negara harus menjadi
pendamping atau atau pelayan bagi masyarakat, agar dapat mewujudkan
keadilan bagi segenap warga negara.
Di sisi lain Indonesia ádalah negara yang berlandaskan juga pada agama,
ini juga tertuang dalam Sila yang pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.
Perwujudan sila itu mengakui adanya kepelbagaian agama. Dengan adanya
agama-agama tersebut jelas bahwa sebenarnya masyarakat memiliki standard
moral yang kokoh. Dengan demikian visi hidup bersama dalam hal ini
mewujudkan keadilan sosial juga akan mendapatkan perekat atau wibawanya
di sana. Walaupun ungkapan beragama berbeda tetapi nilai-nilai keadilan
dalam tiap agama pasti memiliki nilai universal atau ada semacam kaídah
emas bersama.
Walaupun standard keadilan tidak dapat dirumuskan secara matematis
tetapi melihat kenyataan di Indonesia jelas bahwa keadilan belum dapat
dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat. Artinya masih banyak yang belum
menikmati sarana-sarana kehidupan yang layak. Potret masyarakat miskin
kita jumpai di mana-mana tentu dengan standard/indikator kehidupan yang
dikatakan layak di Indonesia. Kenyataan itu bisa disebabkan oleh banyak hal
tetapi satu faktor yang sangat mengganggu adalah banyak masyarakat menjadi
miskin karena terjadi pelanggaran peraturan, rendahnya moral keadilan
sehingga kehidupan bersamapun menjadi rusak. Terjadilah
ketidakseimbangan hidup. Sehingga munculah ungkapan klise seperti: yang
Ketamakan dan Korupsi 63
kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin menjadi miskin. Itu
mengandaikan bahwa telah terjadi pemerasan, perampasan atas hak hidup
orang lain.
Perusakan itu tidak hanya dilakukan oleh pemegang kekuasaan dalam
skala masif tetapi juga sektor privat atau perorangan yang memiliki
kesempatan untuk mengambil keuntungan lebih bagi diri pribadi dengan cara
memeras dan merampok hak hidup atas sesamanya sendiri. Celakanya hal
ini terjadi tidak hanya dilakukan sendiri-sendiri tetapi juga dilakukan bersamasama
dan dapat menjadi sistem yang menggurita serta sulit untuk lepas dari
cengkraman tersebut. Dalam bahasa agama ini dapat dikatakan telah terjadi
dosa kolektif artinya telah terjadi perusakan nilai kekudusan bersama-sama.
Jadi ungkapan korupsi, kolusi dan nepotisme merupakan tindakan yang
memang terjadi dan ada dalam seluruh aspek bermasyarakat. Melihat
kenyataan ini banyak orang menjadi pesimis bahwa proses ketidakadilan,
pemerasan dan perampasan dapat dihilangkan dari sistem bermasyarakat dan
bernegara. Sehingga tidak heran kalau hal ini oleh banyak orang dikatakan
sudah menjadi budaya walaupun banyak orang tidak setuju jika dikatakan
sudah membudaya sebab tidak semua orang melakukannya.
Kalau demikian keadaannya bagaimanakah dengan cita-cita
mewujudkan keadilan sosial? Keadilan yang menjadi pegangan atau harapan
hidup semua orang. Bahkan cita-cita keadilan itu juga direkatkan dan
dibungkus dalam bingkai agama manapun di Indonesia. Apakah keadilan
akan menjadi slogan manis yang terus membius atau menjadi utopia
masyarakat tanpa ada pihak yang berupaya memperjuangkannya.
Aplikasi
Keadilan menjadi dambaan hidup semua orang, artinya menjadi harapan
yang sangat dinantikan untuk dapat dirasakan dan dinikmati oleh semua orang.
Kalau demikian dapat dimengerti bila kitab Imamat mengingatkan hal ini.
Bahkan lebih jauh hal ini dikaitkan dengan kekudusan hidup yang harus
dilakukan dalam ketaatan dan disiplin terus menerus. Sebab ini menyangkut
kehidupan, menjadi bingkai keberlangsungan ciptaan. Hidup orang miskin
64 Ketamakan dan Korupsi
hari besok sangat bergantung pada yang didapatnya hari ini. Jika hari ini
tidak mendapat upah sudah pasti besok keluarganya tidak dapat memperoleh
makanan artinya kehidupan berhenti.
Lebih jauh refleksi Perjanjian Baru dalam Matius 20:8 mengingatkan
bahwa, sebenarnya memberi upah sesuai harapan itu menjadi sebuah
perumpamaan dari Kerajaan Surga. Artinya jika seseorang memberlakukan
keadilan sebenarnya dirinya sudah membangun Kerajaan Surga yang
dibangun dengan konkret. Oleh karena itu bisa dimengerti bila kitab Imamat
memasukkan ini dalam kekudusan hidup.
Bila semua hal di atas bisa dimengerti jelaslah bahwa tidak ada
seorangpun yang dapat memeras dan merampas seenaknya. Apalagi dilakukan
secara kolektif. Memeras dan merampas hak sesama berarti menghentikan
hidup seseorang, menghentikan hidup orang berarti memutus
keberlangsungan ciptaan, memutus keberlangsungan ciptaan berarti melawan
Sang Pencipta. Melawan Allah Sang Pencipta berarti juga menghentikan
hidup kita sendiri. Jadi perbuatan memeras dan merampas baik secara
langsung maupun tidak, dalam sistem kekuasaan atau tidak sebenarnya adalah
tindakan bunuh diri. Jadi jelas bahwa, sebenarnya dalam peraturan dan moral
bermasyarakat bahkan agama sekalipun tindakan memeras dan merampas
yang bukan bagiannya adalah tidak dapat dibenarkan di manapun.
Banyak indikator dapat ditemukan bahwa, sekarang ini tindakan itu
sangat subur bahkan masuk dalam sistem kekuasaan atas kehidupan bersama.
Jika sudah masuk dalam kekuasaan jelas bahwa bahasa pemerasan dan
perampasan menjadi korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan banyaknya
indikator korupsi, kolusi dan nepotisme berarti telah terjadi pengingkaran
Kerajaan Surga yang dibangun Allah di dunia ini, kini dan di sini. Lalu jika
ini terjadi apakah artinya Yesus Kristus lahir? Tentu tidak ada artinya sebab
tidak merubah apapun. Kalau demikian tentu dipertanyakan juga di manakah
letak tanggungjawab para pengikut Kristus. Tentu jawabnya tidak ada
pengikut Kristus yang bertanggungjawab bahkan mungkin menjadi bagian
dari pengingkaran akan Kerajaan Surga.
Dengan demikian jelas bagi kita bahwa, menjaga kekudusan hidup
yang dijalani dalam ketaatan dan kemurnian serta memberlakukan keadilan
Ketamakan dan Korupsi 65
adalah tugas menabur Kerajaan Surga. Terwujudnya keadilan berarti ada
harapan hidup tidak saja untuk diri sendiri tetapi untuk seluruh ciptaan.
Adanya harapan hidup berarti Kerajaan Surga bertumbuh dan terus dibangun
sehingga mencapai kesempurnaan.
Melihat kenyataan korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggurita
bahkan setiap orang cenderung ambil bagian maka, Kristus menegur: di mana
tanggungjawab atas ciptaan ini atau kita telah mengerti tetapi peniadaan
keadilan atau Kerajaan Surga terus dilakukan. Bila sudah demikian jelas
bahwa Pengharapan Hidup telah mati. Lebih jauh Allah dan Kerajaannya
tidak bertumbuh tetapi telah mati. Itu artinya: saudara dan saya andil dalam
memusnahkannya. Karena itu jagalah keadilan dengan penuh ketaatan dan
kemurnian.
Amin.
* Warga Jemaat Gereja Kristen Jawa
66 Ketamakan dan Korupsi
L i m a
PENYALAHGUNAAN AMBISI MEMBAWA PETAKA
Markus 10:35-45
(Freddy Benedictus)*
Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang tua dan
sakit-sakitan. Kerajaan itu mempunyai beberapa anak kerajaan. Sang raja
mempunyai seorang adipati yang sangat licik. Dia berambisi untuk
menggantikan raja, kalau sang raja sudah meninggal dunia. Adipati, sebut
saja Sangkutala, lalu mengatur strategi. Dia lalu berupaya memecah-mecah
kerajaan demi ambisinya. Kepada setiap raja-raja vasal dia melakukan hal
yang berbeda. Kepada raja vasal pertama dia mengatakan: “Sang raja sudah
tak tertolong lagi, tapi dia sudah menyiapkan putra mahkota lain. Seharusnya
Anda yang layak menggantikan dia untuk menjadi Raja”. Demikian seterusnya
kepada kelima raja vasal yang lain. Lalu, masing-masing raja vasal mulai
merasa bahwa merekalah yang layak menjadi raja kalau sang raja meninggal.
Selesai dengan upaya pertamanya, dia pun mendekati Baginda Raja
yang lagi sekarat. “Baginda Raja, raja vasal pertama hendak melakukan
kudeta, dan ingin merebut tahta baginda. Kalau baginda percaya padaku,
biarlah aku menumpas mereka.” Dalam kesakitannya, sang raja tidak segera
merestui permintaan sang adipati. “Tidak mungkin Sangkutala, mereka tidak
akan melakukannya, karena proses pemilihan raja di kerajaan kita sudah jelas.
Mereka tidak mungkin melanggar peraturan kerajaan.” Demikian seterusnya,
setiap hari Sangkutala melaporkan kepada baginda raja, upaya-upaya para
raja vasal yang akan mengadakan kudeta.
Di antara sakit dan harapan untuk hidup yang kian menipis, Baginda
raja mengumpulkan para raja vasal dan menanyakan kepada mereka: “Apakah
benar kalian mau mengadakan kudeta untuk merebutkan tahtaku? Bukankah
peraturan kerajaan kita sudah jelas menetapkannya? Dimanakah loyalitas
Ketamakan dan Korupsi 67
kalian terhadap aku?” Aku belum meninggal saja, kalian sudah berencana
untuk kudeta, apalagi kalau sudah meninggal.”
Para raja vasal kaget setelah mendengar apa yang dikeluhkan sang
baginda. Mereka lalu mengadukan kepada sang baginda, kalau Sangkutala
telah merencanakan semuanya. Murkalah sang baginda. Tahulah dia kalau
yang berambisi adalah Sangkutala dan bukan raja vasal.
Sangkutala pun menerima hukuman mati akibat ambisinya yang ingin
menjadi raja.
Ambisi dan Korupsi
Atau jika Anda mengenal karya-karya William Shakespeare, Anda pasti
mengenal Macbeth sebagai salah satu tokoh dalam karyanya. Macbeth begitu
ingin menjadi raja sehingga ia melakukan pembunuhan, dan ia harus
membayar perbuatannya itu dengan nyawanya.
Kita akan menjadi seperti tokoh yang tragis itu jika kita membiarkan
ambisi memenuhi pikiran, sehingga akhirnya melupakan siapa yang
sebenarnya mengendalikan kehidupan kita. Kita mungkin tidak
mempergunakan cara-cara yang jahat untuk mencapai tujuan, tetapi
membiarkan ambisi menutupi pikiran mengenai kedaulatan Allah. Bukannya
menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya, kita malah
menyelesaikannya sendiri.
Contoh lain dari ambisi yang berlebihan ditemukan dalam percakapan
antara Yakobus dan Yohanes dengan Yesus di dalam Markus 10. Mereka
berkeinginan untuk menduduki posisi yang memiliki kehormatan dan
kekuasaan tertinggi di Kerajaan Surga. Dan karena tidak sabar untuk
menunggu dan melihat apakah Yesus akan menganugerahkan kehormatan
itu, maka mereka dengan berani memintanya. “Guru, kami berharap supaya
Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami, Perkenankanlah kami
duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan
yang seorang di sebelah kiri-Mu” (Mrk 10:35,37). Mereka begitu tidak sabar
untuk menyerahkan segala persoalan ke dalam tangan-Nya. Ambisi memang
68 Ketamakan dan Korupsi
tidak selalu salah. Namun ketika ambisi begitu memenuhi pikiran sehingga
tidak sabar menunggu Allah, maka kita menunjukkan kurangnya iman seperti
yang dilakukan para murid itu.
Ambisi yang berlebihan membuat seseorang tidak menyadari apa yang
mereka minta atau yang mereka perjuangkan (bdk Mzm 22:5, 115:47). Selain
itu akibat ambisi yang berlebihan mendorong seseorang untuk melakukan
segala sesuatu demi mencapai apa yang diinginkannya. Orang menjadi tidak
peduli, apakah cita-cita atau kebahagiaan yang dicapainya itu terjadi di atas
penderitaan sesamanya (bdk Mzm 74:9, Yes 51:17-22, Yer 32:1). Karena
ketidakpedulian tersebut, orang menghalalkan secara cara untuk menggapai
apa yang dicita-citakan.
Karena ambisi yang berlebihan dan tak terkontrol mendorong seseorang
untuk berbuat korup dan berlaku curang, bersikap nepotis dan bertindak
koluktif. Dewasa ini makin banyak orang yang dipenuhi ambisi-ambisi yang
tak terkontrol. Maka tidaklah heran kalau korupsi bertumbuh subur dan
menjamur ibarat tambang intan yang menggiurkan dan telah menjadi kokoh
dalam struktur yang metastastis, suatu struktur yang selalu elastis dan
membuka pintu bagi tumbuh dan bekembangnya embrio-embrio korupsi yang
baru. Korupsi akhirnya tumbuh dan bertahan bagai tumor ganas yang selalu
mengancam kehidupan bersama. Padahal kita tahu bahwa korupsi tidak hanya
mempengaruhi manusia dalam kehidupan ekonomi dan politik, tetapi juga
terutama pertumbuhan spiritual dan mentalnya.
Persis inilah yang dialami oleh rasul Yakobus dan Yohanes.
Perkembangan spiritual mereka terhambat oleh karena ambisi politis yang
sangat besar. Demikian pula orang-orang yang hidupnya selalu dipenuhi oleh
ambisi berlebihan. Kemudian, apapun keputusan penting yang diambil selalu
ditentukan oleh maksud-maksud terselubung tanpa peduli pada akibat yang
menimpa masyarakat luas. Korupsi juga menimbulkan ketidakadilan yang
menyeluruh di dalam birokrasi. Korupsi menimbulkan kejahatan-kejahatan
lain dalam masyarakat, bahkan hukum pun dibengkokan. Kita dapat melihat
praktek-praktek suap yang terjadi. Lihatlah kasus suap KPU, kasus suap yang
dilakukan oleh pengacara Abdulah Puteh dan yang terakhir kasus suap yang
Ketamakan dan Korupsi 69
dilakukan oleh para pengacara Probosutedjo di lembaga Mahkamah Agung
dan sekarang Probosutejo divonis penjara empat tahun.
Namun terlepas dari kontroversi personel KPK, karena memiliki track
record yang tidak menggembirakan dalam pengamatan sebagian pihak, kita
harus menumbuhkan penguatan individu sebagai pribadi yang antikorupsi.
Jadi, tidak serta merta melimpahkan pemberantasan korupsi kepada KPK
atau kepada negara yang terlanjur sangat korup hampir dalam seluruh jajaran
birokrasi. Justru membangun budaya antikorupsi yang berakar kuat dari dalam
diri sendiri, keluarga dan masyarakat akan lebih efektif. Dengan kata lain,
perjuangan individual-kultural dirasa lebih ampuh. Gerakan individualkultural
ini seharusnya menjadi instrumen utamanya. Dengan demikian kita
harus membangun diri sebagai individu, person, pribadi yang anti korupsi
bukan yang ambisius.
Sebab kalau hidup seseorang hidupnya dikendalikan oleh ambisiambisinya,
maka hidupnya hanya akan menyusahkan dirinya sendiri dan orang
lain. Hidupnya hanya akan menjadi petaka dan aib bagi diri dan keluarganya.
Banyak fakta membuktikannya. Sebagai orang beriman dan murid-murid
Tuhan Yesus Kristus, apakah kita juga ingin menjadikan hidup kita sebagai
petaka bagi orang lain? Apakah kita akan berlaku seperti Sangkutala yang
berusaha mengadu domba para raja vasal demi ambisinya menjadi pengganti
raja? Apakah kita akan berlaku seperti Yakobus dan Yohanes yang tidak
menyadari apa yang mereka mintakan pada Tuhan Yesus?
Jika mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita masih patut
bertanya diri lebih lanjut: “Bagaimana saya mengolah dan mengendalikan
ambisi-ambisi saya sehingga tidak membawa petaka bagi diriku sendiri dan
orang lain?” Marilah kita selalu menyadari diri untuk tidak terlalu ambisi
dalam hidup ini. Memang ambisi itu tidak salah, tetapi bagaimana kita harus
mengendalikan ambisi kita itulah yang lebih penting. Kitalah yang berkuasa
atas ambisi-ambisi dan cita-cita, dan bukan ambisi dan cita-cita yang
menguasai diri dan hidup kita.
*. Editor, Penulis Buku-buku Rohani Katolik, tinggal di Yogyakarta
70 Ketamakan dan Korupsi
E n a m
KORUPSI PERBUATAN IBLIS
Kisah Para Rasul 13:10
(Pdt. R.P. Borrong, ThD, PhD)*
Saudara-saudara, ketika mendengar kata korupsi, kita langsung
membayangkan seseorang yang mengambil uang Negara, misalnya uang
proyek atau dana pembangunan tertentu untuk dimasukkan ke kantongnya
sendiri. Tentu itu benar, tetapi korupsi punya arti yang lebih luas dari sekedar
mengambil uang proyek atau uang pembangunan. Arti korupsi bukan sekedar
menyuap tetapi perbuatan jahat yang mencerminkan dosa.
Korupsi berasal dari kata Latin: corruptio berarti rusak, busuk dan suap.
Kata itu terkait dengan hakekat sekaligus sifat manusia dibawah pengaruh
dosa (egois dan sombong). Jadi korupsi itu menjadi hakekat dan
kecenderungan manusia berdosa. Manusia berdosa, menurut Agustinus
adalah: “non pose non pecare” (tidak mungkin tidak berdosa). Mengambil
uang Negara adalah salah satu wujud dari korupsi, sebab korupsi ada di dalam
jiwa dan otak manusia.
Sehubungan dengan pengertian itu, maka perbuatan korup pertamatama
merupakan penyakit dalam, penyakit yang berakar pada jiwa manusia,
jiwa yang rusak akibat keakuan dan kesombongannya. Ini dasar paling hakiki
dari korupsi. Korupsi terjadi karena adanya dorongan dari dalam (motivasi
jiwa yang korup) dan peluang dari luar (kesempatan, kebutuhan dan
ketersediaan).
Dalam Kitab Kejadian diceritakan bahwa kejatuhan manusia ke dalam
dosa karena ia dicobai oleh Iblis dan mereka lebih suka mendengan bisikan
Iblis itu dari pada Firman Allah. Itulah bukti bahwa manusia bersifat egoistik.
Akar kejatuhan manusia adalah korup (egoisme) yang mengingkari kebaikan
Allah, Pencipta dan pemberi kebaikan. Dosa adalah perbuatan Iblis. Korupsi
adalah dosa, korupsi adalah perbuatan Iblis. Itulah inti bacaan kita saat ini.
Ketamakan dan Korupsi 71
Bacaan kita di atas merupakan kata-kata Rasul Paulus yang ditujukan
kepada Baryesus alias Elimas, seorang tukang sihir, berdarah Yahudi tetapi
yang tinggal di Pafos, sebuah kota di Siprus. Diceritakan bahwa Elimas
bersahabat baik dengan gubernur Siprus yaitu Sergius Paulus. Sebagai tukang
sihir, ia mungkin selalau mendapat keuntungan dari hubungannya dengan
gubernur. Karena itu, ketika gubernur itu berminat pada pemberitaan Firman
Tuhan yang disampaikan rasul Paulus dan Barnabas, Elimas berusaha
menghalangi dan membelokkannya. Sikap Elimas yang licik itulah yang
dikecam dengan kata-kata dalam bacaan di atas.
Korupsi pertama-tama berurusan dengan otak dan jiwa seseorang.
Seorang yang korupsi adalah seorang yang jiwa dan otaknya memang korup:
otak kotor! Dengan jiwa kotor itu berkembang menjadi tindakan korupsi
dalam berbagai seginya: menyogok, menyuap, mencuri, mempengaruhi
pejabat negara seperti Elimas dan seterusnya.
Elimas dipenuhi otak kotor. Ia melihat gelagat kalau gubernur menjadi
pengikut Paulus, ia kehilangan kesempatan mendapat keuntungan dari beliau.
Maka ia berusaha dengan kelicikannya mempengaruhi gubernur. Itu sebabnya
ia disapa sebagai Iblis, karena pekerjaan Iblis adalah mempengaruhi orang
lain dengan maksud serakah dan ambisius. Para koruptor masa kinipun adalah
manusia-manusia yang dikendalikan oleh keserakahan akan materialisme
dan dorongan untuk berkuasa. Keduanya saling melengkapi dan karenanya
selalu berjalan beriringan.
Dilihat dari sudut pandang demikian, maka memberantas korupsi harus
dikaitkan dengan pembinaan manusia sebagai makhluk yang perlu
disembuhkan dan diselamatkan oleh rahmat Tuhan. Itulah usaha mencabut
akar korupsi dan bukan sekedar membabatnya. Perubahan sikap pertama
yang dituntut dari seorang koruptor adalah pertobatan (metanoia). Artinya
meninggalkan hidupnya yang bergelimang dosa dan mengakui kemurahan
Tuhan yang mampu memperbarui, menyucikan dan menguduskan hidupnya.
Memberantas korupsi harus dimulai dengan pencabutan akar korupsi
yaitu dengan jalan mengubah manusia berdosa yang egois dan sombong
menjadi manusia bersyukur dan rendah hati. Pertobatan memang merupakan
72 Ketamakan dan Korupsi
karya Allah sendiri (dalam teologi Kristen diyakini sebagai pekerjaan Roh
Kudus) melalui iman yaitu proses percaya, berserah dan perubah. Dalam
bacaan di atas dikatakan bahwa Paulus yang penuh Roh Kudus menghardik
Elimas. Dan karena karya Roh Kudus itu, gubernur Sergius Paulus menjadi
percaya, sedangkan Elimas menjadi buta.
Memberantas akar korupsi berurusan dengan mengubah manusia dari
otak kotor menjadi otak bersih. Di sinilah peluang agama, khususnya para
pemimpin agama, dapat menyumbangkan usaha pemberantasan korupsi
melalui pembinaan iman umat (warga) supaya tidak dikuasai oleh otak kotor,
roh materialisme dan roh berkuasa. Kalau seseorang telah memiliki kesadaran
yang demikian, walaupun ada peluang dari luar, seseorang tidak akan
melakukan tindakan korup sebab dorongan dari dalam telah berubah menjadi
pencegahan. Otak dan jiwanya sudah dibersihkan.
Pembinaan terhadap umat sebagai manusia berdosa yang perlu diubah
dan diperbarui oleh rahmat Tuhan, bukanlah sekedar pengajaran agama.
Pembinaan itu mengarah pada pembentukan nalar. Artinya mampu membuat
seseorang tidak sekedar tahu, melainkan melihat dengan jelas, menyadari
dan menjauhi perbuatan korup sebagai perbuatan tercela karena bertentangan
dengan kehendak Tuhan. Korupsi itu adalah perbuatan Iblis, perbuatan dosa,
perbuatan terkutuk dan perbuatan terpuji. Siapa yang korupsi adalah Iblis.
Bernalar mungkin bisa dipahami sebagai kata lain untuk beriman,
percaya kepada Tuhan, menjadi anak Tuhan. Beriman harus disertai
perbuatan. Iman tanpa perbuatan (baik) adalah mati. Iman harus mampu
membuat seseorang takut akan Tuhan, takut dihukum di neraka/akhirat dan
punya rasa malu terhadap masyarakat luas. Menciptakan rasa takut dan malu
itulah yang harus diajarkan agama dalam mencabut akar korupsi di Indonesia.
Sebagai orang beragama, sudah selayaknya kita punya rasa takut kepada
Tuhan dan rasa malu terhadap sesama manusia. Rasa malu sekaligus harusnya
mencerminkan kepribadian kita sebagai bangsa berbudaya.
Iman (agama) harus diimplementasikan sebagai etos kehidupan. Selama
agama tidak menjadi etos, agama tidak lebih dari konsep tak bermakna.
Supaya konsep agama menjadi hidup dan operasinal, ia harus terjelma dalam
Ketamakan dan Korupsi 73
etos, yakni perilaku dalam keseharian hidup. Etos yang perlu menjadi ciri
manusia beriman (beragama) selain adanya rasa takut dan malu, juga
seharusnya dilengkapi dengan hidup yang selalu bersyukur (karena merasa
cukup dan puas dengan apa yang ada) dan selalu siap berbagi (karena ingin
membuat orang lain bahagia). Itulah ciri etos manusia beriman/beragama.
Pembinaan iman umat hanya bisa dilakukan kalau para pemimpin
agama sendiri mempunyai etos kehidupan beriman seperti disebutkan di atas.
Para pemimpin agama harus mampu pula menjauhkan roh-roh materialisme
dan hasrat berkuasa dari dalam diri mereka sendiri. Artinya para pemimpin
agama harus setia pada panggilannya sebagai manusia yang mengutamakan
kerohanian di atas materi, pelayanan di atas kekuasaan dan keluhuran/
kesejatian di atas kepalsuan. Selama para pemimpin agama membiarkan
dirinya jatuh ke dalam cobaan materilisme dan kekuasaan, maka kontribusinya
dalam memberantas korupsi tidak akan signifikan.
Kita dapat melihat betapa kuatnya pengaruh sekularisme dan
modernisme dalam kehidupan para pemimpin agama sehingga sulit
menjauhkan diri dari godaan materialisme dan kekuasaan. Ketika agama
diinstitusikan maka lahir pula godaan pada para pemimpin agama menjadi
egoistik, materialistik dan nafsu kuasa. Ciri-ciri kehidupan yang diracuni
oleh kecenderungan yang korup.
Semua agama mengajarkan bahwa korupsi adalah tindakan tercela baik
dari sudut pandang cara (means) maupun dari sudut padang akibat dan
tujuannya (ends). Korupsi bertentangan dengan etos kerja yang diajarkan
oleh agama bahwa manusia harus rajin, jujur dan bersyukur atas apa yang
bisa dikerjakan dan dipersembahkannya. Korupsi bertentangan dengan
hakekat manusia sebagai citra Allah yang seharusnya menjunjung tinggi harkat
dan martabatnya lebih dari benda dan barang apapun di dunia.
Sebagai orang bermartabat, seharusnya ada rasa takut berbuat korup,
rasa malu melakukan korusi dan rasa sesal terus menerus berbuat korupsi.
Itulah nilai-nilai luhur yang harus terus menerus diajarkan dan diteladankan
kepada umat.
74 Ketamakan dan Korupsi
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius (kental
beragama) namun menjadi Negara terkorup kedua di dunia. Kenyataan ini
merupakan suatu ironi bagi kehidupan religius tadi. Itu berarti ada sesuatu
yang tidak pas (missing) dalam kehidupan beragama di Indonesia. Yang tidak
pas itu, menurut penglihatan saya, adalah bahwa agama dipahami sebagai
sejumlah aturan dan upacara tetapi tidak diterjemahkan ke dalam kehidupan
bermoral/beretika/ berakhlak/bersusila. Nilai-nilai agama tidak/belum
menjiwai atau belum menjadi karakter dalam berperilaku. Agama belum
membentuk karakter bangsa.
Karena semua agama mengajarkan etos kerja dan rasa takut/malu dan
sesal seharusnya ada peluang untuk memberantas korupsi di Indonesia. Maka
sebenarnya kita harusnya bertanya: apakah betul orang Indonesia yang
beragama itu benar-benar karena adanya keasadaran akan Tuhan atau agama
sekedar sebagai formalitas atau hiasan kehidupan? Pertanyaan ini merupakan
pula peluang bagi para pemimpin agama untuk melakukan evaluasi dan
restrospeksi akan apa yang diajarkan kepada umat sehingga penghayatan
dan penalaran hidup beragama bisa diterjemahkan dalam etos kehidupan
yang konkret.
Adanya kesadaran umum dalam masyarakat bahwa korupsi adalah
perbuatan dosa/tercela merupakan peluang bagi para pemimpin agama untuk
menggalang kerja sama menyebar-luaskan gerakan moral yang sekarang ini
sedang diprakarsai oleh para pemimpin umat beragama di Indonesia, menjadi
gerakan umat, gerakan masyarakat. Kenyataan sebagai Negara terkorup nomor
dua di dunia harus digunakan menggugah dan menggugat diri sebagai Negara
beragama supaya kita semua, terutama para pemimpin kita lebih tegas dalam
melaksanakan hukum terhadap para koruptor. Para koruptor tidak boleh
dibiarkan menjadi bibit penyakit yang meracuni masyarakat secara luas.
* Ketua Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta
Ketamakan dan Korupsi 75
T u j u h
WAKTU PUN DIKORUPSI
Matius 25:14-20
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM)*
Umat Tuhan yang Berbahagia,
Salah satu bentuk korupsi adalah manipulasi. Manipulasi artinya
merekeyasa sesuatu yang salah dan tidak benar agar tampak seakan-akan
benar, atau merekayasa sesuatu yang benar menjadi seakan-akan salah.
Tindakan manipulasi itu bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Misalnya
memanipulasi biaya, manipulasi nilai, manipulasi harga, dan manipulasi
waktu. Karena manipulasi adalah tindakan yang mengubah apa yang salah
menjadi seakan-akan benar atau yang benar menjadi seakan-akan salah, maka
manipulasi adalah sebuah kejahatan. Tujuannya sudah pasti untuk kepentingan
dan keuntungan dirinya sendiri.
Nas kita mengatakan, bahwa “hal Kerajaan Surga itu sama seperti
seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hambahambanya
dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang
diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lagi satu,
masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat” (ayat 14-15).
Perumpamaan ini hendak menegaskan bahwa setiap orang diberi mandat
untuk mengelola kehidupan ini sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhanlah
yang empunya kehidupan dan mengaruniakan kehidupan itu kepada manusia
untuk dikelola secara bertanggungjawab dan memberikan buah yang baik.
Namun tidak setiap orang mempunyai kemampuan yang sama dalam
mengelola kehidupan ini. Itu sebabnya dalam perumpamaan dikatakan, bahwa
masing-masing diberikan talenta yang berbeda-beda.
Talenta menggambarkan semua kemampuan, waktu, sumber daya, dan
kesempatan untuk menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadi kemampuan
76 Ketamakan dan Korupsi
mengelola talenta adalah kemampuan untuk mengelola waktu, seluruh sumber
daya, dan kesempatan untuk menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik
sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan untuk itu Tuhan memberikan waktu
dan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Persoalannya adalah banyak
orang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada untuk
mengembangkan kemampuan, dan sumber daya yang ada padanya untuk
meningkatkan kualitas kehidupan, dengan melakukan hal yang sia-sia. Saat
kita mengatur waktu, sesungguhnya kita mengatur pikiran, emosi, dan hati
kita, karena waktu adalah lingkaran di mana kehidupan kita berjalan. Kita
mengatur waktu untuk mengatur kehidupan.
Menyia-nyiakan waktu sama dengan mencuri waktu. Tindakan ini
adalah salah satu bentuk korupsi. Pekerjaan yang semestinya bisa diselesaikan
hari itu juga, ditunda-tunda penyelesaiannya. Padahal, menunda-nunda
pekerjaan itu jelas merugikan banyak pihak yang berkepentingan dengan
pelayanan yang cepat, bahkan negara akan dirugikan. Hal seperti ini hampir
umum dijumpai, terutama dalam pelayanan publik yang diberikan oleh para
pegawai pemerintahan. Ada ungkapan yang lajim terlontar dan bernada
sindiran dari masyarakat terhadap praktik pelayanan publik: “kalau bisa
diperlambat kenapa dipercepat?” atau “kalau bisa dipersulit kenapa
dipermudah?” Nah, kalau mau pelayanan yang cepat maka harus ada “uang
pelicin” supaya urusan lancar. Ujung-ujungnya… ya suap! Jadi, korupsi akan
beranak korupsi juga.
Pada saatnya, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari setiap
orang atas pengelolaan talenta yang diberikan. Itulah yang dituturkan dalam
ayat 16-25. Sang tuan memuji kedua orang berhasil mengelola lima dan dua
talenta yang dipercayakan kepadanya dengan mengatakan: “…Baik sekali
perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam
perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam
perkara yang lebih besar.” (ayat 21 dan 23).
Umat Tuhan yang berbahagia,
Perkara memanfaatkan waktu secara efisien atau perkara menyelesaikan
pekerjaan secara cepat dan tepat sebenarnya adalah persoalan yang tidak
Ketamakan dan Korupsi 77
sulit, dan hanya perkara kecil. Sebab itu, kalau orang sudah bisa menghargai
waktu dan disiplin soal waktu, maka hal itu menunjukkan bahwa orang itu
sudah memiliki tanggungjawab, dan orang itu pasti akan mampu
melaksanakan pekerjaan yang menuntut disiplin dan tanggungjawab yang
lebih besar. Sebaliknya, kalau orang suka menunda-nunda penyelesaian
pekerjaan, mempersulit urusan orang lain, maka jangan harap orang seperti
itu akan mampu melaksanakan tanggungjawab yang lebih besar lagi.
Tanggungjawab bisa dilatih dengan mendisiplinkan diri dalam soal
waktu. Biasakanlah jangan “jam karet” atau molor. Biasakanlah
menyelesaikan pekerjaan apa saja secara cepat dan tepat. Dengan demikian
maka orang akan terlatih dalam ketepatan waktu, akan terlatih dalam disiplin,
dan terlatih untuk bertanggungjawab. Ada orang yang super sibuk dengan
agenda kegiatan yang sangat padat. Semuanya sudah terjadwal. Sebab itu ia
tidak akan mengerjakan pekerjaan lain yang akan membuat pekerjaannya
tertunda. Membuat jadwal kegiatan dan pekerjaan adalah salah satu cara
untuk melatih disiplin dan tanggungjawab. Tuhan memberikan kepada kita
waktu 24 jam untuk dimanfaatkan secara bertanggungjawab, maka kita harus
pandai mengelola atau memenej waktu sehingga tidak ada waktu yang
terbuang percuma. Pada jam istirahat, ya… istirahat, ketika jam kerja ya….
bekerja.
Bagaimanakah pertanggungjawaban dari orang yang menerima satu
talenta yang menyembunyikan uang tuannya di dalam tanah? Orang ini
ternyata pandai berdalih untuk menutupi kemalasannya! Ia menuduh bahwa
tuannya hanya memungut keuntungan dari orang lain tanpa bekerja apa-apa
(ayat 24-25). Dan yang menarik adalah jawaban tuannya. Kalau kamu tahu
bahwa aku seperti itu, kenapa talenta yang kuberikan kepadamu tidak
diberikan saja kepada orang lain untuk dikembangkan dan memberikan hasil?
Dengan kata lain, kalau orang itu tidak mau melaksanakan tugas yang
diberikan kepadanya, jangan berdalih, serahkan saja kepada orang lain yang
mau mengelolanya sehingga mendatangkan hasil. Jadi, persoalannya adalah
bukan apakah orang itu mampu, tetapi apakah orang itu mau. Meskipun orang
itu mampu tetapi tidak mau, juga tidak ada gunanya. Sebaliknya, meskipun
78 Ketamakan dan Korupsi
orang itu tidak mampu tetapi mau, maka hal itu lebih baik karena ia mau
belajar bertanggungjawab.
Kalau kepada dua orang yang berhasil mempertanggungjawabkan
pengelolaan talenta diberikan tanggungjawab dalam perkara yang kebih besar,
maka sebaliknya kepada orang yang tidak berbuat apa-apa terhadap talenta
yang diberikan kepadanya. Kepada orang ini, karena tidak mau
mempertanggungjawabkan perkara kecil yang diberikan kepadanya, maka
tanggungjawab itu diambil dari padanya. Malahan orang ini kemudian
dilempar ke dalam kegelapan karena tidak berguna (ayat 28-30). Orang ini
telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan kepadanya.
Kita bisa menjumpai begitu banyak orang yang sama seperti satu orang
di atas itu. Sebagai pegawai, kita sering datang terlambat tapi pulang lebih
awal. Banyak juga yang setelah mengisi daftar hadir kemudian keluar kantor
untuk urusan keluarga atau yang lainnya, yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan urusan kantor. Kita masih melihat begitu banyak
pegawai berseragam di mall-mall justru pada jam kerja. Para mahasiswa
umumnya sangat senang kalau hari itu tidak ada kuliah karena dosen
berhalangan. Membolos adalah bentuk korupsi kecil-kecilan. Kalau di SMP,
SMA atau mahasiswa saja sudah sering bolos, maka apalagi ketika sudah
bekerja. Jadi, sebenarnya watak korup itu sudah terbentuk semenjak di bangku
sekolah. Kalah kita kebetulan masuk kantor-kantor pemerintah, maka kita
bisa melihat banyak pegawai yang tidak mempergunakan waktunya secara
benar. Ada yang ngobrol, ada yang main catur, atau baca koran. Tapi begitu
pimpinannya masuk ruangan, maka mereka bergegas dan berpura-pura
sibuk.Itu semua hendak memperlihatkan kepada kita salah satu bentuk
korupsi, yaitu ketika kita tidak mempergunakan waktu yang diberikan itu
secara bertanggungjawab.
Umat Tuhan yang berbahagia,
Mulailah dengan hal yang kecil, ketika kita mulai mengelola waktu
yang ada. Mulailah dari hal yang kecil, karena semua orang yang sukses juga
demikian. Kalau korupsi dimulai dari kecil-kecilan, maka tanggungjawab
juga bisa dimulai dari hal-hal yang kecil. Mulailah dari pengelolaan waktu
Ketamakan dan Korupsi 79
secara bertanggungjawab. Semua pencapaian terbesar didunia ini mulai dari
hal kecil. Dalam hal inilah terdapat keindahan dari keberhasilan sejati. Sukses
tidak dicapai oleh orang yang memulai dengan hal besar, tetapi oleh orang
yang memelihara momentumnya dalam waktu yang cukup panjang, hingga
pekerjaannya menjadi karya besar. Ketika Anda mampu bertanggungjawab
dalam hal kecil, memang sekarang ia kecil, tetapi hanya Anda yang bisa
membuatnya besar. Pada saatnya, dari setiap orang akan dituntut
pertanggungjawaban dari apa yang ia lakukan semasa hidupnya. Andalah
yang menentukan, apakah kepada Anda akan diberikan tanggungjawab yang
lebih besar, atau anda akan dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap
karena Anda telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan secara tidak benar!
Amin
* Pendeta Emiritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universotas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.80 Ketamakan dan Korupsi
Kekuasaan dan Korupsi 81
KEKUASAAN
DAN KORUPSI
BAGIAN
III
82 Kekuasaan dan Korupsi
Kekuasaan dan Korupsi 83
S a t u
MENCINTAI BUKAN MERUGIKAN YANG LAIN
Markus 6, 35-44
(Rm. DR. Ag. Purnama, MSF)*
Suatu saat ada dua orang dosen penilai yang sedang bertugas untuk
meninjau suatu Program Studi dari suatu Perguruan Tinggi Swasta Kristiani.
Untuk sampai ke kampus Program Studi, mereka diantar oleh Dekan pakai
mobil yang bertuliskan nama Perguruan Tinggi tersebut dari kampus pusat
ke kampus Program Studi itu. Dalam perjalanan bak piknik, karena
pemandangan hijau nan indah, mereka menjumpai puluhan kali serombongan
orang yang memasang tong-tong di tengah jalan besar untuk memperlambat
laju kendaraan guna meminta sumbangan untuk pembangunan rumah ibadat.
Dua dosen penilai bertanya kepada Bapak Dekan secara retoris, apakah
sumbangan dari orang yang beragama lain untuk pembangunan tempat ibadat
mereka baik dan halal adanya? Apakah ada jaminan bahwa uang sumbangan
itu akan betul-betul dimanfaatkan untuk pembangunan atau ada yang masuk
ke saku pribadi? Siapa yang bisa dan berhak mengontrol aliran dana tersebut?
Apakah tindakan mereka memperlambat laju kendaraan dan memasang tongtong
di tengah jalan tidak merugikan pengguna jalan lain? Apakah mereka
sudah mendapat ijin kepolisian untuk mengganggu para pengguna jalan yang
terpaksa memperlambat laju kendaraan? Begitulah pertanyaan bertubi-tubi
disampaikan.
Bapak Dekan mengikuti gaya Tuhan Yesus dalam menghadapi suatu
pertanyaan atau persoalan menjawab dengan tenang sembari memberi contoh
nyata dan balik bertanya. Bapak-bapak, di Jemaat kami ada seorang pejabat
yang berkedudukan tinggi di kota kami. Dia terkenal sebagai orang yang
korup, ini merupakan rahasia umum. Tetapi dalam lingkup masyarakat sekitar
dan jemaat kami dia juga terkenal sebagai penderma yang murah hati. Semua
84 Kekuasaan dan Korupsi
tahu bahwa jika pejabat tersebut ikut ibadat pada hari Minggu, jumlah uang
persembahan atau kolekte naik dua kali lipat. Nah seandainya Anda pemimpin
jemaat yang tahu dari mana diperolehnya uang itu, saya mengajukan
pertanyaan nakal, halalkah menerima persembahannya dan sebaiknya diterima
atau tidak uang hasil memeras orang lain secara tidak wajar? Lagi, pantas
atau tidakkah menerima persembahan dari hasil korupsi atau penipuan sebagai
uang silih penutup dosanya?
Pertanyaan retoris Bapak Dekan membuat kedua peninjau itu bungkam
seribu basa. Jawaban Bapak Dekan berupa pertanyaan rupanya bijak juga
sehingga membuat kedua peninjau itu bertanya-tanya sendiri dalam hati. Oh
iya ya, kita punya kebiasaan untuk melihat setitik noda pada orang lain. Kita
sering tidak berani melihat dan bersikap kritis terhadap diri sendiri yang
mungkin punya kekurangan yang lebih besar. Termasuk dalam menyikapi
kecenderungan ber-KKN. Baguskah kita ikut menerima persembahan dari
hasil KKN atau menikmati hasil dari tindak penipuan atau kejahatan meski
itu dalam tanda kutip “sudah” disucikan atau memang kita sama sekali tidak
tahu asal dari uang tersebut? Bukankah kecenderungan ber-KKN sangat tidak
sesuai dengan semangat Kristiani. Mengapa tidak sesuai? Karena tindakan
korup merupakan ungkapan dari kecenderungan untuk lebih memikirkan
kepentingan diri atau kelompok sendiri dengan mengabaikan atau merugikan
orang atau kelompok lain.
Menjadi orang Kristiani berarti diselamatkan berkat penebusan Yesus
Kristus yang hidup bagi orang lain; titik perhatiannya terpusat pada
keselamatan dan kesejahteraan yang lain; selalu berpikir dan bertindak
bagaimana saya bisa membahagiakan orang lain. Maka semangat: “bagaimana
ya saya bisa memperkaya diri dan bisa menikmati sesuatu dengan
mengabaikan kepentingan orang lain, atau bahkan dengan merugikan sesama”
adalah semacam arus semangat yang berlawanan dengan cinta Kristus yang
hendak kita teladani. Orang yang penuh cinta sejati akan mengarahkan dan
memusatkan perhatian pada yang lain, sedangkan inti tindakan korup adalah
mengarahkan dan memusatkan perhatian pada diri sendiri (dengan merugikan
orang lain atau masyarakat).
Kekuasaan dan Korupsi 85
Semangat yang bertentangan dengan cinta tersebut sekarang merebak
luas bak virus burung. Coba bayangkan kasus korupsi dana reboisasi seorang
konglomerat dadakan yang mendapat hak penebangan hutan yang
menyebabkan hampir seperempatnya punah di Sumatera atau Kalimantan.
Setelah dijatuhi hukuman 4 tahun, dia mengajukan banding dan mendapatkan
keringanan 2 tahun. Belum puas dengan pemotongan 2 tahun, dia masih
naik sampai tingkat Mahkamah Agung. Nah di MA inilah sekarang baru
semakin kelihatan betapa virus korupsi sungguh menggurita. Kalau betul
pengakuan si konglomerat, dia sudah menghabiskan dana milyaran rupiah
untuk menyuap pengacara, jaksa, hakim, dan bahkan sampai tingkatan hakim
agung. Betul tidaknya pengakuan tersebut pengadilanlah yang akan
membuktikan. Tetapi sekarang ini siapa yang belum pernah mendengar kata
mafia pengadilan? Sehingga keputusan pengadilan sudah sering dicibir oleh
masyarakat.
Apakah virus KKN hanya menggerogoti para penegak hukum? Tentu
saja tidak! Kita rakyat kecil ada juga yang suka untuk tidak membayar pajak
atau retribusi. Sehingga bisa jadi dana yang seharusnya terkumpulkan dari
kita untuk perbaikan jalan tidak terwujud. Akibatnya banyak jalan yang
bopeng-bopeng tidak karuan. Agar kita bisa memperbaiki masyarakat
sehingga virus KKN makin berkurang, kita sudah sewajarnya mulai melihat
diri secara jernih dan membuang segala semangat yang hanya mencari
keuntungan dengan merugikan orang lain.
Mengikuti Yesus berarti menyerahkan diri dalam jalanNya, meneladan
Dia yang telah hidup, menderita, wafat dan bangkit bagi orang-orang lain,
bagi kita semua. Dengan demikian kalau kita berkehendak kuat untuk menjadi
murid Yesus, maka kita akan hidup bagi yang lain. Inilah daya kekuatan
yang ampuh untuk mampu bertahan dari serangan virus KKN. Mengapa kita
berani mengatakan ini sebagai obat mujarab atau jalan benar untuk melawan
KKN? Karena dengan mencintai yang lain, dengan hidup tertuju pada
kebahagiaan yang lain, kita tidak akan menempatkan diri sebagai yang utama,
sebagai yang harus diuntungkan. Karena seperti contoh-contoh di atas kita
sadar bahwa inti tindakan korup adalah suatu tindakan yang didasari oleh
suatu semangat mementingkan diri sendiri; segala usaha diarahkan untuk
86 Kekuasaan dan Korupsi
lebih mengutamakan kepentingan diri atau kelompoknya, dengan catatan
tindakan seperti itu akan merugikan orang atau kelompok lain: hutan yang
seharusnya hijau jadi gundul, jalan yang seharusnya mulus jadi berlobanglobang.
Berapa banyak SD INPRES yang roboh dan tak layak dihuni
berhubung sebagian besar dananya diselewengkan?
Maka kalau dalam kehidupan ini kita tidak lagi mengutamakan
kepentingan diri yang berlebihan, mampu berpikir dan bertindak secara
menyeluruh untuk kepentingan bersama dan mampu mencintai orang lain
sebagai yang dicintai Allah, kita tidak akan mudah tergiur oleh kenikmatan
palsu dengan praktek KKN. Karena meski pada saat menyalahgunakan uang
atau waktu atau apa pun juga kelihatannya menguntungkan kita, dalam jangka
panjang merugikan diri dan kepentingan bersama. Betapa menderita seorang
anak kalau orangtuanya dituduh atau sampai dijatuhi hukuman karena kasus
korupsi. Betapa sedihnya anak-anak yang kurang berkembang karena ulah
kita yang menyelewengkan dana untuk pengadaan buku-buku bagi mereka.
Jika refleksi ini hanya kita terapkan pada orang lain, maka kita tidak
adil. Semoga kita sampai pada pencerahan oh ya ya. Kita secara langsung
atau tidak langsung mungkin juga berperan dalam menyuburkan virus KKN
dengan sikap kita.
Kalau memang kita menjadi kepanjangan tangan rohani Yesus untuk
menolong orang lain, kita tidak akan tega menerima suap atau memeras
sesama kita. Jangankan memeras, bahkan kita rela menderita demi menolong
orang lain. Inilah tindakan yang nyata untuk mewartakan Kabar Gembira.
Maka kalau kita sebagai pengikut Yesus sampai diketahui mementingkan
diri dan kelompok sendiri dengan merugikan yang lain, maka kita akan
berperan dalam mewartakan kebalikan dari Kabar Gembira. Dengan tindakan
korup kita menjadi pewarta Kabar Sedih, Kabar Kehancuran. Kesaksian kita
bukan kesaksian bagi Kerajaan Surga, tetapi kesaksian yang menjauhkan
Kerajaan Surga dari kehidupan kita.
Dengan semangat cinta kasih dalam dan bersama Yesus kita punya
harapan kuat untuk mampu melawan virus yang merugikan sesama itu.
Sekarang inilah kesempatan yang bagus untuk mengubah arah pusat hidup.
Kekuasaan dan Korupsi 87
Bukan lagi diri yang menjadi pusat, tetapi Kristuslah yang menjadi pusat
hidup kita bersama dengan orang-orang yang dicintaiNya. Inilah inti mencintai
sebagai lawan dari tindakan merugikan orang lain. Coba bayangkan kalau
sejak dalam pikiran kita sudah berangan-angan: “Bagaimana ya saya dapat
mencintai orang lain, bagaimana ya saya bisa membantu orang lain?”
Tindakan positif akan menyertai.
Seandainya kita sudah lebih bersih dari virus KKN, maka kita akan
lebih mampu berperan serta positif dalam lingkungan yang lebih luas untuk
bersama-sama dengan yang lain mencegah subur berkembangnya semangat
KKN. Maka kita berani mengatakan bahwa hanya cinta sejatilah yang mampu
mengatasi kecenderungan KKN. Untuk orang yang mencintai tidak akan
merugikan yang lain, jangankan merugikan, tidak berusaha sebaik mungkin
untuk membantu yang lain saja sudah merupakan unsur yang negatif. Maka
Yesus merasa iba kalau menyuruh orang pulang begitu saja tanpa memberi
mereka makan setelah seharian mendengarkan kotbahNya. Tuhan Yesus telah
menunjukkan dengan hidup nyataNya bahwa mencintai dan membahagiakan
yang lain adalah mungkin. Kita yang menyebut diri murid-muridNya pun
seharusnya mengikuti jejak langkahNya.
* Pastor, Dosen Faktultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
88 Kekuasaan dan Korupsi
D u a
CARILAH YANG BAIK, DAN JANGAN YANG JAHAT
Amos 5:14-17
(Pdt. Simon Rachmadi, M.Hum. M.A)*
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Saat ini kita hendak bicara tentang korupsi. Kebetulan, tema ini sedang
dibicarakan oleh banyak orang di sana-sini. Banyak orang mengeluh bahwa
negeri kita rusak oleh karena wabah korupsi. Dan banyak pula orang yang
berandai-andai, bahwa seandainya korupsi bisa betul-betul lenyap dari bumi
Nusantara maka pastilah negeri kita akan menjadi suatu negara yang kuat
dan makmur. Terhadap omongan banyak orang di sekitar kita itu, patutlah
kita bertanya-tanya pada diri sendiri: “Apakah korupsi itu?”
Korupsi menandai adanya kerusakan moral. Wujudnya yang paling
populer adalah rusaknya moral kejujuran, sehingga orang banyak yang terlibat
macam-macam skandal pencurian. Caranya mencuri amat halus dan canggih,
sehingga tidak mudah kelihatan dengan mata telanjang. Untuk memergokinya
pun sulit, sebab kejahatan korupsi kerap kali dilakukan dengan cara-cara
yang begitu santun dan terpelajar. Misalnya, ada seorang pedagang berjualan
alat komputer. Begitu canggihnya alat itu, sehingga harganya mencapai 2
miliyard rupiah. Dia mempromosikannya pada sebuah perusahaan terkemuka,
dan para pimpinan perusahaan itu sepakat bahwa alat komputer itu memang
sungguh diperlukan untuk membangun perekonomian negara. Lalu dimulailah
perundingan di sebuah rumah makan internasional. Pihak pimpinan
perusahaan membisikkan suatu isyarat, bahwa alat komputer itu bisa dibeli
oleh negara pada perencanaan anggaran tahun depan. Tetapi, kiranya pihak
pedagang membuat suatu proposal yang mengatakan bahwa harga alat itu
adalah 5 Milyar Rupiah. Nanti uang yang akan dibayarkan secara real adalah
2 Milyar, sedangkan sisa 3 Milyar akan digunakan oleh pihak pimpinan
Kekuasaan dan Korupsi 89
perusahaan tersebut. Demikianlah, maka transaksi pun terjadi. Di atas kertas
semua jelas secara legal, bahwa harga alat komputer itu adalah 5 Miliyard
Rupiah dan dibayar oleh kas negara sesuai yang seharusnya. Mata telanjang
tidak akan pernah bisa melihat peristiwa “busuk” di balik transaksi itu, bahwa
telah terjadi pencurian uang negara sebesar 3 Miliyard Rupiah. Inilah salah
satu contoh dari sekian banyak kasus korupsi yang melanda negeri kita. Pada
saat ini, kita hendak merenungkan bersama: “Bagaimanakah sikap Gereja
dalam menghadapi wabah korupsi yang seperti itu canggih dan halusnya?”
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, sebelum bicara lebih
jauh, marilah kita menengok Alkitab untuk menemukan prinsip-prinsip
Firman Allah yang bersemayam di dalamnya. Berkaitan dengan soal korupsi
tersebut di atas, kita patut memperhatikan amanat kitab Amos, khususnya
Amos 5:14-17. Apa sih yang dibicarakan di sana?
Di dalam kitab Amos dibicarakan tentang warta kehancuran Israel oleh
karena dosa-dosa mereka. Amos mewartakan bahwa Tuhan akan
menghancurkan Israel, sebab mereka lebih suka berbuat jahat dari pada
berbuat baik. Kejahatan macam apakah yang mereka perbuat di sana?
Kejahatan Israel waktu itu kira-kira mirip dengan persoalan nasional kita
saat ini, yaitu korupsi. Waktu itu, orang-orang Israel giat beribadah di kota
Betel. Aneka upacara diselenggarakan dengan biaya mahal. Keagungan ibadat
dijaga agar semua orang yang terlibat bisa merasakan kehadiran ilahi secara
menggetarkan di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, keadaan yang serba
glamour itu ternyata hanya dinikmati oleh sebagian kecil anggota masyarakat,
yaitu mereka yang kaya dan punya status sosial terkemuka. Orang-orang
miskin seolah-olah terpinggirkan dengan begitu saja. Mereka yang tak mampu
beli bahan-bahan korban dan ibadat kemudian dianggap sebagai kaum yang
tidak terhitung dalam umat Allah. Akibatnya, walaupun seseorang itu jujur
dan saleh, ia bisa dianggap kafir gara-gara ia miskin; sebaliknya, walaupun
seseorang itu bengis dan tak tahu malu, ia bisa dianggap golongan bermoral
gara-gara ia kaya dan dermawan.
Gara-gara perikehidupan semacam itu, peradaban Israel pun rusak.
Masyarakatnya terpecah-belah dalam aneka kelompok yang saling
mendendam. Walau katanya mereka menyembah pada satu Tuhan, tetapi
90 Kekuasaan dan Korupsi
kenyataannya mereka terpecah dalam aneka gagasan tentang Tuhan. Satu
sama lain saling curiga, sehingga pada akhirnya mudah ditaklukkan oleh
kerajaan Asyur pada tahun 721 S.M.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, bukankah keadaan
negeri kita tidak beda jauh dengan Israel waktu itu? Kita ini termasyur sebagai
bangsa yang religius; secara statistik, tidak ada orang yang tidak beragama
di Indonesia. Tetapi ironisnya, korupsi begitu mewabah di negara yang orangorangnya
fasih bicara tentang hal-hal yang sarat dengan nilai-nilai religius.
Kenyataan pahit ini melanda semua agama, termasuk orang-orang Kristen
di dalamnya. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyombongkan diri dan merasa
lebih suci dari sesama kita. Kita semua sedang dijangkiti oleh penyakit
masyarakat yang besar, yang namanya korupsi. Itu menjangkiti baik orang
per orang maupun aneka institusi di sekitar kita. Maka sama seperti warta
Amos tentang penghukuman ilahi yang menghardik Israel, demikianlah warta
penghakiman ilahi pun menghantam kita semua di Indonesia pada saat ini.
Jikalau kita tidak bertobat, maka kenyataan di Indonesia akan makin tercabikcabik
dan membuat kehadiran Tuhan seolah-olah kian hilang dari tengahtengah
masyarakat. Jikalau korupsi dibiarkan merajalela, maka bisa jadi kita
masih memeluk agama-agama di Indonesia, akan tetapi sikap batin kita jauh
dari rasa takut dan hormat akan Tuhan. Jikalau korupsi masih kita tolerir,
maka keagamaan kita akan menjadi kian mendangkal dan penuh penampilanpenampilan
semu yang munafik. Akhir dari semua itu, kita akan berhadapan
dengan murka Allah yang akan menghancurkan negeri kita oleh karena dosa.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, orang Kristen selalu
dipanggil untuk mewartakan Kabar Baik (Injil). Tugas pewartaan ini membuat
kita tidak boleh cuci-tangan di tengah-tengah kerusakan moral yang melanda
negara kita. Kita harus berjuang bahu-membahu untuk membuat keadaan
jadi lebih baik. Kita harus giat berdoa dan berusaha agar korupsi bisa teratasi,
sehingga murka Allah tidak datang menghampiri negara Republik Indonesia
yang kita cintai ini. Oleh sebab itu, kita harus berusaha agar semakin banyak
orang yang lebih mencintai “kebaikan” dari pada “kejahatan.”
Perjuangan ini tidak mudah. Perlu keberanian dan cinta yang melimpah.
Tanpa keberanian, kita akan tenggelam dalam aneka slogan tanpa karya nyata.
Kekuasaan dan Korupsi 91
Dan tanpa cinta, kita akan tenggelam dalam aneka gerakan yang dirasuki
oleh kebencian membabi-buta. Orang-orang yang kita benci akan kita tuduh
sebagai pelaku korupsi, sedangkan diri kita sendiri – dan orang-orang yang
dekat dengan kita – tidak pernah kita kritik dan tidak pernah kita evaluasi.
Tanpa “keberanian” maka kita tidak akan pernah dapat membela
kebaikan; sebagai akibatnya, maka kita pun akan cenderung mentolerir aneka
kejahatan yang malang-melintang di depan kita. Misalnya demikian: Alkisah
ada seorang pendeta sedang bepergian naik becak. Di suatu perempatan,
kendaraan-kendaraan berhenti semua karena lampu merah menyala terang.
Tetapi sang tukang becak dengan santainya melaju terus. Sang pendeta itu
diam saja, karena ia tidak berani menegur si tukang becak, padahal jelas
bahwa tindakannya itu keliru. Karena si tukang becak tadi bisa lolos begitu
saja, maka tukang-tukang becak lain pun ikut menerobos lampu lalu lintas
yang menyala merah itu. Akibatnya, perempatan jalan tadi menjadi kacau.
Pelanggaran kecil pun berakibat jadi pelanggaran-pelanggaran lain yang lebih
besar. Dalam peristiwa ini, sang pendeta tadi jelas ikut andil dalam kerusakan
moral banyak orang yang melanggar lampu lalu lintas itu. Karena ia tidak
melawan suatu kejahatan moral, maka ia pun jadi berpihak pada kejahatan
itu sendiri. Demikianlah, bisa kita simpulkan sejenak bahwa kita semua harus
berani membela kebaikan dan melawan kejahatan. Jika tidak demikian, maka
korupsi akan semakin merajalela dan menyeret kita ikut terlibat di dalamnya.
Tetapi, keberanian saja tidak cukup. Di samping keberanian, kita pun
membutuhkan cinta yang melimpah untuk melakukan perjuangan melawan
korupsi. Sebab tanpa cinta, maka kita tidak akan pernah dapat melawan
kejahatan secara tepat. Tanpa cinta, kita akan merasa diri paling benar dan
menganggap orang lain paling salah. Kalau sudah demikian, mata kita jadi
rabun; kita tidak dapat membedakan manakah kasus-kasus yang betul-betul
merupakan tindak korupsi dan manakah kasus-kasus yang kita anggap salah,
yang merupakan ekspresi dari kebencian kita terhadap orang-orang yang tidak
kita sukai.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, demikianlah telah kita
renungkan bersama, bahwa korupsi adalah suatu penyakit moral yang harus
92 Kekuasaan dan Korupsi
kita lawan dengan keberanian dan cinta. Kita patut melawannya, sebab jika
tidak demikian maka berarti kita tidak mencintai negeri kita; jika kita tidak
melawan korupsi, maka hal itu sama saja dengan menyerahkan negara kita
kepada murka Tuhan yang menyala-nyala. Amin.
* Pendeta GKJ Palur, Karanganyar, Solo
Kekuasaan dan Korupsi 93
T i g a
BELENGGU MATERIALISME
Markus 14:10-12
(Rm. Moderdus Sapta Margana, Pr)*
Ada sebuah kisah, seorang Rabbi didatangi mantan muridnya, yakni
Ruben. Kala itu Ruben dikenal sebagai pribadi yang sangat materialistis di
antara teman-temannya. Sang Rabbi menerima mantan muridnya itu dengan
baik, sebagaimana ia biasa menerima para muridnya. Setelah berdiskusi
panjang lebar, tak lupa Ruben pun menyampaikan argumennya dengan amat
meyakinkan bahwa harta milik adalah unsur pokok bagi seseorang untuk
menggapai kebahagiaan sejati. Secara serta merta Sang Rabbi mengambil
kaca bening yang ada di dekatnya. Selanjutnya ia meletakkannya antara
dirinya dan si murid, kemudian bertanya.
“Apakah kamu (masih) bisa melihat saya, Ruben?”
“Iya, Guru. Dengan sangat jelas!”
Kemudian ia mengambil cermin dan berkata, “Ruben, mengapakah
ketika ada sedikit lapisan perak saja antara kamu dan aku, kamu sudah tidak
dapat melihat aku? Sementara yang selalu kamu lihat hanyalah dirimu
sendiri?”
Terhadap pertanyaan yang tak perlu jawaban itu, Ruben pun mengerti
apa maksud Sang Guru.
— o0o —
Para murid Kristus, yang setiawan, kisah mengenai Ruben secara singkat
diketengahkan di sini karena agaknya dapat membantu kita untuk mengerti
dinamika Yudas Iskariot sebagai murid Yesus. Markus mencatat bagaimana
(teganya) Yudas Iskariot menyerahkan Yesus kepada para imam kepala demi
94 Kekuasaan dan Korupsi
uang (baca:nilai ekonomis). Hanya saja itulah agaknya yang memang
dikehendaki atau diingini oleh Yudas Iskariot; tidak lebih. Pertanyaan yang
bisa dimunculkan: mengapa Yudas Iskariot setega itu?
Dinamika psikologis yang dialami Yudas Iskariot tidak sulit untuk
dimengerti. Memperhatikan akhir kisah Yudas Iskariot yang seperti itu kiranya
bisa dibayangkan dan dirumuskan secara singkat apa yang terjadi sebelumnya,
khususnya relasinya dengan Yesus, Sang Guru. Relasi Yudas Iskariot dengan
Gurunya sepertinya tidak beranjak jauh dari pertimbangan ekonomis. Artinya
yang menjadi pertimbangan adalah apakah hal itu akan memberi keuntungan
bagi dirinya atau tidak. Itulah yang terus saja dipertimbangkan Yudas Iskariot.
Ditambah lagi predikatnya dalam himpunan para Rasul Yudas Iskariot adalah
pemegang kas alias bendahara (Yoh 13:29). Lingkup dan suasana kehidupan
seperti itu rupanya terus terbawa; tidak hanya ketika suasana aman masih
berpihak pada Yesus dan para murid, namun juga ketika kelompok ini
terancam bahaya, yakni ketika Yesus memunculkan banyak konflik dengan
pihak penguasa dan ulama.
Seperti halnya Ruben, begitu pula Yudas Iskariot. Ia memasuki lorong
pengalaman hidup yang senada. Artinya keduanya melingkupi hidupnya
dengan kepentingan-kepentingan untuk mendapatkan keuntungan finansial.
Lorong hidup inilah yang ditempuh. Dan persis dengan cara itu Yudas Iskariot
bagaikan terus saja memasang kaca dengan lapisan perak (baca: cermin) di
sekitarnya, sedemikian rupa sehingga yang dilihat tidak lain adalah dirinya.
Tidak bisa tidak! Dengan perkataan lain, dengan cara itu selalu dan di
manapun Yudas Iskariot ingin memenuhi kepentingan diri belaka. Sebab yang
lain tidak lagi terlihat oleh matanya. Cakrawala hidupnya makin sempit saja.
Dalam kondisi hidup seperti ini pertanyaan Sang Rabbi dalam cerita tadi
menjadi relevan. “Mengapakah ketika ada sedikit perak di antara kamu dan
aku, kamu tidak melihat siapa-siapa selain dirimu sendiri?”
Saudara-saudara, pertanyaan yang menantang untuk refleksi diri tersebut
agaknya bisa dipakai untuk memberi sedikit keterangan atas situasi/kondisi
hidup di masyarakat dan bangsa di bumi Nusantara ini. Kondisi yang
dimaksud adalah terus berkembangnya budaya korupsi. Bahkan sekarang
tanpa canggung orang bersedia mengambil uang rakyat (atau lebih tepat
Kekuasaan dan Korupsi 95
disebut mencuri uang rakyat); banyak dan semakin banyak lagi. Mental hidup
seperti ini melanda seluruh lapisan dan aspek kehidupan.
Padahal kita tahu telah ada banyak analisa, telah ada langkah-langkah
yang dibuat demi mengatasi persoalan tersebut dengan membentuk KPK
(Komisi Pemberantasn Korupsi), ICW (Indonesian Corruption Watch) dsb,
namun mengapa budaya korupsi tak kunjung terkikis? Semua itu
dimaksudkan agar praktek korupsi dan manipulasi bisa dikurangi. Akan tetapi
yang terjadi justru sebaliknya. Mengapa? Bahkan menjadi lebih tragis lagi,
mengapa orang yang berteriak maling, dia juga yang mencuri? Sebuah
pertanyaan yang menyiratkan begitu getir dan pahitnya hidup ini.
Menurut hemat saya pengalaman Yudas Iskariot sebagaimana
diwartakan dalam kutipan di atas memberi sedikit keterangan, dan semoga
juga pencerahan bagi kita. Korupsi dan pencurian uang rakyat terus saja
terjadi, baik yang dibuat secara sembunyi-sembunyi maupun yang dilegalkan
lewat Peraturan Daerah, karena orang terus saja mengedepankan
pertimbangan ekonomis di atas segalanya. Apalagi pertimbangan ekonomis
itupun lingkupnya sudah amat dipersempit. Artinya, pertimbangannya bukan
hanya “aku diuntungkan atau tidak”, namun bisa lebih buruk “bagaimana
aku bisa diuntungkan lebih dan lebih lagi”. Dengan cara ini pula orang secara
sadar atau tidak sadar membatasi diri dengan lorong yang dilingkupi cermin
di kiri dan kanannya, sehingga yang dilihat adalah demi kepentingan diri
belaka. Tidak lebih dari itu. Yang akhirnya terjadi adalah orang membelenggu,
memenjara diri dalam pola hidup yang picik dan sempit.
Yudas Iskariot pun melakukannya. Ia yang banyak memikirkan macammacam
persoalan dalam kerangka atau pola pikir ekonomis tidak lepas dari
dinamika seperti itu. Karena hanya demi kepentingan diri yang dipikirkan,
maka ketika harus “menjual” Sang Guru, peristiwa itu tidak dilihat sebagai
menjual gurunya, tetapi yang dipikirkan adalah bagaimana lewat gentingnya
suasana ia tetap bisa memetik keuntungan diri. Jadi tampak sekali bagaimana
Yudas Iskariot menggunakan kacamata ekonomis dalam memandang dunia
dan sekitarnya.
96 Kekuasaan dan Korupsi
Termasuk di dalamnya relasi dirinya dengan Yesus, Sang Guru; itupun
dimengerti dalam taraf ekonomis. Selain bahwa relasi itu mesti
“menguntungkan” dirinya, ia pun melihat adanya kesempatan untuk menjual
kedekatannya dengan Yesus. Dalam bahasa informasi, informasi mengenai
Yesus itu layak jual, atau merupakan komoditas yang bernilai tinggi secara
ekonomis. Markus mencatat “Yudas mendatangi para imam kepala untuk
menyerahkan Yesus; dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya”
(Mrk 14:10,11a). Maka pada posisi ini kepentingan dan nasib orang lain
sudah diabaikannya. Ia tak lagi peduli.
Sekarang bagaimanakah kondisi zaman ini hendak dikatakan dengan
kerangka pikir seperti itu? Mereka yang kerap disebut koruptor, entah kelas
kakap maupun kelas teri di negeri Nusantara ini, kiranya telah membangun
pola pikir yang sama. Hanya untuk diri dan demi diri sendiri. Kepentingan
dan nasib orang lain tak lagi diperhatikan. Ia tak lagi mampu melihatnya.
Seperti halnya Ruben dan Yudas Iskariot, pelaku tindak korupsi telah
memasukkan dirinya dalam lorong yang bercermin di kiri dan kanannya.
Seberapa fatal langkah seperti ini? Ilustrasi mengenai hal ini kiranya
tidak perlu dikatakan secara panjang lebar lagi. Cukuplah sekali lagi
pengalaman Yudas Iskariot kita simak bersama dengan meminjam catatan
Matius 27:1-5 Yudas Iskariot yang menggantung diri. Ketika cakrawala hidup
sempit dan pola pikir egois membelenggu diri, maka ketika kekecewaan
melanda ia tidak lagi mampu menemukan orang lain yang mau peduli dengan
dirinya. Sebab sekali lagi yang dilihat tidak lain adalah kepentingan diri,
maka jalan keluar yang dipilih tidak lain adalah menggantung diri. Mengapa?
Persis karena ia telah membelenggu diri dalam pola pikir picik tadi.
Akhirnya, Saudara-saudara, sementara budaya korupsi terus melebarkan
sayapnya, kita dihadapkan pada sebuah peringatan lewat kisah singkat Yudas.
Jikalau hidup ini amat dipenuhi dengan ambisi di bidang ekonomis, dalam
waktu tidak terlalu lama orang akan mengalami kemakmuran dan
kesejahteraan. Ia sampai pada tujuan hidup yang dicita-citakan, yakni
kebahagiaan. Akan tetapi kebahagiaan dalam alur pemikiran picik tersebut
telah mengalami pengerdilan dan pembelokan makna. Artinya, “kebahagiaan
Kekuasaan dan Korupsi 97
hidup” yang sebetulnya punya makna benar, bagus nan indah kemudian
diidentikkan dengan kemakmuran.
Hanya yang satu ini mesti kita ingat. Seperti halnya Yudas Iskariot yang
setelah mengalami kemakmuran diri (baca: punya banyak uang setelah
menjual Yesus, Mrk 14: 11) ternyata sesungguhnya membelenggu dalam
lorong penuh cermin seperti tersebut di atas. Demikian juga akhir hidup orang
yang membelenggu diri dalam kepentingan ekonomis semata. Akhir tragis
suatu saat akan dialami juga. Ia akan kecewa dan tertipu. Sebab apa yang
dulu didambakan akan membawanya kepada kebahagiaan sejati ternyata nol
besar. Tidak tertutup kemungkinan orang pada akhirnya akan “menggantung
diri” karena kecewa dan putus asa. Akankah cara hidup seperti itu akan Anda
ambil? Itu merupakan tawaran. Tawaran dan sekaligus iming-iming kehidupan
yang selalu disodorkan pada kita. Keputusan ada di tangan Anda.
* Romo untuk Keuskupan Agung Semarang, Moderator Karya Kerasulan Mahasiswa
Semarang.
98 Kekuasaan dan Korupsi
E m p a t
ENTREPRENEUR DAN KORUPSI
Refleksi Tentang Kekayaan Yang Sia-sia
Pengkhotbah 5: 7-19
(Pascalis Sopi)*
Selama empat bulan lebih, akhir Desember 1996 sampai April 1997
saya pernah bekerja di sebuah perusahaan minuman di Solo. Secara tidak
sengaja saya sepertinya melakukan sebuah observasi partisipatif terhadap
kinerja perusahaan itu secara keseluruhan, karena hampir setiap hasil
pengamatan itu saya tuangkan dalam catatan harian. Perusahaan itu sudah
lama “go public” dan bahkan “go international”, karena sebagian produk
unggulannya sudah ada yang dikirim ke Taiwan, Singapura dan beberapa
negara lainnya. Karyawan seluruhnya pada saat itu berjumlah 80 orang lebih.
Produksi barang dilakukan dengan menggunakan mesin-mesin buatan Jepang
dan Korea. Pengiriman barang ke kota-kota lain atau daerah sekitar Jawa
menggunakan mobil box yang berjumlah delapan buah. Pemilik juga
mempunyai tiga mobil pribadi, rumah di tiga lokasi (satu untuk pabrik dan
tempat tinggal pemilik dan beberapa kayawan, satunya lagi untuk kantor
marketing dan kantor keuangan tempat dimana saya tinggal, dan satunya
lagi khusus untuk gudang bahan mentah). Asset berupa tanah juga ada
beberapa bidang yang dalam ukuran lebih dari satu hekta are, belum terhitung
asset berupa simpanan di bank. Perusahaan ini tetap bertahan dan berkembang
kendati krisis menerpa, dan karyawannya tidak ada yang dirumahkan. Namun
sayang, bulan September 2004 saya mendapat berita yang sangat mengejutkan
bahwa pimpinan dan pemilik perusahaan itu meninggal dunia lantaran
kecelakaan lalu lintas. Ia seakan pergi sebelum puas menikmati jerih lelahnya.
Dalam kesehariannya, ia seperti kata Pengkhotbah: “mencintai” uang
tidak akan puas dengan uang, dan “mencintai” kekayaan tidak akan puas
dengan penghasilannya (Pkh 1:9). Tapi apakah hidup dan perjuangannya siaKekuasaan
dan Korupsi 99
sia? Tidak! Ia adalah tipe seorang entrepreneur tulen. Ia adalah pekerja keras
dan pejuang yang gigih. Ia berhasil membangun perusahaannya dari modal
dengkul, demikian kisahnya sendiri. Namun buah dari karyanya itu telah
dinikmati oleh banyak orang termasuk para karyawan yang sekarang masih
bekerja di perusahaannya, para pelanggan dan konsumennya dan juga orangorang
yang telah menimba pengalaman positif dari pengalamannya itu.
Pengusaha minuman ini bukan tipe orang yang haus uang dan kekayaan
seperti dalam skema pemikiran Pengkhotbah pada kutipan di atas, namun ia
adalah tipe orang yang punya idealisme dan ambisi yang ingin memperbaiki
nasibnya dan sesamanya untuk hidup lebih baik. Ia telah menggunakan akal
dan tenaganya untuk kesejahteraan banyak orang, ia tidak mengambil
keuntungan dan memeras orang lain hanya untuk kepentingan sendiri. Ia
memang “mencintai” uang namun bukan untuk dirinya sendiri dan tidak
mendapatkannya dengan cara tak wajar, seperti merampok, mencuri atau
korupsi, tapi dengan kerja keras. Ia memang menumpuk kekayaan namun
untuk investasi masa depan dan berjangka panjang demi keberlangsungan
perusahaan dan kesejahteraan keluarga dan para karyawan yang
ditinggalkanya. Tegasnya, ia tidak mati sia-sia!
Kesia-siaan
Tentang kesia-saian, Pengkhotbah menempatkannya dalam skema
teologinya yang sangat pesimistis. Membaca teks Pengkhotbah dari awal
hingga akhir, kita seolah dihadapkan dengan suatu dunia yang amat gelap,
tidak ada harapan, serba kabur dan gelap. Bahkan saya sendiri merasa segala
idealisme dan ambisi yang telah tertanam dalam diri seolah runtuh, ketika
membaca teks Pengkhotbah yang disodorkan panitia penyusun buku ini.
Pengkhotbah mengungkapkan pengalaman eksistensialnya secara sangat
negatif dan berat sebelah. Mungkin itu berasal dari pengalaman tragis yang
ia alami. Sangat pesimis dan fatalis memang!
Pengkhotbah menampilkan sebuah teologi pesimistis dengan
mengangkat diri sebagai anak Daud. Ia merenungi diri seolah-olah seperti
Salomon, raja yang bijaksana yang sedang menghadapi masa-masa tuanya.
100 Kekuasaan dan Korupsi
Pada hal menurut waktu, kitab ini ditulis jauh sesudah Salomon, bahkan
pada masa setelah pembuangan, sekitar 250-200 SM. Karya literer seperti
ini sering ditemukan dalam proses “kejadian” Kitab Suci dan bahkan dalam
karya sastra umumnya. Biasanya sang penulis menyembunyikan identitasnya
sendiri dan memakai nama salah satu tokoh terkenal sehingga pesan yang ia
sampaikan mendapat legitimasi yang kuat dan lebih berwibawa.
Bagaimanapun, teologi yang pesimistis dan berat sebelah seperti ini
penting untuk direfleksikan agar kita tidak terlalu menaruh harapan yang
berlebihan dan juga menggantungkan idealisme dan ambisinya di awang-awang.
Kita diajak untuk kembali ke bumi, dan berpijak pada kakinya sendiri. Kembali
pada eksistensinya, berjuang dan berusaha sesuai kemampuan dan talenta yang
diberikan kepadanya. Kita diajak oleh Pengkhotbah untuk melakukan dan
bekerja keras sesuai talenta yang telah diberikan Tuhan ketika masih hidup di
dunia ini. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan,
kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan,
pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.”
(Pkh 9:10) Di sinilah letak pesan bijak dari Pengkhotbah. Sampai pada titik
ini, pembaca dibangkitkan kembali, termotivasi lagi untuk berjuang, bekerja
dan berprestasi bukan dengan menggantungkan harapan pada tindakan dan
perbuatan yang sia-sia, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.
Kekayaan: Kerja Keras atau Korupsi?
Teks Pengkhotbah yang menjadi dasar refleksi kita ini sebenarnya
menampilkan kritik pengarangnya terhadap situasi sosial dan menonjolkan
para penguasa yang menindas dan memeras rakyatnya demi kepentingan
sendiri. Ia melihat seolah para penguasa itu menggunakan kekuasaannya demi
uang dan kekayaan. Lalu ia melancarkan kritik bahwa tindakan seperti itu
adalah perbuatan yang sia-sia. Kesia-siaan di sini menunjukan bahwa
semuanya yang dilakukan, dibuat, dicari dan diupayakan tidak ada artinya,
tanpa nilai, tak berbobot, alias “kosong”. Kalau semua tindakan itu tidak ada
nilainya, maka dalam pandangannya mengapa harus memeras orang, membuat
persekongkolan dan melakukan korupsi?
Kekuasaan dan Korupsi 101
Korupsi sebagai bagian dari tindakan sia-sia dapat dijelaskan demikian.
Bila seorang melakukan korupsi, atau mendapatkan sesuatu dengan cara tidak
halal, maka secara moral orang lain tidak akan menaruh respek kepadanya,
kendati orang itu punya rumah mewah, mobil bagus dan menikmati fasilitas
macam-macam. Orang lain tidak akan memberi apresiasi dan bahkan
memandang sinis terhadap dirinya dan juga mungkin terhadap keluarga dan
kerabatnya yang turut merasakan hasil “kerja” tersebut. Artinya, kendatipun
ia memiliki harta tapi ia tidak mempunyai nilai, martabat atau harga diri. Ia
memang kaya tetapi hidupnya tidak sebahagia seperti orang yang
mendapatkan kekayaan itu dengan bekerja keras. Ia seperti kata Pengkhotbah
“enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak;
tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur” (Pkh
5:11). Di sini terlihat jelas tindakan yang sia-sia tersebut. Secara tegas bisa
dikatakan, perbuatan korupsi adalah merupakan upaya bunuh diri,
pembunuhan terhadap karakter sendiri, character suicide.
Di negeri ini, sindrom character suicide tersebut menimpa cukup
banyak kaum elite, politikus, penguasa dan pengusaha. Tindakan
menyalahgunakan jabatan dan memanfaatkan sarana dan kekayaan publik
untuk kepentingan diri dan keluarga terasa sudah biasa. Pemerasan, pemalakan
dan penindasan terhadap rakyat dan kaum pinggiran sudah menjadi cerita
tetap, konsumsi sehari-hari. Fenomena sosial dan dekadensi moral seperti
ini rupanya sudah klasik, sejak zaman Pengkhotbah, “kalau engkau melihat
dalam suatu daerah orang miskin ditindas dan hukum serta keadilan diperkosa,
janganlah heran atas perkara itu, karena pejabat tinggi yang satu mengawasi
yang lain, begitu pula pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka”
(Pkh 5:7). Mengawasi dalam hal ini sama artinya dengan menguasai.
Pengkhotbah melihat sepertinya ada upaya struktural dan sistematis untuk
menindas rakyat kecil dan mencederai hukum dan keadilan hanya demi uang
dan kekayaan. Tindakan seperti ini jelas bukan tindakan yang bijaksana,
terpuji dan terhormat. Lalu untuk apa semuanya itu? Inilah yang dimaksudkan
pengkhotbah bahwa semuanya sia-sia dan upaya menangkap angin.
Namun perlu juga kita memberi penilaian yang proporsional terhadap
keberhasilan dan kekayaan yang dimiliki seseorang. Kekayaan yang diperoleh
102 Kekuasaan dan Korupsi
dengan hasil rekayasa dan tipu muslihat memang patut dikutuk dan dianggap
sia-sia, tapi kekayaan yang diperoleh dengan perjuangan dan kerja keras patut
diberi penghargaan. Apresiasi terhadap keberhasilan para entrepreneur seperti
pengusaha minuman di atas perlu diberikan juga, karena ia telah meletakkan
dasar kerja keras, ketekunan, ketabahan, disiplin dan perjuangan untuk
memperoleh kekayaan dan sekaligus bisa men-share-kan kekayaannya itu
kepada sesamanya. Itu adalah wujud pemberian diri seorang pengusaha,
entrepreneur atau wiraswastawan. Tanggungjawab sosialnya justru terletak
pada bagaimana ia menciptakan peluang kerja dan memberikan kesempatan
kerja kepada orang lain agar bisa melanjutkan hidup.
Di samping itu, perlu dicatat pula bahwa keterpurukan dan kemiskinan
bangsa ini, selain disebabkan oleh perilaku koruptif penguasanya tetapi juga
mentalitas bangsa yang cenderung malas, pasrah dan instan. Mental priyai
dan keinginan bergaya hidup PNS menyebabkan para lulusan sekolah
menengah dan perguruan tinggi tidak mempunyai etos kerja yang andal, tidak
berjiwa entrepreneur, malas menciptakan peluang kerja secara mandiri dan
informal, enggan mengangkat cangkul dan menjamah rumput, namun hanya
ingin menenteng map berisi ijazah melamar pekerjaan dari kantor ke kantor.
Kompetisi yang ketat di pasaran tenaga kerja dan kalahnya SDM dalam diri
berakibat pada membengkaknya pengangguran. Efek berantainya adalah
konsumsi meningkat sedangkan produksi menurun, maka terjadilah khaos
di negeri ini. Karena itu sebenarnya reformasi yang diperjuangkan bukan
saja pada infrastruktur kepenguasaan negeri ini tetapi pada suprastruktur
mentalitas bangsa ini juga. Reformasi harus lebih ditujukan kepada diri
sendiri, bukan pada orang lain atau di luar diri. Reformasi diri yang
dimaksudkan mengenali potensi diri, membaca peluang yang ada, lalu
menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri, tanpa banyak bergantung pada
orang lain, menuntut atau menyalahkan pihak luar.
Ilustrasi pengusaha minuman asal Solo di atas merupakan bukti yang
paling aktual. Kekayaan pengusaha itu adalah murni dari cucuran keringat
dan pengembangan talenta yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia diberi
apresiasi yang tinggi oleh Pengkhotbah. “Lihatlah, yang kuanggap baik dan
tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala
Kekuasaan dan Korupsi 103
usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup
yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya sebab itulah bahagianya.
Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk
menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam
jerih payahnya – juga itupun karunia Allah!” (Pkh 5:17-18).
Sebagaimana Pengkhotbah, Yesus pun memberi pandangan dan
motivasi yang sama kepada para pengikutNya. Melalui perumpamaan tentang
talenta seperti yang terdapat dalam Matius 25:14-30, kita melihat bagaimana
apresiasi Yesus kepada dua orang yang berahasil mengembangkan talentanya.
Yesus justru sangat memuji orang-orang yang telah berhasil mengembangkan
talentanya dan malah mengutuk orang yang menguburkan talenta dan akhirnya
jatuh miskin. Misi Yesus yang memihak kepada kaum miskin tidak berarti Ia
mentolerir atau menyetujui sikap bermalas-malasan, bersantai-santai, pasrah
atau menyerah pada nasib dan hidup hanya dari uluran tangan atau cucuran
keringat orang lain. Kemiskinan yang disebabkan oleh mental malas dan
hanya bergantung pada nasib akan mengalami nasib tragis, “campakkanlah
hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan paling gelap, di sanalah
akan terdapat ratapan dan kertak gigi” (Mat 25:30).
Mentalitas malas, yang tidak mau berjuang dan tidak menggunakan
talenta secara maksimal adalah sama dengan mentalitas koruptif. Karakter
ini serupa dengan mentalitas kaum elit, para politikus, penguasa dan
pengusaha yang menggantungkan cita-cita di awang-awang, lantas berusaha
memperoleh kekayaan dengan menghalalkan cara, mencuri atau korupsi. Lalu
untuk apa mencintai uang, menumpuk kekayaan dengan cara korupsi atau
mencuri kalau toh akhirnya anda dicampakan ke dalam kegelapan yang paling
gelap, di mana terdapat ratapan dan kertak gigi? Bila anda beragama, memiliki
iman dan yakin akan kehidupan setelah mati, maka jauhi diri dari mentalitas
dan perbuatan korupsi, karena itu adalah perbuatan sia-sia!
* Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero–Flores, Bekerja Mandiri dan
Pendamping Kaum Muda, tinggal di Yogyakarta.
104 Kekuasaan dan Korupsi
L i m a
PUDARNYA KETULUSAN DAN KEJUJURAN
DI TENGAH MARAKNYA MENTAL KORUP
Yesaya 33:15-16
(Jack Umbu Warata, CSsR)*
Sabda Tuhan dalam kitab Yesaya yang tercantum dalam seluruh Bab
33 adalah kisah tentang Tuhan sebagai Penolong dan Raja di Sion. Tuhan
Sang Penolong dan Raja itulah yang akan menegakkan kebenaran dan
menganugerahkan keselamatan kepada manusia. Bagaimana keselamatan itu
dialami orang beriman dewasa ini? Dalam kitab Nabi Yesaya 33:15-16, ditulis
syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh manusia untuk mendekat pada Tuhan
di tempat yang tinggi tempat roti tersedia dan minuman terjamin: jujur,
menolak hasil pemerasan, tidak menerima suap, menutup telinga supaya
tidak mendengarkan rencana penumpahan darah, dan menutup mata supaya
jangan melihat kejahatan. Hidup tulus dan jujur dengan menjauhi kejahatan,
misalnya korupsi, adalah tantangan tersendiri bagi manusia, yaitu bagaimana
manusia harus hidup jujur dan tulus di hadapan Allah. Kejujuran dan ketulusan
tersebut menggerakkan hati manusia untuk hidup menurut aturan, ketetapan
dan cinta Allah sendiri. Ini hanya mungkin bila manusia selelau berpasrah
pertolongan dari Tuhan sambil berusaha hidup seturut kehendak Allah.
Di negara Indonesia mental ketidakjujuran, misalnya korupsi hampir
terasa dalam setiap sisi kehidupan masyarakat. Ketika berbagai tindak korupsi
terjadi mungkinkah sabda Tuhan sebagaimana tertulis dalam nubuat nabi
Yesaya 33:15-16 dapat menggerakkan dan menyentuh orang kristiani untuk
semakin dekat pada Tuhan sebagai penolong dan benteng hidup dan semakin
dewasa dalam imannya? Masih adakah pengharapan akan gaung kejujuran
dan ketulusan supaya kita menjalin relasi yang sungguh erat dengan Allah
tempat roti dan minuman kita tersedia dan terjamin?
Kekuasaan dan Korupsi 105
Situasi Konkret Masyarakat Kita
Ketika seorang kenalanku mau masuk polisi, katanya, ia harus
mengeluarkan uang untuk menyuap orang di kepolisian sebesar Rp 25 juta.
Tindak penyuapan tidak menjadi rahasia lagi bagi banyak orang. Tidak
mungkin seseorang bisa diterima menjadi polisi tanpa suap, kata temanku.
Memang akhirnya temanku diterima menjadi posili. Lain lagi, dari seorang
pejabat aku pernah mendengar bahwa dana pembangunan untuk Indonesia
bagian Timur cukup besar, tetapi tidak tepat sasaran. Perkiraannya pasti
dikorupsi oleh pejabat tinggi.
Dalam dunia pendidikan misalnya banyak orang yang menyontek, jual
beli gelar dan ijazah. Dalam dunia bisnis, pemeriksaan terhadap keuntungan
yang diperoleh sebuah perusahaan, para pejabat pajak sudah disogok terlebih
dahulu supaya pajak perusahaan yang harus dibayarkan kecil. Kita sering
mendengar berita bahwa banyak kasus korupsi mulai dari RT sampai DPR
dan pejabat tinggi lainnya terjadi. Perilaku para wakil rakyat dan pejabat
pemerintahan memberi kesan bahwa mereka memandang tugas mereka
semata-mata sebagai kesempatan untuk cepat-cepat memperkaya diri dengan
cara-cara yang tidak halal dan tidak jujur. Para pejabat terlibat korupsi dan
memeras rakyatnya sendiri. Demikian pula, banyak orang ingin sukses dan
kaya tapi tidak mau bekerja keras.
Korupsi: Penyakit Menular
Fenomena korupsi tersebut di atas menujukkan bahwa korupsi sudah
menjadi suatu sikap. Para koruptor menganggap bahwa korupsi kecil
risikonya, namun, untungnya cepat dan mudah. Maka korupsi menular ke
mana-mana seperti wabah. Korupsi bukan hanya masalah tindakan saja tetapi
sudah berkembang menjadi suatu sikap yang pada akhinya dianggap wajar
dan tidak apa-apa. Korupsi sudah menerobos ke mana-mana seperti penyakit
kanker, yang mewabah dalam diri para calo misalnya yang mengurus SIM,
perkara di pengadilan maupun di lembaga-lembaga lain. Mengapa harus ada
dan melalui calo? Sebab banyak orang berpikir praktis dan gampang saja.
106 Kekuasaan dan Korupsi
Orang tidak mau menderita kerugian yang besar, rugi waktu, tenaga dan saraf
yang lebih besar lagi, maka biar cepat: suap saja!
Di kalangan para koruptor dan kebanyakan orang yang sudah tumpul
hati nuraninya, muncul ungkapan: kalau sesuatu gampang diperoleh mengapa
mesti dipersulit atau ditolak? Lalu mereka sangat permisif: apa saja
diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena orang terlalu suka akan yang enak
saja. Para koruptor memiliki rasa bersalah yang tipis sekali. Rasa bersalah
karena korupsi tipis sekali; sedangkan rasa malu karena ketahuan besarnya
minta ampun. Tanpa disadari impunity dan oblivion dalam praktek kehakiman
di Indonesia digabungkan. Impunity berarti keadaan di mana suatu kejahatan
atau pelanggaran misalnya korupsi dibiarkan tanpa hukuman, dan oblivion
berarti keadaan di mana suatu fakta terlupakan. Kenyataan inilah yang
semakin menyuburkan berbagai tindak korupsi dan penyuapan di tanah air.
Dan....korupsi, penyuapan, uang pelicin meski sering dikutuk tetapi tetap
dibiarkan saja.
Korupsi dan Sikap Kristiani
Lebih dari 3000 tahun yang lalu Kitab Keluaran telah mengutuk uang
suap: “Suap jangan kau terima, karena suap membutakan mereka yang melihat,
sehingga memutarbalikkan perkara orang yang benar” (Kel 23:8). Oleh karena
itu syarat untuk menjadi pemimpin bangsa adalah tidak menerima suap (bdk.
Kel 18:21). Meski demikian anak-anak nabi Samuel yang menjadi hakimhakim
di Israel, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (1 Sam 8:3).
Motif untuk menerima suap adalah kerakusan dan ketamakan akan harta.
Pemazmur berkata bahwa orang korup adalah orang yang jahat (Mzm 26:10).
Sebagai orang beriman tugas kita adalah menjauhi korupsi dan memberantas
kebiasaan apapun yang berbau korupsi misalnya, menghabiskan uang panitia
secara tidak bertanggungjawab, memalsukan kwitansi, memalsukan laporan
keuangan, menggunakan uang kolekte secara tidak jelas, harta milik Gereja
dikorupsi, dan sebagainya. Sebab apa? Kata orang Inggris, Oh what a tangled
web we weave when first we practice to deceive (Betapa kusutnya jaringan yang
kita tenun, bilamana kita mulai menipu). Di samping itu, dalam pelaksanaan
sehari-hari orang beriman tidak boleh aktif menyuap, tidak boleh menuntut uang
Kekuasaan dan Korupsi 107
suap dan tidak boleh menerima hadiah yang memikat. Sebab, barangsiapa toleran
dengan kejahatan, dia ikut berbuat jahat juga.
Apakah korupsi bisa diberantas di negara kita? Pasti tidak oleh para
politisii sekarang. Sebab mental korup mereka masih terkait dan terikat dengan
para penguasa masa lalu karena keluarga, hutang budi, bisnis dan sudah lama
saling kenal. Dan yang paling penting jaringan para koruptor sekarang yang
saling melindungi begitu kuat erat. Seorang cucu kaisar Wangsa Han, Lin
Ann (122 SM) mengatakan bahwa kejujuran pegawai tergantung dari rajanya.
Maka pengaruh dari para tokoh saleh belum cukup kalau para penguasa tidak
memperdulikannya. Seandainya para pejabat tinggi hidup jujur pasti
bawahannya juga akan berusaha hidup jujur.
Sebagai institusi, bukanlah tugas Gereja untuk memberantas korupsi
di luar lingkungannya. Namun sebagai warga masyarakat dan pengikut
Kristus, seluruh umat kristiani dipanggil, diutus dan berkewajiban untuk
berjuang terus menerus memerangi dosa sosial ini. Iman kristiani menuntut
kesaksian hidup dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Kesaksian umat
beriman dengan menghindari dan menolak korupsi adalah sangat berharga.
Orang kristiani dituntut untuk membangun habitus dan budaya baru dalam
masyarakat. Maka dari itu ketika melihat korupsi yang merajalela dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, Gereja harus mulai dari dirinya untuk
bertobat terus menerus, dan mengajak semua orang untuk bertobat. Dalam
bahasa Yunani istilah yang dipakai adalah metanoia, yaitu sikap berbalik
secara radikal dengan mengubah sikap dan hati, menentukan arah dasar hidup,
menata ulang perilaku buruk, dan membiarkan Allah berkarya dalam diri
kita. Gereja sebagai institusi harus memainkan peranannya sebagai lembaga
yang transparan dan terpercaya yaitu ketika uang tidak dipakai untuk
kepentingan sendiri melainkan untuk kepentingan sosial yakni untuk
melaksanakan secara gesit dan tangkat tugas kemanusiaan.
Pertanyaan reflektif kita, seandainya dalam banyak hal, kemungkinan
untuk membongkar kebenaran tipis sekali, mungkinkah bagi kita untuk pasrah
pada keadaan? Sekali-sekali, tidak! Memperjuangkan kebenaran dan keadilan
mempunyai nilai sendiri yang tidak boleh diukur dengan keberhasilannya.
Perjuangan ini merupakan suatu keharusan terlepas dari sukses tidaknya.
108 Kekuasaan dan Korupsi
Sebagai orang kristen kita harus diperteguh dengan keyakinan ini. Kita
percaya bahwa Tuhan adalah hakim yang tertinggi yang tidak membiarkan
impunity dan oblivion. Dalam Kitab Suci sering digunakan simbol bahwa
semua perbuatan manusia dicatat dalam buku pengadilan. Misalnya: orangorang
mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada
tertulis dalam kitab-kitab itu (Why 20:12). Tidak ada orang yang luput dari
perhatianNya. Di sini tidak mungkin lagi orang berusaha untuk menutupnutupi
perbuatan selama di dunia. Di hadapan Tuhan segalanya mendapat
transparansi sempurna. Tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di
hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata
Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibr
4:13). Maka nasihat Paulus kepada Titus supaya orang menjadi teladan
kejujuran, penting untuk direnungkan: jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan
dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan sungguh-sungguh dalam
pengajarannya, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga
lawan merasa malu, karena tidak ada hal buruk yang dapat mereka sebarkan
tentang kita (Tit 2:7-7). Menjadi teladan dalam kejujuran dan ketulusan adalah
proyek hidup. Siapa punya proyek itu? Kita semua. Dengan cara ini semua
orang kristiani akan menjadi homo homini salus: menjadi berkat bagi
sesamanya. Karena kita mempunyai pengharapan kristiani, maka kita sungguh
percaya bahwa Tuhan yang telah memulai karya baik dalam diri kita dengan
menggerakkan dan menyentuh orang supaya hidup jujur dan menjahui
kejahatan, akan berkenan menyelesaikannya pula (bdk. Flp 1:6).
* Calon Pastor dari Kongregasi Redemptoris. Sedang menyelesaikan studi di Fakultas
Teologi Weda Bhakti Yogyakarta.
Kekuasaan dan Korupsi 109
E n a m
JANGANLAH MENJADI HAMBA UANG
Ibrani 13:5
(Rm. DR. Al. Purwa Hadiwardaya, MSF)*
Pengantar
Reformasi di tanah air kita, yang telah kita awali sejak pertengahan
tahun 1998, mengemban sebuah misi yang luhur, yakni memberantas korupsi,
kolusi, dan nepotisme (KKN). Sayang, misi yang luhur itu rasanya belum
sungguh terlaksana, masih tinggal sebuah cita-cita. Karena itu, kita semua
terpanggil untuk berusaha lebih keras dan lebih taktis, agar misi tersebut
terlaksana secara lebih baik.
Salah satu taktik yang dapat kita ambil adalah penempatan korupsi
sebagai target utama dan pertama dalam proses reformasi. Seluruh tenaga
dari segenap kekuatan masyarakat, termasuk umat kristen di negeri kita,
sebaiknya dipusatkan untuk mengatasi dan mencegah korupsi, sebuah
kejahatan sosial yang selama ini mewarnai semua bidang kehidupan di tanah
air kita.
Yohanes Pemandi
Sebelum tampilnya Tuhan Yesus di depan publik, muncullah seorang
tokoh yang setengah tahun lebih tua dari beliau, yakni Yohanes Pemandi. Ia
mengajak orang-orang Yahudi bertobat, agar mereka pantas menerima
kedatangan Sang Juruselamat. Kepada para pemungut cukai, dengan tegas
ia berkata: “Janganlah menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan
bagimu” (Luk 3:13). Kemudian, kepada para prajurit, dengan lantang ia
berseru: “Janganlah merampas dan janganlah memeras dan cukupkanlah
dirimu dengan gajimu” (Luk 3:14).
110 Kekuasaan dan Korupsi
Menurut Yohanes Pemandi, pertobatan sejati merupakan suatu usaha
yang keras dan konkret untuk memperbaiki tingkah laku. Karena itulah,
kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang tidak sungguh-sungguh bertobat,
ia berani menyampaikan teguran yang keras dan lugas: “Hai kamu keturunan
ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat
melarikan diri dari murka yang akan datang? Maka hasilkanlah buah yang
sesuai dengan pertobatan” (Mat 3:7-8).
Tuhan Yesus
Segera setelah Yohanes Pemandi ditangkap dan dipenjarakan atas
perintah raja Herodes, tampillah Tuhan Yesus di depan publik, untuk
mewartakan kabar gembira keselamatan. Beliau mengajak semua orang untuk
bertobat dan percaya kepada pewartaan-Nya.
Dalam kotbah beliau yang pertama, yang terkenal dengan sebutan
“Kotbah di Atas Bukit”, Tuhan Yesus antara lain berseru: “Janganlah kamu
mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya
dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu
harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri
tidak membongkar serta mencurinya” (Mat 6:19-20).
Sesuai dengan gaya bicara pada zaman-Nya, Tuhan Yesus bermaksud
mengajarkan bahwa harta di sorga itu jauh lebih berharga dari pada harta di
dunia. Apalagi bila harta di dunia itu diperoleh dengan cara yang tidak halal.
Beliau tidak menganggap remeh harta di dunia. Apalagi bila harta tersebut
diperoleh dengan cara yang halal. Harta duniawi yang halal itu berharga.
Meskipun demikian, harta sorgawi tetaplah jauh lebih berharga dari padanya.
Dalam kotbah pertama tersebut Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa
kadang-kadang orang harus memilih salah satu, harta duniawi atau harta
sorgawi. Beliau mengajar: “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang
lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang
lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan sekaligus kepada uang”
(Mat 6:24).
Kekuasaan dan Korupsi 111
Pada kesempatan lain, yakni dalam kotbah beliau yang kedua, Tuhan
Yesus menyarankan kepada para rasul agar mereka mencukupkan diri dengan
fasilitas kerja dan fasilitas hidup yang sederhana saja. Para rasul diajak-Nya
percaya, bahwa orang-orang beriman akan mencukupi kebutuhan dasar
mereka. Kepada mereka itu beliau antara lain menegaskan: “Janganlah kamu
membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah
kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju
dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”
(Mat 10:9-10).
Seperti dalam kotbah sebelumnya, dalam kotbah-Nya yang ketiga Tuhan
Yesus pun menegaskan bahwa harta sorgawi itu jauh lebih berharga dari
pada harta duniawi. Karena itulah beliau mengajar: “Hal Kerajaan Sorga itu
seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu
dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh
miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu
seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah
ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh
miliknya lalu membeli mutiara itu” (Mat 13:44-46).
Tentu saja, hanya orang yang punya jiwa rendah hati saja yang dapat
mengamalkan ajaran Tuhan Yesus di atas. Beliau juga menyadari dan
menegaskan hal ini. Karena itulah, dalam kotbah-Nya yang keempat, beliau
berkata kepada para murid-Nya: “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat
dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak
kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:3-4).
Akhirnya, dalam kotbah-Nya yang kelima, Tuhan Yesus menegur tindak
korupsi dari orang-orang Farisi. Kepada mereka beliau berseru: “Celakalah
kamu hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sambil mengelabui mata
orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima
hukuman yang lebih berat: (Mat 23:14).
112 Kekuasaan dan Korupsi
Di luar kelima kotbah-Nya (seperti termuat dalam Injil Matius), masih
ada sabda-sabda Tuhan Yesus yang lain, yang mengungkapkan ajaran beliau
tentang sikap yang tepat terhadap uang dan kekayaan.
Menurut Tuhan Yesus, kekayaan dapat menjadi halangan besar bagi orang
untuk diselamatkan oleh Allah. Kemungkinan itu demikian besar, sehingga
menurut beliau “sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan
Sorga ... lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang
kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 19:23-24). Dengan perkataan lain,
menurut Tuhan Yesus, keinginan orang untuk mengumpulkan uang dapat
menghalangi usaha dan perjalanannya menuju sorga!
Senada dengan ajaran tersebut, Tuhan Yesus pernah menyamakan
seorang kaya dengan seorang yang bodoh, atau bahkan naif. Dalam sebuah
perumpamaan, beliau mengisahkan adanya seorang kaya yang memenuhi
gudangnya dengan berbagai harta kekayaannya dan mengira akan dapat
menjamin hidupnya dengan harta tersebut. Padahal, malam itu juga nyawanya
diambil oleh Allah, dan terbukti bahwa hartanya sama sekali tidak dapat
menyelamatkannya. Sebagai kesimpulan, beliau menyampaikan ajakan bagi
para muridNya sebagai berikut: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap
segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya” (Luk 12:15).
Rasul Petrus
Ajaran-ajaran Tuhan Yesus tentang pentingnya kesederhanaan dan
kejujuran diwartakan dan dilaksanakan dengan setia oleh para rasul, yang
telah beliau tunjuk untuk memimpin umat yang beriman kepadaNya. Hal itu
antara lain tampak dalam hidup dan karya rasul Petrus.
Segera setelah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, bersama sebelas rasul
yang lain, rasul Petrus memimpin umat kristen pada abad pertama Masehi
untuk hidup dengan suatu pola baru, yang berbeda dari pola hidup umat
Yahudi. Dalam kitab Kisah Para Rasul, pola hidup umat kristen tersebut
digambarkan sebagai berikut: “Semua orang yang telah beriman tetap bersatu,
dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada
Kekuasaan dan Korupsi 113
dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada
semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis 2:44-45).
Rasul Petrus tidak segan-segan menegur dengan keras warga umat
kristen yang tidak menghayati pola hidup baru tersebut secara jujur. Suatu
ketika, pasangan suami-isteri yang bernama Ananias dan Safira bertindak
tidak jujur, alias korupsi! Mereka memang bersedia menjual tanah mereka,
namun mereka tidak rela membagi-bagikan seluruh hasil penjualan itu untuk
segenap warga umat. Dengan sepengetahuan isterinya, Ananias
menyembunyikan sebagian dari hasil penjualan itu, untuk kepentingan mereka
sendiri.
Mengetahui tindakan korup itu, Petrus menyampaikan teguran yang
sangat keras kepada Ananias maupun Safira. Kepada Ananias, rasul Petrus
berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai iblis, sehingga engkau mendustai
Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama
tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual,
bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan
perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, melainkan
mendustai Allah” (Kis 5:3-4). Teguran itu tampaknya begitu keras, sehingga
Ananias maupun Safira rebah dan meninggal karenanya.
Rasul Paulus
Beberapa saat setelah kenaikan Yesus ke sorga, muncullah beberapa
rasul baru, yang tidak termasuk dalam kelompok keduabelas rasul. Salah
satu dari rasul-rasul baru itu adalah rasul Paulus, yang mewartakan Injil
Kristus terutama kepada orang-orang bukan Yahudi.
Meskipun semula ia seorang Farisi yang mengejar dan menganiaya
banyak orang kristen, Paulus kemudian toh menjadi seorang pengikut Kristus,
bahkan akhirnya menjadi seorang pewarta Injil yang sangat hebat. Cara hidup
dan pewartaannya menjadi sumber ilham dan penggerak iman bagi banyak
orang kristen pada abad pertama Masehi.
114 Kekuasaan dan Korupsi
Sebagai seorang rasul yang tetap mencari nafkah dengan kerja
tangannya sendiri, rasul Paulus sangat tidak suka melihat dosa orang-orang
pada zamannya. Karena itulah ia memberikan peringatan yang tegas kepada
umat kristen di Korintus: “Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala,
orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk,
pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah
memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan
dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor 6:9-11).
Sesuai dengan nasihat di atas, rasul Paulus berani mengajukan diri
sebagai teladan bagi umat kristen di Korintus. Kepada mereka ia menulis:
“Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan
rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut
akan Allah ...Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak
seorangpun kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami mencari untung”
(2 Kor 7:1-2).
Rasul Paulus sangat menghargai usaha-usaha umat kristen di Korintus
untuk mengumpulkan derma bagi umat miskin di tempat-tempat lain, terutama
karena sumbangan tersebut dicari secara halal dan diberikan secara ikhlas.
Tentang hal itu ia menulis: “Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit
juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Hendaklah
masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih
hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan
sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu,
supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah
berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:6-8).
Nasihat-nasihat mengenai kejujuran dan kedermawanan di atas tidak
hanya disampaikan kepada umat kristen di Korintus, melainkan juga kepada
umat kristen di tempat-tempat lain, termasuk Galatia dan Roma.
Kepada umat di Galatia, rasul Paulus menekankan pentingnya
penggunaan kebebasan secara bertanggungjawab. Dalam suratnya kepada
mereka, ia antara lain menulis: “Memang kamu telah dipanggil untuk
Kekuasaan dan Korupsi 115
merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan
yang lain oleh kasih ... Jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan,
awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan” (Gal 5:13.15).
Sementara itu, kepada umat di Roma, rasul Paulus menegaskan bahwa
semua orang kristen harus hidup menurut Roh, tidak lagi hidup mengikuti
hawa nafsu mereka. Kepada mereka yang tinggal di “pusat dunia” pada waktu
itu, ia menulis: “Mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal
yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal yang
dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah
hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan
terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang
tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin
berkenan kepada Allah” (Rm 8:5-8).
Pentingnya kesederhanaan hidup dan kewaspadaan terhadap uang juga
disarankan oleh rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada Timotius.
Di sana antara lain ditegaskannya: “Ibadah itu kalau disertai rasa cukup
memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam
dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan
dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam
pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa
dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam
keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.
Sebab karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman
dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim 6:6-10).
Akhirnya, dalam suratnya kepada umat Ibrani, rasul Paulus menyatakan
sikapnya yang dengan tegas menentang ketamakan orang dalam hal uang.
Di sana ia menulis: “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah
dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku
sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan
meninggalkan engkau (Ibr 13:5-6). Dengan kata lain, menurut rasul Paulus,
korupsi merupakan ungkapan dari sikap batin yang keliru, yakni sikap batin
116 Kekuasaan dan Korupsi
yang kurang beriman kepada Allah. Orang beriman semestinya percaya akan
penyelenggaraan ilahi, tidak terlalu kawatir akan dirinya. Ia mengabdi Allah,
tidak mengabdi uang. Ia mencukupkan diri dengan penghasilan yang memang
merupakan haknya, tidak dengan tambahan-tambahan penghasilan yang tidak
halal. Sebaliknya, orang tak beriman melakukan korupsi, karena kurang
percaya akan penyelenggaraan-Nya!
* Pastor dan Dosen Teologi Moral pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma.
Kekuasaan dan Korupsi 117
T u j u h
HIDUPLAH DALAM KECUKUPAN DAN SYUKUR
1 Timoteus 6:6-10
(Alfred B. Jogo Ena)*
Awalnya.................
Tidak dapat dipungkiri bahwa uang amat penting dalam kehidupan
kita. Karena begitu pentingnya uang, maka kita sangat getol/keranjingan
mencari uang. Jadi uang bukan hanya menjadi penting tetapi menjadi yang
utama.
Saya ingin mengawali permenungan ini dengan sebuah ilustrasi berikut.
Apa yang membuat perahu dapat berjalan? Tentu ada banyak jawaban. Tetapi
salah satunya, bahkan yang utama, adalah air. Dengan air perahu bisa berjalan.
Bagaimana mungkin perahu bisa berjalan di darat? Namun demikian,
sekalipun air penting, tidaklah berarti kemudian air diambil dan dikumpulkan
dalam perahu. Sebab itu akan menenggelamkan perahu.
Begitu pula halnya dengan uang. Kita harus mengakui bahwa uang
sangat penting dalam kehidupan kita. Dengan uang hidup kita bisa berjalan.
Bayangkan bagaimana seandainya manusia hidup tanpa uang? Bukankah
uang sudah menjadi semacam “dewa” yang senantiasa dicari dan “disembah”
oleh manusia? Karena uang memegang peranan yang amat vital dalam
kehidupan, maka kita berjuang mati-matian untuk mendapatkannya. Tidak
kenal lelah, tidak kenal siang, tidak kenal malam, kita sibuk bekerja dan
bekerja untuk mencari uang.
Ya.....betapa penting dan mendasarnya uang dalam kehidupan kita.
Saking pentingnya uang, ada berbagai cara manusia berusaha
mendapatkannya. Ada yang bekerja secara halal, ada yang menghalalkan
segala cara. Bahkan kalau perlu harus mengorbankan sesama, merenggut
118 Kekuasaan dan Korupsi
nyawa sesama sekalipun oke! Yang penting mendapat uang. Apakah uang
sudah menjadi “tuhan” bagi manusia? Tidak!!
Karena demikian pentingnya uang dalam kehidupan kita, maka kita
perlu memakai atau membelanjakannya dengan hati-hati. Kita tidak perlu
menghambur-hamburkannya untuk membeli segala sesuatu yang tidak
berguna, sesuatu yang bersifat hedonis dan konsumtif belaka. Kita perlu
memperlakukannya dengan bijaksana, dewasa dan bertanggungjawab. Selain
itu kita perlu menabung atau memutarkannya untuk kepentingan-kepentingan
yang berguna. Sebab kalau habis, ibarat sebuah perahu, bagaimana “perahu”
bisa berjalan tanpa air? Demikian sebaliknya, kita jangan terlalu mencintai
uang. Sebab cinta pada uang yang berlebihan adalah akar segala kejahatan.
Kok bisa? Karena cinta buta akan uang itulah yang mendorong kita melakukan
apa saja demi mendapatkan uang. Berbagai cara akan ditempuh yang penting
kantong kita tetap penuh.
Cinta akan Uang akar Segala Kejahatan?
Banyak dari antara kita yang keliru memahami ayat ini. Uang seolaholah
menjadi akar dari kejahatan. Akibatnya orang kemudian alergi terhadap
uang. Orang akan menganggap uang benda “iblis atau setan” yang harus
dijauhi. Kalau “ketakutan” semacam ini terjadi di jaman ketika orang belum
mengenal uang seperti sekarang ini, tentu bukanlah masalah. Mereka tinggal
memetik buah atau sayur kalau mau makan. Mereka akan “barter” (bertukar)
kalau menginginkan sesuatu atau sebuah barang. Akan tetapi di jaman industri,
jaman ilmu dan teknologi dewasa ini? Rasanya amat sulit kita bisa hidup
tanpa uang.
Kita harus selalu menyadari bahwa uang adalah benda netral. Uang
adalah sarana ciptaan manusia, yang dibuat untuk mempermudah hidup
manusia sendiri. Bukankah dengan adanya uang, kita tidak perlu repot-repot
membawa/memikul sayur kelapa atau garam untuk bertukar dengan ayam,
beras atau gula. Akan tetapi yang menjadi persoalan bukanlah terletak pada
uang itu sendiri. Tetapi pada bagaimana kita, manusia mengelola atau
memperlakukan uang.
Kekuasaan dan Korupsi 119
Kitab Suci dengan jelas mengatakan bahwa yang menjadi akar kejahatan
bukanlah uang, tetapi kecintaan manusia pada uang itu. Kecintaan pada uang
membutakan manusia, hingga kerap membuatnya sukar membedakan antara
yang baik dan yang buruk. Kecintaan pada uang membuat manusia bertindak
tidak manusiawi. Kecintaan buta pada uang menempatkan derajat manusia
di titik nadir penghormatan atas kehidupan dirinya dan sesama yang adalah
anugerah Sang Pencipta.
Kita harus mengakui bahwa uang adalah berkat Tuhan yang patut kita
syukuri. Kita dapat belajar pada Paulus melalui kata CUKUP sebagai kata
kunci yang dia pakai dalam perikop di atas. Dia mengatakan: “Asal ada
makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Tim 6:8). Atau dengan kata lain, asal
kebutuhan dasar dipenuhi, CUKUPLAH. Berapapun jumlah yang kita terima,
bukanlah persoalan, yang penting diikuti dengan rasa cukup. Ya CUKUP!!
Namun, sayangnya, rasa CUKUP nyaris hilang dari sifat dasar manusiawi
kita. Kita selalu saja merasa kurang dan menjadi sulit untuk hidup seadanya.
Kita menjadi sulit hidup sederhana dan ugahari. Hal ini karena kita tidak
pernah mampu bersyukur untuk hidup apa adanya, kita tidak mampu
bersyukur atas kasih dan karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada kita.
Selain kita sulit untuk hidup apa adanya dan hidup CUKUP [bukan
berarti kita menjadi minimalis dan tidak mau berusaha, tidak mau
mengembangkan bakat dan talenta kita demi mencapai kehidupan yang lebih
baik], kita pun menjadi sulit membedakan mana yang benar-benar menjadi
kebutuhan yang mendasar dan mana kebutuhan-kebutuhan yang sekunder.
Kita menjadi sulit untuk membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang
keinginan. Bukankah kita harus selalu sadar bahwa keinginan manusia tidak
pernah terpuaskan? Semakin kita merasa tidak CUKUP maka semakin banyak
pula keinginan kita. Maka tepatlah kalau kita selalu belajar pada Martin Luther
King yang mengatakan: “Jika saja semua orang di dunia ini hidup sesuai
dengan kebutuhan, maka apa yang Tuhan ciptakan sudah Iebih dari cukup.”
Kita akan menghargai kehidupan kita. Kita akan mampu bersyukur atas hidup
kita yang sudah CUKUP itu. Sebab kalau tidak demikian, maka kita akan
terus merasa haus, merasa kurang dan kurang. Akibatnya, kita akan sangat
mendewakan uang, kita akan sangat mencintai uang. Akibat lebih jauh kita
120 Kekuasaan dan Korupsi
akan berlomba-lomba mengumpulkannya, seolah-olah uang adalah segalagalanya
di atas martabat manusiawi kita sebagai makhluk ciptaan Allah
sendiri. Jika sudah demikian, kita akan jatuh pada kerakusan, kelobaan,
ketamakan. Kalau sudah demikian, kita akan menghalalkan segala cara untuk
mendapatkannya, termasuk korupsi dengan mengambil milik atau hak orang
lain, yang bukan milik atau hak kita.
Lebih jauh Paulus menegaskan: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke
dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang
hampa dan yang mencelakakan” (1 Tim 6:9). Jika kita mencintai uang, kita
akan melakukan usaha apa saja untuk mendapatkannya. Keinginan untuk
kaya itu, selain karena uang juga karena keinginan mata kita yang tak
terkendali. Akibatnya mata kita menjadi gelap dan kita juga menjadi gelap
mata, sehingga benarlah kata Yesus “Betapa gelapnya kegelapan itu” (Mat
6:23) akibat perbuatan dan keinginan mata kita yang tak terkendali. Kita
perlu selalu menyadari bahwa makanan, uang, dan kekuatan apa pun yang
menjadi fokus mata rohani kita akan menentukan apa yang kita dambakan,
dan juga menentukan apakah hidup kita dipenuhi oleh terang atau kegelapan.
Yesus sendiri berkata, “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah
seluruh tubuhmu” (Mat 6:22).
Kecintaan akan uang yang berlebihan– yang dikendalikan oleh
keinginan dan nafsu –membuat kita nekat berbuat kejahatan. Kecintaan akan
uang - akibat tidak pernah puas dengan yang ada, tidak pernah merasa CUKUP
– membuat kita menjadi nekat dan lupa diri untuk merendahkan derajat hidup
kita sendiri, sesama bahkan Tuhan sendiri, yang penting kita puas dan
“bahagia” dalam arti semu dan sementara.
Uang pada dirinya adalah baik. Uang tidaklah jahat. Namun cinta pada
uanglah yang membuat kita menjadi jahat bagi sesama. Uang membuat kita
menjadi homo homini lupus bagi sesama kita. Dengan kecintaan buta akan
uang kita menjadi lupa untuk hidup secara CUKUP dan penuh syukur pada
Sang Kehidupan sendiri.
Kekuasaan dan Korupsi 121
Maka dari itu......
Kita harus mampu untuk hidup penuh syukur dan mampu hidup
CUKUP, hidup berkecukupan. Memang jujur harus kita akui, bahwa dalam
dunia sekarang ini, uang adalah alat atau sarana untuk hidup. Tetapi uang
bukanlah sarana satu-satunya dan uang juga bukanlah segala-galanya. Cukup
atau tidaknya tergantung sepenuhnya pada kita yang memegang, mempunyai
dan mengelola uang itu. Kitalah yang mengatur uang, bukan uang yang
mengatur kita. Mungkin bagi orang yang sangat boros, yang selalu tidak
puas untuk hidup sederhana dan CUKUP, berapapun uang yang diterima
selalu saja kurang.
Sebagai orang beriman, yang menempatkan Tuhan di atas segalagalanya
dan bukan uang sebagai “tuhan” baru, berapa pun uang yang kita
terima, BERSYUKURLAH. ATURLAH UANG ITU DEMI HIDUP KITA
YANG LEBIH MANUSIAWI, BUKAN SEBALIKNYA KITA DIATUR
OLEH UANG.
Sebagai makhluk ciptaan yang sedang dalam perziarahan menuju Sang
Pencipta kita diajar untuk menggunakan berkat duniawi ini yang salah satunya
UANG secara benar, bukannya sembarangan tanpa rasa syukur. Kita diajar
untuk memanfaatkan hal-hal duniawi ini sambil menjaga agar tidak terikat/
dihambat olehnya (1Ptr 2:11). Bahkan Paulus menegaskan bahwa hendaknya
kita bersikap seolah-olah tidak menggunakan apapun yang kita miliki (bdk.
1 Kor 7:29-31). Pada prinsipnya kita harus menggunakan UANG (termasuk
apapun yang kita miliki) sesuai dengan maksud Allah ketika menciptakannya,
yaitu bagi kebaikan kita, dan bukannya bagi kehancuran kita.
Akhirnya, semoga kita semakin bijaksana menggunakan uang demi
keluhuran martabat kita dan demi kemuliaan nama Allah sendiri. Semoga
dengan permenungan ini, korupsi dalam bentuk apapun semakin terkikis dan
hilang dari bangsa yang kita cintai ini.
* Penulis Buku Berbahagialah Yang Tidak Melihat Namun Percaya ini berusaha
menjadi Katolik yang baik
122 Kekuasaan dan Korupsi
D e l a p a n
BENCI ATAU RINDU
Mikha 3:11
(Bambang Pujo Riyadi, STh. MPD)*
Pesimis
Saudara-saudara, ketika Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk,
banyak reaksi, pandangan bahkan sikap yang muncul. Reaksi yang paling
sering muncul adalah sikap pesimis. Mengapa begitu? Sikap itu memang
memiliki alasan yang kuat dan berdasarkan pengalaman konkret atas
kehidupan masyarakat sehari-hari. Mungkin ada benarnya juga walaupun
ada yang tidak setuju ungkapan Bung Hatta bahwa Indonesia memiliki budaya
korupsi. Ungkapan itu mengandaikan bahwa masyarakat sejak lahir, balita,
remaja dan dewasa bertumbuh dalam situasi korup. Oleh karena itu tidaklah
mengherankan bahwa, seorang yang bertumbuh dalam situasi itu tidak lagi
merasa bahwa korupsi adalah sesuatu yang tidak benar. Tentu pandangan ini
agak mengabaikan pandangan yang menolak bahwa korupsi merupakan
budaya masyarakat dan bangsa Indonesia.
Saudara-saudara, terlepas dari perdebatan apakah Indonesia memiliki
budaya korupsi atau tidak, yang pasti jika membicarakan upaya
pemberantasan korupsi banyak orang merasa pesimis. Pesimis karena
kenyataannya tindak korupsi itu telah mencengkeram seluruh aspek
kehidupan. Tidak heran kalau pejabat pemerintahan korup, para imam,
pendeta korup, bahkan benteng keadilan seperti pengadilanpun justru menjadi
sarang korupsi. Memang banyak upaya pemberantasan korupsi dilakukan
tetapi kasus-kasus korupsi itu hilang begitu saja bagai ditelan angin lalu.
Akibatnya, ketika gagasan-gagasan untuk mengatasi korupsi tidak mendapat
respon yang positif. Kepesimisan ini menghantar pada sikap acuh, masa
bodoh, cuek dan emangnya gue pikirin. Sikap pesimis ini tentu tidak
seharusnya dianggap negatif. Kita perla mencari upaya agar ada gerakan
Kekuasaan dan Korupsi 123
anti korupsi bersama. Gerakan yang membuat semua orang sadar bahwa
dampak dari tindak korupsi membuat kualitas hidup manusia rusak dan tidak
mencerminkan gambar dan rupa Allah.
Seorang nabi kampung yang prihatin atas tindak korupsi
Agaknya tindak korupsi tidak saja terjadi pada saat ini tetapi juga subur
dalam sejarah bangsa Israel seperti yang dapat dilihat pada 750-687 pada
masa nabi Mikha.
Mikha lahir di sebuah desa kecil Moresyet-Gat. Tumbuh dari lingkungan
pertanian di bagian selatan Yehuda atau sekitar 40 kilometer dari kota
Yerusalem. Karena Mikha berasal dari lingkungan desa petani maka, bisa
dimaklumi bila pesan-pesannya selalu cenderung membela petani. Jika Mikha
dari desa berbeda dengan Yesaya, teman sepelayanannya bertugas di kota
Yerusalem. Namun walaupun mereka terpisah, mereka dapat bekerjasama
sehingga Mikha dan Yesaya sangat berperan dalam membawa kebangunan
rohani dan pembaruan dibawah pemerintahan Raja Hizkia yang saleh.
Saudara-saudara, agaknya Mikha dan masyarakat tempat Mikha hidup
memiliki pengalaman memprihatinkan dalam tindak korupsi. Pada masa itu
para pemimpin baik negara maupun agama melakukan tindak korupsi. Lebih
parah lagi untuk menutupi tindakannya itu mereka berlindung dibalik
keyakinan bahwa, Allah ada ditengah mereka dan akan menolong mereka
keluar dari krisis yang terjadi.
Mikha menyuarakan suara kenabiannya dalam masa pemerintahan tiga
raja Yehuda atau Israel Selatan yaitu: Yotam (751-736 SM), Ahas (736-716)
dan Hizkia (716-687). Walaupun suara kenabian Mikha diutarakan pada jaman
Hizkia tetapi isinya mencerminkan keadaan Yehuda dalam pemerintahan
Yotam dan Ahaz sebelum ada pembaharuan religius dibawah pemerintahan
Hizkia. Yang menarik dari Mikha adalah walaupun dia seorang nabi dari
kampung tetapi berani mengutuk para pemimpin Yehuda yang korup, nabinabi
palsu, imam-imam fasik, pedagang-pedagang yang tidak jujur dan
124 Kekuasaan dan Korupsi
Hakim-hakim yang kena suap. Ia berkotbah menentang dosa-dosa
ketidakadilan, penindasan para petani dan penduduk desa, keserakahan,
kekikiran, kebejatan dan penyembahan berhala dan mengingatkan akan
dampak yang berat jika umat dan pemimpinnya terus bersikeras melakukan
kejahatan. Lebih jauh ia meramalkan kejatuhan Israel Utara dan ibukotanya
Samaria (Mi 1:6-7) dan juga Israel Selatan atau Yehuda dengan ibukotanya
Yerusalem.
Saudara-saudara dibalik kutukan Mikha ada satu hal yang menarik
yaitu: Mikha melihat ke masa depan. Mikha meyakini bahwa, Allah memiliki
rencana abadi bagi umatNya. Rencana abadi itu bukan penghukuman tetapi
penyelamatan. Inilah yang menarik dan kita perlu belajar dari Mikha bahwa
dengan ucapan-ucapan kritisnya jangan diartikan Mikha membenci bangsanya
tetapi sebaliknya dia merindukan agar bangsanya sejahtera seperti ketika Israel
belum terpecah dua. Tetapi rencana abadi Allah itu bagi Mikha harus
diwujudkan oleh umat dalam “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup
dengan rendah hati dihadapan Allahmu” (Mi 6:8).
Imamat Am
Saudara-saudara kekasih, tiap orang kristen memahami bahwa, dalam
dirinya memiliki tugas sebagai imam. Imam yang memimpin dirinya sendiri,
pengelolaan diri sendiri sekaligus mengelola kehidupan bersama. Pemimpin
hidupnya sebagai wujud tanggungjawab atas anugerah ciptaan yang diberikan
Allah kepadanya. Memimpin disini tidak dimengerti sebagai hanya memimpin
diri sendiri tetapi sekaligus menjadi pemimpin bagi keberlangsungan
kehidupan bersama. Sebagai pemilik tugas yang demikian maka, seharusnya
kita mengetahui apakah yang seharusnya dilakukan. Karena itu jika ada
kepincangan, ada ketidakharmonisan hidup, ada ketidakadilan kita harus
berani memperbaiki, menegur dan mencari jalan keluar.
Dalam kehidupan bersama kini, kita memiliki satu permasalahan yang
berdampak pada semakin besar jurang ketidak-adilan. Penyebabnya adalah
korupsi. Sebagian masyarakat menilai bahwa korupsi di Indonesia terus terjadi
karena korupsi sudah menjadi budaya bangsa. Namun penilaian itu ditolak
karena walaupun banyak terjadi tindak korupsi tetapi tidak setiap orang
Kekuasaan dan Korupsi 125
melakukan korupsi. Apapun pandangan yang dimiliki masyarakat tentang
korupsi satu hal jelas yaitu tindak korupsi memang terjadi terus menerus
dalam skala masif.
Beberapa kali bangsa Indonesia berganti pemimpin tetapi dari
pemimpin yang satu ke pemimpin berikutnya tetap di sana sini terjadi korupsi.
Akibatnya adalah banyak orang semakin menjadi pesimis dan acuh karena
melihat korupsi sepertinya menjadi hal yang lumrah. Tetapi akankah korupsi
dibiarkan? Cukupkah korupsi dihadapi dengan sikap pesimis dan acuh? Dan
bagaimanakah keacuhan kita jika diperhadapkan dengan tugas imamat am
orang percaya?
Saudara-saudara pesimis dan berhenti pada sikap acuh tentu tidak
menyelesaikan apapun sebab korupsi terus terjadi dan dampaknya terus melaju
menghancurkan keutuhan ciptaan. Kalau jelas kita mengetahui ada
ketidakadilan mengapa diam dan acuh? Bukankah itu sebuah kehancuran,
hanya orang yang penuh kebencianlah yang sanggup menghancurkan. Kalau
begitu bisakah kita menjawab pertanyaan: apakah orang yang pesimis dan
tak acuh sama dengan orang yang penuh kebencian?
Saudara-saudara, posisi sebaliknya adalah rindu. Merindukan agar
korupsi dapat dihilangkan tentu kita akan memikirkan, mengupayakan agar
kerinduan kita terbalas. Korupsi tidak akan hilang dengan sim salabim, dengan
diam tapi sama seperti lika-liku tindak orang dalam melakukan tindak korupsi
maka, pemberantasan korupsipun harus dengan pelbagai cara. Artinya banyak
cara bisa dilakukan untuk memberantas korupsi. Seiring dengan dinamika
masyarakat maka, kita harus mencari dan tidak tinggal diam apalagi tenggelam
pada rasa pesimis, kecewa dan acuh.
Saudara-saudara, kita juga punya kerinduan untuk menjawab tantangan
apakah yang bisa dilakukan untuk memberantas korupsi? Mikha punya kerinduan
agar bangsa Israel dimasa yang akan datang tidak memiliki pemimpin yang korup
walaupun dia dari kampung agraris yang kurang diperhitungkan tetapi dia berani
bicara namun tidak asal bicara, wibawa Allah dipakainya untuk mengingatkan
bangsanya. Mikha terus menerus melakukan itu dari satu pemimpin sampai
berganti kepemimpin lainnya dia terus berusaha. Kerinduannya agar bangsanya
126 Kekuasaan dan Korupsi
dimasa yang akan datang lebih baik membuatnya terus menyampaikan teguran.
Mungkin dijamannya Mikha dianggap tidak waras tetapi dia tidak peduli. Dalam
pikirannya selalu mencari cara untuk mengingatkan bangsanya bahwa, Allah
akan memperhitungkan semauanya tetapi perhirtungan Allah adalah membangun
kearah yang lebih baik.
Saudara-saudara, bisa menilai diri apakah saya termasuk orang yang
membenci atau merindukan bangsa ini menjadi lebih baik? Jika kebencian
yang kita miliki maka, ketika ada tindak korup, diam dan acuh saja itu cukup
dan orang lainpun tidak peduli. Tetapi jika merindukan bangsa ini menjadi
lebih baik, pikirkanlah bagaimana memberantasnya. Saudara dan saya adalah
imam atas diri dan bangsa ini, karena itu jangan ragu meniadakan tindak
korupsi.
* Warga Gereja Kristen Jawa.
Kekayaan dan Korupsi 127
KEKAYAAN
DAN KORUPSI
BAGIAN
IV
128 Kekayaan dan Korupsi
Kekayaan dan Korupsi 129
S a t u
YESUS BUKAN KORUPTOR!
Lukas 4:1-13
(Aloys Budi Purnomo, Pr)*
Yesus pasti bukan seorang koruptor! Dia adalah seorang yang telah
mampu mengalahkan godaan dan pencobaan, bahkan di saat-sat Ia sendiri
membutuhkannya. Namun, hati-Nya jernih oleh daya kuasa Roh Kudus yang
membimbing-Nya. Kendati godaan bertubi-tubi dialami-Nya, namun godaan
itu ditangkis-Nya. Iblis penggonda pun dibentak dan dienyahkan-Nya!
Kisah Pencobaan
Dalam Injil Lukas 4:1-13 (dan paralelnya) kita berjumpa dengan Yesus
yang menghadapi dan mengalahkan pencobaan. Sebelum Yesus memulai
karya dan pengajaran-Nya, Ia dibimbing oleh Roh Kudus ke padang gurun
Yudea untuk persiapan selama empat puluh hari. Padang gurun Palestina
bukanlah gurun Sahara. Bagian sekitar Laut Mati memang tandus dan kering,
namun kebanyakan padang gurun Palestina semi tandus, masih ada beberapa
tetumbuhan, terutama pada musim dingin. Pada gurun tersebut menjadi
tempat yang berbahaya karena banyak dihuni oleh binatang buas dan para
penyamun. Bahkan dalam cara pandang dan pemikiran teologis-biblis, padang
gurun dianggap sebagai tempat persembunyian iblis (bdk. Yes 13:21; 34:14).
Oleh karenanya, wajar bahwa dalam masa-masa puasa yang dijalankan oleh
Yesus di padang gurun tersebut, Ia berjumpa dengan iblis yang kemudian
mencobai-Nya dengan berbagai iming-iming kekuasaan, kekayaan dan
kesejahteraan.
Pencobaan yang dialami Yesus juga khas dialami oleh para pengikut-
Nya! Yesus digoda untuk mengubah batu menjadi roti. Ia ditantang untuk
bersujud kepada setan demi kekuasaan dan kekayaan. Godaan-godaan itu
130 Kekayaan dan Korupsi
bahkan bersifat halus penuh bujuk rayu dan janji, namun ujung-ujungnya
membuat Yesus akan bertindak melawan kehendak Allah. Oleh karena itu,
Yesus tegas dan menolak setiap godaan yang diajukan kepada-Nya. Dalam
cara pandang Yesus, bujuk rayu dan janji iblis adalah dusta yang harus dilawan
dan tidak boleh dipercaya!
Yesus menjawab setiap pencobaan yang dialami-Nya dengan
menggunakan dan mengandalkan Sabda Allah. Karena itu, iblis pun mencoba
menggunakan kutipan Sabda Allah untuk membujuk rayu Yesus agar terjerat
oleh pencobaan yang ditawarkannya. Namun dengan cekatan dan penuh
kepercayaan diri, Yesus menyingkirkan tantangan yang akan menyeret-Nya
ke dalam ketidaksetiaan kepada kehendak Allah. Begitulah, dalam kisah
pencobaan Yesus mampu memukul mundur kekuataan iblis dan membuat
Yesus tetap bertahan dalam kesetiaan kepada kehendak Allah!
Yesus Bukan Koruptor
Dapat dikatakan, Yesus bukanlah seorang koruptor! Bahkan ketika
segala iming-iming, bujuk rayu, dan janji palsu disodorkan kepada-Nya, Ia
tidak mudah tergoda untuk serta-merta mengikuti godaan itu. Sikap ini
mestinya menjadi pola para penguasa dan elite politik, terutama mereka yang
mengimani Yesus, untuk melakukan tindakan dan sikap yang sama ketika
berada dalam iming-iming, bujuk rayu, dan janji palsu yang berakar pada
sikap korup!
Yesus bukan koruptor, karena tidak dapat dijebak oleh godaan, seindah
apapun tawaran godaan itu diberikan! Ia tidak dapat mengingkari hati nurani-
Nya yang jernih, bersih, dan suci yang telah dipersembahkan kepada Allah.
Tekad untuk melaksanakan kehendak Allah dengan menghadirkan kasih-Nya
dalam kehidupan membuat-Nya tidak mudah terjebak dalam iming-iming
sesaat.
Sikap ini yang telah sejak awal menjadi pilihan Yesus! Bahkan, Ia
menempuh jalan hidup miskin, agar dapat memberikan kemerdekaan sejati
kepada rakyat yang dibela dalam perjuangan-Nya menghadirkan Kerajaan
Allah. Yesus sengaja mengambil jalan kemiskinan, bukan sebagai protes
Kekayaan dan Korupsi 131
negatif atau sekadar kesetiakawanan pasif dengan kaum miskin, tetapi sebagai
strategi aktif untuk menghadirkan solidaritas Allah kepada manusia dan
dengannya menegaskan makna horizontal tugas profetik-Nya.
Perutusan profetik-Nya adalah perutusan dari, oleh, dan untuk kaum
miskin. Karena itu, Yesus tidak tertarik ideologi sempit gerakan politik
Zelotisme. Dia juga tidak berminat pada puritanisme kaum Esseni yang
sektarian atau spiritualitas egosentrik-puas diri kaum Farisi, apalagi semangat
hedonistik aristokratis kaum Saduki. Demi tugas perutusan profetik-Nya,
Yesus menghidupi tradisi asketisme profetik yang ditampilkan Yohanes
Pembaptis dan mengembangkan solidaritas-liberatif, membela kaum miskin
dan tertindas.
Jalan Asketik
Gerakan-gerakan itu (Zelotis, Esseni, Farisi, Saduki) rawan dengan
bahaya kolusi, korupsi dan nepotisme. Karenanya, Yesus memilih jalan kaum
anawim untuk menunjukkan bahwa kekuasaan, kekuasaan dan kesejahteraan
yang diwarnai oleh virus korupsi harus dilawan dengan keteguhan sikap dan
komitmen yang kuat. Itulah sebabnya, Yesus menempuh jalan asketik!
Jalan asketik ditempuh Yesus untuk menunjukkan otentisitas dan
kredibilitas karya-Nya yang bebas dari praktik KKN! Yesus tidak mau dijebak
oleh lingkaran godaan yang penuh warna KKN! Korupsi, kolusi dan
nepotisme merupakan buah-buah karya iblis yang amat menggurita dalam
kehidupan kita bersama. Ia bisa masuk dan menggerogoti siapa pun yang
lengah dan tidak waspada.
Sama seperti Yesus, salah satu cara agar kita dapat membebaskan diri
dari penggerogotan virus KKN, perlulah kita menempuh jalan asketik!
Kekuatan jalan asketik adalah, membuat hati nurani kita menjadi lebih jernih,
jiwa kita lebih hening, budi kita lebih bening dalam menghadapi berbagai
tawaran yang bersifat koruptik!
Memang, jalan ini tidak popular di tengah arus globalisasi, hedonisme,
sikap konsumeristik dan materialistik yang bisa menjangkau siapapun!
132 Kekayaan dan Korupsi
Namun, justru dengan menempuh jalan asketik, berpuasa empat puluh hari
empat puluh malam, Yesus mampu menghadapi dan mengalahkan godaan
yang datang secara bertubi-tubi kepada-Nya!
Mungkin tidak banyak dipikirkan orang, bahwa jalan asketik
sesungguhnya efektif untuk melawan sikap korup dari dalam diri yang
bersangkutan. Pengalaman menunjukkan bahwa kerap kali jalan asketik
membuat kita dapat menarik diri dari ketegangan-ketegangan dan tekanantekanan
nyata agar kita sampai pada keputusan-keputusan yang seimbang,
tidak mudah dihanyutkan oleh kelekatan-kelekatan, kelengketan-kelengketan,
iming-iming yang ujung-ujung menjerumuskan kita pada lingkaran setan
korupsi.
Sebagaimana Yesus memerlukan pengalaman padang gurun, demikian
pun dengan para pengikut-Nya, terutama mereka yang memperoleh
kesempatan dan kepercayaan untuk mengelola lembaga-lembaga publik demi
mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Sesungguhnya, hidup kita merupakan
hidup yang terus-menerus harus menjatuhkan pilihan. Agar keputusan kita
untuk memilih tidak sesat dan keliru, dibutuhkan cara askese tertentu! Yesus
memberikan contoh yang baik. Dan jalan asketik yang ditempuh-Nya cukup
efektif untuk mengalahkan berbagai bentuk pencobaan yang dialami-Nya!
Hidup Sederhana
Pengalaman asketik yang ditempuh oleh Yesus memberikan kepada
kita gambaran yang jelas mengenai cara hidup sederhana. Kisah padang gurun
yang dialami Yesus memang menjadi tanda peralihan dari hidup-Nya yang
tersembunyi ke hidup pelayanan publik! Peralihan itu telah memberikan
kekuatan luar biasa kepada-Nya untuk tidak terjebak dalam berbagai tindakan
korup saat berada karya dalam pelayanan publik! Di hadapan berbagai pilihan
yang membentang di hadapan-Nya, Ia tetap mampu mengedepankan cara
hidup sederhana!
Pengalaman padang gurun telah memampukan-Nya untuk menemukan
kejelasan dan keteguhan batin yang memberi ciri khas pada seluruh hidup
dan karya-Nya. Ia telah menemukannya dalam keheningan padang gurun,
Kekayaan dan Korupsi 133
dalam perjuangan pahit melawan godaan untuk sejalan dengan impian-impian
hidup yang selaras dengan kehendak Allah. Pergulatan batin yang luar biasa
pada saat mengalami godaan telah membuat-Nya memiliki keteguhan hati
untuk tidak mudah tergoda oleh cara hidup hedonis, kelas bersenang-senang
aristokratik, dan melawan segala kecenderungan materialistik.
Perjalanan Yesus dalam pengalaman asketik di padang gurun mestinya
memberi inspirasi kepada kita semua dalam melawan korupsi. Pengalaman
asketik memberikan kepada kita kekuatan untuk senantiasa memperhatikan
ajakan Allah untuk menghayati hidup dalam kejujuran dan tanggungjawab
kepada sesama. Bahkan pengalaman padang gurun Yesus telah mampu
mengubah para pemungut pajak yang terkenal paling korup pada zaman-
Nya untuk membangun pertobatan dan menempuh kehidupan baru yang lebih
searah dengan kehendak Allah.
Orientasi dan Pilihan Dasar
Masih ada kesempatan bagi para koruptor, terutama yang beragama
Kristiani, entah Katolik maupun Protestan untuk kembali sadar dan menjadi
pengalaman padang gurun Yesus sebagai inspirasi untuk memulai kehidupan
baru! Mereka diundang untuk kembali ke situasi hidup baru yang lebih penuh
kasih, perhatian dan keadilan!
Melawan korupsi sesungguhnya merupakan upaya yang harus dimulai
dari dalam diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk mengembangkan budaya
alternatif sebagaimana dikembangkan oleh Yesus sendiri melalui pengalaman
padang gurun-Nya. Kemampuan Yesus menangkal tiga godaan yang bertubitubi
dihadapi-Nya dilandaskan pada pilihan dasar (optio fundamentalis) dan
orientasi dasar untuk tetap setia pada orientasi dasar untuk tetap memilih
kehendak Allah dari pada kehendak-Nya sendiri, apalagi kehendak roh jahat!
Korupsi adalah manifestasi kehendak roh jahat!
Orientasi dasar yang dapat dikembangkan untuk melawan korupsi
berdasarkan pada pengalaman pada gurun Yesus sekarang ini dapat
diwujudkan melalui berbagai pelayanan kreatif yang bisa diperjuangkan oleh
siapapun, terutama mereka yang dipercaya untuk menjadi pemimpin.
134 Kekayaan dan Korupsi
Pelayanan kreatif menepis segala bentuk sikap dasar materialistik yang
menyembah uang dan hasil, meretas egoisme berwajah kekuasaan dan
kesombongan. Itu juga yang menjadi cara untuk melawan godaan-godaan.
Antitese terhadap godaan adalah dengan membangun pengharapan
sejati, kesediaan untuk menerima orang lain dengan rendah hati, dan berbagi
tanggungjawab dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Pengelolaan
harta benda pun lantas menjadi manifestasi perwujudan keadilan dan
kesejahteraan.
Bersama Yesus yang mampu mengatasi godaan di padang gurun, kita
ditantang untuk membangun orientasi dasar, mengembangkan pilihan-pilihan
dasar yang konkret demi melawan korupsi! Semoga kita diberi kerendahan
hati dan kemampuan untuk melawan korupsi dengan membangun budaya
alternatif dalam pengharapan sejati!
* Rohaniwan, Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera Yang Membebaskan, Semarang.
Kekayaan dan Korupsi 135
D u a
CELAKALAH KAMU
HAI PARA PEMIMPIN YANG KORUP!
Matius 23:1-36
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM)*
Umat Tuhan yang berbahagia,
Peribahasa Cina mengatakan, bahwa ikan itu busuk mulai dari
kepalanya. Peribahasa ini hendak mengatakan, bahwa kebusukan dan
pembusukan dalam masyarakat itu dimulai oleh dan dari para pemimpinnya.
Kalau seorang pemimpin, apakah kepala keluarga (ayah atau ibu) yang
menyeleweng, ketua RT, kepala desa, kepala bagian dari suatu kantor, atau
presiden yang korup, maka itu adalah tanda-tanda mulainya proses
pembusukan dalam masyarakat. Kalau para pemimpinnya korup maka
masyarakat juga akan menjadi masyarakat yang korup. Sebab itu tugas dan
tanggungjawab seorang pemimpin tidaklah sekedar memimpin, melainkan
memberi teladan yang baik bagi masyarakatnya.
Itulah sebabnya Yesus dengan pedas mengecam para pemimpin agama
Yahudi, dalam hal ini para ahli Taurat dan orang Farisi, dan menyebut mereka
itu dengan berbagai sebutan, seperti munafik, ular beludak, orang buta, dll.
Pada Matius 23:25-26 Yesus mengecam kemunafikan para pemimpin agama
Yahudi karena mereka itu hanya kelihatan baik dan bersih dari luarnya, tetapi
sebenarnya penuh kebusukan dalam hatinya. Di sini Yesus menganalogkan
para pemimpin agama yang munafik itu seperti cawan dan pinggan, yang
tampak bersih dari luar tetapi sebenarnya di dalamnya sangat kotor.Yesus
mengecam para ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu karena mereka berusaha
menjadi orang populer, orang penting, dan dihormati dalam masyarakat
melalui ajaran-ajaran mereka, sementara mereka sendiri tidak melakukan
apa yang mereka ajarkan. Namun justru ajaran-ajaran itulah yang merintangi
orang untuk datang kepada Tuhan. Mereka “menutup kerajaan surga di depan
136 Kekayaan dan Korupsi
orang” (Mat 23:13); mereka “menelan rumah janda-janda dan mengelabui
orang-orang dengan doa yang panjang-panjang” (Mat 23:14); mereka
mengarungi lautan untuk mencari pengikut, namun kemudian mereka malah
menjadikan orang-orang itu tersesat (Mat 23:15); Yesus mengatakan, bahwa
mereka itu adalah para pemimpin yang buta, karena sumpah yang diucapkan
demi Bait Suci sebenarnya adalah demi emas Bait suci (Mat 23:16); mereka
bersumpah demi mezbah, tetapi yang sebenarnya mereka bersumpah demi
persembahan yang ada di atas mezbah itu (Mat 23:18); mereka itu adalah
para pemimpin yang munafik, karena lebih mementingkan persembahan, baik
persepuluhan maupun adas manis dan jintan, namun keadilan, belas kasihan
dan kesetiaan mereka abaikan (Mat 23:23). Kecaman yang sungguh-sungguh
pedas itu disampaikanYesus kepada para pemimpin agama Yahudi, karena
Yesus sangat menyadari betapa berbahayanya hal itu bagi kehidupan
masyarakat ketika para pemimpin sudah menjadi orang yang hanya mengejar
kekayaan dan kehormatan diri.
Pemimpin yang munafik seperti yang disebutkan Yesus di atas itu
sungguh banyak kita jumpai dalam masyarakat. Mereka menganjurkan
masyarakat untuk hidup sederhana dan hemat, sementara mereka sendiri
bergelimang kemewahan. Mereka menganjurkan untuk berkorban demi
kepentingan umum, sementara mereka sendiri justru tidak mengorbankan
apa-apa. Mereka menganjurkan masyarakat untuk disiplin dan taat hukum,
sementara mereka sendiri melanggar hukum, mereka menganjurkan agar
masyarakat hemat BBM dan hemat listrik, sementara para pemimpin sendiri
tidak pernah melakukannya.
Itu sebabnya masyarakat kita sekarang ini kehilangan kepercayaan
kepada para pemimpinnya. Hal ini terjadi ketika tindakan korupsi sudah
menggurita, mulai dari atas sampai ke bawah, merambat sampai pada hampir
semua kalangan, termasuk para agamawan. Lihat saja kasus Departemen
Agama RI, misalnya. Kalau menterinya saja sudah korup, lain di mulut lain
di tindakan, maka proses pembusukan di lingkungan lembaga yang ia pimpin
sudah pasti terjadi. Ketika naskah khotbah ini ditulis, di halaman depan sebuah
koran terbitan Jakarta terpampang berita dengan judul “Chief Justice
interrogated by corruption commission” (Jakarta Post, Saturday, November,
19th, 2005). Memang, hari-hari ini media cetak dan elektronik di Tanah Air
Kekayaan dan Korupsi 137
sedang gencar memberitakan kasus suap yang menimpa lembaga tertinggi
negara RI, yaitu Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Sebelum menjadi pejabat, atau menduduki jabatan dan posisi tertentu,
sumpah dan janji-janji jabatan demi dan atas nama Tuhan diumbar. Namun
kemudian, sumpah jabatan yang diucapkan atas nama Tuhan hanyalah sekedar
gincu pemoles bibir, ketika niat sudah busuk dan kesempatan untuk korupsi
terbuka. Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan, bahwa sebenarnya
para pemimpin yang mengucapkan sumpah dan janji jabatan itu sebenarnya
telah menipu Tuhan. Ketika menjadi pemimpin maka kesempatan menjadi
sangat terbuka untuk melakukan kecurangan. Bukankah seorang pemimpin
adalah seorang penguasa, yang berkuasa untuk melakukan apa saja, termasuk
berbuat kecurangan dan ketidakadilan? Jadi sebenarnya yang paling
bertanggungjawab atas kemerosotan dan kebobrokan moral masyarakat,
adalah para pemimpinnya yang korup itu! Sebab itu adalah sungguh tidak
adil, ketika kemerosotan moral yang terjadi dalam masyarakat ditimpakan
kepada masyarakat, dengan tuduhan bahwa masyarakat sudah tidak lagi
menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Justru para pemimpin dan
penguasa itulah yang mulai melakukan pembusukan dan kebusukan.
Betapa sulit sekarang ini menemukan pemimpin yang benar-benar
mumpuni, yang jujur dan yang berjuang demi dan untuk kesejahteraan
masyarakat. Menjadi pemimpin tidak sekedar menjadi anutan dan model,
tetapi melayani dan memberikan yang terbaik untuk kesejahteraan masyarakat.
Dalam Matius 23:11 Yesus menegaskan, bahwa menjadi pemimpin dalam
masyarakat berarti menjadi pelayan yang memperjuangkan kepentingan
masyarakat, menegakkan keadilan dan kebenaran, memperjuangkan
kesejahteraan masyarakat. Kekuasaan bukanlah untuk kekuasaan, apalagi
untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan para kroni, melainkan untuk
melayani dan menyejahterakan masyarakat. Sebab itu, ketika seseorang
menjadi pemimpin, pergunakanlah itu sebagai kesempatan untuk berbuat
yang terbaik bagi masyarakat, dan Anda akan diingat dan dipuji oleh
masyarakat. Sebaliknya ketika Anda menjadi pemimpin yang munafik, buta,
dan hanya memikirkan diri sendiri, maka masyarakat pun akan mengingat
segala kebusukan Anda, dan menjadikan Anda sasaran sumpah serapah.
Seperti kata pepatah “harimau mati meninggalkan belang”.
138 Kekayaan dan Korupsi
Banyak orang, ketika menjadi pemimpin lalu mempraktikkan “aji
mumpung”, karena kesempatan hanya datang sekali. Lalu kesempatan yang
ada itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk memperkaya diri dan keluarga.
Kesempatan adalah adalah peluang untuk berbuat baik atau jahat, berbuat
“benar” atau “salah,” karena Anda dapat mengambil atau mengabaikannya.
Kesempatan adalah keluasan, karena ia membuka jalan-jalan baru. Di hadapan
Anda berjejer pintu-pintu kesempatan yang terbuka dan tak terhingga. Anda
hanya bisa memilih satu. Sekali Anda masuk maka Anda tidak akan mungkin
keluar lagi. Sebab itu putuskanlah yang terbaik. Seperti matahari yang terbit
sekali setiap pagi, begitu juga kesempatan tidak akan mengetuk pintu dua
kali. Bila pun ia datang lagi, ia akan hadir dalam wajah yang berbeda. Sebab
itu kesempatan terbaik yang Anda miliki, adalah hidup yang hanya sekali
ini. Pergunakanlah itu, bukan sebaik-baiknya tetapi yang terbaik-baiknya.
Pemimpin itu ibarat pohon yang tinggi. Ia dilihat dan dinilai oleh semua
orang. Ia juga ditiup oleh angin kepentingan kesana dan kemari. Sebab itu
salah satu sifat yang paling dituntut dari setiap pemimpin adalah kejujuran.
Bersiaplah selalu untuk menghadapi situasi yang menuntut kejujuran Anda.
Nasehat untuk berlaku jujur itu lebih mudah diucapkan dari pada dilakukan.
Bayangkan seseorang yang dalam keadaan “terjepit”, bila berkata jujur akan
kehilangan keuntungan yang telah ada dalam genggamannya. Sebaliknya,
bila ia mau sedikit berdusta, bukan hanya keuntungan yang diperolehnya
namun juga kebanggaan.
Kejujuran tidak berkaitan dengan untung – rugi. Kejujuran adalah
sebuah sikap yang tidak bisa dihitung dengan nilai uang. Kejujuran adalah
sebuah pilihan. Seseorang berdusta, karena ia memilih untuk berdusta. Namun
dusta tak mampu menipu diri sendiri. Hati nurani tidak bisa dibungkam. Ada
pepatah kuno yang tak pernah lekang bagaimanapun majunya perekonomian:
“kejujuran adalah mata uang yang laku di mana-mana”. Sebab itu, kemanapun
Anda pergi bawalah sekeping kejujuran dalam saku Anda. Itu melebihi
kekayaan apapun. Nah, jadilah pemimpin yang jujur. Amin.-
* Pendeta emiritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kekayaan dan Korupsi 139
T i g a
MENCARI MAKNA KEHIDUPAN SEJATI
Markus 10:17-23
(Pdt. DR. Daniel Nuhamara M.Th)*
Ada banyak kontradiksi dalam kehidupan bangsa kita. Pada satu sisi
kita bangga menjadi bangsa yang religius, namun pada sisi yang lain kita
juga dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling korup di dunia. Koruptor
bahkan tak merasa bersalah melakukan korupsi. Korupsi seolah-olah adalah
suatu kewajaran. Karena itu tidaklah mengherankan munculnya sinyalemen
bahwa korupsi telah membudaya di Indonesia. Sungguh memalukan dan juga
menyedihkan, karena pada saat korupsi membudaya, kemiskinan juga menjadi
salah satu ciri bangsa ini. Kontradiksi yang lain lagi, adalah, bagaimana
mungkin suatu negara dengan sumber daya alam yang kaya tetapi jutaan
warganya hidup dalam kemiskinan atau bahkan di bawah garis kemiskinan?
Tentu saja salah satu sebabnya adalah salah urus, dan korupsi adalah salah
satu penyebabnya. Korupsi memang merupakan masalah struktural yang
membutuhkan pendekatan struktural pula untuk mengatasinya. Salah satu
caranya adalah dengan membangun sistim yang memungkinkan pejabat sulit
melakukan korupsi. Lebih dari itu, perlu adanya suatu sistim hukum yang
tidak memberi peluang lolosnya pelaku korupsi dari jerat hukum untuk
membuat efek jera, tetapi sekaligus pembelajaran bagi orang lain untuk tak
melakukannya. Namun apa yang menyedihkan kita adalah kenyataan adanya
mafia peradilan. Jadi kalau lembaga penegak hukum saja telah dijangkiti
penyakit ini, masih adakah harapan bagi rakyat untuk tegaknya keadilan dalam
kaitan dengan korupsi?
Di samping upaya penegakkan hukum dan perubahan sistemik dan
struktural, perlu juga pendekatan lain, misalnya melalui usaha-usaha
penyadaran agar generasi berikut tak hanya menjadi kurban dari pengaruh
struktur dan lingkungan. Tanpa itu, maka kita bisa menjadi skeptis tentang
masa depan bangsa dan masyarakat ini. Di sinilah agama menjadi fungsional
140 Kekayaan dan Korupsi
agar tidak bersifat ideologis dalam arti menjadi alasan pembenaran dari sistim
dan tatanan masyarakat yang sedang berlangsung. Manusia memang
senantiasa dihadapkan pada pilihan apakah mau mengabdi Tuhan atau
mammon dengan segala konsekuensinya. Dan Tuhan Yesus memang
menantang manusia dan para pengikut-Nya untuk memilih di antara kedua
pilihan itu. Lebih dari itu Tuhan Yesus menantang manusia untuk mencari
makna kehidupan yang sejati. Bacaan kita dari Markus 10: 17-23 akan
menjadi dasar refleksi kita menghadapi situsi yang memprihatinkan dari
bangsa dan masyarakat kita tentang korupsi.
Dalam bacaan ini digambarkan tentang seorang kaya yang mempunyai
banyak uang. Mendengar bahwa Yesus sedang lewat dalam perjalanan, sang
orang kaya itu berlari mendapatkan Tuhan Yesus bahkan bersujud di hadapan-
Nya. Ia datang dengan suatu persoalan mendasar mengenai bagaimana caranya
memperoleh “hidup yang kekal”. Kedatangannya dengan berlari-lari serta sujud
di depan Yesus menunjukkan bahwa ia tidak saja serius, tetapi sungguh merasa
ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya kendati ia sangat kaya.
Manusia memang penuh misteri. Beberapa ahli mencoba menjelaskan
hakekat manusia, dan mencari apa yang menjadi motivasinya. Misalnya saja,
Freud mengatakan bahwa yang memotivasi tindakan manusia adalah “will
to pleasure,” sedang bagi Adler adalah “will to power,” dan bagi Victor Frankl
adalah “will to meaning.” Meskipun ada banyak hal yang memotivasi manusia
namun tak dapat disangkal “keinginan untuk mendapatkan makna hidup”
adalah salah satunya. Hal ini tampak jelas dalam diri si kaya tadi, yang
walaupun sudah kaya raya dan relatif hidup baik dalam arti tidak menyusahkan
orang lain, ia merasa ada suatu yang kurang dalam hidupnya. Dan ketika ia
memutuskan untuk datang menemui Yesus, ia sesungguhnya datang kepada
orang yang tepat, karena memang Yesus adalah Guru, yang mengajarkan
manusia tentang makna hidup yang sejati.
Yesus memang menanggapi keinginan orang kaya itu dengan serius.
Yesus melanjutkan responsnya terhadap si kaya itu dengan mengatakan “anda
kan sudah tahu perintah-perintah Tuhan seperti jangan membunuh, jangan
berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan seterusnya
dan seterusnya.” Tetapi dengan bangga ia mengatakan “Guru, semua itu telah
Kekayaan dan Korupsi 141
saya turuti sejak masa mudaku.” Tetapi mengapa ia masih merasa belum
cukup? Dan memang belum cukup, karena ketaatannya kepada hukum dan
perintah itu bersifat legalistis dan kehilangan “spirit” atau roh yang seharusnya
menjiwai ketaatannya itu. Dalam ajaran Konfusianisme kita mengenal
semacam golden rule yang mengatakan “apa yang kamu tak suka orang lain
perbuat kepadamu, janganlah hal itu kau perbuat kepada orang lain.” Tentu
saja prinsip ini sangat luhur bukan? Tetapi Yesus dalam ajarannya
menekankan lebih dari sekedar tak melakukan apa-apa yang kita tak suka
orang lain perbuat terhadap kita. Sebab hal ini bisa menjebak kita kepada
sikap yang egoistis, mengutamakan kepentingan diri kita sendiri. Itulah
sebabnya Yesus pernah mengatakan bahwa “sama seperti engkau suka orang
lain perbuat kepadamu, perbuatlah itu kepada orang lain.” Inilah kasih yang
aktif berbuat, dan bukan sekedar kasih yang pasif yakni tidak berbuat yang
merugikan orang lain. Di sinilah spirit atau roh dan jiwa dari perintah dan
hukum Allah. Kekristenan bukan terutama ketaatan legalistis terhadap
seperangkat hukum dan peraturan, namun tindakan yang merefleksikan kasih
yang aktif. Kita boleh juga menyebutnya praksis yang merefleksikan kasih
yang aktif. Hal inilah yang tak ada dalam diri si orang kaya tadi, dan karenanya
ia merasa kurang, dan Yesus juga mengatakan bahwa ia kurang satu hal.
Itulah sebabnya Yesus mengatakan secara terus terang tetapi juga dengan
belas kasih kepadanya, “hanya satu lagi kekuranganmu.”
Apakah yang kurang dalam diri orang tersebut? Yesus menunjukkan
apa yang kurang dalam diri orang itu. Yesus berkata kepadanya: “pergilah,
juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan
ikutlah Aku”. Kata-kata Tuhan Yesus ini sangat padat. Dengan menyuruh si
kaya itu menjual apa yang dimilikinya, dan memberikannya kepada orangorang
miskin, Yesus sesungguhnya bukan saja menguji orang kaya itu apakah
ia mempunyai kasih yang aktif, tetapi sekaligus menunjukkan kepadanya
satu hal yang kurang itu. Hal itu adalah kasih yang aktif berbuat, dan berbuat
bagi si miskin, dan bukan sebaliknya, mengambil hak dari orang-orang miskin.
Di sini Tuhan Yesus menghubungkan kasih yang aktif, yang ditunjukkan
dengan menolong orang-orang miskin, dengan harta di surga. Harta di surga
142 Kekayaan dan Korupsi
dapat berarti makna hidup yang sesungguhnya. Bilamana si kaya
mempraktekkan kasih, dengan aktif menolong orang-orang miskin dengan
harta kekayaannya, maka dengan cara itu ia akan menemukan dan
mendapatkan makna hidup yang sesungguhnya. Tuhan Yesus juga
menghubungkan tindakan menolong orang-orang miskin dengan hal mengikut
Dia. Mengikut Yesus dan berbakti serta bertaqwa kepadaNya tak dapat
dipisahkan dengan tindakan kasih khususnya kepada orang-orang miskin.
Tak mungkin seseorang mengklaim diri pengikut Yesus yang sejati kalau ia
mengabaikan dan tak mempunyai keprihatinan terhadap orang-orang yang
membutuhkan pertolongan dalam hal ini si miskin.
Apakah akhir dari kisah ini? Apakah si kaya menerima tantangan Yesus
dan karenanya mendapatkan apa yang ia cari? Ternyata ceritera itu berakhir
dengan menyedihkan. Dikatakan bahwa si kaya menjadi kecewa, lalu pergi
dengan sedih. Mengapa? Sepintas seolah-olah kita mendapat kesan bahwa
satu-satunya alasan adalah karena ia mempunyai banyak harta. Apakah
Kekristenan anti kekayaan? Ada kesan seperti itu. Hal itu diperkuat olah
kata-kata Yesus yang mengatakan “Alangkah sukarnya orang yang beruang
masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mrk 10:23b). Kekristenan tidak anti
kekayaan, dan bahwa orang kaya bisa juga masuk Kerajaan Allah. Yang
menentukan adalah sikap kita terhadap kekayaan, dan bagaimana kekayaan
dipakai dalam hidup ini. Kesalahan fatal dari si kaya adalah tidak
menggunakan kekayaannya untuk melakukan tindakan kasih yang aktif dalam
menolong mereka yang membutuhkannya. Ia telah menjadikan harta kekayaan
segala-galanya, menjadikannya tujuan akhir kehidupannya, bahkan lebih
penting dari kasihnya kepada Tuhan yang menjadi sumber dari kekayaannya.
Harta kekayaan bukan lagi sarana untuk hidup, dan hidup yang mengasihi
Tuhan melalui kasih kepada sesama yang miskin, tetapi telah dijadikan
“tuhan” tempat ia mengantungkan kehidupan dan makna hidupnya. Dan sikap
tamak akan harta serta egois seperti ini, maka seseorang tak dapat dan tak
mungkin menikmati suasana Kerajaan Allah yang intinya adalah kasih,
keadilan, perdamaian, keutuhan, dsbnya. Kerajaan Allah bukanlah tempat
ataupun wilayah melainkan suasana di mana Allah memerintah sebagai raja.
Kekayaan dan Korupsi 143
Apa hubungan antara bahagian Alkitab di atas dengan masalah korupsi?
Bukankah orang kaya itu tak digambarkan sebagai koruptor? Dia mengakui
bahwa ia tak mencuri. Lalu apakah kaitannya? Korupsi menurut Transparency
International adalah “ perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai
negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan
kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.” Jadi pengertian di atas
jelas bahwa inti persoalannya adalah sikap terhadap kekayaan dan cara
mendapatkannya dengan menyalahgunakan kekuasaan. Sedangkan ceritera
yang menjadi dasar renungan dan refleksi kita adalah juga tentang masalah
sikap terhadap kekayaan dan bagaimana menggunakannya. Dalam keduanya
ada satu persamaan mendasar: sikap tamak dan egois dalam menggunakan
harta kekayaan.
Masalah korupsi sudah menjadi masalah yang sistemik, namun sikap
orang yang salah terhadap harta kekayaan dapat juga menjadi akar dari
korupsi. Jadi walaupun orang mungkin saja sadar bahwa kekayaan bukanlah
segala-galanya dalam hidup, tetapi korupsi terus merajalela di mana-mana.
Mengapa keserakahan akan harta benda itu menjadi pandangan hidup yang
mempengaruhi perilaku manusia? Agama apapun tidak membenarkan
ketamakan. Namun sayangnya manusia lebih suka membangun pandangan
hidupnya bukan dari inspirasi agama saja, melainkan juga dari “jedah
komersial.” Bukankah commercial break di TV mempropagandakan
komsumerisme dan kehidupan yang serba mudah dan enak a la “Gold Living
in the Plaza?” Dan untuk gaya hidup seperti itu kita butuh uang yang tak
sedikit, yang tak mungkin didapat melalui upah yang wajar. Maka godaan
itu semakin menguat, dan ditambah lagi oleh sistim hukum yang tidak cukup
ampuh mencegah dan menghukum koruptor. Karena itu harus ada gerakan
nasional anti korupsi, dan agama harus dapat memainkan peranan dan fungsi
edukatifnya untuk memberi penyadaran, bahwa harta kekayaan bukanlah
segala-galanya. Apalagi apabila kekayaan didapatkan melalui jalan “korupsi.”
Sebab korupsi tidak saja merugikan keuangan negara, tetapi ujung-ujungnya
yang menjadi kurban paling parah adalah masyarakat, terutama mereka yang
miskin bahkan yang hidup di bawah garis kemiskinan.
144 Kekayaan dan Korupsi
Manusia adalah makhluk pencari makna, dan Yesus menunjukkan jalan
kepada makna hidup yang sejati. Mengikut Yesus dan memberi perhatian
kepada orang-orang miskin merupakan penemuan akan makna hidup yng
sejati. Mengikut Yesus berarti juga menjadikan harta kekayan bukan sebagai
tujuan hidup, melainkan sarana kehidupan. Bahkan kehidupan yang bermakna
adalah ketika kita menggunakan harta kita untuk mengasihi secara aktif orangorang
yang miskin.
Yesus menantang si kaya tadi untuk menggunakan harta kekayaannya
demi mengekspresikan kasihnya yang aktif dengan menolong orang-orang
miskin. Karena hanya dengan cara itu seseorang menemukan “makna hidup
yang sejati” dan dapat hidup dalam dan menghadirkan “suasana Kerajaan
Allah.” Sebaliknya koruptor hanya memperkaya diri sendiri dan mereka yang
dekat dengannya, dan mengambil apa yang menjadi hak si miskin dan
membuat si miskin semakin menderita. Koruptor menari-menari di atas
penderitaan sesama manusia terutama si miskin, dan cara hidup seperti ini
sama sekali bertolak belakang dengan jalan menuju kepada kebahagiaan. Si
kaya dalam perikop tadi pergi dengan sedih dan kecewa karena ia gagal
menemukan makna hidup yang sejati, dan menggangtungkan hidupnya pada
kekayaan dan bukan kepada Tuhan yang adalah sumber kekayaan dan berkat.
Rupanya manusia tidak belajar dari pengalaman orang lain. Kita
memang masih kecewa karena masih banyak koruptor yang hidup bebas dan
bersenang-senang dengan hasil korupsinya. Namun banyak juga fakta yang
memperlihatkan bahwa mereka yang memperoleh kekayaannya melalui cara
korupsi akan menuai kekecewaan dan kesedihan pada akhirnya, bukan saja
karena harus menanggung hukuman atas perbuatannya, tetapi lebih-lebih
karena ia kehilangan kesempatan menemukan makna hidupnya yang sejati.
Semoga ada gerakan nasional yang lebih serius untuk memerangi
korupsi di negeri tercinta ini. Sebab bukankah korupsi menjadi salah satu
sebab keterpurukan bangsa ini? A m i n.
* Dekan Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
Kekayaan dan Korupsi 145
E m p a t
KORUPSI:
“SESAT PIKIR” KEBAHAGIAAN HIDUP
DAN KESELAMATAN JIWA
Lukas 12:13-21
(Rm. Silvester Nusa, CSsR)*
Ada seorang kaya yang bermimpi bahwa dia mati dan masuk surga.
Santo Petrus mendampingi dia melewati sebuah jalan yang mulus, di situ
dilihatnya bahwa tiap rumah sungguh megah. Orang kaya itu melihat sebuah
rumah dan menanyakan siapa yang tinggal di situ.Santo Petrus menjawab,
“Itu rumah tinggal mandur Anda”. Sambil tersenyum, orang kaya itu
mengatakan, “Jika mandur saya saja dapat mempunyai kediaman surgawi
seperti itu, saya dapat membayangkan bagaimana rupa dan bentuk rumah
saya kelak”.
Segera sesudah itu mereka tiba pada suatu jalan yang sangat sempit
dan rumah-rumah di situ sangat kecil dan tidak berarti. Sambil mengacungkan
jari ke arah salah satu rumah kecil itu, Santo Petrus berkata, “Engkau akan
tinggal di gubuk itu”. Orang kaya itu bereaksi dan berkata, “Saya, tinggal di
gubuk itu!” Santo Petrus menjelaskan, “Inilah yang terbaik untuk Anda.
Engkau harus mengerti bahwa kami hanya membangun rumah di sini dengan
bahan-bahan yang Anda kirim lebih dahulu ke sini sementara Anda masih
berada di bumi”.
Kecenderungan dasariah setiap manusia adalah ingin hidup bahagia,
nyaman dan nikmat. Harta kekayaan dalam wujud apa pun dialami dan
diyakini sebagai sarana untuk memenuhi kecenderungan itu. Kaya secara
material itulah yang dirindukan, dicita-citakan setiap manusia. Itulah yang
mendorong manusia untuk mencari, mengejar, dan berjuang mati-matian
untuk mendapatkan harta kekayaan. Kecenderungan untuk mengumpulkan
146 Kekayaan dan Korupsi
harta kekayaan demi kenikmatan hidup memang tidak salah, karena memang
sangat penting hidup dan sejauh diperoleh dengan cara-cara yang benar dan
jujur. Namun, dalam kenyataan justru harta kekayaan tidak hanya menjadi
penting untuk hidup tetapi menjadi tujuan. Prinsip yang dipakai adalah tujuan
menghalalkan cara, termasuk korupsi.
Korupsi tentu memiliki motivasi dan pemahaman tertentu yang kuat
dalam hati dan pikiran manusia. Korupsi adalah jalan pintas yang ditempuh
untuk memperoleh segala-segalanya yang dibutuhkan untuk kenikmatan dan
kebahagiaan hidup. Sebagian orang sungguh yakin bahwa tidak ada jalan,
cara dan sarana lain yang membuat hidup ini terasa nikmat, menyenangkan
dan membahagiakan kecuali harta kekayaan. Dengan memiliki uang dalam
jumlah yang besar, orang bisa membeli dan menikmati apa yang saja yang
diinginkannya. Dengan harta kekayaannya berlimpah, orang bisa menguasai
siapa saja. Dengan harta dan kuasa yang ia miliki, orang dapat membuat
dirinya untuk dihormati oleh siapa saja. Harta kekayaan dan uang adalah
sarana menuju hidup bahagia. Inilah “sesat pikir” manusia yang mencitacitakan
kebahagiaan hidup dan keselamatan jiwa. Mengapa “sesat pikir?”
Karena manusia (kita) menghayati gagasan yang keliru atau keyakinan yang
salah akan kebahagiaan hidup dan keselamatan jiwa. Apakah benar bahwa
kebahagiaan hidup, ketenangan batin dan keselamatan jiwa yang merupakan
kebutuhan eksistensial manusia ditentukan oleh harta kekayaan?
Tuhan Yesus, melalui perumpamaan tentang “Orang Kaya Yang Bodoh”
memperlihatkan sesat pikir manusia dalam soal kebahagiaan hidup dan
keselamatan jiwa. Orang kaya yang bodoh sama artinya dengan orang kaya
yang sesat pikir. Orang kaya sebelum menyandang gelar orang kaya tentu ia
bekerja keras untuk mengumpulkan harta kekayaan. Motivasinya jelas bahwa
dengan harta kekayaan yang berlimpah ia akan memperoleh kebahagiaan
hidup dan keselamatan jiwa. “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun
untuk bertahun-tahun lamanya, beristirahatlah, makanlah, minumlah dan
bersenang-senanglah!” Inilah sesat pikir orang yang ingin hidup bahagia
dan jiwa selamat. Ia berpikir bahwa hidupnya akan bahagia dan jiwanya akan
selamat bila berada di tengah timbunan barang atau harta. Apakah pikiran
orang kaya yang seperti itu dan penimbunan kekayaan untuk dirinya sendiri
Kekayaan dan Korupsi 147
tanpa peduli dengan orang lain berkenan di hati Tuhan? Tentu tidak!
Berhadapan dengan manusia yang sesat pikir seperti itu, Tuhan berfirman:
“Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari
padamu, dan apa yang kau sediakan, untuk siapakah itu nanti?” Mengapa
orang kaya dicap bodoh? Pertama, karena ia tidak tahu dan tidak menyadari
bahwa Tuhan adalah pencipta dan pemilik segalanya; Tuhan berhak atas
jiwanya dan dapat mengambil jiwanya kapan saja Ia kehendaki. Kedua, karena
ia tidak tahu bahwa harta kekayaan, barang-barang duniawi sama sekali
tidak menentukan keselamatan dan kebahagiaan jiwa. Bahkan ia mengira
bahwa jiwa sama saja dengan tubuh yang membutuhkan makan-minum,
istirahat dan bersenang-senang. Sungguh menyedihkan!
Kalau jiwa bahagia dan selamat karena Tuhan, apa yang harus kita
lakukan? Akhir dari perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh adalah
bahwa orang yang mengumpulkan harta kekayaan, yang bangga atas
kekayaannya dan merasa berkuasa atas jiwanya mendapat gelar baru sebagai
‘orang bodoh’, jiwanya diambil darinya, harta kekayaan yang ia sediakan/
kumpulkan diperuntukkan orang lain. Tuhan Yesus berkata: “Demikianlah
jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau
ia tidak kaya di hadapan Allah”. Korupsi adalah salah satu cara
mengumpulkan harta bagi diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan
orang lain. Korupsi yang dilakukan oleh segelintir orang telah menimbulkan
kerugian besar bagi negara dan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang.
Apakah harta kekayaan hasil korupsi sungguh dialami sebagai yang
membahagiakan hidup dan menenteramkan batin para koruptor? Ingatlah,
harta kekayaan berguna ketika kita masih hidup dan untuk hidup.
Keselamatan jiwa sebagaimana yang dirindukan setiap manusia tidak
memiliki hubungan sebab-akibat dengan harta kekayaan. Tuhan Yesus
bersabda: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia
membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk 9:25). Bagi Tuhan
Yesus keselamatan jiwa, jauh lebih penting dari tubuh. Hidup abadi jauh
lebih penting dari hidup di dunia dengan segala kenikmatannya. Maka, Tuhan
Yesus mengingatkan: “…..walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya,
hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu”.
148 Kekayaan dan Korupsi
Bila demikian halnya, mengapa korupsi justru semakin marak dan terasa
sulit untuk diberantas? Itulah ketamakan manusia. Manusia ingin memiliki
harta sebanyak-banyaknya. Ketamakan itulah yang menyeret manusia ke
dalam perbuatan dosa, yakni menggunakan cara-cara dan sarana jahat untuk
memenuhi keinginannya. Ingatlah, dosa mendatangkan penderitaan dan
kebinasaan. Perbuatan dosa seperti tindakan korupsi memang sungguh
mendatangkan kesenangan dan kenikmatan hidup. Namun, pada waktunya
perbuatan jahat akan membinasakan jiwa dan merugikan dirinya. Kita
diciptakan oleh Tuhan untuk dicintai dan diselamatkan.
Semua agama dan kepercayaan di negeri tercinta ini tidak membenarkan
korupsi. Manusia Indonesia hampir semuanya beragama dan berkepercayaan.
Bangsa kita oleh kita sendiri dijuluki sebagai bangsa religius. Status sebagai
bangsa religius ternyata tidak lebih dari sebuah ‘status kosong’ ketika negara
kita menyandang status sebagai negara paling korup di dunia. Apa yang kita
lakukan untuk menyelamatkan bangsa kita? Pertama-tama kita dengan
sungguh berpaling kepada Tuhan, menghayati pertobatan pribadi serta mohon
terus kepada Tuhan agar kita diberikan kekuatan untuk mampu berjaga-jaga
dan waspada untuk terhadap segala ketamakan. Kita perlu terus bertanya
mengenai tujuan hidup yang sebenarnya dalam terang iman. Di sinilah peran
agama untuk menuntun manusia menuju tujuan hidup yang sebenarnya.
Dengan demikian kita tidak lagi menjadi manusia-manusia yang ‘sesat pikir’
dalam penentuan tujuan hidup dan cara mencapai tujuan hidup kita. Tuhan
Yesus telah menunjukkan tujuan hidup kita dan bagaimana kita sampai pada
tujuan itu. Bila kita ingin bahagia, maka bukan dengan mengumpulkan harta
dan menomorsatukan harta. Tuhan Yesus berkata: “… yang berbahagia ialah
mereka yang mendengarkan Firman Allah dan memeliharanya” (Luk 11:28).
Mendengarkan berarti dengan kesungguhan dan keterbukaan hati,
dengan aktif menanggapi dan membiarkan Firman Allah itu masuk, merasuk
dan meresapi seluruh langkah hidup kita. Memelihara/melaksanakan, berarti
Firman Allah itu perlu diwujudkan dalam seluruh kehidupan kita. Betapa
indah hidup ini dan betapa bahagianya kehidupan bersama bila setiap insan
beragama mendengarkan dan memelihara Firman Allah sebagaimana yang
diajarkan oleh agamanya.
Kekayaan dan Korupsi 149
‘Sesat pikir’ mengenai tujuan hidup dan jalan menuju tujuan hidup
yang didukung oleh kebutuhan akan kenikmatan dan kebahagiaan hidup itulah
yang melahirkan ketamakan. Kisah di awal renungan ini memperlihatkan
‘sesat pikir’ orang kaya. Pikirnya, bila ia berhasil dalam hidup ini, memiliki
segala-galanya, ia pun akan menikmati suasana yang sama ketika kehidupan
di dunia ini berakhir. Ingatlah, apa pun yang kita lakukan, kita hidupi di
dunia ini merupakan ‘investasi’ untuk hidup yang akan datang setelah
kehidupan di dunia berakhir: “…..kami hanya membangun rumah di sini
dengan bahan-bahan yang anda kirim lebih dahulu ke sini sementara anda
masih berada di bumi”.
Tuhan Yesus tidak melarang mengumpulkan harta, namun kita mesti
memiliki sikap yang tepat terhadap harta. Pendewaan harta kekayaan atau
menempatkan harta kekayaan sebagai tujuan pada dirinya sendiri membuat
hati manusia jauh dari Allah dan tidak terbuka pada kebutuhan sesama:
“karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).
Dalam hubungan dengan hal mengumpulkan harta, Tuhan Yesus mengatakan:
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat
merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi
kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak
merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat 6:19-
20). Apakah kebenaran kata-kata Tuhan Yesus ini dapat disangsikan?
Apa yang seharusnya kita lakukan berhadapan dengan ketamakan?
Setiap orang mesti sadar akan ketamakan dalam dirinya. Ketamakan pribadi
mesti ditolak. Betapa indahnya bila setiap orang menolak ketamakan dalam
dirinya. Bila secara pribadi kita membiarkan ketamakan menguasai hidup
kita maka kita akan menjadi pribadi yang bodoh. Bila secara nasional bangsa
kita membiarkan ketamakan pejabat publik, ketamakan elite politik,
ketamakan tokoh agama, ketamakan pengusaha dan ketamakan rakyat yang
menjelma dalam wujud korupsi tetap berlangsung, maka bangsa kita akan
menjadi bangsa yang bodoh dan sesat pikir. Lalu, muncul masalah baru yakni
kebodohan nasional dan sesat pikir nasional. Maukah kita menjadi bangsa
yang bodoh dan yang mendasari hidup pada pikiran-pikiran yang sesat? Oleh
karena itu, kata-kata Tuhan Yesus “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap
150 Kekayaan dan Korupsi
segala ketamakan” menjadi penting untuk dihidupi dan kita perjuangkan.
Marilah kita mohon bantuan Allah agar kita diberi kebijaksaan ilahi dalam
menggali makna hidup, tujuan hidup sejati dan jalan menuju tujuan hidup.
Dengan demikian, ‘sesat pikir’ yang menjelma dalam tindak korupsi tidak
lagi menguasai hidup kita. Semoga Allah menyanggupkan kita untuk
mengumpulkan harta di surga dan menjadi kaya di hadapan-Nya agar kita
pun layak menikmati rumah surgawi bersama Tuhan Yesus, yang adalah Jalan,
Kebenaran dan Hidup. Amin!
* Socius dan Minister Konvik Redemptoris, Tinggal di Jogjakarta
Kekayaan dan Korupsi 151
L i m a
K O R U P S I:
ANTARA REALITAS, PENEGAKAN HUKUM
DAN PERINTAH PENGAMPUNAN
Matius 18:21-35
(Alberto A. Djono Moi, O.Carm)*
KITA harus mengakui dan menerima kenyataan bahwa yang namanya
KORUPSI, adalah (1) orang yang suka menerima uang sogok; (2) orang
yang dapat menyogok dengan memakai kekuasaannya untuk kepentingan
pribadi; (3) penggelapan uang serta harta negara atau perusahaan untuk
kepentingan pribadi atau orang lain; (4) penggunaan waktu bekerja untuk
urusan pribadi seseorang; TELAH ADA dan BERLANGSUNG seiring
hadirnya manusia di planet bumi ini.
Dalam hubungan dengan pemahaman korupsi seperti ini, saya mengajak
Anda untuk bersama merenungkan: (1) korupsi jaman Yesus: antara hukum
dan perintah pengampunan; (2) korupsi jaman ini (Indonesia): antara realitas,
hukum dan perintah pengampunan; (3) bagaimana kita sebagai orang beriman
memandang serta memperlakukan sesama yang jatuh dalam tindakan korupsi?
Jaman Yesus: Praktek Korupsi, Hukum dan Perintah Pengampunan
Kalau kita menyimak KEHIDUPAN masyarakat JAMAN YESUS,
maka yang namanya KORUPSI itu telah ada pada kehidupan masyarakat
saat itu. Kita bisa ambil contoh kehidupan Levi, seorang pemungut cukai
atau pemungut pajak yang BERTOBAT dan mengikuti Yesus (Mrk 2:13-17).
Ketika Yesus makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang
berdosa, orang-orang Farisi berkata kepada para murid Yesus, “Mengapa
gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”.
152 Kekayaan dan Korupsi
Yesus mendengarnya dan berkata, “bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
tetapi orang sakit”.
Perikop Injil ini secara implisit menunjukkan indikasi kepada kita bahwa
para pemungut cukai pada jaman itu SERING melakukan KORUPSI,
sehingga mereka diberikan “cap” buruk atau busuk oleh masyarakat.
Walaupun demikian, Yesus mau menerima dan merangkul mereka. Mengapa?
Karena mereka mau merombak kehidupan dan bertobat. Yesus sama sekali
TIDAK MEMBENARKAN perbuatan yang mereka lakukan. Yesus bersedia
menerima mereka kembali, asal mereka mau merombak kehidupan dan
tingkah laku ke arah yang sesuai nilai dan norma kehidupan.
Dalam Injil Lukas 18:1-8 yang mengisahkan perumpamaan hakim yang
tak benar, dapat kita simak bahwa seorang hakim membenarkan perkara si
janda yang terus-menerus datang kepadanya dan menyusahkan dia, walaupun
belum tentu si janda itu berada pada pihak yang benar. Hal ini menunjukkan
bahwa sebuah perkara dapat diputuskan oleh hakim pada saat itu tanpa melihat
kebenarannya. Nilai BELAS KASIH melebihi nilai hukum apa pun. Yesus
mengatakan, HUKUM YANG PERTAMA dan UTAMA adalah “cintailah
Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan cintailah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri” (bdk. Mat 22: 34-40).
Kisah tentang Zakheus, seorang kepala pemungut cukai dan orang kaya
yang menerima Yesus di rumahnya dapat kita simak dalam Luk 19:1-10.
Dalam perjamuan malam di rumahnya, Zakheus MENGAKUI perbuatannya
sendiri, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin
dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan
empat kali lipat”. Apa jawaban Yesus? “Hari ini telah terjadi keselamatan
pada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia
datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”.
Bagaimana SIKAP MASYARAKAT terhadap orang-orang yang
melakukan korupsi dan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum pada
waktu itu? Masyarakat pada umumnya dan orang-orang farisi, saduki, imamimam
kepala, ahli taurat khususnya, sangat terusik dengan perbuatanperbuatan
para pemungut cukai dan orang berdosa. Para pemungut cukai
Kekayaan dan Korupsi 153
dapat dikelompokkan ke dalam golongan koruptor. Mereka menganggap para
koruptor sebagai orang kotor, jijik, busuk. Mereka dikutuk, dicemooh dan di
“cap” dengan aneka ragam cap. Mereka dipandang sebagai manusia berdosa
yang harus dijauhkan dari kehidupan bersama.
Mereka yang melakukan korupsi atau perbuatan-perbuatan yang
melanggar hukum harus diproses melalui hukum. Dan hukum pada jaman
Yesus adalah hukum Taurat Musa. Hukum ini sangat keras dan kejam. Tidak
kenal kompromi dan cinta kasih. “Mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Mat
5:38). Apa yang tertulis tetap tertulis. “Jangan membunuh, jangan berzinah,
jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu, jangan
mengingini rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya, atau hambanya
laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau
apa pun yang dipunyai sesama” (Kel 20:13-17). Barang siapa melakukan
perbuatan-perbuatan ini, pasti dihakimi dan dihukum.
Bagaimana sikap Yesus terhadap mereka yang dipandang bersalah atau
berdosa? Dalam hubungan dengan HUKUM TAURAT, Yesus berkata,
“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum
Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya,
melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17). Lebih lanjut dalam hubungan
dengan PENGAMPUNAN, Yesus menasehati para muridNya, “Jikalau kamu
mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu
juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan
mengampuni kesalahamu” (Mat 6:14).
Nah bagaimana ajaran tentang PENGHAKIMAN dari Yesus kepada
para muridNya? Yesus mengatakan, “Janganlah kamu menghakimi, supaya
kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk
menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk
mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapa engkau melihat selumbar
di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Bagaimana engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku
mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau
154 Kekayaan dan Korupsi
akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata
saudaramu” (Mat 7:1-5).
Terhadap mereka yang bersalah, khususnya yang melakukan tindakan
korupsi, Yesus DATANG dan MENERIMA mereka, dengan catatan kalau
mereka mau bertobat dan mengubah tingkah lakunya. Hal ini dapat kita simak
dalam perumpamaan Yesus tentang PENGAMPUNAN (Mat 18:21-35).
Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus
mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh
kali?” Yesus menjawab, “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh
kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”.
Melalui perumpamaan tentang PENGAMPUNAN ini, Yesus SECARA
TEGAS mengajarkan kepada para muridnya SIKAP HIDUP
MENGAMPUNI. Allah begitu baik. Ia mau mengampuni kesalahan kita. Ia
mau menerima kita kembali walaupun kita sering jatuh dalam dosa dan
kesalahan yang sama. Walaupun kita sering melakukan “korupsi” kecilkecilan
dalam hidup sehari-hari. Karena itu kita pun diminta oleh Yesus untuk
senantiasa MENGAMPUNI hutang dosa dan kesalahan dari sesama tanpa
batas.
Mungkin kita akan berpikir bahwa apa yang diajarkan dan dipraktekkan
Yesus ini tidak benar. Kita mungkin akan bertanya, bagaimana mungkin orang
yang melakukan korupsi, orang yang melakukan kesalahan, orang yang
melakukan dosa dapat diampuni dan diterima oleh Yesus? Karena menurut
hukum yang berlaku jaman itu, mereka yang bersalah harus dihukum setimpal
perbuatannya.
Kalau kita menyimak secara saksama apa yang dilakukan Yesus, kita
akan memahami bahwa Yesus sama sekali tidak membenarkan perbuatan
jahat yang mereka lakukan, tetapi Yesus melihat NIAT dan KEMAUAN
mereka. Mereka mau dan bersedia merombak kehidupan mereka sendiri tanpa
paksaan dari yang jahat kepada kehidupan yang baik, kehidupan yang sesuai
dengan tatanan norma, nilai dan hukum. Mereka mau bertobat dan dengan
jujur mengakui kesalahan.
Kekayaan dan Korupsi 155
Tindakan Yesus ini sungguh mengundang reaksi keras dari masyarakat
yang sungguh menaati hukum jaman itu, khususnya imam-imam kepala, para
pemimpin masyarakat, kaum farisi dan para ahli taurat. Mereka sungguh
menentang Yesus. Yesus pun terus-menerus MENGECAM mereka, karena
mereka selalu menganggap diri paling benar, paling baik, paling suci, paling
bersih dan bebas dari “genggaman” hukum. Mereka senantiasa mengadili
orang lain, memberi “cap” kotor pada sesama. Padahal kenyataannya, apa
yang mereka lakukan senantiasa berlawanan dengan hukum. Apa yang mereka
ajarkan tidak sesuai dengan hidup mereka sendiri. Apa yang mereka katakan
sering tidak sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka sehari-hari. Hukum
seakan-akan menjadi “payung” pelindung kesalahan mereka dan
membenarkan perbuatan mereka sendiri.
Maka tidak heran kalau Yesus selalu menyamakan mereka dengan
“kubur”: di luar tampak indah dan harum semerbak, tetapi di dalamnya penuh
bau busuk yang menyengat. Yesus sering memandang mereka sebagai orangorang
munafik, di mana mereka mengajarkan tetapi tidak melakukannya.
Selaras dengan ini, maka Mahatma Gandi pernah berkata, “kita harus melihat
kesalahan diri kita dengan cermin cembung, dan melihat kesalahan orang
lain dengan cermin cekung”.
Akhirnya, kita tahu bahwa pada jaman Yesus telah terjadi praktek
korupsi. Hukum pada waktu itu selalu memihak kepada para penguasa.
Mereka senantiasa bebas dari hukum. Hukum dan peraturan dipandang hanya
untuk masyarakat kecil. Orang-orang kecil yang bersalah harus dihukum
setimpal perbuatan mereka, walaupun mereka bertobat dan menyesal.
Sedangkan para pemimpin masyarakat yang bersalah dan selalu melakukan
pelanggaran terhadap hukum, seringkali bebas dari hukum.
Yesus mendobrak sikap hidup demikian. Hukum diperuntukan untuk
semua tanpa kecuali. Hukum untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum.
Bagi mereka yang bersalah dan menyesal harus diampuni. Yesus menerima
sekaligus hidup bersama orang-orang yang bersalah dan berdosa yang mau
bertobat. Yesus menolak mereka yang selalu menganggap diri benar dan tidak
mau menyesali kesalahan-Nya. Walaupun Yesus sendiri menjadi “korban”
dalam perjuangan-Nya menegakkan kebenaran dan keadilan.
156 Kekayaan dan Korupsi
Korupsi di Indonesia: Antara Realitas, Hukum dan Perintah
Pengampunan
Kalau Yesus hidup pada jaman ini di Indonesia, saya yakin kita mungkin
akan selalu dikecam oleh Yesus sendiri dan diberi aneka ragam “cap” oleh-
Nya, seperti sikap Yesus terhadap orang farisi, saduki, imam-imam kepala,
para ahli taurat dahulu. Mungkin Yesus akan menamakan hidup kita seperti
“kubur” yang di luarnya indah mempesona, tetapi di dalamnya penuh bau
busuk yang menyengat. Mungkin pula Yesus akan mengatakan kepada kita,
“hei saudara keluarkan dahulu balok di matamu, sebelum engkau
mengeluarkan selumbar di mata orang lain”. Mengapa demikian? Marilah
kita coba merenungkan kehidupan kita sebagai umat beriman dalam negara
Pancasila ini.
Kita sering membanggakan bahwa negara kita ini negara Pancasila.
Sila-sila dari Pancasila senantiasa tergantung rapih pada dinding rumah kita.
Rumah-rumah ibadat tumbuh subur di mana-mana. Kita berdoa siang dan
malam hampir tiada henti. Kita sering mengklaim diri sebagai orang beragama
yang mencintai Tuhan dan sesama. Kita memiliki dan bangga terhadap UUD
45 sebagai landasan hukum dan seribu satu macam hukum serta peraturan.
Semuanya sungguh baik dan indah.
Tetapi kita perlu merenungkan sekaligus mempertanyakan kembali
KEBERADAAN kita sebagai ANGGOTA MASYARAKAT Indonesia dan
manusia BERIMAN: sejauh mana kita mengamalkan nilai-nilai Pancasila?;
sejauh mana kita mencintai Tuhan dan mengasihi sesama?; sejauh mana kita
hidup sebagai orang beriman yang percaya pada ajaran Yesus?; sejaumana
kita mengamalkan hukum, nilai, norma dan seluruh perangkat peraturan yang
ada di negara kita sebagai umat beriman dan sebagai warga negara yang
baik?
Sebagai PRIBADI atau INDIVIDU, kita perlu mempertanyakan
KEBERADAAN diri kita sendiri: sejauh mana kita menjadi pribadi yang
bermoral dan beriman pada Allah?; sejauh mana kita mampu hidup sederhana,
hidup jujur, hidup rendah hati, penuh kasih persaudaraan, terbuka dan penuh
tanggungjawab terhadap kehidupan bersama dalam negara tercinta ini? Sejauh
Kekayaan dan Korupsi 157
mana kita menghayati nilai-nilai kebenaran yang ditawarkan Yesus kepada
kita: berpikir benar, berkata benar, berbuat benar dan hidup benar?
Mengapa pertanyaan seperti ini perlu kita renungkan, baik secara
bersama maupun secara pribadi sebagai umat beriman? Coba kita simak
kehidupan dalam masyarakat kita, khususnya dalam hubungan dengan
tindakan-tindakan yang melanggar hukum, moral, ajaran agama dan kodrat
kita sebagai umat Allah: perbuatan-perbuatan yang KORUP dan merugikan
orang lain!
Sebagai umat beriman atau umat Allah, kita sering tidak merasa malu,
bersalah atau berdosa ketika menerima uang suap, uang sogok dari sesama.
Bahkan kita seakan-akan merasa senang dan tidak merasa terbebani bila
menerima suap atau berhasil menyuap orang lain. Padahal kita ini manusia
beriman dan hidup dalam tatanan nilai-nilai agama dan nilai-nilai Pancasila.
Sebagai contoh, supaya kita dapat menang dalam suatu perkara, kita seringkali
berusaha untuk menyuap jaksa atau hakim. Supaya anak kita bisa masuk
dalam suatu sekolah favorit, kita menyediakan “uang tips” dengan jumlah
tertentu. Supaya kita bisa diterima sebagai pegawai atau karyawan suatu
lembaga atau perusahaan, kita berani melakukan perbuatan sogok-menyogok.
Sebagai anggota masyarakat dan umat beragama, kita pun sering
menggunakan “surat sakti” dari pribadi-pribadi tertentu yang kebetulan
berkuasa pada saat itu. Supaya ijin bangunan perusahaan kita dapat segera
keluar, kita sering gunakan “surat sakti” atau menyediakan sejumlah uang
untuk “orang-orang tertentu” yang kebetulan berkuasa. Untuk mengurus akte
tanah, kita pun harus menyogok. Kalau tidak, urusan tersebut tidak akan
terpenuhi. Supaya usaha kita tetap eksis dan tetap berjalan, kita harus
menggunakan “uang pelicin” tanpa bukti tanda terima.
Sebagai umat Allah yang kebetulan dipercayakan sebagai PIMPINAN
suatu perusahaan atau suatu lembaga negara, kita sering “ngutil” uang negara
atau uang masyarakat untuk kepentingan pribadi dan keluarga kita. Kita sering
menggunakan harta negara untuk keperluan pribadi/keluarga. Kita sering
membuat laporan “fiktif” tanpa bukti nyata atau fakta di lapangan.
158 Kekayaan dan Korupsi
Sebagai pimpinan agama, kita pun sering mengunakan uang umat untuk
kepentingan pribadi. Sebagai karyawan, kita sering membuat laporan “fiktif”
kepada atasan. Sebagai pendidik, kita sering melakukan “korupsi” waktu.
Sebagai pegawai “cukai” atau pajak, kita sering melakukan manipulasi data
keuangan dari masyarakat pembayar pajak. Sebagai pimpinan suatu
perusahaan, kita sering membuat laporan keuangan perusahaan yang
seringkali tidak sesuai dengan kenyataan perusahaan kita sehari-hari. Sebagai
wakil rakyat, kita sering menggunakan uang rakyat dengan alasan yang masuk
akal: studi banding atau perjalanan dinas ke mana-mana.
Dalam kehidupan kita sebagai umat beriman, kita sering menggunakan
WAKTU efektif kerja untuk urusan pribadi kita masing-masing. Kadangkala
kita tidak tahu membedakan urusan dinas dan urusan pribadi. Misalnya, ketika
waktu kerja kita menggunakannya untuk berbelanja di pasar untuk keperluan
keluarga. Ketika waktu mengajar, kita menggunakan untuk mengunjungi
teman yang sakit di rumah sakit. Ketika studi banding di daerah kita sendiri,
kita sering memanfaatkan waktu yang ada untuk mengunjungi keluarga kita
sendiri. Kita pun sering terlambat masuk kantor dan pulang lebih awal dari
waktu kerja yang semestinya. Di kantor, seringkali kita mengerjakan tugastugas
yang bukan urusan kantor, tetapi urusan pribadi.
Sebagai siswa atau mahasiswa, kita seringkali “bolos” atau tidak
sekolah/kuliah, sementara orang tua kita terus memeras keringat untuk
membayar iuran sekolah kita. Kalau pun kita masuk sekolah atau kuliah,
seringkali kita tidur di kelas atau ruangan kuliah, padahal ayah dan ibu kita
terus membayar setiap detik waktu sekolah/kuliah kita. Lalu sebagai siswa/
mahasiswa kita pun seakan-akan menganggap diri sendiri sungguh bersih
dari segala korupsi. Karena itu kita berani mengutuk “saudara-saudara” kita
yang kita anggap melakukan korupsi.
Sebagai orang tua, kadangkala kita menganggap diri sendiri paling benar
dan luput dari segala kesalahan. Anak-anak harus mendengarkan nasehat
atau petuah-petuah bijak dari kita. Kita menganggap diri sendiri bersih tanpa
cela, padahal kita sendiri pun tidak luput dari kelemahan-kelemahan insani
kita. Kita selalu mengharapkan agar anak-anak kita hidup jujur dan baik,
padahal di kantor kita sering melakukan ketidakjujuran atau hidup kita sendiri
Kekayaan dan Korupsi 159
senantiasa tidak jujur. Kita mengharapkan agar anak-anak kita tekun belajar
dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, padahal kita sendiri sering tidur
di kantor dan hidup santai dengan tidak pernah belajar lagi. Kita
mengharapkan agar anak-anak kita hidup sederhana, padahal kita sendiri
sering menghambur-hamburkan uang. Kita mengharapkan agar anak-anak
kita hidup penuh tanggungjawab, padahal kita sendiri sering mengabaikan
tanggungjawab kita sebagai ayah atau ibu. Kita sering mendelegasikan
tanggungjawab kita kepada pembantu-pembatu kita.
Demikian beberapa CONTOH KORUPSI yang patut kita renungkan
dalam hubungan dengan hidup kita sebagai umat beriman yang hadir dan
ada dalam masyarakat. Disadari atau tidak, sengaja atau tidak sengaja, kita
sering melakukan KORUPSI di dalam kehidupan sehari-hari. Dan tindakan
korupsi demikian, seakan-akan menjadi “santapan” kehidupan kita seharihari
sebagai umat beriman yang hidup dalam naungan Pancasila. Inilah potret
realitas kehidupan kita sebagai orang beriman yang percaya kepada Tuhan
dalam Yesus. Protret kehidupan yang saya paparkan ini bisa benar dan bisa
tidak benar, tergantung apakah kita melakukannya atau tidak.
Kita harus menerima kenyataan, bahwa korupsi seringkali kita lakukan
serta tumbuh subur bagaikan jamur di musim hujan dalam kehidupan kita
sebagai umat beriman. Lalu bagaimana usaha-usaha yang harus kita lakukan
untuk MENGATASI dan MENGIKIS akar korupsi dalam KEHIDUPAN kita?
Apakah kita harus menghukum semua koruptor? Bagaimana penegakkan
hukum yang harus kita lakukan? Sebagai manusia yang percaya kepada Yesus,
bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang melakukan korupsi dalam
skala besar?
Kita harus menyadari bahwa semua orang termasuk diri kita bisa jatuh
dalam kesalahan. Kita bisa jatuh dalam tindakan korupsi. Semua kita
seringkali melakukan korupsi kecil-kecilan baik sengaja maupun tidak sengaja
dalam perjalanan hidup sehari-hari. Karena itu, langkah pertama yang harus
ditempuh dalam mengatasi korupsi adalah MELIHAT dan BERTANYA pada
DIRI SENDIRI: apakah saya tidak pernah melakukan korupsi? Apakah saya
sungguh hidup dan menghayati nilai-nilai kebenaran dan kejujuran? Apakah
saya sungguh hidup sebagai umat beriman yang baik? Apakah hidup saya
160 Kekayaan dan Korupsi
selalu dijiwai nilai-nilai, norma-norma agama dan Pancasila? Apakah saya
selalu jujur terhadap diri sendiri, Tuhan dan sesama? Apakah saya selalu
membela kebenaran dan keadilan? Saya harus berjanji pada diri sendiri:
HIDUP dan BERSIKAP JUJUR serta TIDAK MELAKUKAN KORUPSI
DALAM BENTUK APA PUN!
Langkah kedua, selain penyadaran pribadi, juga perlu PENYADARAN
seluruh ANGGOTA KELUARGA. Orang tua perlu menanamkan nilai-nilai
kebenaran, kejujuran, tanggungjawab kepada anak-anaknya. Setiap bentuk
apa pun dari “korupsi” yang dilakukan oleh anggota keluarga perlu diambil
tindakan dan tidak membiarkannya begitu saja. Orang tua harus menunjukkan
sikap hidup jujur, sederhana, penuh tanggungjawab. Sikap hidup ini bukan
hanya diperlihatkan dengan kata-kata, tetapi lebih-lebih dengan tindakan
nyata. Nilai cinta kasih yang menjunjung tinggi nilai-nilai univeral
kemanusiaan harus ditumbuhkembangkan secara dini dalam keluarga
kristiani.
Langkah ketiga, sebagai pribadi dan anggota keluarga, kita semua adalah
UMAT BERIMAN yang percaya kepada Yesus. Yesus sungguh menentang
perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, termasuk tindakan korupsi.
Namun Yesus menerima kembali mereka yang bersedia bertobat dan mau
memperbaharui diri terus-menerus. Yesus tidak hanya mengajarkan kejujuran,
kesederhanaan, tanggungjawab, cinta dan kerendahan hati, tetapi menghayati
nilai-nilai tersebut dalam kehidupanNya sehari-hari. Sebagai umat beriman,
kita perlu hidup dan bertindak seperti Yesus. Yesus yang jujur, sederhana,
rendah hati, terbuka, mencintai sesama, tidak mementingkan diri sendiri,
bertanggungjawab dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Yesus
yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan selama hidupNya.
Langkah keempat, SEKOLAH sebagai tempat pendidikan harus
menanamkan dalam diri para siswa maupun mahasiswanya nilai-nilai
kebenaran dan kejujuran, nilai-nilai agama dan moral hidup, nilai-nilai hidup
sederhana dan tanggungjawab serta kebajikan-kebajikan kristiani. Nilai-nilai
ini harus dijadikan sebagai wadah atau dasar pembentuk watak dan tingkah
laku hidup seorang peserta didik dalam dunia pendidikan.
Kekayaan dan Korupsi 161
Para pendidik tidak hanya mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan
kepada peserta didik, tetapi juga dengan teladan hidup “mengajarkan” nilainilai
dasar kehidupan ini: cinta, kebenaran, rela berkorban, kesederhanaan
hidup dan penuh dedikasi dan tanggungjawab. Pendidikan yang berhasil
adalah pendidikan yang tidak hanya mengantar siswa atau mahasiwanya untuk
memahami bebagai pengetahuan, tetapi lebih-lebih mengantar mereka kepada
pemahaman akan nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya.
Langkah kelima, sebagai makhluk sosial, kita tidak hanya hidup dalam
keluarga, tidak hanya hidup dalam kelompok umat beriman tertentu, tetapi
kita juga hidup dalam MASYARAKAT yang pluralis dengan budaya, adatistiadat,
suku dan agama yang berbeda. Kalau pribadi kita sudah memiliki
komitmen untuk tidak melakukan tindakan korupsi dalam bentuk apa pun,
apalagi ditopang oleh kehidupan keluarga sebagai umat beriman yang
menjunjung tinggi nilai cinta kasih, kebenaran dan kejujuran, saya percaya
bahwa tatkala kita hidup dan berada dalam suatu masyarakat, kita pun tidak
akan tergoda untuk melakukan tindakan korupsi dalam bentuk apa pun.
Hidup dalam masyarakat sebagai umat beriman, kita harus menunjukkan
bahwa kita adalah umat Allah yang hidup bersama orang lain. Kita harus
mampu memperlihatkan diri sebagai “orang bersih” dari tindakan korupsi
apa pun. Kalau kita sungguh hidup “bersih”, kita pun akan berani
menyuarakan kebenaran dan keadilan melalui hidup kita sendiri. Kalau
masing-masing pribadi dan keluarga sebagai umat beriman memiliki
komitmen yang sama dalam memberantas korupsi, saya percaya bahwa
masyarakat pun akan tidak tergoda melakukan tindakan korupsi. Tetapi jangan
sekali-kali kita berani membela kebenaran, tetapi hidup kita sendiri tidak
bebas dari bentuk korupsi apa pun.
Kita harus berani mengambil tindakan preventif maupun kuratif
terhadap setiap tindakan korupsi dalam bentuk apa pun, entah terhadap diri
sendiri, anggota keluarga maupun anggota masyarakat tanpa “membedabedakan”,
kapan dan di mana pun. Namun tindakan yang kita ambil perlu
berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Ingat pesan Yesus, hukum untuk
manusia dan bukan manusia untuk hukum. Artinya produk hukum harus
162 Kekayaan dan Korupsi
mampu mengantar kita menjadi manusia yang bebas dan utuh, dan bukan
membelenggu kehidupan kita sendiri.
Bagaimana pun kita harus menerima kenyataan bahwa hukum di negara
kita sedang dalam proses “menjadi”. Artinya KESADARAN akan peraturan
dan hukum sebagai “kompas” hidup seseorang atau masyarakat yang ada
dalam negara kita, masih amat minim. Hukum masih sebatas “produk
hukum”. Dan penegakan hukum masih berjalan terseok-seok, khususnya
dalam kaitan dengan tindakan korupsi. Walaupun demikian, kita perlu
menyadari bahwa tanpa hukum pun kita masih dapat memberantas korupsi,
kalau masing-masing kita memahami keberadaan diri kita sebagai manusia
beriman, yang mencintai Allah dan sesama, yang hidup dalam nilai-nilai
kebenaran, kejujuran, keadilan dan kesederhanaan.
Walaupun “hukum tertulis” yang ada dalam negara kita, khususnya
dalam hubungan dengan pemberantasan korupsi masih jauh dari harapan,
kita sebagai manusia memiliki “hukum tak tertulis” yakni “hukum
kemanusiaan” – hukum koDRat kita sebagai manusia. Sebagai manusia, kita
wajib membela kebenaran dan kejujuran. Sebagai manusia, kita harus
menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka korupsi sebagai bentuk
perendahan nilai kemanusiaan kita, harus dihindari, apalagi kita sebagai
manusia beriman. Sebagai orang beriman, tindakan korupsi sungguh sangat
bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri, yakni cintailah sesamamu seperti
diri sendiri. Kalau kita melakukan korupsi berarti kita tidak mencintai sesama
dan menghagainya seperti kita ingin dihargai.
Hargailah Sesama Kita, Seperti Kita Ingin Dihargai
Bagaimana sikap kita sebagai umat beriman yang percaya kepada Yesus
terhadap orang-orang yang melakukan tindakan korupsi? Ingatlah, kita semua
tidak luput dari tindakan korupsi. Bagi saudara-saudara kita yang melakukan
tindakan korupsi dalam skala besar, jangan sekali-kali kita menghina atau
merendahkan mereka. Jangan kita bertindak seperti orang farisi pada jaman
Yesus, yang menganggap diri benar dan patut menvonis orang lain, apalagi
menghukumnya. Kita serahkan pada hukum, bagaimana hukum
Kekayaan dan Korupsi 163
memprosesnya. Dan janganlah kita mengadilinya, karena kita tidak memiliki
kuasa untuk mengadili sesama kita.
Kalau sesama kita melakukan korupsi terhadap keuangan dan harta
negara, kita serahkan kepada penegak hukum negara. Biarkanlah negara yang
menanganinya sesuai dengan hukum yang berlaku. Janganlah kita mencaci
makinya dan membenci keluarganya. Yesus memberikan nasehat kepada kita,
“Berikanlah kepada Kaisar, apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan
kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22: 21).
Ingatlah nasehat Yesus ini, “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu
tidak dihakimi” (Mat 7:1). Hargailah sesama kita seperti kita ingin dihargai.
Terimalah mereka seperti kita ingin diterima. Cintailah mereka seperti kita
ingin dicintai. Doakanlah mereka seperti kita ingin didoakan. Ampunilah
mereka seperti kita sendiri ingin diampuni. Mereka yang melakukan tindakan
korupsi adalah sesama kita yang patut kita hargai dan kita cintai.
Kalau sesama melakukan korupsi terhadap keuangan dan harta milik
kita, hendaknya kita mengundang dan berbicara dengan dia dalam sikap penuh
persaudaraan dan kekeluargaan. Kita sendiri perlu melakukan refleksi
terhadap hidup dan tindakan kita juga. Apakah kita sungguh memperhatikan
dan mencintai dia? Apakah kita tidak bermegah atas harta yang kita miliki.
Apakah kita sungguh mencintai dan memperhatikan sesama? Apakah kita
telah menjunjung nilai-nilai keadilan dan kebenaran? Apakah kita tidak
bersikap kikir terhadap sesama?
Sebagai umat beriman, kita boleh membenci atau mengutuk tindakan
korupsi yang dilakukan sesama, tetapi janganlah kita membenci orang atau
manusia yang melakukan korupsi. Ingatlah, manusia lebih berharga dari
seluruh harta yang kita miliki. Kalau Tuhan begitu baik terhadap kita dan
mengampuni kesalahan kita, mengapa kita tidak bersikap baik terhadap
sesama dan mengampuni kesalahannya? Beranikah kita mengampuni
kesalahan sesama, seperti kita ingin diampuni? Beranikah kita mencintai
sesama, seperti kita ingin dicintai? Beranikah kita hidup jujur dan
bertanggungjawab terhadap hidup sesama? Beranikah kita tidak melakukan
164 Kekayaan dan Korupsi
tindakan korupsi dalam bentuk apa pun selama kita masih diberikan nafas
kehidupan?
Percayalah, tatkala kita mati dan menghadap Tuhan yang adalah ASAL
dan TUJUAN kehidupan kita, Tuhan akan bertanya kepada kita: “Apakah
selama hidupmu, engkau mencintai Aku? Apakah selama hidupmu, engkau
mencintai sesamamu?” Lalu kalau hidup kita jauh dari Tuhan, sering
melakukan tindakan korupsi sehari-hari yang melanggar hukum cinta kasih
terhadap Tuhan dan sesama, lalu apakah jawaban kita? Marilah kita
melakukan perbuatan-perbuatan baik selama kita masih diberikan desempatan
untuk hidup.
Santo Paulus memberikan nasehat yang begitu indah kepada kita,
“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah
yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling
mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu
kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah
dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk
selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu,
berkatilah dan janganlah mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang
bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu
sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkaraperkara
yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang
sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas
kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam
perdamaian dengan semua orang!” (Rom 12: 9-18).
*) Alberto A. Djono Moi, O.Carm adalah seorang Romo dan seorang biarawan Karmelit,
anggota Dewan Pimpinan Ordo Karmel Indonesia, Rektor Seminari Menengah
“Seminarium Marianum” Keuskupan Malang, Pendidik, Penulis buku-buku rohani dan
buku-buku tentang kehidupan manusia.
Kekayaan dan Korupsi 165
E n a m
KORUPTOR KRISTIANI, PENGKHIANAT YESUS!
Matius 26:14-16
(Aloys Budi Purnomo, Pr)*
Bila Anda mengaku murid Yesus Kristus, dibaptis dalam nama Bapa,
Putra dan Roh Kudus; dan ternyata Anda korupsi, maka Anda telah menjadi
pengkhianat Yesus! Sama seperti Yudas Iskariot mengkhianati Yesus, dan
kemudian mati ditelan api neraka, demikian juga para koruptor yang beragama
Kristen, entah Katolik maupun Protestan!
Yudas Iskariot
Kisah awal pengkhianatan Yudas Iskariot digambarkan dalam Matius
26:14-16. Ia adalah salah seorang dari dua belas murid Yesus. Ia pergi kepada
para imam kepala Yahudi dan berkata, “Apa yang hendak kamu berikan
kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Para imam kepala
Yahudi pun membayar kepadanya tiga puluh uang perak. Mulai saat itu, Yudas
Iskariot mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Yudas Iskariot terjerat dosa persekongkolan koruptif dengan para musuh
Yesus! Motif Yudas bertindak korupsi dengan main suap bersama para imam
kepala Yahudi adalah keserakahan! Yudas Iskariot serakah, hingga menjual
Sang Gurunya sendiri, Yesus, dengan harga tiga puluh uang perak!
Keserakahan itulah yang telah membuat mata hatinya digelapkan oleh
kejahatan. Keserakahan berbuntut pada pengkhianatan!
Dari kisah ini, kita melihat, ternyata di balik kematian Yesus ada kasus
suap-menyuap, yang dilakukan oleh salah seorang dari murid-Nya, yakni
Yudas Iskariot. Yudas Iskariot melakukan praktik suap agar dapat
menyerahkan Yesus kepada para imam kepala Yahudi yang sudah sejak
penampilan Yesus di depan publik, mengincar dan mencari cara untuk
166 Kekayaan dan Korupsi
menjerat dan menangkap Yesus sebagai pesakitan, untuk diserahkan kepada
pemerintah Romawi!
Rupanya, praktik suap-menyuap yang dilakukan oleh Yudas Iskariot
dan para imam kepala Yahudi tersebut berbuntut panjang. Bukan saja Yudas
Iskariot yang jatuh dalam dosa pengkhianatan kepada Sang Guru, Yesus
Kristus, melainkan juga berakibat pada kematian Sang Guru di kayu salib!
Maka, dalam konteks ini, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kematian
Yesus di kayu salib merupakan korban konspirasi koruptif, suap-menyuap
antara Yudas Iskariot dan para imam kepala Yahudi!
Andaikan Yudas Iskariot sadar sejak awal, bahwa tindakannya keliru,
barangkali cerita hidup Yesus bisa berbeda! Namun, itulah yang harus terjadi!
Dan yang lebih penting, andaikan setelah Yesus ditangkap dan disalibkan,
Yudas Iskariot bertobat, pasti dia diampuni! Namun, ternyata tidak. Ia justru
putus asa dan membabi buta dalam kejahatan dengan menghabisi nyawanya
sendiri seperti digambarkan dalam Matius 27:3-10. Yudas memang menyesal,
namun penyesalan itu tidak disertai dengan pertobatan, melainkan justru
menggantung diri! Tragis!
Bagaimana Koruptor?
Apakah para koruptor, terutama yang beriman kepada Kristus akan
mengalami nasib tragis seperti Yudas Iskariot? Ya bila mereka tidak bertobat!
Saya yakin, para koruptor pun sebetulnya dihantui rasa salah dan penyesalan.
Namun, barangkali rasa salah dan penyesalan itu belum disertai oleh sikap
tobat sejati, sehingga mereka justru semakin asyik menikmati harta kekayaan
yang diperoleh melalui korupsi.
Andaikan mereka mau menyesal dan bertobat, dan kemudian kembali
kepada Yesus Kristus, pasti Yesus Kristus berkenan menerima dan
mengampuni mereka. Mereka pun akan diperbarui oleh kasih dan rahmat-
Nya, sebab Ia tidak pernah menghukum orang yang menyesal dan bertobat!
Bahkan kepada penjahat yang bertobat saat Yesus disalibkan, dan penjahat
itu juga disalibkan bersama Yesus, Yesus mengatakan kepadanya, “Hari ini
juga engkau berada bersama dengan Aku di Firdaus!” (lih. Lukas 23:43).
Kekayaan dan Korupsi 167
Namun, apabila koruptor (yang beragama Kristiani, Katolik maupun
Protestan) tidak mau bertobat, dia pun sepantasnya disebut sebagai sang
pengkhianat, pengkhianat Kristus! Maka, koruptor adalah pengkhianat
Kristus! Sama seperti Yudas Iskariot, karena tiada pertobatan!
Dosa Struktural
Mengapa koruptor harus bertobat? Karena korupsi termasuk dalam
kategori dosa struktural dan sosial yang amat ganas telah menggerogoti
kekayaan negara dan menyengsarakan rakyat!
Sesungguhnya, kita patut bersyukur, pemberantasan korupsi yang
dicanangkan di awal pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono begitu rupa
gencar. Tercatat setidaknya enam produk kebijakan khusus yang telah
dikeluarkan untuk mendukung rencana ini. Satu di antaranya adalah Instruksi
Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
Yang lain adalah Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2005 tentang Tim
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Substansi kebijakan Presiden Yudhoyono tampaknya menekankan
agenda pemberantasan korupsi pada aspek penegakan hukum. Ini berarti
penanganan kasus-kasus korupsi, baik yang dilaporkan masyarakat maupun
hasil temuan aparat penegak hukum, menjadi prioritas untuk diselesaikan.
Maka kita pun berharap, para koruptor akan diadili, ringan atau berat dan
bebas atau bersalah vonis akan diberikan kepada mereka. Kerugian negara
pun dapat diselamatkan.
Namun kita tetap bertanya, siapa koruptor yang akan diadili? Kelas
kakap atau kelas teri? Cepat atau lambat penanganan kasusnya diselesaikan?
Ini semua akan menjadi standar penilaian kinerja pemberantasan korupsi
pemerintah dalam menangani kasus korupsi sebagai dosa sosial-struktural.
Secara struktural, prioritas ini kiranya akan mengajak para koruptor
untuk tidak terus terjerat dalam perilaku koruptif! Yang korupsi, jangan lagi
melakukan tindakan yang sama! Diharapkan hal ini menumbuhkan efek jera
168 Kekayaan dan Korupsi
sebagai dampak dari penegakan hukum dalam diri para koruptor? Namun
benarkah?
Tampaknya agenda itu meleset dari harapan. Nyatanya, hingga
menjelang satu tahun usia pemerintah SBY-JK, perubahan yang berarti dalam
pemberantasan korupsi belum tampak, kecuali satu-dua kasus korupsi yang
terungkap. Yang sudah terjadi pun masih mengalami ketersendatan proses
hukum, karena faktor internal lembaga penegak hukum ataupun lantaran
faktor eksternal yang sarat dengan kalkulasi politis.
Contoh paling konkret adalah kasus dana tantiem Perusahaan Listrik
Negara dan dugaan korupsi di Sekretariat Negara. Benar bahwa Tim
Pemberantasan Korupsi telah menyelesaikan kasus korupsi Dana Abadi Umat
di Departemen Agama dan Bank Mandiri, yang kini kasusnya sudah dalam
proses persidangan. Barangkali ini prestasi yang bisa dicatat. Selebihnya,
masyarakat masih menunggu kasus besar apa yang akan dijadikan prioritas
untuk ditangani.
Karenanya, penyadaran bahwa secara religius, korupsi merupakan dosa
besar, dosa social-struktural, perlu ditanamkan dalam diri para koruptor, agar
mereka tidak melakukan kejahatan yang sama. Penyadaran ini juga berguna
bagi pihak-pihak terkait yang turut terjerat dalam lingkaran dosa sosialstruktural
korupsi, sehingga mereka bekerja dengan nurani jernih. Bagi yang
baru tergoda dan belum melakukan korupsi, penyadaran ini berguna untuk
menangkal agar tidak terjebak dalam dosa yang sama. Mungkinkah? Semoga!
*. Rohaniwan, Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera Yang Membebaskan, tinggal di
Semarang.
Kekayaan dan Korupsi 169
T u j u h
KEKUASAAN KORUP,
GLOBALISASI DAN PENDERITAAN RAKYAT
2 Raja-raja 23:35
(Pdt. Novembri Choeldahono, MA)*
Jemaat yang terkasih!
Sebuah cerita klasik tentang kekuasaan yang dibangun di atas
pengorbanan rakyat seolah-olah menjadi cerita abadi dalam sejarah hidup
manusia. Kita mengalami bukan pada konteks sosiologis modern saja, tetapi
sejak 1000 tahun sM. Dalam perikop tersebut, diceritakan bahwa Yoyakim,
seorang raja Israel, yang menjadi raja bukan atas mandat sosial-politik dari
rakyat tetapi atas legitimasi Raja Firaun Nekho dari Mesir. Raja Firaun Nekho
membutuhkan raja “boneka” atau “satelit” untuk tetap dapat menjajah Israel.
Karakteristik dan spirit globalisasi pada hakekatnya sudah terjadi pada masa
Firaun tersebut. Tentu saja kebaikan Firaun Nekho ini bukan pemberian gratis.
Seperti kata kiasan, ada ubi ada talas, ada budi harus dibalas. Kompensasi
politik yang harus dibayar Yoyakim kepada Firaun Nekho adalah upeti yang
berupa emas dan perak yang harus dibayar kepadanya.
Dari manakah Yoyakim mendapatkan emas dan perak tersebut? Tentu
saja ia mengambil pajak dari rakyatnya, sesuai dengan ketetapan pajak yang
sudah ditentukan. Apakah rakyat dengan sukarela memberi itu kepada sang
raja? Tentu saja tidak, karena Yoyakim dianggap sebagai antek raja Mesir,
yang jaya menjalankan kekuasaannya tetapi hanya melahirkan kesengsaraan
kepada rakyatnya. Tentulah tidak salah sama sekali bila rakyat menganggap
bahwa sang raja melakukan yang jahat di mata Tuhan (ayat 36).
Ia menjadi raja yang tidak memiliki legitimasi dan mandat sosial-politik
dari rakyatnya, sehingga kehilangan otoritas untuk memimpin rakyatnya
menuju hidup yang lebih adil dan sejahtera. Ia menjadi alat penghisap yang
170 Kekayaan dan Korupsi
baik bagi raja Firaun Nekho, dan mendatangkan kesejahteraan bagi negeri
asing, namun menjadi alat yang mematikan dan menyengsarakan rakyatnya
sendiri. Itulah sebabnya Yoyakim dianggap melakukan apa yang jahat di mata
Tuhan, karena ia menjadikan bangsa Israel kehilangan harkat dan martabat
serta kedaulatannya sebagai sebuah bangsa. Ia menjadi raja yang gagal
menggunakan kekayaan bangsanya untuk keadilan dan kesejahteraan
rakyatnya. Ia telah menjadi raja yang korup, busuk, karena tidak berpihak
pada nasib orang banyak.
Bangsa kita sedang menjadi korban globalisasi pasar dan kekuatan
politik-ideologi pasar tunggal. Kekuatan setanik dari globalisasi harus
dihentikan oleh gereja. Globalisasi adalah sebuah proses integrasi global
seluruh umat manusia dan bangsa ke dalam satu pasar tunggal (one global
market), yang dikendalikan oleh modal global (global capital). Untuk
melawan kekuatan dominatif tersebut, maka gereja harus mampu menciptakan
bahasa baru. Bahasa menjadi begitu signifikan untuk melakukan dekonstruksi
terhadap tatanan ekonomi yang eksploitatif. Bahasa baru merupakan
instrumen yang powerful untuk melakukan delegitimasi sistem dan struktur
ekonomi dunia yang represif-eksploitatif. Produksi pertanian dan sumber
alam bangsa Indonesia berlimpah, namun semua dihisap oleh kekuatan
ideologi pasar global untuk memakmurkan bangsa asing.
Ada tiga (3) asumsi mengenai globalisasi yang dapat kita jelaskan.
Pertama, globalisasi dalam prakteknya adalah rekolonialisasi dunia dengan
kekuatan modal. Kedua, globalisasi menghancurkan usaha-usaha manusia
untuk melanjutkan kehidupan serta pencarian makna dan relevansinya dengan
eksistensi kolektif. Ketiga, krisis global saat ini bukan melulu merupakan
krisis ekonomi atau politik tetapi sesungguhnya krisis iman. Asumsi-asumsi
itu dapat dicari kebenarannya ketika kita berani secara kritis menganalisis
hakekat globalisasi.
Dari perspektif historis, globalisasi tidak dimulai dengan didirikannya
komunitas perbankan internasional tetapi dari proses sejarah kolonial. Jadi
globalisasi memiliki sejarah panjang, sepanjang sejarah kolonialisme, yang
ditandai dengan karakteristik-karakteristik spesifik serta tahapan-tahapannya
dengan segala konsekuensi logisnya. Bahkan, pada abad pertengahan,
Kekayaan dan Korupsi 171
kolonialisme telah berbaur begitu rupa dengan gerakan misionari dan memberi
stigmatisasi pada segala sesuatu yang berlainan dengan budaya kolonial.
Stigma primitif, kafir, inferior atas seluruh aspek kehidupan masyarakat yang
dijajah. Imperialisme kultural ini terjadi juga dalam wacana ideologis-politis.
Wacana ideologis-politis tentang pembangunan dan modernisasi yang
dominan dari negara-negara kolonial mempercepat tumbuhnya kebutuhan
pinjaman modal dari negara-negara bekas jajahan tersebut untuk membangun
negerinya. Sejarah membuktikan, inilah yang akhirnya melahirkan krisis utang
internasional. Krisis ini berarti juga memberi ruang politik bagi intervensi
komunitas perbankan internasional kepada negara-negara debitor.
Pasar global telah menjadi sesuatu yang normatif. Ia memiliki peranan
menjadi agen moral dan menciptakan perilaku global. Proses ini diberi
legitimasi oleh ideologi liberal, yang memproyeksikan pasar sebagai ukuran
dan standar kebebasan dan kemerdekaan individu untuk mencapai kebaikan
sebesar-besarnya. Pasar global menjadi satu-satunya paradigma, yang
melahirkan perilaku global yang saling menindas dan mengeksploitasi dan
menjadikan yang lainnya obyek dalam pasar bebas.
Wacana ideologis-politis tentang pembangunan dan modernisasi yang
dominan dari imperialisme ekonomi inilah yang melahirkan krisis utang yang
berkepanjangan. IMF sebagai instrumen kapitalisme global, melakukan
intervensi politik ekonomi dan mempresentasikan dirinya sebagai “nabi”
penyelamat dengan sabda “paket IMF”. Intervensi IMF yang memaksa negaranegara
debitor harus melakukan program penyesuaian struktural (SAP) untuk
menyelamatkan perekonomiannya. IMF bertindak sebagai “dokter,” yang
memberikan resep kebijakan politis yang harus dilakukan oleh negara-negara
debitor yang sedang sakit parah. Paket SAP yang tidak populer tersebut,
bahkan menyengsarakan rakyat, akhirnya diminum oleh negara debitor
sebagai obat untuk menyembuhkan krisis ekonominya. Terjadilah
pemotongan-pemotongan gaji, subsidi-subsidi negara yang berupa tunjangan
kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, pertanian, serta privatisasi seluruh
badan-badan usaha milik negara atau aktivitas-aktivitas ekonomi domestik
lainnya. Biaya hidup menjadi begitu tinggi, dan rakyatlah yang harus
menanggungnya.
172 Kekayaan dan Korupsi
Paket IMF ini melahirkan krisis sosial dan politik serta kepercayaan di
mata rakyat negara-negara debitor. Akibat yang jelas dari kebijakan ini adalah
“Si miskin membiayai si kaya.” Kebijakan SAP, de facto tidak menolong
dunia ketiga melakukan rekonstruksi ekonominya supaya menjadi lebih
efisien dan efektif dalam memenuhi standar hidupnya. Ia hanya menghasilkan
ketergantungan, yang sesungguhnya ketergantungan negara-negara maju yang
membangun negaranya di atas negara-negara miskin.
Krisis utang internasional ini memberikan ruang historis untuk
memahami hakekat setanik dari sistem internasional kita. Sistem itu bukan
hanya menghasilkan kehancuran masal dan kematian jutaan umat manusia
tetapi juga teralienasinya suatu negara terhadap yang lainnya, begitu juga
terjadi pada manusia dan alam. Mengapa? Karena ekonomi pasar memiliki
prinsip-prinsip fundamentalnya sendiri. Pertama, ekonomi pasar adalah
penegakan tradisi liberal, yaitu hak untuk kepemilikan pribadi. Implikasinya
adalah semua sumber-sumber dikontrol oleh kepemilikan pribadi tersebut,
seperti tanah, air, hutan, buruh, laut bahkan kebudayaan. Kedua, prinsip
fundamental dari ekonomi pasar adalah fungsi pasar sebagai mediasi. Pasar
mengontrol relasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya manusia. Karena ia
berfungsi sebagai mediasi maka konsekuenasinya prinsip-prinsip pasar
tersebut telah mengganti fondasi-fondasi moral dan relasi manusia. Bukan
hanya itu saja, bahkan kepentingan-kepentingan pribadi yang
direpresentasikan dalam struktur pasar dianggap sebagai sesuatu yang
normatif, yang akan membawa manusia kepada kebaikan terbesar.
Kesuksesan dalam pasar ditandai dengan kemampuan menobatkan
semua realitas sebagai komoditi yang dapat dipertukarkan satu terhadap yang
lain. Bukan hanya tanah, orang, budaya, bahkan simbol-simbol kehidupan
pun dapat dijadikan komoditi. Dengan demikian, konsep-konsep nilai
mendapat penjelasan empiris dalam prinsip-prinsip pasar tersebut. Ketika
materi dijadikan norma kehidupan akibatnya adalah pengabaian jarak antara
memiliki (having) dan menjadi (being). Ketika memiliki (having) sangat
menentukan orang yang menjadi (being), maka proses tersebut diukur
berdasarkan ukuran-ukuran yang kita miliki. Dan, jawabnya adalah uang.
Uang menjadikan kita memiliki rasa menjadi atas masyarakat. Fungsi uang
Kekayaan dan Korupsi 173
berubah dari hanya merupakan media pertukaran menjadi pabrik nilai, yaitu
nilai-nilai komoditi – alam, tanah, hutan, bahkan pribadi ditentukan oleh
nilai uang. Kesadaran kritis kita harus berfungsi untuk melawan prinsipprinsip
fundamental ekonomi paar tersebut, supaya manusia lepas dari ukuran
komoditi melulu.
Salah satu cara kita melawan kekuatan imperialistik-mammonistis
adalah dengan mengembangkan teologi kehidupan. Teologi kehidupan adalah
teologi yang menciptakan kesinambungan kehidupan di muka bumi ini. Dari
ekses globalisasi ini, maka memperlihatkan kepada kita betapa mendesaknya
teologi kehidupan sebagai perlawanan terhadap perilaku manusia yang
melihat segala sesuatu ciptaan Allah ini sekedar komoditi. Pada realitasnya,
globalisasi menyebabkan perubahan dalam geopolitik global. Geopolitik yang
dimaksud adalah konsep filosofis tentang ruang dan waktu dimana dunia ini
berada.
Konsep geopolitik cyber technetronics telah menciptakan pasar global
yang mendominasi kehidupan di dunia ini. Kehidupan telah menjadi korban
dari proses globalisasi yang didominasi oleh kekuatan pasar. Kekuatan-kekuatan
yang merusak, feodalistik, represif, dan yang hanya menghasilkan ketidakadilan
telah menyatu dalam proses globalisasi. Geopolitik globalisasi dengan kekuatankekuatan
cybernetic dan technetronics hanya menciptakan proses ketidakadilan
kultural, desertisasi kultural dan kekacauan kultural sehingga membahayakan
kehidupan dalam komunitas manusia dan alam raya ini.
Bagaimana kita harus bersikap supaya kekuatan-kekuatan destruktif
geopolitik cyber technetronics tersebut dapat kita lawan? Alkitab memberi
kesaksian tentang geopolitik kairotik, yaitu tentang pemerintahan Allah.
Geopolitik kairotik ini nyata ketika komunitas eksodus melakukan perjuangan
bagi terciptanya keadilan dan damai sejahtera Allah. Juga nyata dalam gerakan
mesianisme Yesus dan komunitas Kristen awal yang telah menciptakan
gerakan universal untuk melawan ketidakadilan, serta penegakan
pemerintahan Allah melalui salib, kematian dan kebangkitan-Nya. Semua
ini adalah dasar teologis bagi gerakan kehidupan yang baru. Di sinilah kita
bisa melihat dimensi-dimensi praksis hidup baru, bahwa kepercayaan kepada
Allah dalam Yesus dan Roh Kudus memberi fondasi bagi praksis manusia
174 Kekayaan dan Korupsi
mencari hidup baru di dunia ini. Kepercayaan ini menimbulkan pengharapan
akan terwujudnya kehidupan baru. Subyek praksis kehidupan adalah umat,
yang bergerak mewujudkan eskatologi alkitabiah mengenai perjuangan
mewujudkan kehidupan baru di masa mendatang. Pengharapan eskatologis
ini mendorong kita untuk berani secara kritis melakukan evaluasi tentang
masa lampau dan kini untuk ditransformasikan ke masa depan.
Visi kehidupan baru ini akan menyinarkan cahaya realitas kehidupan
di masa mendatang yang berbeda secara kualitatif dengan masa lampau dan
kini. Imajinasi kehidupan baru harus menjadi presuposisi analisa kita,
sehingga mendorong umat untuk tidak kecewa dan pesimis, sebaliknya
menjadikan teguh dan berani untuk berjuang melawan segala perilaku
destruktif dan ketidakadilan menuju kehidupan baru. Cara dan alat-alat bagi
praksis kehidupan baru ini adalah seluruh kekuatan umat manusia, yang
bergerak di bawah kuasa gerakan mesianis umat Allah. Gereja, etika, misi
dan liturgi adalah instrumen-instrumen yang dapat kita pakai bagi praksis
kehidupan baru tersebut.
Kekuatan pasar global harus dilawan dengan teologia kehidupan.
Teologi kehidupan mulai dari presuposisi teologis bahwa Allah adalah
Pencipta kehidupan. Allah memberi harapan kepada umat yang menderita,
terutama di Asia. Tindakan Allah atas penciptaan adalah proklamasi Allah
yang melawan kegelapan (kematian dan kejahatan) serta kekacauan. Allah
itu sendiri adalah gerak dinamis dan kehidupan yang melawan kematian.
Kehidupan adalah gerakan dari kematian kepada kehidupan baru serta
kebahagiaan abadi. Allah adalah pusat dari gerakan eksodus, gerakan profetis,
gerakan eskatologis untuk mewujudkan kehidupan baru bagi seluruh kosmos
ini. Allah menciptakan kehidupan dengan roh dan firman-Nya. Inilah sebuah
affirmasi bahwa hakekat kehidupan adalah Roh Allah itu sendiri. Roh Allah
adalah kekuatan dinamis bagi keadilan dan shalom Allah. Dalam konteks
Asia, maka praksis pembebasan ini tidak bisa dipahami tanpa memahami
penderitaan Asia dengan segala kekayaan keagamaan, etnis dan budayanya.
Praksis Asia adalah praksis kehidupan baru Asia yang mempertimbangkan
tradisi, kepercayaan, maupun gerakan-gerakan mesianisme Asia. Praksis Asia
Kekayaan dan Korupsi 175
menjadi praksis ekumenis yang menumbuhkan pengharapan hidup baru Asia,
yang mepampaui batas-batas suku, ras, geografis, donominasi dan budayanya.
Praksis ekumenis Asia untuk mewujudkan kehidupan baru berarti hidup
damai, yaitu melawan perang dan penghancuran atas kehidupan; perlawanan
atas penderitaan, kelaparan dan kemiskinan; partisipasi langsung umat dalam
membangun solidaritas universal; melawan konflik-konflik dan kekerasan;
serta melawan penghancuran kehidupan kultural dan kehidupan mikro dan
makro kosmos. Bagaimanakah praksis ekumenis ini harus kita wujudkan?
Ada beberapa karakteristik dalam proses globalisasi yang memberi
tantangan bagi gerakan rakyat di Indonesia bahkan di dunia. Manusia di dunia
sekarang ini hidup dalam ruang dan waktu tiga dimensi (geopolitik: pertanian,
industri dan cybernetic). Pada saat bersamaan integrasi geopolitik bangsabangsa
memaksa semua manusia masuk ke dalam dunia berkutub tunggal
(mono-polar world). Horison lokal, national, regional dan global
diintegrasikan ke dalam pasar global tunggal. Kekuatan finansial (financial
power) yang dikendalikan modal global memaksa manusia masuk ke dalam
ekonomi kasino. Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk yang paling
maju mengendalikan masyarakat ke dalam integrasi global dari masyarakat
multi-komunikasi dan informasi digital. Kehidupan kultural masyarakat
ditaklukkan ke dalam proses komoditisasi dalam skala global. Globalisasi,
yang dikendalikan oleh marketisasi global, mengancam kehidupan masyarakat
di level mikrokosmos (seperti genetik) dan juga makrokosmos (lingkungan).
Dalam proses ini, kehidupan masyarakat dan dunia (mikro dan makro)
terancam kematian. Gerakan rakyat adalah untuk memelihara, memenuhi
dan mempercepat kehidupan di dunia ini. Kita dapat mengidentifikasi
pengalaman rakyat di bawah proses globalisasi, yang susah ditebak wajah
dan caranya.
Akibat globalisasi rakyat menderita multi dimensional. Oleh sebab itu
ini menjadi tantangan kita bersama dalam membaca tanda-tanda zaman,
melakukan analisas-analisa dan membangun visi kehidupan untuk masa
mendatang, termasuk strategi-strategi dari perjuangan dan gerakan rakyat
tersebut. Segala bentuk kekuatan ideologis-politik seperti yang dilakukan
176 Kekayaan dan Korupsi
oleh Yoyakim dan Firaun Nekho, harus kita hentikan sebagai upaya
mendatangkan keadilan Allah.
Mari kita berjuang!!
Tuhan Memberkati.
* Pendeta Jemaat GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, Surakarta.
Kekayaan dan Korupsi 177
D e l a p a n
ALLAH TIDAK MENGHENDAKI PEMIMPIN YANG KORUP
Yesaya 1:21-31
(Pdt. Sri Handoyo, MTh)*
MAHKAMAH TIDAK AGUNG, demikian judul sebuah artikel di
harian “Kompas” edisi 11 Oktober 2005 pada halaman 6, yang diungkapkan
secara sinis untuk menggambarkan betapa kejahatan korupsi telah menjadi
penyakit kronis pada lembaga negara ini. Pengusaha kelas kakap seperti
Probosutejo telah membongkar praktek mafia peradilan dengan mengatakan
bahwa untuk menyelesaikan kasusnya sejak di Pengadilan Negeri sampai
tingkat Mahkamah Agung telah menghabiskan 16 miliar rupiah untuk
menyuap para hakim yang menangani perkaranya (Kompas, 12 Oktober
2005).
Kenyataan ini menunjukkan betapa parahnya penyakit korupsi di negeri
ini. Maka lengkaplah kejahatan baik yang dilakukan oleh para oknum pejabat
pemerintah (eksekutif) -Menteri (mantan), Gubernur, Bupati; oknum dewan
perwakilan rakyat (legislatif) maupun oknum penegak hukum (yudikatif).
Dalam kondisi seperti ini, bagaimana mungkin masalah busung lapar yang
menimpa ratusan ribu anak-anak Balita di beberapa propinsi dapat diatasi?
Bagaimanakah semestinya umat beriman mensikapi situasi yang
demikian? Firman Tuhan yang tertulis pada bacaan ini menggambarkan
sebuah peristiwa yang terjadi beberapa ribu tahun yang lalu, ketika Yehuda
dipimpin oleh raja-raja Uzia, Yotam, Ahaz, dan Hizkia antara tahun 740
sebelum Masehi sampai tahun 686 sebelum Masehi.
Nabi Yesaya mengungkapkan dalam penglihatannya bahwa Yerusalem
yang artinya “Kota Damai” sudah tidak lagi setia pada kehendak Allah.
Yerusalem telah menjadi kota pelacuran. Tidak ada lagi keadilan dan
kebenaran karena telah menjadi kota yang penuh dengan keganasan,
kekerasan, pembunuhan (Yes 1:21). Sementara pada ayat 23 dinyatakan:
178 Kekayaan dan Korupsi
“Para pemimpinmu adalah pemberontak yang bersekongkol dengan pencuri
semuanya suka menerima suap, mereka tidak membela hak anak-anak yatim,
dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka”.
Hal ini menunjukkan bahwa para pemimpin sudah tidak lagi
menjalankan kepemimpinan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Mereka
telah melawan ketentuan dan peraturan yang ditetapkan Allah, bahkan mereka
sudah berkomplot untuk bekerja sama melakukan pencurian. Kalau pemimpin
sudah memiliki perilaku yang menyimpang dari pada semestinya, kalau para
pemimpin sudah bermoral sama seperti pencuri –hidup dengan mengambil
sesuatu yang bukan miliknya- tentu mereka tidak akan memikirkan orang
lain. Kalau perlu mengorbankan orang lain yang semestinya menjadi perhatian
dan tanggungjawabnya seperti memperhatikan masalah pendidikan atau
kesehatan anak-anak sebagai penerus generasi bangsa.
Keadaan seperti ini tidak dikehendaki oleh Allah. Para pemimpin yang
memberontak dan melawan kehendak Allah dianggap sebagai musuh yang
telah menyebebakan penderitaan bagi umat Allah menderita. Allah akan
membalas tindakan para pemimpin ini (Yes 1:24-25). Dalam catatan sejarah,
Allah telah menggunakan kekuatan lain untuk menghancurkan pemimpinpemimpin
seperti itu. Kekuatan Kerajaan Asyur dipakai Tuhan untuk
menghilangkan kerakusan para pemimpin Yehuda yang memberontak
terhadap Allah. Sebagian mereka terbunuh dan sebagian lagi ditawan dan
dibawa ke Babilonia ibukota Asyur.
Hampir seluruh cerita pada Kitab Yesaya bagian pertama (Yes 1-39)
menggambarkan bagaimana Allah menggembleng, mendidik umat-Nya
melalui situasi-situasi yang sulit penuh penderitaan dan kesukaran. Mereka
dibuang ke Babilonia. Peristiwa itu menyadarkan mereka bahwa kalau tidak
setia pada kehendak Allah, maka mereka akan mengalami malapetaka. Hidup
tanpa Allah akan membawa situasi krisis. Namun Allah akan mengembalikan
situasi dan keadaan yang kacau ini kepada situasi semula. Inilah yang
kemudian dilambangkan dengan Yerusalem–Kota Damai (Yes 1:25-27) .......
Aku akan menggembalikan para hakimmu seperti dahulu dan para
penasehatmu seperti semula, sesudah itu engkau akan disebut kota keadilan,
kota yang setia.
Kekayaan dan Korupsi 179
KRISIS MULTI DIMENSI BERKEPANJANGAN yang terjadi di
negeri ini, bukan karena faktor eksternal saja tetapi terlebih karena faktor
internal melalui kebijakan-kebijakan yang ada. Misalnya saja: pemiskinan
yang terjadi di kalangan petani cengkeh. Pada waktu itu cengkeh menjadi
primadona di bidang pertanian, menjadi hancur karena adanya ketentuan atau
sistem yang dikeluarkan/didukung oleh pihak pemerintahan dengan monopoli
tunggal oleh kelompok tertentu. Kelompok ini telah mencuri, merampas
kekayaaan yang semestinya dapat dinikmati oleh sebagian besar petani
cengkeh. Kekayaan alam yang semestinya dikelola oleh pemerintah tetapi
hanya diberikan kepada beberapa pengusaha. Karena ketiadaan kontrol dari
pihak pemerintah, maka para pemegang Hak Pengusahaan Hutan
memperlakukan hutan dengan sembrono. Akibatnya, baik untuk jangka
pendek maupun jangka panjang, adalah kerusakan lingkunganyang
mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor di berbagai tempat, seperti
di Sumatra dan Kalimantan. Dana-dana yang dipungut dari publik yang
direncanakan untuk peningkatan kesejahteraan mereka, misalnya saja Dana
Abadi Umat, telah diselewengkan dan dipakai untuk membiayai para pejabat.
Masih banyak contoh kasus penyimpangan yang terjadi, dan semuanya itu
membawa penderitaan bagi masyarakat. Semuanya itu hendak mengatakan,
bahwa para pejabat yang korup sama dengan pemberontak dan bersekongkol
dengan maling (Yes 1:23).
Orang beriman wajib mendukung kebijakan pemerintah yang berusaha
memperbaiki kondisi yang buruk. Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk
untuk melakukan penyidikan terhadap para pejabat yang korup, uji kepatutan
dan kelayakan terhadap para calon pejabat, dll agar tercipta apa yang disebut
dengan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (clean and good
governance). Sebagai orang yang beriman, di manapun posisi kita wajib
menjadi alat-alat Allah untuk ikut ikut bertanggung-jawab di negeri di mana
Allah menempatkan kita (Yer 29:7,11).
Tuhan memberkati.
* Pendeta di lingkungan Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa, Penggembala Jemaat GKJ
Wisma Panunggal Mrican, Semarang
180 Kekayaan dan KorupsiSuap Menyuap = Korupsi 181
SUAP MENYUAP
= KORUPSI
BAGIAN
V
182 Suap Menyuap = Korupsi
Suap Menyuap = Korupsi 183
S a t u
KORUPSI: MENGHINA ALLAH YANG ADIL
Mazmur 15:5
(Rm. DR. Mateus Mali, CSsR)*
Kitab Mazmur adalah kitab yang ditulis untuk tujuan ibadat. Kitab
Mazmur tidak lain adalah kumpulan nyanyian keagamaan orang Israel.
Biasanya kitab Mazmur dihubungkan dengan Raja Daud sebagai penulis
namun sebetulnya kitab ini, selain Daud sebagai penulis, masih ada juga
nyanyian-nyanyian yang dikumpulkan berdasarkan nyanyian-nyanyian rakyat
yang telah dipakai di dalam ibadat. Yang menarik bagi saya adalah bahwa
Kitab Mazmur tidak saja sebagai nyanyian yang dipakai di dalam liturgi untuk
suatu pujian namun nyanyian yang selalu mengandung pesan-pesan moral.
Tak terkecuali teks Mazmur 15:1-5 yang menjadi bahan permenungan kita
kali ini.
Mazmur 15:1-5 adalah Mazmur yang mengetengahkan perilaku
seseorang yang diharapkan Allah. Orang yang baik adalah orang yang boleh
tinggal di kemah Allah. Dia itu boleh hadir bersama Allah di dalam kerajaan-
Nya. Kriteria baik itu oleh pemazmur dilukiskan dengan patokan moral yang
tegas: orang yang tidak bercela, adil, benar, tidak menyebarkan fitnah, tidak
berbuat jahat, tidak menghina orang lain, takut akan Allah, berpegang pada
sumpah, tidak meminjam uang dengan makan riba dan tidak menerima suap.
Uraian etis serupa dengan Mazmur 15 ini masih bisa dijumpai pula di dalam
Mazmur 24 dan Yesaya 33:14-16. Artinya jelas bahwa pujian terhadap Allah
dalam nyanyian Mazmur harus pula sesuai dengan perilaku hidup yang nyata.
Fokus bahasan saya adalah teks Mazmur 15:5: “orang yang baik adalah
orang yang tidak meminjam uang dengan makan riba dan tidak menerima
suap.” Bagi pemazmur jelas seorang yang ingin bersama dengan Allah dalam
kemah-Nya (lambang kehadiran Allah sendiri) adalah orang harus bisa hidup
184 Suap Menyuap = Korupsi
dengan sesama. Dengan kata lain, pujian kepada Allah dalam ibadat liturgis
harus sesuai dengan kehidupan nyata dalam kebersamaan dengan orang lain.
Dalam kebiasaan orang Israel yang kuno, pinjaman harus diberikan
dengan cuma-cuma tanpa bunga. Hukum Taurat seperti tersimpan dalam
Keluaran 22:25 dan Imamat 25:36 mengungkapkannya secara jelas:
“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba, melainkan engkau harus
takut kepada Allahmu supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.” Bahkan
kalau si peminjam tidak dapat mengembalikan pinjamannya itu dia harus
dibebaskan dari jerat hutang itu pada tahun ke-7 supaya orang itu menjadi
orang yang bebas merdeka. Setidaknya dua alasan mengapa tidak boleh
mengambil bunga uang atau riba adalah “takut akan Allah dan supaya
saudaramu hidup.” Orang yang takut akan Allah adalah orang yang setia
menjalankan perintah Allah dan orang itu selalu mempunyai “hutang”
terhadap Allah. Hutangnya adalah bahwa dia dibebaskan Allah dari
perbudakan di Mesir. Allah menghapus dosanya. Untuk membayar hutangnya
itu, dia harus berbuat seperti yang dibuat Allah: mencintai dan membebaskan
orang lain dan tidak memberi beban kepada sesama.
Kata “tidak menerima suap” dalam Mazmur 15:5 agaknya lebih
ditujukan kepada para hakim atau pegawai negeri. Mereka harus berlaku
adil dan bijaksana karena kehidupan mereka sudah berkecukupan karena
mendapat fasilitas dari negara. Dalam terang Keluaran 23:8, Ulangan 16:19,
Yesaya 1:23, Mikha 3:11 dan kitab yang lainnya jelas bahwa para hakim
atau pegawai negeri adalah orang-orang yang bertindak atas nama Allah dalam
mengurusi masalah atau melayani sesama. Mereka tidak boleh korupsi dengan
makan uang sogok karena perbuatan itu akan merugikan pihak yang tidak
bersalah. Perkara harus diputuskan berdasarkan benar atau salah.
Teks Mazmur 15:5 ini mengingatkan saya akan kejadian yang barubaru
ini terjadi. Mahkamah Agung, lambang supremasi hukum di tanah air
kita, digoncang oleh skandal korupsi. Korupsi bergulir bak bola salju, semakin
hari semakin membesar, dan tak tanggung-tanggung: para hakim yang
seharusnya menjadi pengadil, yang harus bertindak secara jujur dan adil,
tergoda oleh uang suap. Bukan rahasia lagi kalau ada banyak aparat penegak
Suap Menyuap = Korupsi 185
keadilan, yang seharusnya menjaga keadilan itu, malah melakukan tindak
korupsi. Mereka suka menerima uang suap sehingga yang salah dibenarkan
dan yang benar malah disalahkan. Pengadilan tidak lagi berarti mencari siapa
yang salah dan siapa benar. Pengadilan berarti siapa yang mempunyai duit
dia yang menang. Karena itu, masyarakat umum sepertinya sudah tidak
percaya lagi terhadap para penegak keadilan itu sehingga banyak bermunculan
tindakan main hakim oleh masyarakat.
Dalam masyarakat Yahudi, para penegak keadilan seperti yang
didendangkan oleh Mazmur 15:5 tadi, adalah orang-orang yang bertindak
atas nama Allah karena mereka itu dipilih oleh Allah. Karena itu, mereka
harus mengadili perkara berdasarkan keadilan dan belas kasih Allah. Bahkan
gajinya pun hanya dilandasi oleh kemurahan hati sebagaimana ciri anakanak
Allah (Bdk. Mat 10:8). Mereka tidak boleh sama sekali melakukan
tindakan korupsi, seperti menerima sogok. Kalau melakukan korupsi berarti
orang itu mencemarkan nama Allah. Korupsi berarti merusak nama Allah.
Saya rasa, kita sepakat bahwa penegak keadilan di Indonesia sebagian
besar tidak mempunyai iman yang mendalam terhadap Allah. Buktinya? Para
penegak keadilan kita hampir semuanya korupsi. Dalam konteks Kitab Suci,
korupsi berarti mencemarkan nama Allah. Mereka menghina Allah.
Para penegak keadilan kita hanya mau bekerja kalau ada uang. Untuk
mendapatkan uang mereka bisa berbuat apa saja: menunda-nunda perkara,
memalsukan vonis, memanipulasi data, menyita jaminan untuk waktu yang
serba tidak pasti, meringankan pidana bahkan sampai membebaskan pidana
dengan alasan bukti tidak cukup atau tidak terbukti bersalah, perkara dipetieskan
(didiamkan) begitu saja, menerima alasan sakit dari terdakwa, dlsb.
Uang menjadi bahan pembanding mereka sehingga ada plesetan: KUHP
menjadi Kalau ada Uang Habis Perkara….
Dalam kacamata Mazmur 15:5 jelas bahwa korupsi adalah perbuatan
melawan dan menghina Allah sendiri. Orang hanya bisa bermazmur dan
memuji Allah kalau tangannya bersih dari korupsi, menerima uang sogok
dan tidak memanipulasi keadilan itu sendiri. Mazmur dan pujian yang sejati
186 Suap Menyuap = Korupsi
terhadap Allah adalah hidup yang tak bercela di hadapan Allah. Korupsi berarti
menghina Allah dan sekaligus merugikan sesama.
Sadarlah hai para koruptor! Tindakan korupsimu sangat merugikan
Allah dan sesamamu! Kamu jauh dari Allah. Kamu menghina Allah sendiri.
* Dosen Teologi Moral pada Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Suap Menyuap = Korupsi 187
D u a
KORUPSI, KEJAHATAN MELAWAN ALLAH
Amsal 15:27
(Aloys Budi Purnomo, Pr)*
Perhatian Allah terhadap orang miskin dan tidak berdaya merupakan
tema besar seluruh Kitab Suci. Hal yang sama juga menjadi perhatian dalam
kutipan Amsal 15:27, “Siapa loba akan keuntungan gelap, mengacaukan
rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan hidup.” Teks ini
mendapatkan dasarnya pada ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat 16-17,
“Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Allah dari pada banyak
harta dengan disertai kecemasan. Lebih baik sepiring sayur dengan kasih
dari pada lembu tambun dengan kebencian.”
Nasihat tersebut diteruskan dengan ayat 27 yang memberikan peringatan
bahwa sikap loba akan keuntungan gelap tidak memberikan tambahan apapun
dalam kacamata kebijaksanaan. Sikap loba akan keuntungan gelap itulah
yang juga disebut dengan praktik suap-menyuap yang harus dibenci. Semua
itu dalam konteks kehidupan kita tergambar dalam praktik KKN, korupsi,
kolusi dan nepotisme!
Kekuatan Nasihat Amsal
Kita semua mengenal yang disebut amsal. Amsal memuat beberapa
ciri, yakni 1) singkat (dalam satu kalimat), 2) padat, 3) mudah diingat, 4)
berpijak pada pengalaman, 5) memiliki kebenaran universal, 6) untuk tujuan
praktis; dan 7) berasal dari tradisi yang cukup lama namun tetap relevan
sepanjang zaman.
Amsal memiliki kekuatan, terutama dengan menekankan pengertian
dan ketaatan. Maka bersifat intelektual dan etis. Yang hendak disasar oleh
188 Suap Menyuap = Korupsi
amsal adalah kedalaman hati umat manusia, sebab hati dimengerti sebagai
pusat pikiran, pengertian dan pengendali pengambilan keputusan. Hati
menjadi pusat penyelidikan untuk mencapai pengertian, sehingga bisa
mengambil keputusan yang bijaksana.
Sokrates menegaskan, hidup yang tidak dapat diselidiki tidak layak
dihidupi. Penyelidikan hati dan batin manusia diharapkan membawa dampak
pada dataran kehidupan praktis, sehingga sikap, tingkah-laku dan tutur kata
setiap orang terarah pada kehendak Allah. Perilaku mempengaruhi cara
seseorang menghayati gaya hidupnya. Karenanya, refleksi menjadi penting
dalam kehidupan.
Pengertian dan ketaatan hanya akan terbentuk melalui pendidikan.
Pendidikan, baik formal maupun non-formal berorientasi pada karier
profesional. Orientasi dasar tersebut pada gilirannya bermuara pada penting
dan mutlaknya membela terwujudnya keadilan bagi masyarakat.
Korupsi, Kejahatan Melawan Allah
Atas dasar latar-belakang teologi Kitab Amsal tersebut, tidak berlebihan
bahwa korupsi sesungguhnya merupakan kejahatan melawan Allah sendiri.
Allah menghendaki hidup berlangsung dengan kasih. Praktik suap merupakan
tindakan melawan kasih. Praktik korupsi merupakan tindakan melawan Allah
sendiri, dan terhitung sebagai sebuah kejahatan melawan Allah dengan
mengabaikan keadilan bagi orang miskin.
Mengapa Kitab Amsal menegaskan bahwa siapa loba akan keuntungan
gelap, mengacaukan rumah tangganya, tetapi siapa membenci suap akan
hidup? Penegasan itu dilandaskan pada keyakinan yang kuat bahwa kejahatan
(yakni sikap loba, suap, kolusi, korupsi dan nepotisme) tidak akan pernah
dibiarkan tanpa hukuman dalam tata nilai ilahi. Dalam cara pandang Allah,
Allah tidak akan pernah membiarkan tindakan korup berakhir tanpa balas
bagi yang bersangkutan!
Teologi Amsal sejalan dengan teologi Deuteronium (Ulangan) bahwa
Allah pasti memberikan berkat kepada yang setia, dan kutuk kepada yang
Suap Menyuap = Korupsi 189
tidak setia. Allah menjanjikan berkat kepada yang setiap kepada-Nya, dan
kutukan kepada yang tidak setia. Dengan demikian, kebaikan, kesetiaan,
kerelaan membela keadilan mestinya menjadi bingkai siapapun dalam
menggapai kesuksesan hidup. Keberhasilan yang tidak diwarnai oleh sikap
koruptif dan nepotik, merupakan tanda berkat ilahi. Sebaliknya, korupsi,
kolusi, dan nepotisme merupakan tabungan bencana bagi masa depan yang
bersangkutan, cepat atau lambat, entah di dunia ini maupun di akhirat!
Kalau dalam konteks perang terhadap teroris(me) orang mengatakan
dan menyebutnya sebagai extra ordinary crime against humanity; korupsi
lebih lagi. Ia bukan saja extra ordinary crime against humanity, tetapi extra
ordinary crime against the God! Kalau kejahatan luar biasa mendapat
hukuman secara manusiawi (maupun ilahi), kiranya, lebih lagi, kejahatan
luar biasa melawan Allah mendatangkan hukuman yang setimpal dengan
perbuatan tersebut.
Menurut Kitab Amsal 15:27 hukuman itu bahkan bukan hanya menimpa
yang bersangkutan in se sebagai pribadi pelaku korupsi, melainkan juga akan
menimpa keluarganya, rumah tangganya! Barangkali, yang bersangkutan
tenang-tenang saja! Namun, keluarga, (s)anak-saudara yang terkait dengannya
akan menanggung kibat moral.
Tanggungjawab dan Kejujuran
Amsal 15:27 menyebutkan dua unsur pokok korupsi, yakni sikap loba
dan suap. Sikap loba dengan keuntungan gelap adalah salah satu bentuk
korupsi. Demikian juga suap! Praktik suap bisa terjadi di mana saja. Sikap
loba bisa menimpa siapa saja. Karenanya, untuk menangkal agar kita tidak
terjerat oleh virus loba dan suap, perlulah kita memperkembangkan sikap
bertanggungjawab dan jujur.
Tanggungjawab dan kejujuran merupakan bentuk-bentuk perwujudan
sikap iman dalam melawan korupsi. Mereka yang terjerat oleh dan terlibat
dalam praktik korupsi adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan
tidak jujur!
190 Suap Menyuap = Korupsi
Mengapa tindakan hukum yang jelas, tegas, transparan terhadap korupsi
tidak atau belum juga membangkitkan rasa takut apalagi jera? Karena dalam
diri para koruptor, yang namanya tanggungjawab dan kejujuran sudah mati!
Nurani tumpul! Tak ada lagi rasa takut dan jera.
Kasus paling hangat yang diberitakan selama bulan Oktober 2005, yakni
pengakuan terperkara Probosutedjo adalah salah satu contoh. Ia telah
mengeluarkan uang Rp 16 miliar untuk “membereskan” perkaranya. Dari
pengakuannya, terindikasi, korupsi pengadilan sampai ke lingkungan
Mahkamah Agung. Bahkan, mereka yang diberi tanggungjawab untuk
menegakkan keadilan dengan mengusut kasus korupsi secara adil pun,
bersikap loba dan main suap!
Yang lebih memalukan lagi, menyertai pembagian dana kompensasi
BBM untuk warga miskin, kita dibuat gelagapan oleh tega-teganya uang Rp
100.000 itu juga dikorup pada tingkat pelaksanaan, ketika dibagikan kepada
warga.
Bagaimana harus menjelaskan keadaan semacam itu? Awalnya, korupsi
bekerja di lingkungan suprastruktur. Kemudian mengarus ke bawah, ke
infrastruktur. Demikian parahnya sehingga kondisi korup infrastruktur
terpantul pada suprastruktur. Terjadilah interaksi antara infra dan supra. Luar
biasa kusut, rumit, kompleks (Kompas, 21/10/2005).
Oleh karena itu, diperlukan konsistensi yang juga ulet dalam
penghukuman dan pemberantasannya. Dari atas, pemerintahan dan pengadilan
harus mengembangkan tanggungjawab dan kejujuran. Tidak bersikap loba
dan main suap. Dari bawah, dari masyarakat perlu terus menyuarakan perlu
dan pentingnya menegakkan keadilan dengan menindak para koruptor sesuai
dengan nurani yang jernih. Peranan masyarakat madani diperlukan. Seperti
halnya amat diperlukan bekerjanya pemerintah dan pemerintahan yang bersih
dari atas.
* Rohaniwan, melayani di Gereja Katedral Semarang
Suap Menyuap = Korupsi 191
T i g a
YANG MENYUAP DAN DISUAP SAMA-SAMA KORUPTOR
Keluaran 23:8
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM)*
Sidang Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Sudah menjadi “kelaziman” di Indonesia, kalau kita berurusan ke kantorkantor
pemerintahan seperti mengurus KTP, ijin usaha, atau ijin apa saja, maka
kita harus mengeluarkan uang ekstra supaya urusan lancar dan cepat. Prinsip
pelayanan yang cepat dan murah atau bahkan bebas bea itu masih jauh tinggi
di awan dan hanya menjadi pemanis bibir para pejabat. Dengan kata lain, suap,
sogok, atau uang “semir” sudah menjadi keseharian. Peristiwa itu terjadi entah
di jalan, di kantor, atau di rumah. Baru-baru ini dunia peradilan kita dihebohkan
oleh skandal suap yang melibatkan pengacara seorang pengusaha dengan pihak
Mahkamah Agung. Itu baru secuil dari begitu banyak kasus suap yang terjadi.
Sebenarnya, baik yang disuap dan menyuap berada pada garis yang sama dan
melakukan kejahatan yang sama: korupsi! Sebab itu di Indonesia, yang menyuap
dan disuap akan dihukum. Banyak contoh mengenai kasus suap bisa kita jumpai
di tengah-tengah masyarakat kita.
Sidang Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Yang menjadi pokok permenungan kita kali ini adalah tentang suap.
Dalam Kitab Suci cukup tegas dikatakan: “Suap janganlah kau terima, sebab
suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan
perkara orang-orang benar”, (Kel 23:8). Ini adalah rangkaian perintah Tuhan
yang diberikan kepada umat Israel sebelum mereka masuk dan menetap di
Tanah Kanaan.
Mengapa Allah melarang suap? Allah melarang suap karena suap adalah
salah satu bentuk kejahatan dan dosa. Sebagai sebuah dosa dan kejahatan,
192 Suap Menyuap = Korupsi
maka suap juga akan melahirkan dosa dan kejahatan. Suap membutakan mata
hati, membuat kepekaan nurani menjadi tumpul, dan kesadaran akan keadilan
dan kebenaran menghilang. Garis batas antara “yang benar” dan “yang salah”
menjadi kabur dan tak jelas. Malah, “yang benar” akan menjadi “yang salah”
dan “yang salah” akan menjadi “yang benar”. Kebenaran dan keadilan menjadi
sesuatu yang absurd. Begitulah ketika dosa suap telah merasuki kehidupan
kita.
Dalam nas dikatakan, bahwa “suap membuat buta mata orang-orang
yang melihat”. Ini adalah sebuah pengandaian tanpa bermaksud untuk
melecehkan orang-orang buta secara fisik. Pengandaian ini hendak
menegaskan bahwa suap – baik yang disuap maupun yang menyuap –
membuat orang tidak lagi mampu melihat dengan jernih dan membedakan
mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Pertimbangan benar
dan salah, baik dan buruk, keadilan dan kebathilan tertutup oleh suap. Yang
dilihat hanyalah dirinya sendiri. Dan ketika yang dilihatnya hanya dirinya,
maka yang ada hanyalah keserakahan dan kerakusan.
Suap mempunyai dampak yang luas dalam kehidupan. Dalam bidang
ekonomi suap akan melahirkan ekonomi biaya tinggi. Di Indonesia, kalau
orang ingin berinvestasi, variable costnya akan sangat tinggi. Jangan harap
urusan cepat selesai kalau tidak ada uang pelicin alias uang “stimulus”, jangan
harap bisnis akan lancar kalau tidak ada variable cost untuk berbagai instansi
yang terkait. Hal seperti ini marak terjadi di daerah dan jauh dari pusat
kekuasaan. Dalam bidang hukum, suap akan melahirkan ketidakadilan hukum
dan melukai rasa keadilan rakyat, karena keputusan yang diambil lalu menjadi
tidak sesuai dengan kesalahan. Betapa banyak koruptor yang lolos dari jeratan
hukum. Di kalangan rakyat lahirlah sikap tidak percaya terhadap lembagalembaga
penegakkan hukum dan keadilan. Akibatnya muncullah kemudian
apa yang disebut dengan “peradilan rakyat”. Pencuri atau pencopet yang
tertangkap langsung dihajar bahkan dibakar. Dalam bidang politik, praktek
money politics melahirkan para pejabat yang korup. Bahkan, suap telah
menjadi lahan bisnis bagi para penipu kelas teri, dengan menjual nama para
pejabat kepada para pencari kerja. Kenapa judi-judi liar bisa hidup subur
dengan omzet milyaran rupiah setiap malam? Hal itu disebabkan para pejabat
Suap Menyuap = Korupsi 193
telah makan suap dari pengusaha perjudian. Hal yang sama juga terjadi di
daerah-daerah dengan pemberian ijin praktek perjudian sabung ayam, toto
gelap alias togel) dll.
Suap telah merusak tatanan dan nilai dalam kehidupan masyarakat. Ini
semua memperlihatkan betapa jahat dan dahsyatnya kerusakan moral yang
ditimbulkan oleh korupsi. Itulah sebabnya Yesus dalam Matius 5:29 (bdk.
Mrk 9:47) mengatakan: “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau,
cungkillah dia dan buangkan itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari
anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke
dalam neraka.” Suap bukan saja racun jahat yang merusak seluruh tubuh,
melainkan ia juga racun jahat yang membusukkan seluruh tatanan nilai dalam
kehidupan.
Suap adalah produk dari pikiran dan hati yang korup. Pikiran dan hati
yang korup akan melahirkan budaya yang korup. Kejahatan berasal dari hati
yang busuk. Hati yang busuk meskipun dibungkus dengan sutera, pada
ujungnya akan mengeluarkan bau busuk.
Kesulitan – bukannya tidak bisa untuk menghilangkan suap adalah
karena masyarakat sudah dikondisikan sedemikian rupa, sehingga suap lalu
menjadi sebuah keseharian, kebiasaan, suatu yang dianggap lumrah dan “tidak
apa-apa”. Karena itu kita melihat, secara pelan-pelan istilah suap digantikan
dengan “ucapan terima kasih”, “tali asih”. dan berbagai eufemisme. Suap
sebagai salah satu bentuk korupsi - telah melahirkan mental gaya hidup yang
permisif. Tidak ada lagi budaya malu yang tersisa, ketika nurani sudah tumpul.
Sebab itu harus ada keberanian politik pemerintah untuk membangun sistem
yang akan menghilangkan praktek suap. Ketentuan hukum pidana tentang
suap saja tidaklah cukup untuk menghentikan praktek suap, karena praktek
suap menyuap memang sulit dibuktikan.
Kita kesulitan untuk membuktikan praktek korupsi bukan karena tidak
ada bukti-bukti empiris, tetapi karena lemahnya kesadaran moral untuk tidak
melakukan praktek suap. Lemahnya kesadaran moral bukan karena tidak
terbiasa menolak praktek suap, tetapi karena suap membawa “kenikmatan”,
kemudahan dan keleluasaan. Maka dari itu, sebagai orang-orang yang percaya
194 Suap Menyuap = Korupsi
pada Tuhan, perlulah kita selalu membiasakan diri untuk berani menolak
menerima dan melakukan suap. Sebab suap cepat atau lambat akan sangat
merugikan baik bagi diri sendiri, Gereja dan bangsa. Hendaklah kita memulai
dan harus berani untuk tidak melakukan suap dari diri kita sendiri, dari dalam
keluarga, dari dalam Gereja kita, dari masyarakat yang hidup bertetangga
kita.
Beranikah kita mengatakan TIDAK PADA SUAP. SEBAB SUAP
SEDIKIT DEMI SEDIKIT AKAN MEMBAWA BENCANA. Beranikah kita?
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Ketidakadilan dan Korupsi 195
KETIDAKADILAN
DAN KORUPSI
BAGIAN
VI
196 Ketidakadilan dan Korupsi
Ketidakadilan dan Korupsi 197
S a t u
CELAKALAH WAHAI KORUPTOR!
Yeremia 22:13-19
(Pdt. Em. DR. Darius Dubut, MM)*
Umat Tuhan yang berbahagia,.
Minggu-minggu dan hari-hari terakhir ini, media elektronik dan cetak
di Tanah Air diramaikan oleh pemberitaan mengenai kasus korupsi yang
menimpa para pejabat Mahkamah Agung RI. Tapi itu baru salah satu puncak
dari gunung es korupsi yang seakan-akan berdiri tegar tak tergoyahkan.
Puncak gunung es itu muncul di tengah permukaan laut, sedangkan kakinya
tertancap dalam-dalam di dasar lautan. Begitulah kira-kira gambaran masifnya
korupsi di Indonesia. Ia seakan-akan sudah berurat-akar dalam kehidupan
begitu banyak orang, sehingga menjadi begitu sulit untuk dirobohkan. Ia
seperti kanker ganas yang menjalari seluruh sendi kehidupan, dan membuat
bangsa ini sakarat. Keadaan seperti itu terjadi karena korupsi dimulai dari
kalangan pejabat pemerintahan dan mereka yang berkuasa, dari pejabat
tertinggi sampai rendahan. Korupsi yang dilakukan oleh para petinggi itu
sebenarnya adalah merampok uang rakyat, karena uang itu seharusnya
dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Nubuat atau vision nabi Yeremia ini (Yer 22:13-19) secara tajam
mengutuk raja Yoyakim atas penindasan yang dilakukannya terhadap rakyat.
Ayat 13 mengatakan, bahwa raja Yoyakim telah mempekerjakan rakyat untuk
membangun istananya tanpa memberikan upah kepada mereka. Pemimpin
yang menindas, mengejar untung, memeras dan menganiaya rakyat adalah
perbuatan orang yang sebenarnya tidak mengenal Allah (ayat 17). Terhadap
pemimpin yang seperti itu, ketika ia mati, tidak akan ada orang yang meratapi
kematiannya. Bahkan ia akan dikubur seperti mengubur binatang yang mati
(ayat 19).
198 Ketidakadilan dan Korupsi
Suara Nabi adalah suara Tuhan. Keberpihakan Nabi kepada rakyat yang
tertindas dan teraniaya memperlihatkan keberpihakan Tuhan. Tuhan tidak
pernah berpihak kepada pemimpin atau orang-orang yang memeras dan
menganiaya rakyat Malahan Tuhan mengutuk para pemimpin yang berlaku
dhalim terhadap rakyatnya.
Rakyat adalah orang-orang yang lemah dan tidak berdaya. Mereka
adalah orang yang tidak punya akses terhadapberbagai akses kehidupan.
Kalaupun ada, itu sangat terbatas. Karena ketidakberdayaan itulah mereka
gampang dimobilisasi oleh orang-orang atau kelompok tertentu untuk
kepentingan orang-orang dan kelompok tertentu itu. Bukannya demi rakyat!
Namun atas nama rakyat jalan-jalan tol dan mall-mall dibangun. Atas nama
rakyat pemukiman masyarakat di daerah kumuh digusur. Atas nama rakyat
gaji anggota DPR RI dinaikkan. Atas nama rakyat harga BBM dinaikkan.
Atas nama rakyat hutan-hutan digunduli. Atas nama rakyat pulalah pemerintah
mengutang dari luar negeri. Rakyat selalu menjadi sasaran empuk dari
keculasan hati dan keserakahan para pemimpinnya. Tetapi sesungguhnya,
ketika semuanya itu dilakukan oleh para penguasa hanya untuk menumpuk
kekayaan diri, maka sebenarnya tindakan itu merupakan tindakan yang
menghina Tuhan. Keberpihakan Tuhan terhadap rakyat, bukan sekedar karena
mereka rakyat atau karena mereka miskin dan papa, tetapi karena mereka
adalah korban dari keculasan dan kerakusan para pemimpinnya yang korup.
Rakyat miskin karena dimiskinkan, rakyat bodoh karena sengaja dibiarkan
bodoh supaya gampang dibodohi. Rakyat dibiarkan tetap miskin, supaya
pemerintah mempunyai alasan untuk mengeluarkan dana kompensasi
kemiskinan, sehingga rakyat tergantung pada “kemurahan hati” para
pemimpinnya. Lihat saja pada kenyataan yang terjadi. Betapa antusiasnya
rakyat menyambut kucuran dana kompensasi kenaikan BBM. Mereka
menyambut peristiwa itu dengan penuh kegembiraan, seakan-akan
menyambut berkat dari Tuhan. Karena itu pada hari mereka mengambil dana
kompensasi kenaikan BBM itu mereka mengenakan pakaian terbaik yang
mereka miliki. Rakyat tidak sadar bahwa program itu sebenarnya akan
membuat mereka tetap miskian dan tergantung pada pemerintah. Program
itu sama sekali tidak memberdayakan rakyat! Sedihnya lagi, ketika rakyat
hanya memperoleh dana seratus ribu sebulan, para “wakil rakyat” justru
Ketidakadilan dan Korupsi 199
memperoleh sepuluh juta sebulan. Itulah sebabnya Tuhan senantiasa berpihak
kepada rakyat.
Raja Yoyakim, bukannya orang yang tidak beragama. Dalam tradisi
Israel, raja adalah wakil Tuhan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran
rakyat. Di Indonesia, para pejabat, baik di lembaga eksekutif, legislatif, dan
yudikatif diambil sumpah – janji jabatan. Sumpah-janji jabatan itu pun
diucapkan demi dan dalam nama Tuhan. Yang luar biasa adalah keberanian
para pejabat itu. Bukankah ketika mereka mengingkari sumpah-janji jabatan
yang diucapkan sebenarnya mereka telah menipu dan menghianati Tuhan
sendiri? Sungguh luar biasa keberanian para pemimpin dan pejabat di
Indonesia!
Para pemimpin yang korup itu bukannya tidak beragama. Malahan
mereka kelihatan sangat saleh dan dermawan. Tetapi sebenarnya mereka itu
seperti musang berbulu ayam, yang siap menerkam kalau ayam lagi lengah.
Mereka dermawan, tetapi dari uang hasil korupsi dan menipu rakyat. Mereka
bisa memberikan fasilitas kantor untuk kegiatan keagamaan, padahal
penggunaan fasilitas kantor untuk keperluan di luar kantor adalah korupsi.
Itulah sebabnya, di Indonesia ini, kalau para pemimpin dan penguasa yang
korup itu meninggal dunia malahan dikubur dengan upara kebesaran. Nah
ini berbeda dengan apa yang dinubuatkan nabi Yeremia terhadap raja Yoyakim,
yang kalau mati akan dikubur seperti mengubur hewan. Kenyataan seperti
itu sebenarnya hendak memperlihatkan kepada kita, bahwa korupsi telah
begitu membudayanya dalam masyarakat. Itulah sebabnya di Indonesia ini
orang bangga menjadi koruptor.
Kalau kepada para koruptor itu ditanyakan, apakah mereka menipu
Tuhan, sudah pasti mereka akan mengatakan tidak! Bagaimana bisa dikatakan
menipu Tuhan, kalau ia rajin beribadah? Bagaimana bisa dikatakan menipu
Tuhan, kalau ia adalah orang yang dermawan? Tetapi sebenarnya mereka
lupa, bahwa ketika mereka sudah tidak lagi berpegang pada sumpah – janji
jabatan yang diucapkan, ketika mereka merampok uang rakyat, dan uang itu
didermakan ke rumah-rumah ibadah, sebenarnya mereka telah menipu Tuhan?
Itulah sebebnya Nabi mengatakan bahwa para koruptor itu sesungguhnya
adalah orang-orang yang celaka.
200 Ketidakadilan dan Korupsi
Di Indonesia ini, secara politik tidak ada orang yang tidak beragama.
Itu sebabnya banyak pemimpin dengan bangga mengatakan, bahwa
masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius. Tetapi ironinya, justru
bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa terkorup di dunia. Lalu apa artinya
menjadi orang yang beragama kalau pada saat yang sama ia melakukan
tindakan yang sama sekali bertentangan dengan kaidah-kaidah agama? Atau
para koruptor itu adalah orang yang beragama, tetapi tidak bertuhan? Sebab
ketika kewajiban agama dilaksanakan tanpa penghayatan terhadap nilai-nilai
kemanusiaan, maka keberagamaan seperti itu sama sekali tidak mengandung
nilai-nilai ketuhanan. Agama bukanlah untuk agama, tetapi agama adalah
untuk Tuhan. Kalau agama itu untuk Tuhan maka sebenarnya agama adalah
untuk kemanusiaan, dan keberagamaan yang benar mestilah dinyatakan dalam
upaya menyejahterakan rakyat.
Umumnya, keberagamaan di Indonesia ini baru sebatas ritus.
Keberagamaan seperti itu adalah keberagamaan yang ritualistik dan hanya
dilakukan pada hari, jam, dan tempat tertentu. Itu berarti bahwa orang
berhubungan dengan Tuhan hanya pada hari, jam, dan tempat tertentu. Di
luar itu ia tidak berhubungan dengan Tuhan, sebab Tuhan tidak diperlukan
di luar hari, jam, dan tempat tertentu itu. Keberagamaan seperti ini sebenarnya
jauh dari realita sosial, dan itu sebabnya tuli terhadap jeritan penderitaan
rakyat yang hak-haknya dirampas dan diperkosa oleh para pemimpinnya.
Jadi jangan heran, orang yang tampaknya begitu saleh dan rajin beribadah
bisa jadi adalah serigala buas dan rakus, yang siap menerkam dan melahap
uang rakyat.
Menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan Tuhan untuk keadilan,
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Sebab itu, pemimpin yang benar
adalah pemimpin yang memihak dan melindungi rakyat. Sebaliknya
pemimpin yang tidak memihak dan tidak melindungi rakyat adalah para
pemimpin yang munafik, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Itu sebabnya
Yesus mengecam dengan keras pemimpin yang seperti itu dan mengatakan
mereka seperti kuburan yang di luarnya dicat putih tetapi di dalamnya penuh
tulang belulang dan kotoran (Mat 23:27).
Ketidakadilan dan Korupsi 201
Kalau menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan Tuhan untuk
kesejahteraan masyarakat, maka betapa penting bagi setiap pemimpin untuk
selalu membersihkan hatinya dari segala kotoran. Hati adalah pusat
pertimbangan bagi kebaikan dan keburukan. Niat datang dari hati. Sebab
itu, meskipun kesempatan untuk berbuat korup terbuka lebar ketika menjadi
pemimpin, namun tidak ada niat untuk berbuat korupsi, maka pemimpin
seperti itu akan menjadi berkat bagi rakyat. Sebab itu jagalah hati dari segala
kebusukan.-
*. Pendeta emeritus dari GKE, Direktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
202 Ketidakadilan dan Korupsi
D u a
PEREMPUAN DAN KORUPSI
Amos 4:1-3
(Pascalis Sopi)*
Tahun 2003 yang lalu, koran-koran lokal di ibu kota provinsi NTT,
Kupang heboh dengan berita tentang seorang ibu berinisial LG, staf kasir
(teller) bank Mandiri Kupang yang melakukan posting transaksi penyetoran
tunai tanpa disertai penyetoran fisik. Secara berulang-ulang ia melakukan
posting ke beberapa rekening yang salah satunya adalah milik MS. Keduanya
dikenai hukuman, sedangkan yang lainnya mengaku bahwa mereka tidak
mengetahui perihal posting tersebut sehinga tidak ditahan oleh pihak berwajib.
Kerugian yang dialami oleh bank sebesar 4,7 miliar lebih. Sampai sekarang
ia telah diputuskan untuk menjalani hukuman delapan tahun penjara ditambah
denda 150 juta. Selain itu ia harus membayar ganti rugi sebesar kerugian
yang telah dilakukannya. Jika ia tidak melakukan ganti rugi maka hukumannya
akan ditambah 5 tahun lagi, sehingga ancaman kurungan baginya menjadi
13 tahun penjara. Pelaku transaksi fiktif tersebut kini sedang meringkuk di
Lapas Perempuan Penfui Kupang.
Kasus LG ini seakan memperkuat asumsi bahwa yang melakukan
korupsi bukan saja laki-laki, atau yang tidak melakukan korupsi bukan saja
perempuan. Keduanya mempunyai peluang yang sama bila ada kesempatan.
LG adalah salah satu dari sekian koruptor yang menggoreskan namanya pada
lembaran buruk sejarah bangsa ini sebagai bangsa paling korup di dunia.
Tapi ia bukan satu-satunya perempuan. Masih ada sekian banyak perempuan
lain di negeri ini yang melakukan korupsi. LG adalah pelaku aktif, sedangkan
yang lainnya adalah pelaku pasif. Namun baik aktif ataupun pasif, keduanya
telah memberikan kontribusi yang sama besarnya terhadap kemiskinan dan
keterpurukan bangsa ini. Siapakah perempuan pelaku korupsi pasif tersebut?
Ketidakadilan dan Korupsi 203
Lembu-lembu Basan
Mereka adalah para perempuan yang mabuk kemewahan dan oleh Amos
dijuluki sebagai “lembu-lembu Basan.” Mereka adalah para perempuan yang
turut mendukung para suaminya yang sedang mendapat kesempatan berkuasa
untuk memeras rakyatnya dengan membuat aturan dan perintah yang macammacam.
Mereka adalah para nyonya yang lengah dan mungkin juga sengaja
tidak mencegah para suaminya agar tidak melakukan tindakan yang
memalukan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka adalah para wanita
yang sengaja menutup mata terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyatnya,
“yang memeras orang lemah, menindas orang miskin dan mengatakan kepada
tuan-tuanmu: bawalah kemari supaya kita minum-minum!” (Am 4:1). Pelaku
pasif itu juga adalah anak-anak gadis yang selalu menuntut lebih dari orang
tuanya hanya untuk penampilan konsumtif; hand phone terbaru untuk
mengontak sang pacar; motor dan mobil produksi terbaru buat tumpangan
laki-laki macho peraih mahkota keperawanan. Mereka adalah gadis muda
yang tampil menggoda, merangsang hasrat laki-laki sambil menawarkan jasa
untuk berpesta seks dan narkoba. Mereka adalah perempuan, para ibu dan
anak-anak gadis yang menghabiskan waktu berjam-jam menonton sinetron
dan telenovela sambil menunggu pembantu menyiapkan makanan, mencuci,
setrika dan mengasuh anak.
Perempuan pelaku korupsi pasif itu juga adalah para pemuja kemewahan
yang hedonis, yang tampak cerah ceria, modis dan elegan, make-up menebar
wajah, parfum harum mewangi, lipstik menghias bibir, gincu melabur pipih,
kuteks menutup kuku kaki dan tangan, kalung dan gelang emas melingkar
leher dan tangan, intan permata bergelantung telinga, dan segala tetek bengek
asesorisnya lainnya. Mereka adalah para perempuan yang berjalan sambil
menjenjang leher dan mengangkat bahu, berkendaraan mewah, masuk
restoran elit, berwisata ke aneka taman ria, melancong ke manca negara
(mungkin juga berkungjung ke tanah suci), tanpa peduli dan jauh dari rasa
iba atau solider terhadap penderitaan orang kecil di sekitarnya. Sungguh!
Mereka adalah “lembu-lembu Basan” jaman ini.
Basan sebuah dataran di sebelah timur Sungai Yordan, terkenal karena
tanahnya yang subur dan lembu, domba dan ternak yang sehat dan tegap204
Ketidakadilan dan Korupsi
tegap (bdk. Ul 32:14; Yeh 39:18; Mzm 22:13; Yer 50:19). Simbolisasi Amos
tentang lembu-lembu betina dari daerah Basan yang hidup terjamin karena
selalu diberi makan oleh para tuannya sehingga tampaknya sehat, kuat,
montok dan enak dipandang mata, sebenarnya menunjukkan karakter kaum
perempuan, para nyonya Samaria yang manja dan hedonis, dan tidak peduli
terhadap kemiskinan yang menimpah kaum kecil.
Amos, seorang nabi dan gembala yang hidup pada tahun 781-743 SM,
memberikan gambaran yang jelas atas perilaku perempuan elit yang berfoyafoya
dan menari-nari di atas kemiskinan rakyat. Yang menarik dari kritik
sosial Amos itu adalah kemampuannya untuk meletakan persoalan yang
sebenarnya tanpa kesan menonjolkan bias jender. Ia ingin menegaskan bahwa
yang melakukan korupsi itu tidak hanya laki-laki atau yang tidak melakukan
korupsi itu bukan saja perempuan. Keduanya mempunyai peran yang sama
hanya modusnya berbeda. Dalam kutipan di atas perspektif “kesetaraan”
jender itu sangat jelas terungkap, dimana ia melihat laki-laki sebagai pemeran
yang aktif sedangkan perempuan sebagai pemeran pasif. Secara aktif memang
perempuan tidak melakukan korupsi, tapi pola hidup dan tingkah lakunya
sangat jelas menampilkan kategori itu. Laki-laki yang korupsi, wanita yang
menikmati dan berfoya-foya. Keduanya sama-sama memberi kontribusi dalam
proses pemiskinan yang masif.
Waktu itu, Amos sepertinya tidak pernah melihat ada perempuan dari
kalangan elit itu yang menunjukkan rasa solider terhadap penderitaan kaum
miskin. Bahkan rasa malu terhadap tindakan korupsi tidak terlihat di kalangan
perempuan Samaria. Kombinasi antara perilaku korup para suami dan mental
hedonis kaum perempuannya menjadi kontribusi utama terhadap situasi yang
tidak lama lagi akan membawa keruntuhan kepada Israel. “Akan datang masanya
bagimu, bahwa kamu diangkat dengan kait dan yang tertinggal di antara kamu
dengan kail ikan. Kamu akan keluar melalui belahan tembok, masing-masing
lurus ke depan, dan kamu akan diseret ke arah Hermon” (Am 4:2-3).
Ramalan eskatologis ini dipertegas lagi dengan pernyataan “Kesudahan
telah datang bagi umatKu Israel. Aku tidak akan memaafkannya lagi!” (Am
8:11; 9:13) Di sinilah letak ketidakadilan yang sesungguhnya. Hukuman ilahi
itu bukan saja ditanggung oleh mereka yang telah mengeksploitir kaum
Ketidakadilan dan Korupsi 205
miskin, tetapi harus ditanggung kaum miskin juga dalam menghadapi
keruntuhan bangsa itu pada masa yang akan datang. Mengapa hukuman itu
harus ditimpakan kepada semua orang dan bagaimana agar hukuman itu dapat
dicegah?
Spirit Baru: Masyarakat Kontras
Perlu dicatat bahwa tema sentral dari nubuat Amos adalah kritiknya
terhadap situasi sosial dan politik pada masa Yerobeam II yang jauh dari
keadilan, kejujuran dan kebenaran, bukan terutama pada hukuman ilahinya.
Dalam konteks ini hukuman ilahi digunakannya agar kritikannya itu mendapat
landasan spiritual dan legitimasi ilahi demi menyadarkan kaum elit yang
sudah sangat tidak peduli dengan rakyatnya. Memang, secara ekonomis dan
politis negeri itu aman dan stabil, tetapi secara sosial terjadi ketimpangan
yang begitu besar. Ketimpangan itu dikarenakan oleh mismanajemen dari
penguasanya. Otoritas kekuasaan yang terpusat pada seorang atau segelintir
orang menyebabkan tidak ada fungsi kontrol yang efektif. Akibatnya
penyelewengan, korupsi dan kolusi meraja lela. Situasi inilah yang
menimbulkan kerawanan sosial dan berakibat pada kehancuran bangsa.
Persis! Situasi bangsa kita sejak Orde Baru sampai sekarang ini tidak
jauh berbeda dengan situasi di masa Amos. Kemakmuran hanya dinikmati
oleh segelintir orang. Mereka menari-nari di atas penderitaan kaum miskin.
Kesengsaraan dan kemiskinan bangsa ini sebenarnya berasal dari para pejabat
publik, eksekutif, legislatif dan yudikatif yang cenderung korup dan tidak
bermoral. Karakter para perempuan elit di negeri inipun tidak jauh dengan
tingkah “lembu-lembu Basan” di masa Amos. Mereka senang berpesta pora,
berfoya-foya, hendonis seperti yang digambarkan di atas.
Untuk menyelamatkan bangsa ini, maka harus ada sebuah semangat
baru, spirit masyarakat kontras (counter society – istilah yang dimunculkan
oleh Gerhard dan Nobert Lohfink bersaudara). Spirit ini harus mulai dari
para ibu atau para wanita. Konsern mereka, sensitifitasnya merupakan modal
dasar untuk terjadinya perubahan dan perbaikan dalam masyarakat. Perbaikan
dan perubahan itu baru bisa terjadi kalau setiap perempuan atau kaum ibu
206 Ketidakadilan dan Korupsi
mempunyai tekad yang sama dan menampilkan diri sebagai the counter
society, yang tampil menjadi penentang arus globalisasi yang cenderung
materialis dan hedonis, demi menyelamatkan bangsa dan negara ini dari
kemiskinan dan kehancuran. Spirit ini harus menjadi semangat bersama,
spiritualitas nasional. Sebuah spiritualitas yang bisa mengangkat kembali
harkat dan martabat bangsa ini
Ciri dari masyarakat kontras adalah masyarakat yang tidak terlalu
terpengaruh dengan bujuk rayu duniawi dan tampilan yang artifisial.
Spiritualitas ini adalah spiritualitas kaum eremit, para biarawan/biarawati
yang “menyingkir” ke tempat sepi dan menolak bujuk rayu duniawi.
Menyingkir di sini bukan dalam pengertian fisik namun dalam pengertian
semangat dan motivasi. Semangat yang perlu ditumbuhkan adalah semangat
ugahari, pengekangan diri dan penghayatan kemiskinan sekaligus sebagai
suatu opsi untuk keberpihakannya kepada kaum miskin (option for the poor).
Semangat itu adalah semangat “Kaul Kemiskinan” seperti yang diikrarkan
oleh biarawan/biarawati yang lebih menghargai disiplin, kerja keras dan tidak
memboroskan waktu dan dana untuk kesenangan dan kepuasan diri.
Sampai sejauh ini sepertinya ikrar kemiskinan itu hanya dilihat eksklusif
milik biarawan/wati. Padahal ikrar mereka itu merupakan saksi bagi dunia
bahwa sebenarnya semua orang bisa menghayati semangat kemiskinan yang
diwujudkan dalam tindakan seperti hemat, ugahari dan tidak mendewakan
kekayaan duniawi secara berlebihan. Model dan gaya hidup mereka bisa
menjadi contoh untuk masyarakat jaman sekarang. Orang awam, para
mahasiswa, siapapun dan di manapun mungkin bisa belajar dari pola hidup
kaum religius di kota Yogyakarta terutama yang sedang dalam masa
pembinaan dan pendidikan. Para mahasiswa (suster, frater dan bruder)
biasanya berduyun-duyun mengayuh sepeda ontel (bila tidak ya jalan kaki)
ke kampus, gereja atau pasar. Tindakan mereka selain merupakan wujud dari
penghayatan kaul kemiskinan (dan juga ketaatan dan kemurnian) namun juga
merupakan aksi penghematan BBM yang sekarang menjadi persoalan utama
bangsa. Motif inilah yang didemonstrasikan para mahasiswa Sekolah Filsafat
Driyarkara dalam kampanye hemat energi dan mengurangi polusi dengan
menggunakan sepeda di Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta hari Jumat, 28
Oktober 2005.
Ketidakadilan dan Korupsi 207
Sungguh, mereka adalah the counter society yang menjadi saksi
penghayatan kemiskinan yang paling konkret yang sering kita temui di
lingkungan tempat tinggal kita. Mereka adalah saksi kemiskinan Kristus yang
tidak mempunyai rumah milik sendiri untuk membaringkan badan dan
berjalan kaki ke mana-mana mewartakan belas kasih dan pertobatan. Bahkan
“aksi” jalan kaki Yesus telah menggugah Zakheus (petugas bea cukai) untuk
turun dari “pohon” kemewahannya, sehingga muncul pertobatan dan
pembalikan sembari berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan
kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang
akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19: 9).
Semoga kaum perempuan di negeri ini menjadi lebih sadar diri untuk
tidak melakukan korupsi baik aktif maupun pasif. Kiranya mereka menjadi
pelopor untuk munculnya semangat baru, menentang segala tawaran duniawi
yang merugikan dan menghancurkan masa depan bangsa ini sambil
mendorong suaminya untuk berlaku jujur, adil dan benar bila sedang mendapat
kesempatan berkuasa. Para ibupun perlu menasihati dan memotivasi anak,
saudara dan keluarganya supaya bertindak hemat dan bersolider, menghargai
kerja keras dan produktifitas, mandiri dan tidak bermental priyai agar bangsa
kita tidak terus menjadi sasaran empuk tawaran kenikmatan hasil kemajuan
ilmu dan teknologi bangsa lain.
Akhirnya ingatlah wahai Ibu dan Saudariku, tanpa peranan dan campur
tanganmu bangsa ini akan tetap terkungkung, jauh dari kesejahteraan dan
kebahagiaan. Padamulah kami bersandar, surga ada di bawah telapak kakimu,
Ibu dan Saudariku!
* Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero–Flores-NTT, Bekerja Mandiri dan
Pendamping Kaum Muda Katolik, tinggal di Yogyakarta.
208 Ketidakadilan dan Korupsi
T i g a
KORUPSI BUAH KETIDAKADILAN
Hosea 6:3
(Bambang Pujo Riyadi, STh. MPD)*
Perkenankan dalam kesempatan ini kita akan menterjemahkan “Tuhan”
di dalam nats di atas sebagai kaum inferior, terpinggirkan, dan termarjinalisasi;
yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, masyarakat yang
rentan bahaya (wanita dan anak-anak), masyarakat-serba-tuna (tuna wisma,
tuna susila, tuna rungu, tuna karya, dan tuna-tuna yang lain), dan masyarakat
papa. Ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada di surga, tetapi kali ini kita
akan melihat Tuhan ada di mata anak-anak jalanan, para tukang batu, para
buruh, para tukang becak, loper koran, penarik bajaj, dan mata segala mata
manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan (under poverty line).
Sementara, mata-mata itu melihat betapa sebagian masyarakat dapat
menikmati segala fasilitas kemewahan. Jurang perbedaan yang tajam dalam
kondisi sosial dan ekonomi seperti ini menggambarkan situasi negara yang
belum adil dan merata.
Beberapa fasilitas publik yang seharusnya dapat dinikmati oleh umum,
ternyata juga mempunyai kendala dalam mengaksesnya. Misalnya saja, dunia
informasi yang seharusnya sudah mudah diperoleh secara umum, masih
terkendala oleh ruang, uang dan waktu, bahkan oleh sebagian besar lapisan
masyarakat di Indonesia. Dalam sebuah tayangan telivisi, dengan naif
diberitakan bahwa beberapa warga masyarakat yang mempunyai kriteria
miskin (lebih halusnya disebut “kurang mampu”) belum memperoleh
informasi tentang adanya pembagian Dana Kompensasi BBM. Bahkan,
tragisnya karena informasi yang salah atau dibuat salah, dana ini tidak sampai
kepada keluarga-keluarga yang seharusnya menerima. Fasilitas publik lain
adalah kesempatan untuk mengakses dana melalui pinjaman lunak (soft loan)
baik yang disediakan oleh bank juga lembaga keuangan lain, ataupun dana
bantuan (grant loan) yang biasanya dalam bentuk peralatan usaha, sudah
Ketidakadilan dan Korupsi 209
pasti hanya diakses oleh orang (yang kasarnya disebut ‘oknum’) tertentu.
Sedemikian pentingnya informasi harus dapat merata diakses oleh segala
lapisan masyarakat, maka Kabinet SBY-Kala membentuk satu departemen
khusus untuk hal ini, yaitu Depkominfo (Departemen Komunikasi dan
Informatika).
Situasi-situasi ketidak-merataan dan ketidak-adilan ini, salah satu
sebabnya adalah buah dari penyembahan berhala masa kini, yaitu uang,
kedudukan, dan kekuasaan, yang menyebabkan kebobrokan rohani, moral,
politik dan sosial.
Pemanggilan Hosea
Nubuat Hosea adalah upaya terakhir Allah untuk memanggil Israel
supaya bertobat dari penyembahan berhala dan kefasikan mereka yang tak
kunjung berakhir selama 30 tahun. Dari upaya itu, ada dua hasil yang dapat
terjadi menjadi suatu integrated results (hasil yang mempunyai keterkaitan)
yaitu, hukuman dan kasih penebusan Allah (two in one).
Kitab Hosea diperkirakan ditulis pada 715-710M. Hosea (bin Beeri)
adalah orang Israel (bukan Yahudi). Dialah yang otobiografinya tertulis dalam
kitab ini. Hosea mengawini Gomer (yang akhirnya menjadi pelacur),
mempunyai tiga anak yang nama-namanya sebagai nubuatan bagi Israel yaitu:
Yizreel yang berarti Allah Mencerai Beraikan, Lo-Ruhama yang berarti Tidak
Dikasihi Lagi dan Lo Ami yang berarti Bukan UmatKu (Hos 1:9). Di tengah
kekalutan kehidupannya, Hosea tetap mempunyai kasih dan kesetiaan yang
melambangkan kasih Allah kepada Israel. Di sini hubungan antara Allah dan
Israel sering diumpamakan sebagai sebuah ikatan pernikahan. Situasi-situasi
Israel yang menyeleweng dan memanfaatkan kemerdekaan dengan
kesempatan kehidupan-kehidupan dosa diungkap di dalam Alkitab dengan
sebutan sundal.
Ketidakadilan dan Ketidakmemerataan Merupakan Hasil Korupsi
Keadilan dan kemerataan dapat dicapai jika tidak ada seseorang atau
sekelompok orang memperoleh lebih dari yang semestinya, atau mengurangi
210 Ketidakadilan dan Korupsi
jatah yang lainnya. Salah satu cara untuk memperoleh lebih adalah dengan
korupsi. Korupsi adalah cara untuk mendapatkan lebih dan atau mengambil
jatah milik orang lain. Jika kita memandang Tuhan, yang berarti memandang
kaum papa dan miskin, tentu hati nurani kita tidak akan tega melakukan
korupsi. Karena itu bantuan-bantuan yang diberikan kepada kaum miskin
oleh perorangan, lembaga, maupun upaya-upaya pemerintah harus dikaji
ulang tingkat kepentingannya. “Saudara-saudara, memang kamu telah
dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan
kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dosa, melainkan
layanilah seorang akan yang lain oleh Kasih” (Gal 5:13)
Keadilan dan kemerataan yang diharap-harapkan terjadi di negeri ini
akan terus menjadi mimpi, jika perilaku dan budaya masyarakat masih
memanfaatkan berbagai kesempatan untuk berbuat dosa (aji mumpung).
Peringatan-peringatan dalam bentuk undang-undang baik perdata maupun
pidana tidak lagi bermanfaat mengontrol situasi, bahkan undang-undang itu
sendiri dilecehkan.
Cara tegur orang tua dan juga orang-orang bijak, biasanya dengan cara
two in one. Ia menyakitkan sekaligus menyejukkan. Pada saat masih kecil
dulu, saya sering merasa sakit hati saat ibu mencubit pantat saya jika nakal.
Di dalam cerita Hosea ini Allah menegur Israel dengan metode yang sama.
Dengan kelahiran Yizreel Allah telah mencerai beraikan dan memberantakan
Israel. Latar belakang sejarah Hosea adalah situasi Israel dijajah Asyur dalam
pemerintahan Yerobeam II dari seri empat fase pemerintahan Israel (Uzia,
Yotam, Ahas, dan Hizkia) yaitu sekitar 755-715 SM (Hos 1:1). Dengan
kejatuhan Samaria, cara tegur two in one oleh Allah dilakukan (Hos 6:1);
menerkam dan menyembuhkan, memukul dan membalut, dan Hosea
memperingatkan Israel, bahwa mereka sedang ditegur dengan cara ini.
Berbagai situasi dan kondisi mengerikan yang terjadi di Indonesia saat
ini merupakan cubitan, terkaman, ataupun pukulan atas ‘kenakalan-kenakalan’
yang terjadi. Ketidakadilan dan ketidakmerataan merupakan indikasi situasi
sulit Indonesia. Sebagian besar situasi ini merupakan hasil atau akibat
penggunaan metode yang disebut korupsi. Jika kita telaah, sebenarnya korupsi
itu merupakan metode “manajemen keuangan”, yang menggunakan teknik
Ketidakadilan dan Korupsi 211
tertentu untuk mensahkan hal-hal yang fiktif (yang tidak ada menjadi ada)
dan menaikkan nilai dari jumlah sebenarnya. Di fakultas ekonomi manajemen
dari universitas manapun, tentunya tidak dijumpai dalam kurikulum adanya
mata kuliah Metode Korupsi, tetapi bangsa ini terlalu pintar untuk
melakukannya. Jadi, dari manakah ilmu itu diperoleh?
Korupsi sebenarnya merupakan tindak pidana, yang tidak selesai hanya
dengan membayar denda di pengadilan. Kasus-kasus pidana sebenarnya
merupakan kasus yang berat (dari pada perdata), tetapi kita melihat betapa
beraninya berbagai kalangan dan pribadi-pribadi melakukannya. Ini
memperlihatkan, bahwa korupsi sudah mengurita dan merambat kemanamana.
Muncul Sebagai Fajar, Datang Sebagai Hujan, di Akhir Musim Mengairi
Bumi
Bila kita sebagai pribadi maupun sebagai gereja mengenal Tuhan seperti
yang dihimbau Hosea, maka segala perbuatan kita tidak hanya terkontrol
secara pribadi, namun juga terkontrol secara kebangsaan dalam menggunakan
anugerah kemerdekaan. Kemerdekaan pribadi dalam arti diselamatkan (Hosea
berarti “keselamatan”), maupun kemerdekaan bangsa yang bebas dari
penjajahan bangsa lain. Ini berarti bahwa pengenalan akan Allah seharusnya
dijumpai dalam kehidupan orang-orang papa, terutama terletak dalam upaya
atau apresiasi-tindak mengajak mereka bangun berdiri, berupaya dan
menghasilkan sesuatu untuk kecukupan kehidupannya, mandiri dan swadaya.
Lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan juga berbagai
yayasan yang bertujuan sosial dibentuk dengan tujuan mulia ini. Demikianlah,
jika tujuan mulia mengisi kemerdekaan dilakukan dengan pekerjaanpekerjaan
mulia, tanpa mempunyai tendensi untuk memperoleh lebih dengan
menggunakan metode korupsi.
Kenalilah Tuhan dengan segala angan dan tindakanmu, agar kamu
muncul sebagai fajar yang menandakan dimulainya kehidupan baru setelah
terlelap tidur. Kenalilah Tuhan dengan segala talentamu, berbuatlah lebih
212 Ketidakadilan dan Korupsi
baik dari hari ke hari agar Tuhan mata orang-orang papa sejuk memandangmu,
bagai hujan yang datang setelah musim kemarau berakhir. Amin.
* Warga Jemaat Gereja Kristen Jawa
Ketidakadilan dan Korupsi 213
E m p a t
KORUPSI: DEKADENSI MORAL DAN MURKA TUHAN
Yehezkiel 9:9
(Bert T. Lembang)*
Pengantar
Ketika bangsa ini berturut-turut ditimpa bencana dan penyakit seperti
gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, busung lapar, demam
berdarah, flu burung, muntaber, dan sebagainya, terlintas dalam benak saya,
mungkin Tuhan sudah murka terhadap bangsa ini akibat kesalahan kita yang
sudah keterlaluan. Terlebih ketika bencana alam terbesar itu terjadi di daerah
konflik seperti Papua dan Aceh. Saat ini di sekitar Jakarta, pusat peredaran
uang dan tempat bercokolnya para koruptor, banyak ditemukan kasus flu
burung. Apakah murka-Nya akan terjadi di Jakarta sebagaimana dialami
bangsa Israel dengan membunuh penduduk Yerusalem? Ini pikiran-pikiran
nakal yang sempat muncul dalam benak saya.
Ketika saya merenung lebih dalam, hati kecil saya meronta pada Tuhan:
“Tuhan, kalau memang Engkau murka, kenapa murka-Mu justru pada anakanak
yang belum tahu apa-apa?” Mengapa murka-Mu justru pada hamba-
Mu yang miskin? Mengapa tidak Kau timpakan murka-Mu pada para koruptor
di negeri ini? Mereka pasti mempunyai banyak uang untuk berobat sampai
ke luar negeri! Itu pikiran manusiawi saya yang tentu saja, berbeda dengan
rancangan dan pikiran Tuhan.
Pokok permenungan kita dikutip dari Yehezkiel 9:9. Ayat tersebut bila
ditempatkan dalam perikop yang lengkap berbicara tentang pembunuhan
orang-orang fasik di Yerusalem. Mereka dihancurkan karena Tuhan sudah
tidak sabar lagi menyaksikan kejahatan mereka. Tempat-tempat ibadat
menjadi tempat pemujaan berhala. Maka Tuhan membawa nabi Yehezkiel
214 Ketidakadilan dan Korupsi
dalam penglihatan di Bait Suci untuk melihat penyembahan berhala-berhala
(bdk Yeh 8:1-11). Menyaksikan perbuatan tak senonoh Israel tersebut, Allah
menjatuhkan hukuman pada Yerusalem dengan membunuh semua orang fasik.
(Yeh 9:1-11). Pelaksanaan murka dalam bentuk pembunuhan, diawali dengan
memanggil 6 laki-laki pelaku yang akan melaksanakan murka itu. “Mari ke
mari, hai yang harus menjalankan hukuman atas kota ini.” Keenam lakilaki
yang disapa tersebut masing-masing dengan alat pemusnah di tangan.
Selain itu, satu orang berpakaian lenan dan dengan alat tulis di tangan,
diperintahkan Tuhan berjalan di tengah-tengah kota. Ia diperintahkan untuk
memberi tanda “T” pada dahi mereka yang berkeluh kesah atas perbuatan
keji yang telah mereka lakukan. Keenam laki-laki dengan alat pemusnah di
tangan itu diminta mengikuti dari belakang dan memukul sampai mati kecuali
mereka yang telah diberi tanda “T” pada dahi. Mereka membunuh semua
orang yang tanpa tanda “T” di dahi. Orang dewasa anak-anak dan wanita
dibunuh tanpa mengenal belas kasihan.
Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi Yehezkiel memohon belas
kasihan pada Tuhan bagi teman-teman sebangsanya yang berbuat jahat.
Namuan Yehezkiel mendapat jawaban: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda
sangat banyak, sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh
ketidakadilan; sebab mereka berkata: Tuhan sudah meninggalkan tanah ini
dan Tuhan tidak melihatnya.”
Peristiwa penghancuran orang-orang fasik di Yerusalem tersebut kita
jadikan pokok permenungan. Kita renungkan kehidupan kita baik secara
pribadi maupun sebagai komunitas bangsa. Dengan hati yang jujur dan tulus
di hadapan-Nya kita meratapi dan berkeluh kesah atas segala kejahatan yang
telah kita lakukan seperti korupsi dan berlaku curang terhadap sesama. Kita
akui semua kesalahan tersebut dan berjanji untuk tidak korupsi lagi. Hanya
dengan berlaku jujur di hadapan-Nya, kita akan diberi tanda “T” di dahi
untuk dapat lolos dari murka Tuhan.
Dekadensi Moral
Korupsi adalah wujud paling nyata dari dekadensi moral di Negeri ini.
Mereka yang melakukan korupsi telah rusak moralnya. Mereka berperilaku
Ketidakadilan dan Korupsi 215
seperti tikus dalam rumah. Mereka merampas uang rakyat demi memperkaya
diri dan keluarga. Tak ada lagi rasa takut, bersalah, malu apalagi rasa berdosa
pada Tuhan. Mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk. Para koruptor tidak dapat membedakan mana haknya dan
mana milik orang lain. Para koruptor, hanya memikirkan perut, sambil menarinari
di atas penderitaan orang miskin.
Dewasa ini, betapa susahnya menemukan orang yang jujur, benar dan
adil. Betapa susahnya menemukan orang yang konsisten antara kata dan
perbuatan. Betapa susahnya membedakan perilaku orang yang berpendidikan
dengan yang tidak. Betapa sulitnya membedakan perilaku preman terminal
dengan preman berdasi di kantor-kantor pemerintah dan lembaga-lembaga
negara ini. Banyak pejabat perampok dan maling. Yang membedakan hanya
penampilan fisik. Preman terminal menyeramkan sedang preman berdasi
berperilaku sopan namun berhati jahat.
Dalam situasi seperti itu, apa yang dapat kita lakukan? Hati mereka
sudah tertutup. Kita tidak mungkin berharap banyak bahwa pemerintah
mampu memberantas korupsi. Apalagi perilaku maling dalam hal apa saja,
sudah menjadi sesuatu yang biasa dan sangat vulgar di negeri ini. Maka untuk
menumbuhkan sikap jujur, takut, malu dan berdosa, hendaklah kita mulai
dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terkecil dalam masyarakat. Kita
perlu belajar jujur dalam hal-hal kecil. Kita berani menolak segala kejahatan
yang menggoda baik bagi diri sendiri maupun anggota keluarga kita. Hanya
dengan demikian kita dapat mulai mendidik anak bangsa ini untuk bermoral
dan belajar untuk tidak berbuat korup. Pemberantasan korupsi harus kita
mulai dari diri sendiri dan keluarga. Kita belajar jujur pada diri sendiri, suami/
istri, anak-anak, saudara-saudara dan masyarakat sekitar kita. Kita didik anakanak
kita untuk jujur pada orangtua dalam hal-hal sederhana. Kita didik
mereka untuk jujur pada diri sendiri, sesama dan terutama pada Tuhan.
Demikian sebaliknya, sebagai orang tua kita patut memberikan teladan/contoh
hidup yang tidak korup.
Himbauan kejujuran yang diajarkan di sekolah-sekolah, tidak ada artinya
bila dalam keluarga anak tidak bisa mengalami sikap jujur. Bila orangtua
senantiasa menampilkan kejujuran, maka anak akan belajar dan bertindak
216 Ketidakadilan dan Korupsi
jujur pula. Tetapi kalau anak dari kecil sudah dikondisikan dengan sikapsikap
yang tidak jujur, maka jangan berharap banyak anak-anak tersebut akan
jujur di masa mendatang. Sangat disayangkan bahwa pendidikan budi pekerti
di sekolah (bahkan dalam keluarga) terabaikan. Padahal pendidikan budi
pekerti sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Karena itu, tidak ada cara lain untuk membangun generasi bangsa ini menjadi
generasi yang jujur dan takut pada kejahatan selain melalui kesadaran terusmenerus
akan jati diri sejati dengan dibentengi penegakan hukum yang adil
dan jujur pula.
Memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan saling mencaci maki
dan berkoar-koar, maling teriak maling, saling menyalahkan. Tidak ada
gunanya kita mengecam mereka yang tidak lagi bermoral. Kita hanya bisa
berharap bahwa jika hukum duniawi sudah tidak berdaya untuk menjerat
mereka, maka Tuhan sendirilah yang akan menunjukkan keadilan-Nya.
Semoga murka-Nya sungguh nyata pada orang jahat di negeri ini sebagaimana
dialami orang fasik di kota Yerusalem. Masalahnya, apakah kita termasuk
orang yang tidak korup? Apakah kita ini termasuk yang punya moralitas?
Kita patut bertanya pada diri sendiri! Bila kita termasuk orang yang tidak
punya nurani dan moralitas yang benar, secepatnya kita berkeluh kesah,
mohon pengampunan-Nya dan mau berrubah dan bertobat. Tanyakan pada
diri masing-masing kejahatan apa yang telah kita lakukan? Apakah kita pernah
melakukan tindakan korupsi yang merugikan banyak orang? Apakah kita
termasuk orang yang telah menyalahgunakan jabatan? Apakah kita berani
berkata tidak terhadap mereka yang mengajak kita untuk korupsi?
Bersediakah kita mengembalikan uang rakyat yang telah dikorupsi?
Kembali ke Jati Diri Sejati
Memberantas korupsi bukanlah hal yang gampang, seperti kita
membalik telapak tangan. Kita mungkin kesal bila ada orang korupsi secara
besar-besaran karena ada peluang untuk itu. Bayangkan seandainya peluang
itu ada di depan mata kita, apa yang kita lakukan? Beranikah kita berkata
tidak? Ah, belum tentu, sebab kita mungkin berkeputusan mumpung ada
kesempatan. Godaan untuk korupsi tidak pilih kasih. Ia dapat menggoda siapa
Ketidakadilan dan Korupsi 217
saja, baik yang berpendidikan, punya kekuasaan maupun rakyat miskin.
Selama ada kesempatan, peluang untuk korupsi bisa saja terjadi. Maka, untuk
menyangkal godaan tersebut, baiklah kita kembali pada jati diri kita yang
sesungguhnya. Kita diciptakan menurut citra Allah (bdk Kej 1:26-27). Sebagai
citra Allah kita dianugerahi kemampuan membedakan mana yang baik dan
yang jahat. Pencitraan tersebut dimaksudkan agar kita dapat berpartisipasi
dalam menyempurnakan ciptaan serta menghadirkan citra Allah sendiri dalam
kehidupan kita.
Korupsi adalah perbuatan jahat di mata Tuhan, karena tidak sesuai
dengan perilaku makhluk yang secitra dengan Allah. Karena itu, pertobatan
perlu dan harus dilakukan sebagai langkah memulihkan kecitraan kita sebagai
anak Allah yang sejati. Bertobat berarti meninggalkan kehidupan lama menuju
kehidupan yang baru sebagai anak Allah.
Kesalehan yang Membumi
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Kita mempunyai
dasar negara Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita
dengan bangga menyaksikan rumah ibadat bertebaran di mana-mana yang
dipenuhi jemaah. Ada Masjid, Gereja, dan rumah ibadat lainnya. Kita dengan
sukacita menyaksikan setiap tahun ratusan ribu jemaah pergi naik haji dan
ziarah ke tempat-tempat suci. Kita dengan penuh sukacita pula menyaksikan
masyarakat yang menghiasi rumahnya dengan ayat-ayat dan gambar-gambar
suci dan mendandani diri dengan pakaian yang bernuansa religius, yang
Muslim pakai jilbab, kopiah dan yang Kristen berkalung salib dan berbagai
ornamen suci lainnya.
Fenomena seperti itu, begitu menggembirakan karena kita berharap
bahwa nuansa keagamaan yang begitu menonjol akan berdampak pada
perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Namun harapan
di balik maraknya simbol-sombol keagamaan tersebut ternyata tidak tampak
dalam perilaku. Hal ini terjadi karena perilaku keagamaan kita baru sampai
pada taraf penampilan fisik, lahiriah dan emosional. Iman tidak dihayati dalam
praksis kehidupan yang konkret. Kesalehan kita tidak membumi, tidak
218 Ketidakadilan dan Korupsi
mendapat wujudnya dalam perilaku moral yang konkret. Kita bisa memastikan
bahwa pejabat yang beragama Islam di negeri ini kebanyakan sudah naik
haji dan yang Kristen sudah dibaptis. Dalam baptisan orang Kristen berjanji
untuk menolak segala macam godaan setan. Sebelum menjabatpun para
pejabat bersumpah dan berjanji di hadapan Tuhan, termasuk bersumpah dan
berjanji untuk tidak korupsi.
Sekiranya iman akan Allah dihayati secara benar, tidak mungkin ada
korupsi di negeri ini. Semua agama pasti melarang korupsi. Masalahnya,
agama hanya tampak bila tidak ada kesempatan untuk korupsi. Bila
kesempatan itu ada, Ketuhanan yang Mahaesa ditinggalkan dan diganti
dengan “keuangan yang mahakuasa.” Ini sungguh ironis!
Paradoks yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa kesalehan
ritual dalam ibadat, tidak tampak dalam kesalehan sosial. Keberagamaan
hanya di sekitar peribadatan. Bukankah kesalehan ritual seharusnya tampak
dalam kesalehan sosial? Kesalehan ritual seharusnya membumi dan sungguh
berbuah dalam perilaku moral dengan menghindari perilaku korup dalam
segala speknya.
Kesimpulan
Korupsi di negeri ini semakin merajalela dan tak terkendali. Semua
yang mempunyai kesempatan terlebih mereka yang ada di sekitar kekuasaan
ramai-ramai melakukan korupsi secara berjemaah tanpa ada rasa takut pada
Tuhan apalagi pada sesama. Kitab Yehezkiel 9:9 mengingatkan kita untuk
bertobat dan berkeluh kesah atas kejahatan yang kita lakukan. Sebab Tuhan
akan murka dan tidak lagi sabar terhadap kejahatan. Maka Tuhan
menghancurkan Yerusalem.
Memberantas korupsi harus dimulai dari diri sendiri, dalam keluarga
dengan belajar jujur satu sama lain. Selain itu, pertobatan sebagai usaha
kembali ke jati diri sejati hendaknya dikedepankan. Hanya dengan menyadari
kemanusiaan yang sesungguhnya seseorang mampu membedakan yang baik
dan yang jahat.
Ketidakadilan dan Korupsi 219
Selain itu, hendaknya kesalehan ritual kita, sungguh nyata dalam
kesalehan yang membumi. Iman tidak terkurung dalam rumah ibadat tetapi
seharusnya meresapi kehidupan secara konkret. Akhrinya, renungan ini saya
tutup dengan sepotong syair lagu Berita Kepada Kawan dari Ebit G Ade
sbb:
Mengapa di tanahku terjadi bencana?
Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan. Bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
* Pengajar Agama Katolik Universitas Wangsamanggala (UNWAMA), Yogyakarta dan
Penulis Buku-buku Rohani
220 Ketidakadilan dan Korupsi
L i m a
MELAWAN KORUPTOR
Yohanes 10:1
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD)*
Saudara-saudara kekasih, dari seluruh gambaran tentang hubungan
antara Allah dengan manusia agaknya gambaran yang paling mudah
dimengerti dan sesuai dengan kenyataan kehidupan adalah gambaran
hubungan antara gembala dan dombanya. Dari seluruh refleksi Alkitab atas
gambaran hubungan ini agaknya dilukiskan dua hal, yaitu hubungan antara
Yahweh (Allah) dan bangsa Israel dan hubungan antara Raja dan rakyatnya.
Nas kali ini ingin menonjolkan hubungan antara Allah dan bangsa Israel.
Untuk mengerti lebih jauh tentang bagaimanakah gambaran hubungan itu
tentu refleksi ini akan melihat hubungan gembala dan dombanya dalam
Perjanjian Lama.
Secara khusus sebenarnya nas di atas ingin mempertentangkan antara
gembala yang sejati dengan gembala palsu. Tampaknya pemahaman tentang
bagaimana sebenarnya gembala yang sejati atau gembala yang baik kita dapat
membaca keseluruhan bacaan dari Yohanes 10:1-30. Namun sebelum melihat
lebih jauh tentang bagaimana gembala palsu itu sebaiknya kita membekali
diri dengan beberapa pertanyaan, yaitu: mengapa Yesus mempertentangkan
hal ini? Adakah sesuatu yang sangat penting? Dan apakah manfaatnya untuk
kehidupan sekarang ini?
Gembala Palsu
Saudara-saudara, gambaran tentang gembala palsu banyak terdapat
dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam Yesaya 56:9-12. Dilukiskan bahwa
pengawal-pengawal…….adalah orang-orang buta. Agaknya isi perikop ini
Ketidakadilan dan Korupsi 221
mengungkapkan betapa Allah sangat mengutuk para pemimpin dan imam
Israel yang korup, karena mereka tidak mengenal firman-Nya, serakah dan
mementingkan diri serta tidak dapat meninggalkan minuman beralkohol;
Yeremia 23:1-4 juga mengecam gembala yang demi kepentingan pribadi
telah memperkaya diri tanpa memperhatikan sama sekali keadaan dombanya.
Demikian juga dalam Yehezkiel 34 dijelaskan bahwa gembala palsu
cenderung memeras domba, mereka serakah, melakukan tindak korupsi,
mementingkan diri sendiri dan lalai menuntun umat seperti yang dikehendaki
Allah.
Dari tiga gambaran tentang sikap gembala palsu tadi ternyata ada satu
benang merah yang menjawab pertanyaan di atas, yaitu: mengapa gembala
sejati dan palsu dipertentangkan. Jawabnya adalah jelas ternyata gembala
tersebut melakukan tindakan korup atas domba-dombanya. Karena tindakan
korup itulah sehingga mereka tidak lagi menggembalakan, menuntun
dombanya sebagaimana dikehendaki Allah tetapi menggembalakan dan
menuntunnya untuk pemuasan akan keserakahannya.
Mengapa Yesus mengingatkan dombaNya dan apakah kepentingan-Nya?
Dari gambaran tentang gembala palsu di atas jelas bahwa Yesus
menganggap bahwa tindakan gembala itu merugikan domba-Nya. Jadi
tindakan itu berdampak pada kesengsaraan domba-domba-Nya.
Domba-domba dinikmati susunya, bulunya dibuat pakaian, yang gemuk
disembelih, sakit tidak diobati, luka tidak dibalut, hilang tidak dicari bahkan
domba diinjak-injak dengan kekerasan. Itulah seluruh gambaran penderitaan
dibawah gembala palsu. Kepentingan Yesus adalah mengingatkan semua
dombaNya, seperti yang tertulis dalam Yehezkiel 34:2: Hai anak manusia,
bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakan
kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: beginilah Firman Tuhan Allah:
celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri!
Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan gembala-gembala
itu. Jadi letak kepentingan Yesus mengungkapkan ini semakin jelas yaitu:
222 Ketidakadilan dan Korupsi
manakala umat merasa ditindas dan diperas bahkan jelas ada tindak korupsi
lawanlah gembalamu atau pemimpinmu, jangan hanya diam seribu bahasa.
Apakah manfaatnya melawan gembala palsu untuk kehidupan
sekarang ini?
Dalam Zakharia 11:15-17. Kita dapat membaca bagaimana Allah
meminta Zakharia memerankan gembala palsu yang jahat: Ambilah sekali
lagi perkakas seorang gembala yang pandir, sebab sesungguhnya aku akan
membangkitkan di negeri ini seorang gembala yang tidak mengindahkan
yang lenyap, yang tidak mencari yang hilang, yang tidak menyembuhkan
luka, yang tidak memelihara yanjg sehat, melainkan memakan daging dari
yang gemuk dan mencabut kuku mereka. Celakalah gembala yang pandir,
yang meninggalkan domba-domba. Biarlah pedang menimpa lengannya dan,
menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan
mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya.
Melalui peran Zakharia sebagai gembala palsu kita dapat melihat,
bahwa sebenarnya gembala palsu itu merusak kehidupan. Gembala palsu
menghancurkan harapan tentang kehidupan sebagai anugerah sang Pencipta
yang mesti dinikmati oleh setiap ciptaan. Dengan penjelasan ini saudarasaudara,
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa merusak kehidupan berarti
tidak menghargai Allah yang memberikan hidup. Dan bilamana Allah sudah
tidak dihargai lagi lalu di manakah manusia mesti menempatkan harapannya
tentang kehidupan yang lebih baik dan sempurna. Akhirnya manfaat kita
melawan gembala palsu sekarang ini adalah membela kehidupan pemberian
Allah sekaligus menempatkan kembali penghargaan kepada Allah atas
anugerah ciptaanNya.
Saudara-saudara kekasih Tuhan, hubungan Tuhan dengan umat-Nya,
Raja dengan rakyatnya yang digambarkan dengan gembala dan dombanya
tentu sangat dekat dan tidak asing. Itulah gambaran mengenai kepemimpinan
yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita. Baik itu pemimpin formal
dan non formal; pemimpin keagamaan maupun pemimpin kenegaraan.
Ketidakadilan dan Korupsi 223
Melalui gambaran hubungan Tuhan dan umatnya diatas sebenarnya
kita bisa mengerti bahwa gembala atau pemimpin adalah seseoang yang telah
dikhususkan oleh Allah bahkan dalam budaya demokrasi pemimpin dipilih
langsung oleh rakyat. Masalahnya Sekarang adalah ada kecenderungan
bahwa, seorang pemimpin atau pejabat lupa diri sehingga salah dalam
menjalani tugas kepemimpinannya.
Kesalahan yang sering terjadi adalah pemimpin sering jatuh dalam
pesona korupsi. Dan dari cara tindak korupsi yang biasa dilakukan pemimpin
mempergunakan jabatan sebagai wahana memperkaya diri. Di sini terjadi
apa yang disebut penyalah gunaan kekuasaan. Karena sifat dari korupsi adalah
mengambil sesuatu yang bukan miliknya menjadi miliknya berarti, ada pihak
yang dirugikan. Semakin intens seorang pemimpin melakukan tindak korupsi
maka, semakin besar pula hasil yang didapat. Namun jangan lupa korban
dari korupsi juga akan semakin parah dan semakin menderita.
Saudara-saudara, masalahnya sekarang adalah manakala seseorang
menjadi korban koruptor dia tidak dengan segera mengklarifikasi atau
meletakkan kembali pada rule yang ada tetapi, hanya diam dan menerima
apa yang terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus korupsi sering sang corruptor
malah dilindungi. Hal itu bisa terjadi karena takut atau menganggap hal itu
adalah yang wajar. Uraian diatas mengajarkan kepada kita manakala itu terjadi
dan ada penindasan maka, tegur dan lawanlah sang koruptor.
Korupsi dalam masyarakat kita tidak akan pernah habis kalau semua
orang diam dan tidak peduli. Dengan gamblang uraian diatas mengingatkan
bahwa, bila memang terjadi tindak kesewenangan yang, menguntungkan diri
pejabat haruslah dilawan. Sebab tanpa ada yang berani memulai maka, hal
ini akan terus berlangsung hingga terjadi kehancuran bersama.
Oleh karena itu perlu bagi tiap orang untuk belajar bagaimana melawan
korupsi, mulai dari dalam diri sendiri, keluarga, gereja dan akhirnya pada
masyarakat serta bangsa. Ini penting untuk terus-menerus dilakukan sebab
korupsi menghancurkan kehidupan.
Saudara-saudara, kita dapat menjadi gembala atas diri sendiri. Namun
gembala seperti apa yang kita pilih? Dalam diri tiap manusia ada yang disebut
224 Ketidakadilan dan Korupsi
suara hati, bila kita berlaku tidak benar dia akan menyuarakan kebenaran.
Jadi jika kita menjadi gembala palsu masuk ke dalam suara nurani dengan
melompati pagar lalu mencuri dan merampok kebenaran itu artinya sudah
menjadi gembala palsu untuk diri sendiri. Pada saat itulah sebenarnya kita
menghilangkan hidup sendiri. Jadi jika memang kita melakukan tindak
korupsi maka: Lawanlah! Jika setiap orang berlaku demikian maka, korupsi
tidak akan mendapat tempat.
Masalahnya sekarang beranikah saudara dan saya tidak lompat pagar
dan merampok kebenaran dari suara hati atau nurani kita sendiri? Saudarasaudara:
Lawanlah dan jangan menjadi koruptor.
* Warga Jemaat Gereja Kristen Jawa
Ketidakadilan dan Korupsi 225
E n a m
VOX POPULI VOX DEI:
KEBERPIHAKAN PADA RAKYAT
Yakobus 4:4
(Pdt. DR. Darius Dubut, MM)*
Apakah saudara-saudara merasa setia? Setia kepada istri, setia kepada
suami, setia kepada negara, setia kepada gereja, setia kepada pekerjaan? Di
sisi-sisi mana sajakah saudara setia? Saya sering menjadi bingung ketika
majelis gereja mengunjungi warga-warganya yang mangkir beberapa kali
tidak ke gereja atau tidak mengikuti Perjamuan Kudus ketika ukuran kesetiaan
adalah presensi kehadiran di gereja atau bagaimana? Aduh, jika memang
demikian, kita sekarang ini perlu mendefinisikan terlebih dahulu arti kata
“setia”.
Gereja bukanlah gedungnya, gereja bukanlah mimbarnya, dan gereja
bukanlah pendetanya! Jadi, apa yang dimaksud dengan kesetian kepada Allah?
Jika boleh disampaikan di sini bahwa, kesetiaan kepada Gereja tidak diukur
dengan durasi ritualnya, atau panjang doanya, atau “katham” dalam
pendalaman Alkitab. Kesetiaan kepada Allah adalah sebuah nurani untuk
berbela-rasa dengan kaum miskin, kaum marjinal yang inferior. Kesetiaan
kepada Allah adalah ketaatan dalam melaksanakan kehendak Allah dalam
mewujudkan kebenaran, keadilan, dan kasih. Dalam konteks Indonesia,
kesetiaan kepada Allah justru mesti dinyatakan dalam keberpihakan dengan
orang-orang yang menjadi korban sistim yang tidak adil, dan kerakusan para
pemimpinnya. Jadi istilah vox populi vox dei sebenarnya mengandung makna
yang sangat luas.
Gereja Bebas Korupsi?
Menjadi anggota sebuah gereja, tentunya dengan harapan untuk
beribadat, bersama-sama dengan umat yang lain menyampaikan ungkapan
226 Ketidakadilan dan Korupsi
syukur atas berkat-berkat yang telah diterima, memuji kebesaranNya, dan
mencari pengharapan atau sugesti diri jika sedang dalam kesusahan. Tetapi
betapa kecewanya, jika setelah menjadi anggota gereja ternyata gereja
membelenggu dan merampas sebagian kemerdekaan kita. Kebebasan untuk
bersuara, kebebasan untuk memilih, mengemukakan pendapat, bahkan
kebebasan untuk menjalankan ibadat dengan rasa nyaman. Jika hal-hal ini
terjadi di gereja artinya, gereja telah melakukan korupsi. Jangan berpikir
bahwa korupsi hanya menyangkut uang. Gereja telah melakukan korupsi
jika menghilangkan suara para warga fakir miskin di dalam pemilihan majelis.
Gereja juga telah melakukan korupsi jika mengabaikan makna yang hakiki
dari panggilannya di tengah-tengah dunia, ketika ia mengabaikan orang-orang
miskin dan tertindas oleh sistim dan perundang-undangan yang tidak adil,
ketika membiarkan saja pengrusakan lingkungan terjadi, ketika membiarkan
saja perampasan HAM berlangsung, dan ketika tidak berbuat apa-apa ketika
ketidakadilan berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Dan pada saat itulah
gereja telah bersahabat dengan dunia.
Hai Kamu Orang-orang yang Tidak Setia!
Jangan menjadi sombong jika kita menjadi tokoh atau orang yang
ditokohkan di dalam sebuah gereja. Baik menjadi tokoh karena jasanya di
dalam pendirian gereja, ataupun tokoh karena selalu terlibat aktif di dalam
setiap kegiatan gereja. Apakah dengan demikian kita berpikir bahwa kita
lebih setia kepada Allah dari pada orang lain? Atau kita merasa lebih setia
kepada Allah karena setiap hari berada di gereja? Koster juga menggunakan
waktu lebih lama berada di gereja, bahkan dialah yang menjaga,
membersihkan, menata rugang gereja ini agar selalu bersih dan rapi. Jadi,
bagaimana mengukur kesetiaan kepada Allah itu?
Sudah sering kita mendengar kotbah-kotbah yang menggunakan nas
di atas. Tentu, dengan teks yang sama dan konteks yang mirip. Semoga kali
ini, saudara pulang dari gereja ini dengan kejutan baru karena bersama-sama
memperoleh konteks yang surprise tentang kesetiaan kepada Allah. Dalam
kotbah-kotbah tentang nas ini, biasanya yang dimaksud dengan “orang-orang
yang tidak setia” adalah warga gereja yang sering mangkir ke gereja, yang
Ketidakadilan dan Korupsi 227
sering tidak mengikuti perjamuan kudus, yang pasif dalam kegiatan-kegiatan
gereja. Mari kita bayangkan pengkhotbah yang sedang menyampaikan ayat
ini berdiri di mimbar dengan tangan menunjuk ke arah umat, dan suara berat
“Hai kamu orang-orang yang tidak setia . . . . janganlah bersahabat dengan
dunia, jangan berjudi, jangan mencuri, jangan . . . . engkau akan menjadi
musuh Allah”
Apakah yang dimaksud dengan bersahabat dengan dunia? Gambaran
mengenainya terurai dalam 1 Korintus 3:1-4. Jika bersahabat dengan dunia,
kamu menjadi manusia duniawi, yang salah satu contohnya adalah sifat
menggolong-golongkan (. . . aku dari golongan Paulus, . . . . aku dari golongan
Apolos) Aku majelis dan kamu warga, kedudukanku lebih tinggi karena kamu
hanya warga biasa. Jadi jelas, para majelis bahkan juga pendetanya adalah
manusia duniawi.
Bersahabat dengan Allah adalah bersahabat dengan rakyat. Bersahabat
dengan rakyat berarti berbela rasa dengan mereka, berjuang bersama orangorang
yang mengalami penderitaan, yang hak-haknya dirampas, yang
aksesnya untuk kehidupan yang lebih adil dan sejahtera dikutungi oleh para
koruptor. Tidaklah cukup kalau gereja hanya membantu yang berkekurangan,
melindungi kaum yang terpinggirkan, membimbing yang lemah. Sering gereja
berpikir bahwa cukuplah para janda diberi santunan, atau untuk anak-anak
sekolah minggu diberi makanan kecil dan permen, pembagian traktat atau
pemutaran film Sejarah Yesus. Atau gereja-gereja di pedesaan yang disunat
kesempatannya dalam bebagai aktivitas kegiatan kebersamaan antar gereja,
atau kesempatan mengembangkan diri, akses informasi, akses kepemimpinan,
dan banyak lagi. Keberpihakan gereja terhadap rakyat tidak boleh
menempatkan gereja menjadi sinterklas, seperti yang dilakukan oleh
pemerintah melalui dana kompensasi BBM. Karena praktik sinterklas tidak
akan pernah menyelesaikan persoalan yang sebenarnya, malahan sebaliknya
akan memperparah keadaan, karena akan melahirkan sikap ketergantungan
pada orang lain. Jadi sebenarnya praktik sinterklas itu hanya akan
mengekalkan kebodohan dan ketidakdilan. Jadi kalau gereja pun berlaku
seperti sinterklas, maka gereja telah melakukan praktik pembodohan terhadap
rakyat. Hal inilah yang sering kurang disadari oleh gereja, yang sibuk dengan
228 Ketidakadilan dan Korupsi
urusan-urusan administrasi internal lalu melupakan panggilannya yang hakiki.
Jadi, kalau gereja hendak setia pada Tuhan, maka gereja harus berjuang
membela rakyat.
Setia pada Rakyat Setia pada Allah
Setia pada rakyat adalah juga setia pada Tuhan. Jadi, kita akan menjadi
musuh Allah jika tidak setia kepada rakyat. Di dalam gereja secara internal
kelembagaan: kita harus setia kepada umat. Jangan dikorupsi hak dan
kebebasan mereka. Jadilah kita pelayan mereka dan membasuh kaki mereka.
Perhatikan ayat berikut: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Mat 25:2).
Nama Tuhan disebutkan di hampir setiap kesempatan pertemuan, dalam
setiap doa dan ibadah. Kalau soal yang satu ini, yaitu menyebut nama Tuhan,
maka orang Indonesia nomor satu! Karena bukankah bangsa Indonesia ini
adalah bangsa yang religius? Tetapi ketika kenyataan memperlihatkan bahwa
Indonesia adalah salah satu bangsa yang terkorup, maka sebutan nama Tuhan
hanya menjadi pemanis bibir dan tutur. Semuanya itu lalu menguap ke udara
kosong, hilang tanpa makna apa-apa. Jadi, menyebut nama Tuhan mesti
dinyatakan dalam melaksanakan kehendak Tuhan, yaitu berbelaskasihan dan
berbela rasa, berjuang bersama dengan rakyat yang menjadi korban
kebrobrokan para pemimpinnya.
Sebagai penutup, mari kita merenungkan tema kesetiaan ini melalui
sajak berikut:
Setialah . . . . .
Jika anak-anak kecil berlarian di gereja . . .
Ibu bapaknya pasti menegur . . . . . ssst… jangan ribut,
Jika seorang nenek mengantuk di gereja . . . . .
Pasti sebelah kanan dan kirinya akan menjawilnya. . . .
Apalagi jika nenek itu mulai bersandar miring ke kiri atau ke kanan
Di gereja kok tidur . . . . .
Ketidakadilan dan Korupsi 229
Pada saat diselenggarakan bazar di gereja
Ibu-ibu ribut membuat kue, jajanan, untuk dijual . . . .
Gereja kok dibuat tempat jualan . . . .
Pada saat pembangunan gereja
Panitia sibuk mencari dana, membuat proposal ke sana ke mari
Obyekan ke sana ke sini . . .
Lumayan jika ada pejabat Kristen yang membantu ratusan juta . . . .
Pada saat bumi Kalimantan menjadi lautan asap,
Pada saat banjir dan tanah longsor melanda,
Pada saat terjadi ledakan bom di Bali
Gereja tidak bergeming . . . . , bertanyapun tidak
Dalam banyak peristiwa politik, sosial, dan budaya . . . .
Gereja terdiam, kehilangan kata
Gereja sibuk mengurusi ranjang-ranjang warganya
dan berseru-seru: setialah, setialah . . . . .
Setialah kamu Gereja,
Setialah kepada rakyat, berdayakan mereka
Agar tidak menjadi musuh Allah
Vox populi vox Dei . .
*. Pendeta emeritus dari GKE, Dierktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
230 Ketidakadilan dan Korupsi
206 Ketidakadilan dan Korupsi
mempunyai tekad yang sama dan menampilkan diri sebagai the counter
society, yang tampil menjadi penentang arus globalisasi yang cenderung
materialis dan hedonis, demi menyelamatkan bangsa dan negara ini dari
kemiskinan dan kehancuran. Spirit ini harus menjadi semangat bersama,
spiritualitas nasional. Sebuah spiritualitas yang bisa mengangkat kembali
harkat dan martabat bangsa ini
Ciri dari masyarakat kontras adalah masyarakat yang tidak terlalu
terpengaruh dengan bujuk rayu duniawi dan tampilan yang artifisial.
Spiritualitas ini adalah spiritualitas kaum eremit, para biarawan/biarawati
yang “menyingkir” ke tempat sepi dan menolak bujuk rayu duniawi.
Menyingkir di sini bukan dalam pengertian fisik namun dalam pengertian
semangat dan motivasi. Semangat yang perlu ditumbuhkan adalah semangat
ugahari, pengekangan diri dan penghayatan kemiskinan sekaligus sebagai
suatu opsi untuk keberpihakannya kepada kaum miskin (option for the poor).
Semangat itu adalah semangat “Kaul Kemiskinan” seperti yang diikrarkan
oleh biarawan/biarawati yang lebih menghargai disiplin, kerja keras dan tidak
memboroskan waktu dan dana untuk kesenangan dan kepuasan diri.
Sampai sejauh ini sepertinya ikrar kemiskinan itu hanya dilihat eksklusif
milik biarawan/wati. Padahal ikrar mereka itu merupakan saksi bagi dunia
bahwa sebenarnya semua orang bisa menghayati semangat kemiskinan yang
diwujudkan dalam tindakan seperti hemat, ugahari dan tidak mendewakan
kekayaan duniawi secara berlebihan. Model dan gaya hidup mereka bisa
menjadi contoh untuk masyarakat jaman sekarang. Orang awam, para
mahasiswa, siapapun dan di manapun mungkin bisa belajar dari pola hidup
kaum religius di kota Yogyakarta terutama yang sedang dalam masa
pembinaan dan pendidikan. Para mahasiswa (suster, frater dan bruder)
biasanya berduyun-duyun mengayuh sepeda ontel (bila tidak ya jalan kaki)
ke kampus, gereja atau pasar. Tindakan mereka selain merupakan wujud dari
penghayatan kaul kemiskinan (dan juga ketaatan dan kemurnian) namun juga
merupakan aksi penghematan BBM yang sekarang menjadi persoalan utama
bangsa. Motif inilah yang didemonstrasikan para mahasiswa Sekolah Filsafat
Driyarkara dalam kampanye hemat energi dan mengurangi polusi dengan
menggunakan sepeda di Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta hari Jumat, 28
Oktober 2005.
Ketidakadilan dan Korupsi 207
Sungguh, mereka adalah the counter society yang menjadi saksi
penghayatan kemiskinan yang paling konkret yang sering kita temui di
lingkungan tempat tinggal kita. Mereka adalah saksi kemiskinan Kristus yang
tidak mempunyai rumah milik sendiri untuk membaringkan badan dan
berjalan kaki ke mana-mana mewartakan belas kasih dan pertobatan. Bahkan
“aksi” jalan kaki Yesus telah menggugah Zakheus (petugas bea cukai) untuk
turun dari “pohon” kemewahannya, sehingga muncul pertobatan dan
pembalikan sembari berkata: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan
kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang
akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19: 9).
Semoga kaum perempuan di negeri ini menjadi lebih sadar diri untuk
tidak melakukan korupsi baik aktif maupun pasif. Kiranya mereka menjadi
pelopor untuk munculnya semangat baru, menentang segala tawaran duniawi
yang merugikan dan menghancurkan masa depan bangsa ini sambil
mendorong suaminya untuk berlaku jujur, adil dan benar bila sedang mendapat
kesempatan berkuasa. Para ibupun perlu menasihati dan memotivasi anak,
saudara dan keluarganya supaya bertindak hemat dan bersolider, menghargai
kerja keras dan produktifitas, mandiri dan tidak bermental priyai agar bangsa
kita tidak terus menjadi sasaran empuk tawaran kenikmatan hasil kemajuan
ilmu dan teknologi bangsa lain.
Akhirnya ingatlah wahai Ibu dan Saudariku, tanpa peranan dan campur
tanganmu bangsa ini akan tetap terkungkung, jauh dari kesejahteraan dan
kebahagiaan. Padamulah kami bersandar, surga ada di bawah telapak kakimu,
Ibu dan Saudariku!
* Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero–Flores-NTT, Bekerja Mandiri dan
Pendamping Kaum Muda Katolik, tinggal di Yogyakarta.
208 Ketidakadilan dan Korupsi
T i g a
KORUPSI BUAH KETIDAKADILAN
Hosea 6:3
(Bambang Pujo Riyadi, STh. MPD)*
Perkenankan dalam kesempatan ini kita akan menterjemahkan “Tuhan”
di dalam nats di atas sebagai kaum inferior, terpinggirkan, dan termarjinalisasi;
yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, masyarakat yang
rentan bahaya (wanita dan anak-anak), masyarakat-serba-tuna (tuna wisma,
tuna susila, tuna rungu, tuna karya, dan tuna-tuna yang lain), dan masyarakat
papa. Ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada di surga, tetapi kali ini kita
akan melihat Tuhan ada di mata anak-anak jalanan, para tukang batu, para
buruh, para tukang becak, loper koran, penarik bajaj, dan mata segala mata
manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan (under poverty line).
Sementara, mata-mata itu melihat betapa sebagian masyarakat dapat
menikmati segala fasilitas kemewahan. Jurang perbedaan yang tajam dalam
kondisi sosial dan ekonomi seperti ini menggambarkan situasi negara yang
belum adil dan merata.
Beberapa fasilitas publik yang seharusnya dapat dinikmati oleh umum,
ternyata juga mempunyai kendala dalam mengaksesnya. Misalnya saja, dunia
informasi yang seharusnya sudah mudah diperoleh secara umum, masih
terkendala oleh ruang, uang dan waktu, bahkan oleh sebagian besar lapisan
masyarakat di Indonesia. Dalam sebuah tayangan telivisi, dengan naif
diberitakan bahwa beberapa warga masyarakat yang mempunyai kriteria
miskin (lebih halusnya disebut “kurang mampu”) belum memperoleh
informasi tentang adanya pembagian Dana Kompensasi BBM. Bahkan,
tragisnya karena informasi yang salah atau dibuat salah, dana ini tidak sampai
kepada keluarga-keluarga yang seharusnya menerima. Fasilitas publik lain
adalah kesempatan untuk mengakses dana melalui pinjaman lunak (soft loan)
baik yang disediakan oleh bank juga lembaga keuangan lain, ataupun dana
bantuan (grant loan) yang biasanya dalam bentuk peralatan usaha, sudah
Ketidakadilan dan Korupsi 209
pasti hanya diakses oleh orang (yang kasarnya disebut ‘oknum’) tertentu.
Sedemikian pentingnya informasi harus dapat merata diakses oleh segala
lapisan masyarakat, maka Kabinet SBY-Kala membentuk satu departemen
khusus untuk hal ini, yaitu Depkominfo (Departemen Komunikasi dan
Informatika).
Situasi-situasi ketidak-merataan dan ketidak-adilan ini, salah satu
sebabnya adalah buah dari penyembahan berhala masa kini, yaitu uang,
kedudukan, dan kekuasaan, yang menyebabkan kebobrokan rohani, moral,
politik dan sosial.
Pemanggilan Hosea
Nubuat Hosea adalah upaya terakhir Allah untuk memanggil Israel
supaya bertobat dari penyembahan berhala dan kefasikan mereka yang tak
kunjung berakhir selama 30 tahun. Dari upaya itu, ada dua hasil yang dapat
terjadi menjadi suatu integrated results (hasil yang mempunyai keterkaitan)
yaitu, hukuman dan kasih penebusan Allah (two in one).
Kitab Hosea diperkirakan ditulis pada 715-710M. Hosea (bin Beeri)
adalah orang Israel (bukan Yahudi). Dialah yang otobiografinya tertulis dalam
kitab ini. Hosea mengawini Gomer (yang akhirnya menjadi pelacur),
mempunyai tiga anak yang nama-namanya sebagai nubuatan bagi Israel yaitu:
Yizreel yang berarti Allah Mencerai Beraikan, Lo-Ruhama yang berarti Tidak
Dikasihi Lagi dan Lo Ami yang berarti Bukan UmatKu (Hos 1:9). Di tengah
kekalutan kehidupannya, Hosea tetap mempunyai kasih dan kesetiaan yang
melambangkan kasih Allah kepada Israel. Di sini hubungan antara Allah dan
Israel sering diumpamakan sebagai sebuah ikatan pernikahan. Situasi-situasi
Israel yang menyeleweng dan memanfaatkan kemerdekaan dengan
kesempatan kehidupan-kehidupan dosa diungkap di dalam Alkitab dengan
sebutan sundal.
Ketidakadilan dan Ketidakmemerataan Merupakan Hasil Korupsi
Keadilan dan kemerataan dapat dicapai jika tidak ada seseorang atau
sekelompok orang memperoleh lebih dari yang semestinya, atau mengurangi
210 Ketidakadilan dan Korupsi
jatah yang lainnya. Salah satu cara untuk memperoleh lebih adalah dengan
korupsi. Korupsi adalah cara untuk mendapatkan lebih dan atau mengambil
jatah milik orang lain. Jika kita memandang Tuhan, yang berarti memandang
kaum papa dan miskin, tentu hati nurani kita tidak akan tega melakukan
korupsi. Karena itu bantuan-bantuan yang diberikan kepada kaum miskin
oleh perorangan, lembaga, maupun upaya-upaya pemerintah harus dikaji
ulang tingkat kepentingannya. “Saudara-saudara, memang kamu telah
dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan
kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dosa, melainkan
layanilah seorang akan yang lain oleh Kasih” (Gal 5:13)
Keadilan dan kemerataan yang diharap-harapkan terjadi di negeri ini
akan terus menjadi mimpi, jika perilaku dan budaya masyarakat masih
memanfaatkan berbagai kesempatan untuk berbuat dosa (aji mumpung).
Peringatan-peringatan dalam bentuk undang-undang baik perdata maupun
pidana tidak lagi bermanfaat mengontrol situasi, bahkan undang-undang itu
sendiri dilecehkan.
Cara tegur orang tua dan juga orang-orang bijak, biasanya dengan cara
two in one. Ia menyakitkan sekaligus menyejukkan. Pada saat masih kecil
dulu, saya sering merasa sakit hati saat ibu mencubit pantat saya jika nakal.
Di dalam cerita Hosea ini Allah menegur Israel dengan metode yang sama.
Dengan kelahiran Yizreel Allah telah mencerai beraikan dan memberantakan
Israel. Latar belakang sejarah Hosea adalah situasi Israel dijajah Asyur dalam
pemerintahan Yerobeam II dari seri empat fase pemerintahan Israel (Uzia,
Yotam, Ahas, dan Hizkia) yaitu sekitar 755-715 SM (Hos 1:1). Dengan
kejatuhan Samaria, cara tegur two in one oleh Allah dilakukan (Hos 6:1);
menerkam dan menyembuhkan, memukul dan membalut, dan Hosea
memperingatkan Israel, bahwa mereka sedang ditegur dengan cara ini.
Berbagai situasi dan kondisi mengerikan yang terjadi di Indonesia saat
ini merupakan cubitan, terkaman, ataupun pukulan atas ‘kenakalan-kenakalan’
yang terjadi. Ketidakadilan dan ketidakmerataan merupakan indikasi situasi
sulit Indonesia. Sebagian besar situasi ini merupakan hasil atau akibat
penggunaan metode yang disebut korupsi. Jika kita telaah, sebenarnya korupsi
itu merupakan metode “manajemen keuangan”, yang menggunakan teknik
Ketidakadilan dan Korupsi 211
tertentu untuk mensahkan hal-hal yang fiktif (yang tidak ada menjadi ada)
dan menaikkan nilai dari jumlah sebenarnya. Di fakultas ekonomi manajemen
dari universitas manapun, tentunya tidak dijumpai dalam kurikulum adanya
mata kuliah Metode Korupsi, tetapi bangsa ini terlalu pintar untuk
melakukannya. Jadi, dari manakah ilmu itu diperoleh?
Korupsi sebenarnya merupakan tindak pidana, yang tidak selesai hanya
dengan membayar denda di pengadilan. Kasus-kasus pidana sebenarnya
merupakan kasus yang berat (dari pada perdata), tetapi kita melihat betapa
beraninya berbagai kalangan dan pribadi-pribadi melakukannya. Ini
memperlihatkan, bahwa korupsi sudah mengurita dan merambat kemanamana.
Muncul Sebagai Fajar, Datang Sebagai Hujan, di Akhir Musim Mengairi
Bumi
Bila kita sebagai pribadi maupun sebagai gereja mengenal Tuhan seperti
yang dihimbau Hosea, maka segala perbuatan kita tidak hanya terkontrol
secara pribadi, namun juga terkontrol secara kebangsaan dalam menggunakan
anugerah kemerdekaan. Kemerdekaan pribadi dalam arti diselamatkan (Hosea
berarti “keselamatan”), maupun kemerdekaan bangsa yang bebas dari
penjajahan bangsa lain. Ini berarti bahwa pengenalan akan Allah seharusnya
dijumpai dalam kehidupan orang-orang papa, terutama terletak dalam upaya
atau apresiasi-tindak mengajak mereka bangun berdiri, berupaya dan
menghasilkan sesuatu untuk kecukupan kehidupannya, mandiri dan swadaya.
Lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan juga berbagai
yayasan yang bertujuan sosial dibentuk dengan tujuan mulia ini. Demikianlah,
jika tujuan mulia mengisi kemerdekaan dilakukan dengan pekerjaanpekerjaan
mulia, tanpa mempunyai tendensi untuk memperoleh lebih dengan
menggunakan metode korupsi.
Kenalilah Tuhan dengan segala angan dan tindakanmu, agar kamu
muncul sebagai fajar yang menandakan dimulainya kehidupan baru setelah
terlelap tidur. Kenalilah Tuhan dengan segala talentamu, berbuatlah lebih
212 Ketidakadilan dan Korupsi
baik dari hari ke hari agar Tuhan mata orang-orang papa sejuk memandangmu,
bagai hujan yang datang setelah musim kemarau berakhir. Amin.
* Warga Jemaat Gereja Kristen Jawa
Ketidakadilan dan Korupsi 213
E m p a t
KORUPSI: DEKADENSI MORAL DAN MURKA TUHAN
Yehezkiel 9:9
(Bert T. Lembang)*
Pengantar
Ketika bangsa ini berturut-turut ditimpa bencana dan penyakit seperti
gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, busung lapar, demam
berdarah, flu burung, muntaber, dan sebagainya, terlintas dalam benak saya,
mungkin Tuhan sudah murka terhadap bangsa ini akibat kesalahan kita yang
sudah keterlaluan. Terlebih ketika bencana alam terbesar itu terjadi di daerah
konflik seperti Papua dan Aceh. Saat ini di sekitar Jakarta, pusat peredaran
uang dan tempat bercokolnya para koruptor, banyak ditemukan kasus flu
burung. Apakah murka-Nya akan terjadi di Jakarta sebagaimana dialami
bangsa Israel dengan membunuh penduduk Yerusalem? Ini pikiran-pikiran
nakal yang sempat muncul dalam benak saya.
Ketika saya merenung lebih dalam, hati kecil saya meronta pada Tuhan:
“Tuhan, kalau memang Engkau murka, kenapa murka-Mu justru pada anakanak
yang belum tahu apa-apa?” Mengapa murka-Mu justru pada hamba-
Mu yang miskin? Mengapa tidak Kau timpakan murka-Mu pada para koruptor
di negeri ini? Mereka pasti mempunyai banyak uang untuk berobat sampai
ke luar negeri! Itu pikiran manusiawi saya yang tentu saja, berbeda dengan
rancangan dan pikiran Tuhan.
Pokok permenungan kita dikutip dari Yehezkiel 9:9. Ayat tersebut bila
ditempatkan dalam perikop yang lengkap berbicara tentang pembunuhan
orang-orang fasik di Yerusalem. Mereka dihancurkan karena Tuhan sudah
tidak sabar lagi menyaksikan kejahatan mereka. Tempat-tempat ibadat
menjadi tempat pemujaan berhala. Maka Tuhan membawa nabi Yehezkiel
214 Ketidakadilan dan Korupsi
dalam penglihatan di Bait Suci untuk melihat penyembahan berhala-berhala
(bdk Yeh 8:1-11). Menyaksikan perbuatan tak senonoh Israel tersebut, Allah
menjatuhkan hukuman pada Yerusalem dengan membunuh semua orang fasik.
(Yeh 9:1-11). Pelaksanaan murka dalam bentuk pembunuhan, diawali dengan
memanggil 6 laki-laki pelaku yang akan melaksanakan murka itu. “Mari ke
mari, hai yang harus menjalankan hukuman atas kota ini.” Keenam lakilaki
yang disapa tersebut masing-masing dengan alat pemusnah di tangan.
Selain itu, satu orang berpakaian lenan dan dengan alat tulis di tangan,
diperintahkan Tuhan berjalan di tengah-tengah kota. Ia diperintahkan untuk
memberi tanda “T” pada dahi mereka yang berkeluh kesah atas perbuatan
keji yang telah mereka lakukan. Keenam laki-laki dengan alat pemusnah di
tangan itu diminta mengikuti dari belakang dan memukul sampai mati kecuali
mereka yang telah diberi tanda “T” pada dahi. Mereka membunuh semua
orang yang tanpa tanda “T” di dahi. Orang dewasa anak-anak dan wanita
dibunuh tanpa mengenal belas kasihan.
Menyaksikan peristiwa tersebut, Nabi Yehezkiel memohon belas
kasihan pada Tuhan bagi teman-teman sebangsanya yang berbuat jahat.
Namuan Yehezkiel mendapat jawaban: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda
sangat banyak, sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh
ketidakadilan; sebab mereka berkata: Tuhan sudah meninggalkan tanah ini
dan Tuhan tidak melihatnya.”
Peristiwa penghancuran orang-orang fasik di Yerusalem tersebut kita
jadikan pokok permenungan. Kita renungkan kehidupan kita baik secara
pribadi maupun sebagai komunitas bangsa. Dengan hati yang jujur dan tulus
di hadapan-Nya kita meratapi dan berkeluh kesah atas segala kejahatan yang
telah kita lakukan seperti korupsi dan berlaku curang terhadap sesama. Kita
akui semua kesalahan tersebut dan berjanji untuk tidak korupsi lagi. Hanya
dengan berlaku jujur di hadapan-Nya, kita akan diberi tanda “T” di dahi
untuk dapat lolos dari murka Tuhan.
Dekadensi Moral
Korupsi adalah wujud paling nyata dari dekadensi moral di Negeri ini.
Mereka yang melakukan korupsi telah rusak moralnya. Mereka berperilaku
Ketidakadilan dan Korupsi 215
seperti tikus dalam rumah. Mereka merampas uang rakyat demi memperkaya
diri dan keluarga. Tak ada lagi rasa takut, bersalah, malu apalagi rasa berdosa
pada Tuhan. Mereka tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk. Para koruptor tidak dapat membedakan mana haknya dan
mana milik orang lain. Para koruptor, hanya memikirkan perut, sambil menarinari
di atas penderitaan orang miskin.
Dewasa ini, betapa susahnya menemukan orang yang jujur, benar dan
adil. Betapa susahnya menemukan orang yang konsisten antara kata dan
perbuatan. Betapa susahnya membedakan perilaku orang yang berpendidikan
dengan yang tidak. Betapa sulitnya membedakan perilaku preman terminal
dengan preman berdasi di kantor-kantor pemerintah dan lembaga-lembaga
negara ini. Banyak pejabat perampok dan maling. Yang membedakan hanya
penampilan fisik. Preman terminal menyeramkan sedang preman berdasi
berperilaku sopan namun berhati jahat.
Dalam situasi seperti itu, apa yang dapat kita lakukan? Hati mereka
sudah tertutup. Kita tidak mungkin berharap banyak bahwa pemerintah
mampu memberantas korupsi. Apalagi perilaku maling dalam hal apa saja,
sudah menjadi sesuatu yang biasa dan sangat vulgar di negeri ini. Maka untuk
menumbuhkan sikap jujur, takut, malu dan berdosa, hendaklah kita mulai
dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terkecil dalam masyarakat. Kita
perlu belajar jujur dalam hal-hal kecil. Kita berani menolak segala kejahatan
yang menggoda baik bagi diri sendiri maupun anggota keluarga kita. Hanya
dengan demikian kita dapat mulai mendidik anak bangsa ini untuk bermoral
dan belajar untuk tidak berbuat korup. Pemberantasan korupsi harus kita
mulai dari diri sendiri dan keluarga. Kita belajar jujur pada diri sendiri, suami/
istri, anak-anak, saudara-saudara dan masyarakat sekitar kita. Kita didik anakanak
kita untuk jujur pada orangtua dalam hal-hal sederhana. Kita didik
mereka untuk jujur pada diri sendiri, sesama dan terutama pada Tuhan.
Demikian sebaliknya, sebagai orang tua kita patut memberikan teladan/contoh
hidup yang tidak korup.
Himbauan kejujuran yang diajarkan di sekolah-sekolah, tidak ada artinya
bila dalam keluarga anak tidak bisa mengalami sikap jujur. Bila orangtua
senantiasa menampilkan kejujuran, maka anak akan belajar dan bertindak
216 Ketidakadilan dan Korupsi
jujur pula. Tetapi kalau anak dari kecil sudah dikondisikan dengan sikapsikap
yang tidak jujur, maka jangan berharap banyak anak-anak tersebut akan
jujur di masa mendatang. Sangat disayangkan bahwa pendidikan budi pekerti
di sekolah (bahkan dalam keluarga) terabaikan. Padahal pendidikan budi
pekerti sangat berpengaruh pada pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Karena itu, tidak ada cara lain untuk membangun generasi bangsa ini menjadi
generasi yang jujur dan takut pada kejahatan selain melalui kesadaran terusmenerus
akan jati diri sejati dengan dibentengi penegakan hukum yang adil
dan jujur pula.
Memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan saling mencaci maki
dan berkoar-koar, maling teriak maling, saling menyalahkan. Tidak ada
gunanya kita mengecam mereka yang tidak lagi bermoral. Kita hanya bisa
berharap bahwa jika hukum duniawi sudah tidak berdaya untuk menjerat
mereka, maka Tuhan sendirilah yang akan menunjukkan keadilan-Nya.
Semoga murka-Nya sungguh nyata pada orang jahat di negeri ini sebagaimana
dialami orang fasik di kota Yerusalem. Masalahnya, apakah kita termasuk
orang yang tidak korup? Apakah kita ini termasuk yang punya moralitas?
Kita patut bertanya pada diri sendiri! Bila kita termasuk orang yang tidak
punya nurani dan moralitas yang benar, secepatnya kita berkeluh kesah,
mohon pengampunan-Nya dan mau berrubah dan bertobat. Tanyakan pada
diri masing-masing kejahatan apa yang telah kita lakukan? Apakah kita pernah
melakukan tindakan korupsi yang merugikan banyak orang? Apakah kita
termasuk orang yang telah menyalahgunakan jabatan? Apakah kita berani
berkata tidak terhadap mereka yang mengajak kita untuk korupsi?
Bersediakah kita mengembalikan uang rakyat yang telah dikorupsi?
Kembali ke Jati Diri Sejati
Memberantas korupsi bukanlah hal yang gampang, seperti kita
membalik telapak tangan. Kita mungkin kesal bila ada orang korupsi secara
besar-besaran karena ada peluang untuk itu. Bayangkan seandainya peluang
itu ada di depan mata kita, apa yang kita lakukan? Beranikah kita berkata
tidak? Ah, belum tentu, sebab kita mungkin berkeputusan mumpung ada
kesempatan. Godaan untuk korupsi tidak pilih kasih. Ia dapat menggoda siapa
Ketidakadilan dan Korupsi 217
saja, baik yang berpendidikan, punya kekuasaan maupun rakyat miskin.
Selama ada kesempatan, peluang untuk korupsi bisa saja terjadi. Maka, untuk
menyangkal godaan tersebut, baiklah kita kembali pada jati diri kita yang
sesungguhnya. Kita diciptakan menurut citra Allah (bdk Kej 1:26-27). Sebagai
citra Allah kita dianugerahi kemampuan membedakan mana yang baik dan
yang jahat. Pencitraan tersebut dimaksudkan agar kita dapat berpartisipasi
dalam menyempurnakan ciptaan serta menghadirkan citra Allah sendiri dalam
kehidupan kita.
Korupsi adalah perbuatan jahat di mata Tuhan, karena tidak sesuai
dengan perilaku makhluk yang secitra dengan Allah. Karena itu, pertobatan
perlu dan harus dilakukan sebagai langkah memulihkan kecitraan kita sebagai
anak Allah yang sejati. Bertobat berarti meninggalkan kehidupan lama menuju
kehidupan yang baru sebagai anak Allah.
Kesalehan yang Membumi
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius. Kita mempunyai
dasar negara Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita
dengan bangga menyaksikan rumah ibadat bertebaran di mana-mana yang
dipenuhi jemaah. Ada Masjid, Gereja, dan rumah ibadat lainnya. Kita dengan
sukacita menyaksikan setiap tahun ratusan ribu jemaah pergi naik haji dan
ziarah ke tempat-tempat suci. Kita dengan penuh sukacita pula menyaksikan
masyarakat yang menghiasi rumahnya dengan ayat-ayat dan gambar-gambar
suci dan mendandani diri dengan pakaian yang bernuansa religius, yang
Muslim pakai jilbab, kopiah dan yang Kristen berkalung salib dan berbagai
ornamen suci lainnya.
Fenomena seperti itu, begitu menggembirakan karena kita berharap
bahwa nuansa keagamaan yang begitu menonjol akan berdampak pada
perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Namun harapan
di balik maraknya simbol-sombol keagamaan tersebut ternyata tidak tampak
dalam perilaku. Hal ini terjadi karena perilaku keagamaan kita baru sampai
pada taraf penampilan fisik, lahiriah dan emosional. Iman tidak dihayati dalam
praksis kehidupan yang konkret. Kesalehan kita tidak membumi, tidak
218 Ketidakadilan dan Korupsi
mendapat wujudnya dalam perilaku moral yang konkret. Kita bisa memastikan
bahwa pejabat yang beragama Islam di negeri ini kebanyakan sudah naik
haji dan yang Kristen sudah dibaptis. Dalam baptisan orang Kristen berjanji
untuk menolak segala macam godaan setan. Sebelum menjabatpun para
pejabat bersumpah dan berjanji di hadapan Tuhan, termasuk bersumpah dan
berjanji untuk tidak korupsi.
Sekiranya iman akan Allah dihayati secara benar, tidak mungkin ada
korupsi di negeri ini. Semua agama pasti melarang korupsi. Masalahnya,
agama hanya tampak bila tidak ada kesempatan untuk korupsi. Bila
kesempatan itu ada, Ketuhanan yang Mahaesa ditinggalkan dan diganti
dengan “keuangan yang mahakuasa.” Ini sungguh ironis!
Paradoks yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa kesalehan
ritual dalam ibadat, tidak tampak dalam kesalehan sosial. Keberagamaan
hanya di sekitar peribadatan. Bukankah kesalehan ritual seharusnya tampak
dalam kesalehan sosial? Kesalehan ritual seharusnya membumi dan sungguh
berbuah dalam perilaku moral dengan menghindari perilaku korup dalam
segala speknya.
Kesimpulan
Korupsi di negeri ini semakin merajalela dan tak terkendali. Semua
yang mempunyai kesempatan terlebih mereka yang ada di sekitar kekuasaan
ramai-ramai melakukan korupsi secara berjemaah tanpa ada rasa takut pada
Tuhan apalagi pada sesama. Kitab Yehezkiel 9:9 mengingatkan kita untuk
bertobat dan berkeluh kesah atas kejahatan yang kita lakukan. Sebab Tuhan
akan murka dan tidak lagi sabar terhadap kejahatan. Maka Tuhan
menghancurkan Yerusalem.
Memberantas korupsi harus dimulai dari diri sendiri, dalam keluarga
dengan belajar jujur satu sama lain. Selain itu, pertobatan sebagai usaha
kembali ke jati diri sejati hendaknya dikedepankan. Hanya dengan menyadari
kemanusiaan yang sesungguhnya seseorang mampu membedakan yang baik
dan yang jahat.
Ketidakadilan dan Korupsi 219
Selain itu, hendaknya kesalehan ritual kita, sungguh nyata dalam
kesalehan yang membumi. Iman tidak terkurung dalam rumah ibadat tetapi
seharusnya meresapi kehidupan secara konkret. Akhrinya, renungan ini saya
tutup dengan sepotong syair lagu Berita Kepada Kawan dari Ebit G Ade
sbb:
Mengapa di tanahku terjadi bencana?
Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan. Bersahabat dengan kita.
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…
* Pengajar Agama Katolik Universitas Wangsamanggala (UNWAMA), Yogyakarta dan
Penulis Buku-buku Rohani
220 Ketidakadilan dan Korupsi
L i m a
MELAWAN KORUPTOR
Yohanes 10:1
(Bambang Pujo Riyadi, STh, MPD)*
Saudara-saudara kekasih, dari seluruh gambaran tentang hubungan
antara Allah dengan manusia agaknya gambaran yang paling mudah
dimengerti dan sesuai dengan kenyataan kehidupan adalah gambaran
hubungan antara gembala dan dombanya. Dari seluruh refleksi Alkitab atas
gambaran hubungan ini agaknya dilukiskan dua hal, yaitu hubungan antara
Yahweh (Allah) dan bangsa Israel dan hubungan antara Raja dan rakyatnya.
Nas kali ini ingin menonjolkan hubungan antara Allah dan bangsa Israel.
Untuk mengerti lebih jauh tentang bagaimanakah gambaran hubungan itu
tentu refleksi ini akan melihat hubungan gembala dan dombanya dalam
Perjanjian Lama.
Secara khusus sebenarnya nas di atas ingin mempertentangkan antara
gembala yang sejati dengan gembala palsu. Tampaknya pemahaman tentang
bagaimana sebenarnya gembala yang sejati atau gembala yang baik kita dapat
membaca keseluruhan bacaan dari Yohanes 10:1-30. Namun sebelum melihat
lebih jauh tentang bagaimana gembala palsu itu sebaiknya kita membekali
diri dengan beberapa pertanyaan, yaitu: mengapa Yesus mempertentangkan
hal ini? Adakah sesuatu yang sangat penting? Dan apakah manfaatnya untuk
kehidupan sekarang ini?
Gembala Palsu
Saudara-saudara, gambaran tentang gembala palsu banyak terdapat
dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam Yesaya 56:9-12. Dilukiskan bahwa
pengawal-pengawal…….adalah orang-orang buta. Agaknya isi perikop ini
Ketidakadilan dan Korupsi 221
mengungkapkan betapa Allah sangat mengutuk para pemimpin dan imam
Israel yang korup, karena mereka tidak mengenal firman-Nya, serakah dan
mementingkan diri serta tidak dapat meninggalkan minuman beralkohol;
Yeremia 23:1-4 juga mengecam gembala yang demi kepentingan pribadi
telah memperkaya diri tanpa memperhatikan sama sekali keadaan dombanya.
Demikian juga dalam Yehezkiel 34 dijelaskan bahwa gembala palsu
cenderung memeras domba, mereka serakah, melakukan tindak korupsi,
mementingkan diri sendiri dan lalai menuntun umat seperti yang dikehendaki
Allah.
Dari tiga gambaran tentang sikap gembala palsu tadi ternyata ada satu
benang merah yang menjawab pertanyaan di atas, yaitu: mengapa gembala
sejati dan palsu dipertentangkan. Jawabnya adalah jelas ternyata gembala
tersebut melakukan tindakan korup atas domba-dombanya. Karena tindakan
korup itulah sehingga mereka tidak lagi menggembalakan, menuntun
dombanya sebagaimana dikehendaki Allah tetapi menggembalakan dan
menuntunnya untuk pemuasan akan keserakahannya.
Mengapa Yesus mengingatkan dombaNya dan apakah kepentingan-Nya?
Dari gambaran tentang gembala palsu di atas jelas bahwa Yesus
menganggap bahwa tindakan gembala itu merugikan domba-Nya. Jadi
tindakan itu berdampak pada kesengsaraan domba-domba-Nya.
Domba-domba dinikmati susunya, bulunya dibuat pakaian, yang gemuk
disembelih, sakit tidak diobati, luka tidak dibalut, hilang tidak dicari bahkan
domba diinjak-injak dengan kekerasan. Itulah seluruh gambaran penderitaan
dibawah gembala palsu. Kepentingan Yesus adalah mengingatkan semua
dombaNya, seperti yang tertulis dalam Yehezkiel 34:2: Hai anak manusia,
bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakan
kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: beginilah Firman Tuhan Allah:
celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri!
Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan gembala-gembala
itu. Jadi letak kepentingan Yesus mengungkapkan ini semakin jelas yaitu:
222 Ketidakadilan dan Korupsi
manakala umat merasa ditindas dan diperas bahkan jelas ada tindak korupsi
lawanlah gembalamu atau pemimpinmu, jangan hanya diam seribu bahasa.
Apakah manfaatnya melawan gembala palsu untuk kehidupan
sekarang ini?
Dalam Zakharia 11:15-17. Kita dapat membaca bagaimana Allah
meminta Zakharia memerankan gembala palsu yang jahat: Ambilah sekali
lagi perkakas seorang gembala yang pandir, sebab sesungguhnya aku akan
membangkitkan di negeri ini seorang gembala yang tidak mengindahkan
yang lenyap, yang tidak mencari yang hilang, yang tidak menyembuhkan
luka, yang tidak memelihara yanjg sehat, melainkan memakan daging dari
yang gemuk dan mencabut kuku mereka. Celakalah gembala yang pandir,
yang meninggalkan domba-domba. Biarlah pedang menimpa lengannya dan,
menimpa mata kanannya! Biarlah lengannya kering sekering-keringnya, dan
mata kanannya menjadi pudar sepudar-pudarnya.
Melalui peran Zakharia sebagai gembala palsu kita dapat melihat,
bahwa sebenarnya gembala palsu itu merusak kehidupan. Gembala palsu
menghancurkan harapan tentang kehidupan sebagai anugerah sang Pencipta
yang mesti dinikmati oleh setiap ciptaan. Dengan penjelasan ini saudarasaudara,
dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa merusak kehidupan berarti
tidak menghargai Allah yang memberikan hidup. Dan bilamana Allah sudah
tidak dihargai lagi lalu di manakah manusia mesti menempatkan harapannya
tentang kehidupan yang lebih baik dan sempurna. Akhirnya manfaat kita
melawan gembala palsu sekarang ini adalah membela kehidupan pemberian
Allah sekaligus menempatkan kembali penghargaan kepada Allah atas
anugerah ciptaanNya.
Saudara-saudara kekasih Tuhan, hubungan Tuhan dengan umat-Nya,
Raja dengan rakyatnya yang digambarkan dengan gembala dan dombanya
tentu sangat dekat dan tidak asing. Itulah gambaran mengenai kepemimpinan
yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita. Baik itu pemimpin formal
dan non formal; pemimpin keagamaan maupun pemimpin kenegaraan.
Ketidakadilan dan Korupsi 223
Melalui gambaran hubungan Tuhan dan umatnya diatas sebenarnya
kita bisa mengerti bahwa gembala atau pemimpin adalah seseoang yang telah
dikhususkan oleh Allah bahkan dalam budaya demokrasi pemimpin dipilih
langsung oleh rakyat. Masalahnya Sekarang adalah ada kecenderungan
bahwa, seorang pemimpin atau pejabat lupa diri sehingga salah dalam
menjalani tugas kepemimpinannya.
Kesalahan yang sering terjadi adalah pemimpin sering jatuh dalam
pesona korupsi. Dan dari cara tindak korupsi yang biasa dilakukan pemimpin
mempergunakan jabatan sebagai wahana memperkaya diri. Di sini terjadi
apa yang disebut penyalah gunaan kekuasaan. Karena sifat dari korupsi adalah
mengambil sesuatu yang bukan miliknya menjadi miliknya berarti, ada pihak
yang dirugikan. Semakin intens seorang pemimpin melakukan tindak korupsi
maka, semakin besar pula hasil yang didapat. Namun jangan lupa korban
dari korupsi juga akan semakin parah dan semakin menderita.
Saudara-saudara, masalahnya sekarang adalah manakala seseorang
menjadi korban koruptor dia tidak dengan segera mengklarifikasi atau
meletakkan kembali pada rule yang ada tetapi, hanya diam dan menerima
apa yang terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus korupsi sering sang corruptor
malah dilindungi. Hal itu bisa terjadi karena takut atau menganggap hal itu
adalah yang wajar. Uraian diatas mengajarkan kepada kita manakala itu terjadi
dan ada penindasan maka, tegur dan lawanlah sang koruptor.
Korupsi dalam masyarakat kita tidak akan pernah habis kalau semua
orang diam dan tidak peduli. Dengan gamblang uraian diatas mengingatkan
bahwa, bila memang terjadi tindak kesewenangan yang, menguntungkan diri
pejabat haruslah dilawan. Sebab tanpa ada yang berani memulai maka, hal
ini akan terus berlangsung hingga terjadi kehancuran bersama.
Oleh karena itu perlu bagi tiap orang untuk belajar bagaimana melawan
korupsi, mulai dari dalam diri sendiri, keluarga, gereja dan akhirnya pada
masyarakat serta bangsa. Ini penting untuk terus-menerus dilakukan sebab
korupsi menghancurkan kehidupan.
Saudara-saudara, kita dapat menjadi gembala atas diri sendiri. Namun
gembala seperti apa yang kita pilih? Dalam diri tiap manusia ada yang disebut
224 Ketidakadilan dan Korupsi
suara hati, bila kita berlaku tidak benar dia akan menyuarakan kebenaran.
Jadi jika kita menjadi gembala palsu masuk ke dalam suara nurani dengan
melompati pagar lalu mencuri dan merampok kebenaran itu artinya sudah
menjadi gembala palsu untuk diri sendiri. Pada saat itulah sebenarnya kita
menghilangkan hidup sendiri. Jadi jika memang kita melakukan tindak
korupsi maka: Lawanlah! Jika setiap orang berlaku demikian maka, korupsi
tidak akan mendapat tempat.
Masalahnya sekarang beranikah saudara dan saya tidak lompat pagar
dan merampok kebenaran dari suara hati atau nurani kita sendiri? Saudarasaudara:
Lawanlah dan jangan menjadi koruptor.
* Warga Jemaat Gereja Kristen Jawa
Ketidakadilan dan Korupsi 225
E n a m
VOX POPULI VOX DEI:
KEBERPIHAKAN PADA RAKYAT
Yakobus 4:4
(Pdt. DR. Darius Dubut, MM)*
Apakah saudara-saudara merasa setia? Setia kepada istri, setia kepada
suami, setia kepada negara, setia kepada gereja, setia kepada pekerjaan? Di
sisi-sisi mana sajakah saudara setia? Saya sering menjadi bingung ketika
majelis gereja mengunjungi warga-warganya yang mangkir beberapa kali
tidak ke gereja atau tidak mengikuti Perjamuan Kudus ketika ukuran kesetiaan
adalah presensi kehadiran di gereja atau bagaimana? Aduh, jika memang
demikian, kita sekarang ini perlu mendefinisikan terlebih dahulu arti kata
“setia”.
Gereja bukanlah gedungnya, gereja bukanlah mimbarnya, dan gereja
bukanlah pendetanya! Jadi, apa yang dimaksud dengan kesetian kepada Allah?
Jika boleh disampaikan di sini bahwa, kesetiaan kepada Gereja tidak diukur
dengan durasi ritualnya, atau panjang doanya, atau “katham” dalam
pendalaman Alkitab. Kesetiaan kepada Allah adalah sebuah nurani untuk
berbela-rasa dengan kaum miskin, kaum marjinal yang inferior. Kesetiaan
kepada Allah adalah ketaatan dalam melaksanakan kehendak Allah dalam
mewujudkan kebenaran, keadilan, dan kasih. Dalam konteks Indonesia,
kesetiaan kepada Allah justru mesti dinyatakan dalam keberpihakan dengan
orang-orang yang menjadi korban sistim yang tidak adil, dan kerakusan para
pemimpinnya. Jadi istilah vox populi vox dei sebenarnya mengandung makna
yang sangat luas.
Gereja Bebas Korupsi?
Menjadi anggota sebuah gereja, tentunya dengan harapan untuk
beribadat, bersama-sama dengan umat yang lain menyampaikan ungkapan
226 Ketidakadilan dan Korupsi
syukur atas berkat-berkat yang telah diterima, memuji kebesaranNya, dan
mencari pengharapan atau sugesti diri jika sedang dalam kesusahan. Tetapi
betapa kecewanya, jika setelah menjadi anggota gereja ternyata gereja
membelenggu dan merampas sebagian kemerdekaan kita. Kebebasan untuk
bersuara, kebebasan untuk memilih, mengemukakan pendapat, bahkan
kebebasan untuk menjalankan ibadat dengan rasa nyaman. Jika hal-hal ini
terjadi di gereja artinya, gereja telah melakukan korupsi. Jangan berpikir
bahwa korupsi hanya menyangkut uang. Gereja telah melakukan korupsi
jika menghilangkan suara para warga fakir miskin di dalam pemilihan majelis.
Gereja juga telah melakukan korupsi jika mengabaikan makna yang hakiki
dari panggilannya di tengah-tengah dunia, ketika ia mengabaikan orang-orang
miskin dan tertindas oleh sistim dan perundang-undangan yang tidak adil,
ketika membiarkan saja pengrusakan lingkungan terjadi, ketika membiarkan
saja perampasan HAM berlangsung, dan ketika tidak berbuat apa-apa ketika
ketidakadilan berlangsung di tengah-tengah masyarakat. Dan pada saat itulah
gereja telah bersahabat dengan dunia.
Hai Kamu Orang-orang yang Tidak Setia!
Jangan menjadi sombong jika kita menjadi tokoh atau orang yang
ditokohkan di dalam sebuah gereja. Baik menjadi tokoh karena jasanya di
dalam pendirian gereja, ataupun tokoh karena selalu terlibat aktif di dalam
setiap kegiatan gereja. Apakah dengan demikian kita berpikir bahwa kita
lebih setia kepada Allah dari pada orang lain? Atau kita merasa lebih setia
kepada Allah karena setiap hari berada di gereja? Koster juga menggunakan
waktu lebih lama berada di gereja, bahkan dialah yang menjaga,
membersihkan, menata rugang gereja ini agar selalu bersih dan rapi. Jadi,
bagaimana mengukur kesetiaan kepada Allah itu?
Sudah sering kita mendengar kotbah-kotbah yang menggunakan nas
di atas. Tentu, dengan teks yang sama dan konteks yang mirip. Semoga kali
ini, saudara pulang dari gereja ini dengan kejutan baru karena bersama-sama
memperoleh konteks yang surprise tentang kesetiaan kepada Allah. Dalam
kotbah-kotbah tentang nas ini, biasanya yang dimaksud dengan “orang-orang
yang tidak setia” adalah warga gereja yang sering mangkir ke gereja, yang
Ketidakadilan dan Korupsi 227
sering tidak mengikuti perjamuan kudus, yang pasif dalam kegiatan-kegiatan
gereja. Mari kita bayangkan pengkhotbah yang sedang menyampaikan ayat
ini berdiri di mimbar dengan tangan menunjuk ke arah umat, dan suara berat
“Hai kamu orang-orang yang tidak setia . . . . janganlah bersahabat dengan
dunia, jangan berjudi, jangan mencuri, jangan . . . . engkau akan menjadi
musuh Allah”
Apakah yang dimaksud dengan bersahabat dengan dunia? Gambaran
mengenainya terurai dalam 1 Korintus 3:1-4. Jika bersahabat dengan dunia,
kamu menjadi manusia duniawi, yang salah satu contohnya adalah sifat
menggolong-golongkan (. . . aku dari golongan Paulus, . . . . aku dari golongan
Apolos) Aku majelis dan kamu warga, kedudukanku lebih tinggi karena kamu
hanya warga biasa. Jadi jelas, para majelis bahkan juga pendetanya adalah
manusia duniawi.
Bersahabat dengan Allah adalah bersahabat dengan rakyat. Bersahabat
dengan rakyat berarti berbela rasa dengan mereka, berjuang bersama orangorang
yang mengalami penderitaan, yang hak-haknya dirampas, yang
aksesnya untuk kehidupan yang lebih adil dan sejahtera dikutungi oleh para
koruptor. Tidaklah cukup kalau gereja hanya membantu yang berkekurangan,
melindungi kaum yang terpinggirkan, membimbing yang lemah. Sering gereja
berpikir bahwa cukuplah para janda diberi santunan, atau untuk anak-anak
sekolah minggu diberi makanan kecil dan permen, pembagian traktat atau
pemutaran film Sejarah Yesus. Atau gereja-gereja di pedesaan yang disunat
kesempatannya dalam bebagai aktivitas kegiatan kebersamaan antar gereja,
atau kesempatan mengembangkan diri, akses informasi, akses kepemimpinan,
dan banyak lagi. Keberpihakan gereja terhadap rakyat tidak boleh
menempatkan gereja menjadi sinterklas, seperti yang dilakukan oleh
pemerintah melalui dana kompensasi BBM. Karena praktik sinterklas tidak
akan pernah menyelesaikan persoalan yang sebenarnya, malahan sebaliknya
akan memperparah keadaan, karena akan melahirkan sikap ketergantungan
pada orang lain. Jadi sebenarnya praktik sinterklas itu hanya akan
mengekalkan kebodohan dan ketidakdilan. Jadi kalau gereja pun berlaku
seperti sinterklas, maka gereja telah melakukan praktik pembodohan terhadap
rakyat. Hal inilah yang sering kurang disadari oleh gereja, yang sibuk dengan
228 Ketidakadilan dan Korupsi
urusan-urusan administrasi internal lalu melupakan panggilannya yang hakiki.
Jadi, kalau gereja hendak setia pada Tuhan, maka gereja harus berjuang
membela rakyat.
Setia pada Rakyat Setia pada Allah
Setia pada rakyat adalah juga setia pada Tuhan. Jadi, kita akan menjadi
musuh Allah jika tidak setia kepada rakyat. Di dalam gereja secara internal
kelembagaan: kita harus setia kepada umat. Jangan dikorupsi hak dan
kebebasan mereka. Jadilah kita pelayan mereka dan membasuh kaki mereka.
Perhatikan ayat berikut: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan! Akan masuk kedalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Mat 25:2).
Nama Tuhan disebutkan di hampir setiap kesempatan pertemuan, dalam
setiap doa dan ibadah. Kalau soal yang satu ini, yaitu menyebut nama Tuhan,
maka orang Indonesia nomor satu! Karena bukankah bangsa Indonesia ini
adalah bangsa yang religius? Tetapi ketika kenyataan memperlihatkan bahwa
Indonesia adalah salah satu bangsa yang terkorup, maka sebutan nama Tuhan
hanya menjadi pemanis bibir dan tutur. Semuanya itu lalu menguap ke udara
kosong, hilang tanpa makna apa-apa. Jadi, menyebut nama Tuhan mesti
dinyatakan dalam melaksanakan kehendak Tuhan, yaitu berbelaskasihan dan
berbela rasa, berjuang bersama dengan rakyat yang menjadi korban
kebrobrokan para pemimpinnya.
Sebagai penutup, mari kita merenungkan tema kesetiaan ini melalui
sajak berikut:
Setialah . . . . .
Jika anak-anak kecil berlarian di gereja . . .
Ibu bapaknya pasti menegur . . . . . ssst… jangan ribut,
Jika seorang nenek mengantuk di gereja . . . . .
Pasti sebelah kanan dan kirinya akan menjawilnya. . . .
Apalagi jika nenek itu mulai bersandar miring ke kiri atau ke kanan
Di gereja kok tidur . . . . .
Ketidakadilan dan Korupsi 229
Pada saat diselenggarakan bazar di gereja
Ibu-ibu ribut membuat kue, jajanan, untuk dijual . . . .
Gereja kok dibuat tempat jualan . . . .
Pada saat pembangunan gereja
Panitia sibuk mencari dana, membuat proposal ke sana ke mari
Obyekan ke sana ke sini . . .
Lumayan jika ada pejabat Kristen yang membantu ratusan juta . . . .
Pada saat bumi Kalimantan menjadi lautan asap,
Pada saat banjir dan tanah longsor melanda,
Pada saat terjadi ledakan bom di Bali
Gereja tidak bergeming . . . . , bertanyapun tidak
Dalam banyak peristiwa politik, sosial, dan budaya . . . .
Gereja terdiam, kehilangan kata
Gereja sibuk mengurusi ranjang-ranjang warganya
dan berseru-seru: setialah, setialah . . . . .
Setialah kamu Gereja,
Setialah kepada rakyat, berdayakan mereka
Agar tidak menjadi musuh Allah
Vox populi vox Dei . .
*. Pendeta emeritus dari GKE, Dierktur Program Dialogue Centre PPS Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
230 Ketidakadilan dan KorupsiKorupsi dan Pertobatan 231
KORUPSI DAN
PERTOBATAN
BAGIAN
VII
232 Korupsi dan Pertobatan
Korupsi dan Pertobatan 233
S a t u
APAKAH KORUPTOR BISA BERTOBAT?
Sebuah harapan bagi Pertobatan seorang Koruptor
Lukas 13:6-9
(Freddo Benedict J.E.)*
Bapak, ibu, saudara-saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus.
Ada seorang petani rambutan menebang lima pohon rambutan di kebunnya.
Ia sangat marah karena sudah hampir 10 tahun ditanam, pohon-pohon
rambutan itu tidak menghasilkan buah. Ia sudah berusaha memberi pupuk
tapi tidak berhasil. Sang petani sudah tidak sabar menanti lebih lama untuk
membiarkan pohon-pohon rambutan itu menghias kebunnya tanpa
menghasilkan buah.
Bacaan yang kita renungkan kali ini diambil dari Lukas 13:6-9. Dalam
bacaan itu, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon Ara yang
tidak berbuah. Pemilik kebun itu menyuruh tukang kebun anggurnya untuk
menebang pohon ara yang tidak menghasilkan buah. Sudah tiga tahun si
tuan mencari buah pada pohon itu tetapi tidak menemukannya. Namun si
pengurus kebun itu meminta waktu satu tahun lagi, barangkali tahun
berikutnya pohon itu berbuah, jika tidak berbuah barulah pohon Ara itu
ditebang.
Bapak, ibu dan saudari yang terkasih, melalui perumpamaan itu, Tuhan
Yesus ingin memberitahu kita, bahwa sebagai orang yang percaya padaNya,
kita mesti berbuah dalam kehidupan ini. Atau dengan kata lain, meski kita
seringkali berdosa, Tuhan senantiasa memberi kesempatan untuk bertobat.
Tuhan selalu menanti agar kita “berbuah’, bertobat atau berpaling dari dosa.
Sebagai pohon yang ditanam oleh Allah, kita seharusnya selalu berbuah
sehingga dinikmati oleh orang banyak. Sebagai ‘pohon’ yang sudah ‘ditanam’
dalam pembaptisan yang kita terima selama bertahun-tahun namun tidak juga
234 Korupsi dan Pertobatan
menghasilkan buah, tentu seperti si petani atau Tuan dalam perumpamaan di
atas, Tuhan ‘tampaknya’ sudah tidak sabar, menunggu buah yang kita hasilkan.
Tuhan tampaknya juga tidak sabar, tebanglah pohon, untuk apa ia
tumbuh di tanah ini dengan percuma. Dalam konteks permenungan kita kali
tentang korupsi, dapatlah kita katakan: tangkaplah para koruptor itu, sebab
untuk apa mereka dibiarkan hidup di negeri ini dengan leluasa sembari
merusak dan merugikan banyak orang? Atau dengan bahasa yang lebih halus,
berilah mereka kesempatan, siapa tahu besok atau lusa mereka akan akan
bertobat. Jika besok mereka belum mau bertobat, maka tangkaplah dan
jeratlah mereka dengan hukum yang keras.
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang dikasihi Yesus, memang terasa
sangat keras dan tidak manusiawi perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah
dengan para koruptor. Kalau kita berpikir secara rasional dan adil, alangkah
kerasnya membandingkan para koruptor dengan pohon ara yang tidak
berbuah. Apakah kita akan melakukan tindakan anarkis (menangkap,
‘membasmi’ dan ‘menebang) mereka yang ketahuan berbuat korup? Apakah
kita akan sekeras dan seganas itu? Tentu saja tidak! Pengibaratan yang saya
maksudkan di sini lebih menekankan aspek harapan, mungkin tahun depan
mereka akan berubah. Berbicara tentang harapan bahwa korupsi bisa diatasi
di Indonesia, tentu kita akan merasa pesimis. Secara jujur harus kita akui
bahwa kalau melihat praktek penegakan hukum terhadap para tersangka kasus
korupsi, kita memang seakan-akan tidak punya harapan. Ah, koruptor kelas
kakap aja sering bebas dan dibebaskan, apalagi mengharapkan mereka
bertobat, bagaikan membuang garam di laut. Sebagai orang beriman kita
semestinya menaruh harapan bahwa karya dan kuasa Allah selalu bekerja
dan menggerakkan orang untuk “berbuah’ atau bertobat. Pertobatan memang
bukanlah suatu proses yang instan dan sekali jadi. Tetapi suatu proses yang
terus menerus bahkan sepanjang hidup. Oleh karena itu, kalimat mungkin
tahun depan akan berbuah menyiratkan suatu harapan bahwa sesuatu yang
baik pasti akan terjadi. Pengharapan inilah yang mendorong kita orang-orang
yang dibaptis untuk menghasilkan buah.
Bagaimana buah itu dihasilkan? Ada aneka jawaban yang diharapkan
dari kita sebagai orang yang mengakui dirinya sebagai pengikut Tuhan Yesus.
Korupsi dan Pertobatan 235
Tapi pada saat ini dapat saya tawarkan tiga jawaban atau “buah” yang
diharapkan dari kita sebagai orang-orang kristiani yaitu buah pertobatan,
buah Roh dan buah pelayanan.
Kita mungkin sudah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun tetapi
tidak menghasilkan buah. Bagaimana kita bisa menghasilkan buah? Dan buah
macam apakah yang kita harapkan? Tentu sudah banyak cara telah kita
lakukan, banyak pengajaran dan pendidikan kita peroleh, banyak kotbah yang
bagus dan menyentuh telah kita dengarkan, banyak buku dan renungan indah
telah kita hasilkan. Tapi apakah hasilnya sesuai dengan harapan Allah? Untuk
dapat menjadi ‘pohon’ yang berbuah banyak (kebaikan, kebajikan, keadilan,
kejujuran, ketulusan, kerendahan hati, dll dan bukan sebaliknya: penipuan,
pencurian, korupsi, ketidakjujuran) ada beberapa hal yang dapat kita pelajari.
Pertama, kita dapat belajar dari Lukas 8:4-15. Supaya pohon dapat
berbuah, dia harus tumbuh di tanah yang subur. Tanah itu ialah hati kita.
Harus kita akui secara jujur bahwa banyak hati orang Kristen, hati saya dan
Anda, hati kita semua telah menjadi tanah yang tidak subur. Akibatnya, benihbenih
yang ditaburkan itu tumbuh sebentar saja dan tidak menghasilkan buah.
Sebaliknya bila hati kita sebagai tanah yang subur dan baik, benih yang
ditaburkan akan tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang bisa
dinikmati oleh semakin banyak orang. Jika demikian, kita tidak saja
diharapkan akan berbuah “tahun depan” tetapi mulai berbuah saat ini dan di
sini. Dan yang terutama buah yang dihasilkan itu tidak pertama-tama hanya
untuk menyenangkan hati Tuhan agar tidak “menebang”, “mencabut” kita,
tetapi bagaimana kita bertanggungjawab atas hidup kita yang seharusnya
berbuah itu.
Kedua, kita dapat belajar pada Rasul Petrus yang mengatakan “Dan
jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu
yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh
keselamatan” (1 Ptr 2:2). Rasul Petrus dengan tegas memaknai pertobatan
bukan pertama-tama sekadar kehausan dan kelaparan akan hal-hal spiritual,
tetapi pada kesadaran kita untuk bertumbuh dan memperolehkan keselamatan
untuk kita sendiri dan sesama.
236 Korupsi dan Pertobatan
Ketiga, kita dapat belajar pada Nabi Yehezkiel (Yeh 47:1-5) bahwa
pertobatan itu ibarat air (sungai) yang mengalirkan kehidupan dan kesuburan
pada segala sesuatu yang tersentuh olehnya. Tujuan sungai membawa hidup
yang berkelimpahan dari Allah bagi seluruh makhluk ciptaanNya. Sungai
itulah aliran pertobatan yang kita harapkan senantiasa mengaliri kehidupan
kita. Aliran air yang senantiasa membawa kesejukan dan “kehijauan” atau
“pengharapan” akan tibanya keselamatan semesta.
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,
kalau kita kembali pada judul renungan kali ini: Adakah Koruptor yang
Bertobat?, membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa harapan kita agar
para koruptor (siapapun dia dan dalam bentuk apapun yang dikorupsinya)
bertobat adalah suatu keniscayaan. Artinya pertobatan itu bukanlah hanya
sebuah mimpi, tapi bisa menjadi kenyataan. Bukankah kita sudah diberi
kesempatan, mungkin besok, mungkin lusa, mungkin tahun depan, kita akan
berbuah atau bertobat. Terlambat bertobat bukanlah suatu petaka dari pada
tidak sama sekali.
Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu untuk berbuah
atau bertobat sebelum dipangkas atau dipotong. Kita mungkin tidak perlu
emosional seperti petani rambutan tadi, tapi kita perlu bersikap seperti tuan
kebun pohon ara yang selalu mempunyai harapan bahwa pertobatan,
perubahan, kesadaran akan datang. Biar terlambat tapi pasti. Kita patut
bersyukur, bahwa Tuhan tidak segera memangkas hidup kita ketika melihat
hidup kita yang jauh dari nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita bersyukur bahwa
Tuhan saja begitu bersabar menanti kita berbuah, mengapa kita tidak sabar
menanti para koruptor bertobat? Kita tidak perlu berlama-lama menanti
mereka bertobat, tapi marilah kita memulai dengan diri kita sendiri untuk
bertobat dan berbuah.
Rahmat Tuhan menguatkan kita selalu. Amin.
* Mantan Anggota Misionaris Keluarga Kudus (MSF), sedang belajar menulis buku-buku
dan artikel rohani Katolik.
Korupsi dan Pertobatan 237
D u a
PERANGI KORUPSI MULAI DARI DIRI SENDIRI
Amsal 5:9-11
(Rm. Hironimus Radjutuga,OCD)*
Ada sebuah anekdot. Di salah satu restoran yang bertaraf international
terpasang beberapa jam dinding dengan kecepatan jarum jam yang berbedabeda.
Seorang pengunjung yang berasal dari Indonesia spontan menyeletuk,”
Di negaraku tindakan korupsi berkembang begitu cepat seperti putaran jarum
pada jam dinding yang terlihat sangat cepat. Tidak tahu kapan tindakan
korupsi dapat dihentikan.
Anekdot yang memuat pesan untuk menghentikan lajunya tindakan
korupsi secara umum sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan
wejangan untuk mencegah perzinahan yang ditampilkan sebagai inspirasi
permenungan. Akan tetapi antara zinah dan korupsi terdapat kemiripan.
Seperti halnya tindakan korupsi, tindakan berzinah pada dasarnya dimotivasi
oleh keinginan untuk mencapai kesenangan dan kenikmatan. Seorang pezinah
selalu dihantui oleh perasaan tidak pernah puas. Keinginan untuk mencapai
rasa nikmat begitu kuat mendorongnya mencari korban untuk melampiaskan
nafsunya. Orang yang melakukan perzinahan “diperhamba” dan “takluk”
pada kehendaknya sendiri. Ungkapan bermuatan tindakan preventif dari
penulis Amsal menggambarkan pengaruh “perhambaan pada nafsu” yang
menimpa seseorang: “…engkau jangan menyerahkan keremajaanmu pada
orang lain dan tahun - tahun umurmu kepada orang kejam; supaya orang
lain jangan mengenyangkan diri dengan kekayaanmu dan susah payahmu
jangan masuk ke rumah orang yang tidak dikenal dan pada akhirnya engkau
akan mengeluh kalau daging dan tubuhmu habis binasa” (Ams 5:9-11). Inilah
potret seorang pezinah yang mengalami kemerosotan fisik, kehilangan harta
yang berujung pada hidup sebagai budak dalam rumah orang lain. Inilah
gambaran anak manusia yang mengalami “keterpecahan dalam diri” karena
tidak mempunyai prinsip hidup dan mudah diombang-ambingkan. Nafsu
238 Korupsi dan Pertobatan
dan keinginan sesaat telah membentuk diri seseorang menjadi sosok pribadi
yang terbagi-bagi (depersonalisasi). Ia kehilangan integritas diri yang
berdampak pada ketidaksetiaan pada janji terhadap pasangannya.
Ketidaksetiaan dikondisikan oleh keinginan yang meluap-luap untuk
mendapatkan kesenangan dan kenikmatan. Namun kesenangan dan
kenikmatan itu sifatnya sementara. Apa yang dirasakan seperti madu dalam
sekejap dapat berubah menjadi racun. Pernyataan pada ayat yang kelima
mendeskripsikan fakta perubahan ini: “Karena bibir perempuan jalang
menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada
minyak, tetapi kemudian ia pahit seperti empedu dan tajam seperti pedang
bermata dua”. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindakan perzinahan
dirasakan seperti empedu, obat pembunuh serangga yang amat pahit rasanya.
Tindakan berzinah dengan segala kenikmatan dan dampak yang
ditimbulkannya mempersonifikasikan ketidaksetiaan bangsa terpilih terhadap
Allah dan hukum Taurat yang menjadi pangkal hikmat kebijaksanaan. Kata
perempuan jalang yang ditampilkan pada ayat yang ketiga dibahasakan
secara simbolis mengenai perempuan tuna susila atau perempuan yang
berzinah di antara bangsa Israel yang seharusnya tidak disebutkan dalam
pembicaraan. Makna simbolis ini menegaskan pernyataan “…yang
meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian
Allahnya” (Ams 2:17). Perzinahan dianggap melanggar janji Allah.
Pelanggaran terhadap janji menggambarkan hati bangsa yang telah mendua
dan sikap inkonsistensi terhadap keterpilihannya sebagai umat Allah. Allah
yang seharusnya dimuliakan di kenisah-kenisah seakan-akan terbagi dengan
illah-illah di tempat-tempat penyembahan lain. Amsal menghimbau bangsa
terpilih untuk mengindahkan teguran dan didikan para pengajar yang bijak
agar mereka kembali kepada perjanjian yang menjamin keselamtan hidup
mereka.
Bangsa Israel yang sering dilukiskan sebagai mempelai wanita yang
tidak setia dalam arti tertentu dapat menjadi simbol pribadi kita yang terkadang
tak setia pada pilihan hidup dan nurani pribadi. Kalau kita memperhatikan
praktek korupsi dan dampak yang ditimbulkannya sebenarnya tersingkap
suatu cerminan ketidaksetiaan dalam diri sang koruptor. Ketidaksetiaan
sebetulnya merupakan petampakan adanya disintegritas diri. Dalam diri
Korupsi dan Pertobatan 239
pelaku korupsi terdapat keterpecahan karena tidak adanya prinsip yang
menghubungkan hidup dan tindakannya baik ke dalam maupun ke luar.
Keterpecahan itu mendorongnya mencari rasa aman yang palsu dengan
senjata pamungkasnya “mumpung masih ada kesempatan’. Kondisi ini
semakin diperparah dengan tindakan yang bersumber pada habitus seperti
kata peribahasa “allah bisa karena biasa.” “Keutamaan diperoleh bukan
pertama-tama melalui pengetahuan tetapi melalui habitus yaitu kebiasaan
melakukan yang baik,” demikian kata Aristoteles. Kalau keutamaan
dipandang sebagai hasil dari tindakan yang baik, maka kejahatan bisa saja
bertumbuh bersama yang baik karena merupakan pembiasan dari kebiasaan.
Kebiasaan terselubung dalam struktur yang memberi ruang gerak bagi
seseorang untuk melancarkan aksinya. Jalan pintas dan menguntungkan bukan
sesuatu yang aneh dan asing. Mentalitas serba praktis di satu pihak
memudahkan hidup, namun di pihak lain membuat orang menjadi malas.
Siapa yang tak ingin hidup senang? Siapa yang tak suka hidup serba ada,
serba mewah? Kalau keinginan itu yang dicari,maka jangan pernah berpikir
tentang nilai moral. Seorang koruptor tidak pernah memperhitungkan apakah
tindakannya itu baik atau buruk, benar atau salah. Orang yang sudah mengecap
nikmatnya hidup dari korupsi tidak akan pernah berpikir soal refleksi, sebab
dimana hartanya berada di situ hatinya berada.
Sistem seluruhnya tidak dapat dipersalahkan dan dikambinghitamkan
sebagai dalih berkecambahnya tindak korupsi bagai jamur di musim
penghujan. Sebaiknya setiap pribadi melakukan introspeksi sebab tindak
korupsi bukan semata-mata masalah ekonomi melainkan masalah mental.
Mental berkorelasi dengan nurani. Nurani berkaitan dengan hukum ilahi yang
dijadikan standar penilaian dalam suatu tindakan. Bila hukum ilahi dalam
diri tidak berfungsi lagi sebagai kaidah, tata nilai dan ukuran, maka hidup
orang menjadi goyah dan terombang-ambing dan keyakinannya menjadi
lemah. Tak perlu heran pengaruh apapun yang berasal dari luar diri dengan
mudah dituruti. Nilai-nilai yang sifatnya abadi diturunkan tarafnya dan diganti
dengan “berhala baru” yang berwujud uang, kuasa dan kenikmatan yang
sifatnya tidak lestari.
240 Korupsi dan Pertobatan
Orang boleh saja berdemonstrasi menentang korupsi, pemerintah bisa
saja mengganyang para koruptor dengan sangsi hukum yang berat, namun
kalau mentalitas dan prilaku orang tidak berubah, korupsi tetap saja meraja
lela. Kita membutuhkan strategi untuk memerangi korupsi. Strategi yang
dijabarkan dalam pendidikan yang mengarahkan seseorang menjadi pribadi
yang benar-benar utuh sampai orang itu sungguh yakin akan dirinya.
Pendidikan yang terarah pada nilai-nilai asasi manusia seperti keadilan,
kejujuran, cinta kasih yang sifatnya abadi. Pendidikan yang berbasis nilainilai
keagamaan dan didukung oleh pembinaan hidup beragama yang
membuat orang sungguh yakin. Keadaan ini membantu seseorang untuk
berani menghadapi pengaruh-pengaruh negatif. Itu tidak berarti kita dilarang
berenang mengikuti arus zaman melainkan kita hendaknya waspada agar
tidak terbawa dan terjebak dalam arus zaman.
Dewasa ini perang terhadap tindakan para koruptor semakin gencar
dilakukan. Presiden sendiri memprogramkan usaha pemberantasan korupsi
dan memberlakukan sangsi hukum yang berat bagi para pelaku korupsi, karena
aksi para koruptor dipandang merugikan banyak pihak. Dasar tindakan mereka
adalah jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan agar dapat mengalami
kesenangan dan kenikmatan dalam hidup. Siapa yang tidak ingin hidup senang
dan serba ada? Siapa yang tidak suka dengan kenikmatan hidup? Ciri hidup
seorang koruptor adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang ada.
Jangan heran bila tujuan selalu menghalalkan segala cara. Tindakan korupsi
dapat muncul dalam berbagai bentuk. Para pecandu obat-obat terlarang dan
minuman keras selalu berusaha untuk mencari dan menemukan kenikmatan.
Berbagai cara ditempuh agar dapat merasakan dan mencapai kenikmatan.
Prinsipnya tujuan dapat menghalalkan segala cara. Sekecil apapun peluang
dan kesempatan yang ada selalu dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk
mengejar tujuan kenikmatan itu, seperti ungkapan klasik yang berbunyi
kesempatan dalam kesempitan. Siapa yang tidak menyukai kesenangan dan
kenikmatan? Banyak orang berlomba-lomba mencari dan mendapatkannya
sebab mereka terperangkap dalam kebiasaan yang sukar sekali ditinggalkan.
Kini, selain menunggu melalui jalur hukum yang resmi untuk
memerangi korupsi dan menghukum para koruptor, kita pertama-tama harus
Korupsi dan Pertobatan 241
memulai dari diri sendiri. Kita harus memerangi segala keinginan dan nafsu
untuk “berzinah”, nafsu untuk memiliki segala sesuatu yang membuat kita
menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Kita akan mampu memerangi
korupsi, kalau masing-masing kita mampu memerangi diri sendiri, untuk
hidup selalu menurut kehendak Tuhan, untuk hidup selalu dalam damai dan
bahagia (bukan penderitaan akibat perbuatan sendiri, tertangkap dan
diperjarakan karena korupsi). Maka, marilah kita, hari demi hari, mulai
memerangi segala bentuk korupsi dan “perzinahan” yang menjauhkan kita
dari Tuhan dan sesama. Ya....berlomba-lombalah untuk memerangi korupsi
yang sudah, akan dan terus muncul dalam diri kita.
Tuhan memberkati perjuangan dan peperangan kita selalu.
* Staf Pembina pada Seminari Tinggi Karmel Tak Berkasut (OCD)) Yogyakarta
242 Korupsi dan Pertobatan
T i g a
PANGGUNG SANDIWARA
Lukas 16:13-15
(Bambang Pujo Riyadi S.Th, MPD)*
Saudara saudara kekasih Tuhan, dengan jujur dapat dikatakan bahwa,
setiap orang pasti akan senang bila dihormati atau menerima penghormatan,
dihargai oleh orang lain. Manusia akan bangga bila disanjung dan diletakkan
ditempat yang terhormat. Seorang pejabat pemerintahan atau pejabat gerejawi
sekalipun dalam peristiwa-peristiwa formal pasti akan mendapat tempat yang
istimewa. Duduk dideretan paling depan dengan meja berhiaskan vas bunga
yang indah. Meubelair yang empuk dan tersaji makanan atau minuman yang
dikemas apik. Sementara mereka yang tidak memiliki jabatan duduk diurutan
belakang tanpa meja dan meubelair yang empuk.
Diantara kita pasti ada yang pernah mempersiapkan suatu peristiwa
formal seperti diatas. Semua dipersiapkan sebaik-baiknya demi menjamu
seorang pejabat. Akomodasi dipersiapkan sebaik mungkin, protokoler dibuat
sempurna dan jamuan yang dipersiapkan sangat istimewa. Mereka yang
bertugas menyiapkan segala sesuatu dan melaksanakannya dengan bangga.
Namun di antara semua yang sibuk itu adakah yang telah melihat dengan
kritis apakah dibalik semuanya itu ada sesuatu yang janggal?
Injil Lukas menceritakan bagaimana Yesus dengan ucapan-ucapannya
melawan para Farisi yang merupakan pejabat keagamaan Yahudi pada waktu
itu. Mengapa Yesus melawan dan selalu bertentangan dengan para Farisi?
Apakah ini pertentangan kebenaran? Jawabannya ternyata tidak! Apakah
Yesus cemburu karena tidak masuk sebagai anggota Majelis Agama Yahudi?
Jawabannya juga tidak!
Lalu mengapa dalam Injil Lukas perjumpaan Yesus dengan para Farisi
selalu diwarnai dengan ketegangan? Jawaban mengapa selalu demikian
Korupsi dan Pertobatan 243
karena para Farisi adalah sekumpulan orang yang mengklaim selalu menjaga
kemurnian Taurat ternyata adalah para pejabat yang gila hormat.
Tetapi saudara-saudara, mengapa Yesus sangat keras menghadapi
kelompok Farisi yang gila hormat? Lagi-lagi pertanyaan kita apakah karena
Yesus cemburu? Jawabnya tentu saja tidak! Ternyata dibalik gila hormat ini
ada dampak yang bagi Yesus sangat buruk. Paling tidak ada dua dampak
buruk yang secara khusus ada pada nas diatas. Dampak buruk yang pertama
yaitu para Farisi mensejajarkan antara kesalehan dengan kekayaan sedangkan
yang kedua yaitu memanfaatkan kesalehan atau jabatan umat untuk korup.
Saudara-saudara, mari kita lihat mengapa dampak buruk itu ditentang
Yesus. Pertama, Kesalehan sejajar dengan kekayaan. Para Farisi memiliki
anggapan bahwa kekayaan merupakan berkat dari Allah karena kesetiaan
mereka dalam mengamalkan hukum taurat. Dengan anggapan ini para Farisi
mencemooh Yesus yang miskin. Sebab mereka menganggap kemiskinan
Yesus menjadi tanda bahwa Allah tidak menghargai Yesus. Kedua, jabatan
yang mendatangkan korupsi. Sebagai pejabat keagamaan para Farisi adalah
tempat a umat minta bantuan, nasihat dan doa-doa. Para Farisi menyalah
gunakan jabatan ini dengan menerima pemberian atau jamuan bahkan
meminta bayaran atas jasanya dalam membantu umat.
Itulah yang membuat Yesus selalu tegang jika menghadapi para Farisi
sebab mereka memakai topeng kesalehan kepada Allah untuk menutupi
kerakusan mereka. Tidak saja rakus tetapi mereka juga ingin dihormati.
Bahkan kesalehan umat Allah dipergunakan untuk memenuhi kerakusan
mereka. Jabatan keagamaan mereka dipakai untuk tindak korupsi.
Saudara-saudara agaknya apa yang dialami Yesus ketika menghadapi
para Farisi juga terjadi saat ini. Terjadi baik dalam konteks kehidupan bersama
keagamaan maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Judul di atas bukan
semata-mata mengadopsi sebuah judul lagu tetapi judul itu adalah refleksi
atas konteks kehidupan saat ini yang tidak berbeda dengan yang dihadapi
Yesus pada jemaat perdana.
Banyak orang kaya di gereja (terlepas dari bagaimana anggapan mereka
tentang kekayaan yang dimilikinya) mempersembahkan sesuatu melebihi
244 Korupsi dan Pertobatan
warga jemaat yang lain. Dampak buruknya jelas bahwa, kiblat para pejabat
gerejawi akan mengikuti (manut, sendiko dhawuh) apa yang dikatakan sang
pemilik modal. Sehingga keputusan-keputusan gereja yang diambil cenderung
seperti apa yang dipikirkan si kaya. Padahal ada begitu banyak suara dan
kebajikan yang ada ditengah-tengah jemaat. Tetapi suara bijak itu tidak
didengarkan karena mereka miskin. Pejabat gerejawi terkecoh dengan akting
si kaya yang sangat meyakinkan, yang dibungkus dengan kesalehan purapura.
Mengapa Yesus sangat menentang ini, karena Yesus melihat bahwa
kekayaan dunia mempersulit kita untuk tetap menjadikan Allah sebagai pusat
hidup. Dalam kasus orang kaya yang mendominasi keputusan gereja perlu
dilihat dengan bijak apakah suara Allah ada di sana? Bukankah ada
pemahaman bahwa sebenarnya suara rakyat adalah suara Tuhan. Jika suara
rakyat ditiadakan bagaimana bisa dimengerti bahwa Allah hadir?
Saudara-saudara, gereja senantiasa harus kritis dan menguji semua
kesalehan umat dengan indikator: apakah kesalehannya merupakan kesalehan
yang tetap menempatkan Allah sebagai pusat hidup. Tentu saja ini tidak
dimengerti bahwa gereja menolak saja pemberian bahkan fasilitas jamuan
orang kaya bukan itu yang dimaksudkan tetapi seharusnya kita melihat bahwa
sebenarnya tidak ada korelasinya antara kesalehan dengan kekayaan. Sebab
kesalehan berhubungan erat dengan menempatkan Allah pada pusat hidup
sedangkan kekayaan berhubungan erat dengan sifat rakus atau loba. Jadi
hendaknya kita tidak mengulang lagi kesalahan para Farisi yang
menghubungkan kesalehan mereka dengan kekayaan.
Belum lagi jika ternyata kesalehan itu ternyata menutupi tindakan korup.
Bahkan lebih jauh oleh sang koruptor gereja dijadikan ajang atau sarana
pencucian uang sehingga apa yang dimiliki seakan tampak suci dan bersih.
Jadi saudara-saudara ucapan-ucapan Yesus ketika menentang para Farisi di
atas seharusnya menjadi perhatian kita saat ini sebab ternyata kesalehan yang
pura-pura membungkus banyak masalah yang sulit untuk segera dapat kita
ketahui mulai dari ingin dihormati, mencari pengaruh dengan mengandalkan
kekayaan, sembunyi dari tindakan korup dan lain-lain. Sebagai manusia sulit
bagi kita untuk melihat apakah kesalehan seseorang itu sandiwara atau
kesalehan yang sungguh-sungguh. Namur nas kita mengingatkan bahwa bagi
Korupsi dan Pertobatan 245
Allah apapun dalih atau upaya pembenaran diri kita tetap diketahui Allah
sampai pada kedalaman hati.
Namun saudara-saudara bukan berarti kita harus takut dan menolak
apapun yang berhubungan dengan harta, kita boleh dan harus menunjukkan
perhatian pada urusan-urusan duniawi. Sebab iman kita bukan hanya ditujukan
kepada surga dan akhirat saja. Tetapi justru harus nyata dari cara mengurus
soal-soal uang dan harta milik yaitu sebagai orang-orang yang yang dalam
bidang itupun dapat dikpercaya.
Hanya indikator sebagai orang yang dipercaya juga harus jelas yaitu:
bukan budak dari harta milik kita sendiri. Menjadi warga gereja dan
masyarakat yang dengan sadar mengabdi kepada Allah, menempatkan Allah
dipusat hidup sehingga benar-benar bebas dari kelobaan yang selalu ingin
mendapat lebih banyak uang dan harta milik. Bila indikator ini jelas bagi
kita maka, tidak akan terjadi sandiwara kesalehan yang korup.
Saudara-saudara moral bangsa ini tergantung pilihan kita yaitu:
memilih kehidupan dengan menempatkan Allah dipusat hidup atau sandiwara
kesalehan para Farisi.
Mana yang saudara Pilih?
* Warga Gereja Kristen Jawa
246 Korupsi dan Pertobatan
E m p a t
MANUSIA: MAKHLUK PENCARI MAKAN DAN MAKNA
Lukas 10:4
(Pdt. Sulaiman Manguling, MTh)
Korupsi, apa itu? Tak boleh lagi kita malu-malu untuk mengatakan
bahwa hakikat “korupsi” adalah “mencuri”! Lalu “mencuri” apa? William
Barclay, penafsir kenamaan itu mengkategorikan titah “jangan mencuri”
dalam 10 Hukum itu sebagai “basic command”nya atau sebuah titah dasar.
Artinya, ibarat sebuah bangunan, bila dasarnya hancur maka ambruk pulalah
seluruh strukturnya. Kalau ibaratnya demikian, dan kita mengibaratkan pula
kehidupan masyarakat itu sebagai sebuah bangunan, maka sesungguhnya
“jangan korupsi” itu merupakan syarat mutlak terselenggaranya kehidupan
bersama dalam masyarakat. Mengapa? Sebab sulitlah dibayangkan sebuah
mayarakat dapat tetap menyatu, mampu memelihara integrasi sosialnya bila
warganya “maling” semua alias “koruptor” semua. Bagaimana bisa terjalin
kerja sama, apalagi hidup bersama dalam kondisi kehidupan seperti itu?
Karena itu, larangan mencuri dalam Alkitab sering diulang-ulang untuk
menegaskan betapa seriusnya peringatan Allah akan dosa yang satu ini, baik
dalam hubungan dengan Allah sendiri, apalagi dalam hubungan dengan
kehidupan bersama. Baca misalnya, Imamat 19:11 dan Ulangan 5:19. Laknat
Tuhan pasti akan turun apabila para pencuri dibiarkan leluasa melakukan
kejahatannya (Zak 5:3). Dan menurut hukum Tuhan, bila pencuri-pencuri
itu masih ingin hidup, maka hal pertama yang harus mereka lakukan adalah
mengembalikan apa yang mereka curi (Yeh 33:15) bersama dengan dendanya.
Kalau di negeri kita, pernah persoalan korupsi dianggap beres bila yang
melakukan mengembalikan hasil korupsinya, maka dalam Keluaran 22:1-4
disebutkan bahwa bila seekor kambing atau sapi dicuri, maka pencurinya
harus membayar kembali lima sapi dan empat kambing. Dan bila ia tak
mampu membayarnya? Diri si pencuri itulah yang harus dijual sebagai
Korupsi dan Pertobatan 247
pembayar utang. Dalam hal ini mungkin ada baiknya KPK (Komisi
Pemberantasa Korupsi) belajar sedikit dari Alkitab.
Amsal 6:31 malah menyebutkan hukuman yang lebih berat, yaitu
mengembalikan “tujuh kali lipat”. Dan untuk jenis pencuri tertentu,
hukumannya malah tidak kurang dari hukuman mati, yaitu bila yang “dicuri”
itu – atau lebih tepat – “diculik” – adalah manusia (Kel 21:16; Ul 24:7).
Coba kita bandingkan dengan sikap pemerintah kita terhadap penculikan
yang pernah terjadi di negeri kita. Semua berlalu begitu saja, tanpa ada
keseriusan untuk menuntaskannya.
Sekarang ini dunia kita semakin modern, dan peluang untuk “mencuri”
semakin terbuka pula. Apalagi para “pencuri berdasi” yang dikelilingi oleh
berbagai kemungkinan untuk itu. Mereka melakukan kejahatan “mencuri”
dari belakang meja, di ruang yang sejuk dengan bersenjatakan pena, telepon,
dan komputer, dengan hasil yang berlipat-lipat. Dan rasa-rasanya tak pernah
merasa cukup dengan hasil “curiannya” itu. Ibarat api, jika sudah mulai
membakar, akan membakar apa saja yang ada di sekitarnya, termasuk yang
mau mencoba untuk menghalanginya.
Mengapa kecenderungan “mencuri” yang mewujud dalam korupsi
semakin menyeruak dalam kehidupan masyarakat kita? Sepertinya tak ada
rasa takut sedikitpun dari pelakunya, baik pada Tuhan maupun pada hukum.
Tampaknya kehidupan masyarakat kita yang sudah sekian lama dikondisikan
dalam pragmatisme dan materialisme (yang ujung-ujungnya hedonisme) telah
menjadikan nilai-nilai hidup dengan prinsip pragmatisme dan materialisme
lebih menguasai kehidupan kita ketimbang yang lainnya. Seluruh segmen
kehidupan, tak terkecuali agama lebih berorientasi pada kepentingan sesaat
ketimbang pada hal-hal yang lebih luas. Dimensi transendental dalam hidup
tinggal menjadi retorika dan jauh dari realita. Maka segala keinginan manusia
lebih diwarnai oleh hal-hal yang sifatnya segera, instan, dan nyata ketimbang
pada nilai-nilai tertinggi dari hidup sebagaimana yang diajarkan oleh agama.
“Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan
janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan”.
Ayat yang mendahuluinya mengatakan “Pergilah, sesungguhnya Aku
248 Korupsi dan Pertobatan
mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.”. Yesus
Kristus mengutus para murid dengan visi dan misi hidup yang jelas:
memberlakukan apa yang dilakukan Allah. Atau dengan kata-kataNya sendiri:
“Keinginan-Ku adalah melakukan kehendak Allah”.
Mempunyai “keinginan” adalah satu hal. Sesuatu yang sangat normal.
Keinginan hidup, hasrat seksual, dan lain sebagainya. Tetapi “mengendalikan
keinginan” merupakan hal yang lain, meski keduanya tak terpisahkan. Nafsu
makan, misalnya, adalah tanda kehidupan, tapi tak mampu mengendalikannya
adalah jalan kematian. Bagaimana mengendalikannya? Tak lain adalah
menaklukkan semua keinginan di bawah satu-satunya keinginan yang
memberikan makna pada semua bentuk keinginan yang lainnya, yakni
keinginan untuk menaati Allah sepenuh-penuhnya.
Tapi perjalanan menjalani visi dan misi hidup tak lepas dari
kemungkinan-kemungkinan untuk terjerumus pada ketergodaan untuk lebih
mementingkan kepentingan sesaat ketimbang yang lebih luas. Identitas anak
domba yang di utus ke tengah-tengah serigala tentu saja menempuh pelbagai
godaan untuk menjadi serigala, atau serigala berbulu domba. Karena itu,
Yesus mengingatkan agar menjauhkan diri dari segala kemungkinan yang
bisa menjerumuskan murid-muridNya jatuh ke dalam pencobaan untuk lebih
mementingkan keinginan mereka sendiri ketimbang keinginan Allah. Pundipundi
atau bekal atau kasut atau orang-orang yang dijumpai di jalan bisa
memunculkan berbagai kemungkinan yang membelokkan arah dari tujuan
yang semestinya. Pertama, kecenderungan menjadikan alat menjadi tujuan.
Kedua, menjerumuskan ke dalam godaan-godaan keinginan-keinginan sesaat
yang bisa mengalahkan visi dan misi hidup yang diberikan Allah.
Kenyataan memperlihatkan kepada kita betapa seringnya kehidupan
kita terjebak untuk menjadikan alat sebagai tujuan. Dalam kehidupan
beragama misalnya, orang membuat simbol-simbol untuk mengantarnya pada
Allah. Biasanya simbol-simbol itu dalam bentuk benda-benda tertentu. Dan
persoalan kita selalu di situ. Bahwa yang kemudian terjadi adalah, betapa
mudahnya benda-benda itu sedikit demi sedikit, tanpa disadari, tidak lagi
menunjuk pada Allah, tetapi menggantikan tempat dan fungsi Allah. Ia lalu
“diperilah”. Ia menjadi “berhala”. Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu tampak
Korupsi dan Pertobatan 249
dalam sikap terhadap sarana-sarana kehidupan. Pada awalnya misalnya, uang
atau kerja atau karier adalah “alat”. Lama kelamaan, tanpa terasa ia bergeser
menjadi “tujuan”. Orang hanya bekerja dan bekerja, menumpuk harta demi
harta, mengejar pangkat demi pangkat, tanpa tahu lagi untuk apa semua itu.
Dalam hal korupsi juga begitu. Pada awalnya orang terpaksa melakukan
korupsi kecil-kecilan, guna menutupi kebutuhan hidup sekeluarga. Tapi
lambat laun lalu jadi keasyikan, dan korupsi pun berubah fungsi menjadi
gaya hidup. Begitulah kecenderungan naluriah manusia. Gampang sekali
melenceng dari tujuan semula. Pundi-pundi, bekal, kasut, dan orang-orang
yang dijumpai dalam perjalanan, semua hanyalah sarana di dalam menunjang
perjalanan ke terminal akhir. Tapi kecenderungan idolatri atau pemberhalaan
dalam diri manusia mengakibatkan Yesus menegaskan kepada murid-murid-
Nya agar lebih baik menjauhkan diri dari kecenderungan itu.
Bagi Yesus, “Keinginan-Ku ialah melakukan kehendak Allah”. Dia
tahu bahwa Allah menuntut ketaatan yang penuh dan mutlak. “Jangan ada
padamu ilah lain di hadapan-Ku”. Begitu salah satu titah-Nya dalam 10
Hukum mengatakan. Karena itu, segala bentuk keinginan yang lain mesti
berada di bawah keinginan untuk taat pada Allah. Dan karena itu, bunuhlah
segala keinginan – sekalipun wajar kelihatannya – sekiranya kita ketahui
bahwa hal itu akan menghalangi kita menaati kehendak-Nya sepenuhpenuhnya!
Di sini sesungguhnya ketaatan kita berawal. Yaitu pada menata,
menyeleksi, menyaring keinginan kita. Supaya yang kita ingini hanyalah
keinginan-keinginan suci yang menyejahterakan. Bukan keinginan-keinginan
kotor yang memikat, tapi pasti mencelakakan.
Tampaknya peringatan ini menjadi sangat penting mengingat kenyataan
manusia zaman sekarang ini. Bahwa ada orang yang untuk mendapat pangkat
atau mempertahankan jabatan, atau demi “kesenangan sesaat” bersedia
membayar apa saja. Ada orang, yang untuk memperoleh kekayaan, rela
melakukan apa saja. Makanya korupsi tampaknya menjadi sesuatu yang
tampaknya wajar-wajar saja. Akibatnya? Memang semakin banyak orang
yang bergelimang dalam kemewahan dan kemegahan dunia ini. Namun
serentak dengan itu semakin banyak pula orang yang menyembah Iblis, yang
250 Korupsi dan Pertobatan
menaklukkan diri dan memperhambakan diri kepadanya. Orang-orang yang
mempunyai lebih banyak, tetapi tidak menjadi lebih baik. Mengapa?
Tampaknya Yesus memahami betul, bahwa titik-titik rawan kehidupan
manusia, yakni kekuasaan, “perut” (kebutuhan sandang, pangan, dan papan),
dan rasa aman begitu mudahnya mengubah keinginan yang utama, yang
mestinya jadi pumpunan kehidupan manusia, yakni keinginan untuk
melakukan kehendak Allah. Karena itu dari sejak awal Yesus menghendaki
agar keinginan-keinginan seperti itu segera dilenyapkan. Langkah awal adalah
dengan menjauhkan diri dari kemungkinan-kemungkinan jatuh ke dalam
pencobaan itu. Mentransendensi setiap pengalaman kehidupan (hidup dalam
pengharapan) memungkinkan seseorang senantiasa mampu hidup melampaui
realitas (realisme). Di situ Yesus memberikan teladan yang semestinya
menjadi panutan orang-orang percaya dalam menjalani kehidupan ini. Yesus
memahami seluruh kehidupan-Nya di dalam perspektif kehendak Allah. Dia
menyapa Allah sebagai Bapa, dan seluruh kedirian-Nya adalah untuk Bapa.
Kalau persoalan abadi manusia berkisar pada pertanyaan dari mana kehidupan
ini, ke mana kehidupan ini, dan bagaimana kita harus hidup, maka Yesus
menjawab dengan kehidupan-Nya: Aku berasal dari Bapa, Aku hidup untuk
Bapa, dan setelah semua pekerjaan-Nya usai, Ia mengatakan “Aku pergi
kepada Bapa” (Yohanes 14:12). Visi dan misi hidup yang jelas inilah yang
memungkinkan Yesus senantiasa keluar dari godaan-godaan kekinian-Nya.
Visi dan misi hidup-Nya mentransendensikan setiap pengalaman kehidupan-
Nya. Hidup-Nya menjelaskan kepada manusia, bahwa manusia itu tidak
sekedar pencari makan, tetapi juga pencari makna.
Lalu apakah visi dan misi kehidupan setiap kita? Idealnya, agamaagama
yang mestinya bertanggungjawab memberikan perspektif yang lain
terhadap kehidupan agar manusia senantiasa mampu mentransendensi
pengalaman kehidupannya (perspektif makna). Tapi bagaimana kalau agamaagama
itu sendiri telah pula dikuasai oleh pragmatisme dan materialisme?
Agama tampaknya jauh lebih sibuk dengan persoalan-persoalan “pundipundi,
kasut, bekal, dan salam” ketimbang panggilan substansialnya
memaknai kehidupan. Kalau demikian maka agama-agama tampaknya mesti
ditransendensi terlebih dahulu, karena sebelum membantu persoalan
Korupsi dan Pertobatan 251
masyarakat, agama harus beres dengan dirinya dulu, tak terkecuali dalam
hal ini gereja-gereja. Jadi kalau itu yang ditunggu dari agama-agama, kita
terpaksa diminta bersabar, apalagi jika hal itu menyangkut masalah korupsi
yang menjadi topik bahasan kita. Kekristenan tampaknya harus senantiasa
memperingatkan dirinya kembali untuk “pergi kepada-Nya di luar
perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya, sebab di sini tak ada tempat
tinggal yang tetap” (Ibrani 13:13).
* Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja di Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi
Selatan
252 Korupsi dan Pertobatan
L i m a
JANGAN LARI WAHAI KORUPTOR
Permenungan Atas Sikap dan Perbuatan Yakub
Kejadian 27 - 33
(Alfred B. Jogo Ena)*
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, semua orang ingin
sukses di dalam hidupnya. Siapa yang tidak ingin sukses? Bahagia? Sejahtera?
Meski semua manusia ingin sukses, namun sayang tidak semua bersedia dan
berani bekerja keras apalagi mengambil resiko untuk mencapai kesuksesan
itu. Banyak orang, termasuk saya dan Anda takut menghadapi tantangan
hidup. Orang-orang semacam itu adalah orang-orang yang ber”mental keong”
atau snail complex. Kalau kita sudah pernah melihat keong (atau bekicot
atau juga siput), kita akan segera tahu apa yang dimaksud dengan bermental
keong. Seekor keong, kelihatan indah dan rapi berbaris di kolam (apalagi
kalau keong mas), tapi tanpa kita sadari daun talas yang kita berikan sebagai
makanannya habis dalam waktu yang relatif singkat. Pelan-pelan tapi pasti.
Keunikan yang lainnya, seekor keong tidak pernah keluar sepenuhnya dari
kulitnya. Ia mengeluarkan dirinya secara pelan-pelan dan hati-hati, dan hanya
benar-benar keluar kalau kondisi dirasa aman. Tetapi jika ia melihat bahaya
kecil saja, maka ia cepat-cepat menarik diri ke dalam “benteng”nya yang
aman. Dan meski bahaya sudah pergi, ia akan tetap tinggal dalam
“benteng”nya untuk waktu yang lebih lama.
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, hidup memang
menyajikan tantangan dan tawaran. Dan semua itu terjadi secara alami dalam
kehidupan kita. Namun yang pasti bahwa keberhasilan hidup seseorang sering
ditentukan oleh keberaniannya untuk mengatasi tantangan dan kesulitan yang
menghadangnya. Tetapi amatlah disayangkan bahwa banyak orang yang
terjebak dalam snail complex. Orang yang dihinggapi mental keong bersikap
Korupsi dan Pertobatan 253
persis seperti keong. Mudah menyerah, takut untuk bertindak, takut gagal,
kalah sebelum bertanding, tiada tekun, takut risiko dan main aman, asal safe.
Yakub: Seorang Penipu atau Penakut?
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, Yakub lebih sering
diekspos sebagai pribadi yang penuh tipu muslihat. Tentu itu tidak salah,
karena memang ia terlibat dalam skenario tipu muslihat yang di buat Ribka,
ibunya, dalam rangka mendapatkan berkat kesulungan dari Ishak ayahnya.
Jika Yakub sungguh mempercayai Allah dan menyerahkan hidupnya kepada
Tuhan, dia akan memperoleh berkat tersebut dari Allah. Akan tetapi Yakub
dua kali melakukan penipuan untuk memperoleh berkat dengan caranya
sendiri (Kel 27:19-20). Kiranya ada dua hal yang dapat kita pelajari dari
sikap dan perbuatan Yakub.
Pertama, dia memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi harganya
sangat mahal. Dia harus lari menyelamatkan diri dan meninggalkan harta
milik dan kesenangan hidup di rumahnya. Ia sendiri malah juga ditipu oleh
paman dan sekaligus mertuanya, Laban (Kel 29:20-25 ; 31:7 ; 37:32-36) dan
hidup bertahun-tahun dalam pengasingan (Kel 31:41). Sepanjang hidupnya
ia mengalami kemalangan demi kemalangan sampai akhirnya ia
mengatakan ½Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya ½ (Kel
47:9). Kedua, semua tindakan dan pengalaman Yakub harus dipikirkan oleh
semua orang yang mengemukakan fakta-fakta yang tidak benar dan menipu
orang lain dalam pekerjaan Kerajaan Allah. Suatu keberhasilan rohani/
spiritual hendaknya dicapai dengan cara-cara yang benar, bukan melalui
manipulasi atau penipuan. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa
manipulasi, penipuan dan KKN dewasa ini semakin marak terjadi bahkan
secara terbuka dan terang-terangan bahkan berjemaat.
Kisah hidup Yakub adalah kisah hidup pribadi yang terus-menerus
melarikan diri dari kenyataan dan tantangan yang harus ia hadapi. Takut
terhadap kemarahan Esau, ia melarikan diri ke rumah Laban. Takut terhadap
anak-anak Laban Ia melarikan diri ke arah rumah Ishak. Takut berjumpa
Esau, ia membuat strategi dengan cara menempatkan orang-orangnya, istri,
254 Korupsi dan Pertobatan
dan anak-anaknya berturut-turut untuk berjalan di depan, sedang ia sendiri
menempatkan diri di bagian paling belakang. Bahkan ia menyeberangkan
semuanya di sungai Yabok, sementara ia sendiri tidak menyeberang. Yakub
adalah orang yang menderita karena hidupnya terus berlari.
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, Yakub selalu dicekam
rasa takut akan resiko dan tantangan yang ada di hadapannya: takut bertemu
Esau, Yakub memilih untuk tinggal seorang diri di seberang sungai Yabok.
Di sinilah ia bergulat dengan Allah. Atau tepatnya, Allah mengajaknya
bergulat. Dalam pergulatan itu akhirnya Allah memukul sendi pangkal
pahanya hingga terpelecok. Mengapa? Supaya Yakub tidak bisa “berlari”.
Secara fisik memang Yakub menjadi pincang. Namun pergulatan itu tidak
dimaksud untuk menjelaskan pincangnya fisik Yakub. Melainkan sebuah
pertarungan dalam rangka transformasi diri. Pembaharuan mentalitas. Allah
mengubah mentalitas “melarikan diri” dan “bersembunyi”, dalam diri Yakub,
menjadi mentalitas “berani hidup”. Nama Yakub diubah menjadi Israel: “yang
bergumul dengan Allah”.
Yakub berubah. Ia bukan lagi insan yang bermentalitas “melarikan diri”,
melainkan insan yang berani menghadapi tantangan hidup. Ia tidak kalah
sebelum bertanding, melainkan berani berisiko dalam perjuangan hidup. Apa
buktinya? Buktinya, ia berani dan caranya menjumpai Esau pun menurut
saya cukup elegan.
Yakub Bertanggungjawab dan Tampil Paling Depan
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, setelah pergulatan
dengan Allah, Yakub sungguh-sungguh berubah. Jika sebelumnya ia
menempatkan diri di belakang seluruh barisannya agar aman, kini justru
sebaliknya. Ia menempatkan dirinya di posisi paling depan dalam menjumpai
Esau. Ia memberi dadanya. Ia siap untuk semua risiko yang mungkin terjadi.
Ia berlaku seperti seorang kesatria, bukan pengecut dan penakut yang
bermental keong (Kej 33:1-3). Itulah perubahan dalam diri Yakub, yang
menyertai perubahan namanya sebagai Israel, suatu perubahan besar dari
seorang pelari menjadi seorang “pendiri” kedua belas suku Israel. Dengan
Korupsi dan Pertobatan 255
itu, Yakub mengalahkan ketakutannya. Ia telah menang dengan dirinya sendiri.
Ia berani mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Esau. Dan Esau pun
memeluknya dengan cinta. Mereka berdamai. Bagaimana dengan hal menipu?
Agaknya justru tidak berubah. Buktinya? Setelah berdamai, Esau mengajak
Yakub pulang ke Seir. Yakub menyetujuinya, tetapi ia minta diijinkan untuk
berangkat belakangan dengan alasan anak-anaknya dan ternaknya tidak bisa
diajak tergesa-gesa. Ia berjanji akan menyusul ke Seir. Apakah ditepati? Tidak!
Ia dan rombongannya malah pergi ke Sukot. Jadi di mana perubahan diri
Yakub? Bukan dalam hal menipu, melainkan: “Berani hidup”!
Jangan Lari Wahai Koruptor
Bapak, ibu dan saudara-saudari yang terkasih, pengalaman perjuangan
Yakub untuk bertanggungjawab dan tidak lari terus menerus sangat relevan
kita kenakan kepada para koruptor. Mereka telah berani menipu tidak saja
karena mereka telah mengambil yang bukan haknya menghina Allah dan
merugikan sesama. Mereka harus berani pula bertanggungjawab. Sebab kalau
mereka tetap dan terus berlari, mereka sendiri yang akan menderita dan tidak
tenang hidupnya. Mereka tidak bisa membohongi diri mereka sendiri dengan
terus berlari. Ada saatnya bagi mereka untuk berhenti dan kembali ke jalan
yang benar. Mereka tidak bermental keong lagi. Tidak bermental keong bukan
berarti nekad, sembrono, dan tanpa perhitungan. Bukan berani mati,
melainkan berani hidup. Kalau kita saksi dalam berbagai berita, ketika
seseorang ketahuan korupsi dan diproses secara hukum mereka akan segera
menderita sakit dan menghambat proses hukum yang berlaku. Hal ini justru
menunjukkan semakin banyaknya orang yang tidak bertanggungjawab apalagi
berani hidup.
Bapak, ibu dan saudara-saudari terkasih, Bagaimana keluar dari mental
keong? Manusia bermental keong tak akan pernah bahagia sepenuh-penuhnya.
Manusia bahagia adalah manusia yang terlibat dengan hidupnya sendiri, hidup
sesama dan masyarakatnya. Dia hanya bisa terlibat kalau ia bersedia membuka
diri dan berani terjun bulat-bulat dalam persoalan dan tantangan yang mesti
dihadapi. Menghancurkan “benteng” yang selama ini mengungkung dirinya.
256 Korupsi dan Pertobatan
Kita berharap dan berdoa, agar para koruptor tidak terus berlari tetapi
berani berhenti untuk mengakui dan bertanggungjawab atas perbuatannya.
Mereka harus berani mengembalikan apa yang telah mereka rampok. Dan
mereka harus pula berani untuk memulai hidup baru, hidup dengan jujur
bagi dirinya sendiri, sesama dan terutama dengan Allah.
Marilah kita memohon rahmat dan kekuatan dari Allah agar kita
senantiasa terhindari dari hidup yang bermental keong. Kita harus berani
hidup jujur dan memulai hidup lurus di hadapan Allah. Semoga, rahmat Tuhan
memampukan kita selalu. Amin.
* Editor (Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama) dan Penulis Buku-buku Rohani, tinggal di
Yogyakarta.
Korupsi dan Pertobatan 257
E n a m
TIDAK ADA TEMPAT DI SURGA BAGI PARA KORUPTOR
Matius 7:21
(Pdt. Tawar Soewardji, M.Th)*
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, manusia, pada dasarnya adalah
makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan kondisi baik adanya. Baik, dalam
pengertian sesuai dengan kehendak Allah Sang Pencipta. Bahkan menurut
Kejadian 1:26 manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Ia
merupakan citra dari Sang Khalik. Sementara itu, dalam Mazmur 8:6
dikatakan bahwa, manusia diciptakan hampir sama seperti Allah.
Dari kenyataan eksistensial ini, sebenarnya manusia merupakan
makhluk tertinggi. Tertinggi dari segi akal budi (intelektualitas); tertinggi
dari tindak perilaku baik moral maupun etis; juga tertinggi dari segi cita dan
rasa. Manusialah yang mampu secara sadar membedakan mana yang baik,
dan mana yang tidak baik. Mana yang diperkenankan Allah dan mana yang
dilarang.
Tapi, apa dan bagaimana dalam kenyataan sejarah umat manusia? Kuasa
dosa telah merubah seluruh eksistensi dan pola tingkah laku manusia. Akal
budi bukan digunakan untuk mewujud-nyatakan citranya sebagai gambar
Allah, melainkan untuk mencapai tujuan dan nafsu manusiawinya.
Hubungannya dengan Allah bukan dilandasi oleh kebenaran dan kejujuran,
melainkan rekayasa kemunafikan. Kehendak Allah, dianggap seperti
kehendak manusia. Pikiran manusia dianggap sama dengan pikiran Allah.
Hal seperti inilah yang mengakibatkan manusia selalu membenarkan dirinya,
dengan berbagai dalih yang masuk akal. Kolusi dimengerti sebagai wujud
kerja sama. Korupsi dianggap sama dengan bagi-bagi rejeki; Nepotisme
disamakan dengan kesempatan menolong orang lain.
258 Korupsi dan Pertobatan
Jika pikiran Allah disamakan dengan pikiran manusia; maka dosa dan
kesalahan bisa ditebus dengan memberikan sesuatu yang dianggap disenangi
oleh Allah, misalnya korban persembanhan. Allah seolah-olah bisa disuap
dengan suatu pemberian. Hal seperti ini pernah terjadi pada jaman Nabi Amos.
Banyak pejabat pemerintah maupun pejabat keagamaan pada saat itu yang
kaya-raya karena melakukan penyimpangan. Pemerasan, manipulasi,
bertindak tidak adil, menerima suap (Am 2: 6-7; 4:4-5; 5:7-12; 21-24)
dianggap biasa.
Saat itu kehidupan keagamaan sangat marak. Nyanyian pujian
dikumandangkan, korban-korban secara teratur dipersembahkan dengan
jumlah yang terus berlipat ganda. Upacara keagamaan dilaksanakan dengan
penuh antusias. Tapi semuanya itu hanya bersifat lahiriah. Korban
persembahan yang terus meningkat dari orang-orang tertentu adalah hasil
dari kejahatan. Mereka mengira ibadah ritual serta persembahan korban dapat
mencuci uang yang diperoleh dari penyimpangan. Mereka berpikir bahwa
Allah pasti bersuka cita menerima persembahan korban hewan yang tambun,
yang tidak bercacat cela. Para imam telah memberikan pengajaran yang salah
kepada umat.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, sampai dengan jaman Yesus,
pengajaran yang salah tentang Allah tetap terjadi. Banyak imam dan nabi tak
ubahnya seperti serigala yang berbulu domba. Dari luar kelihatan sangat saleh
secara rohani, padahal kenyataannya bertolak belakang.
Dalam kehidupan masyarakat, kita sering terkecoh. Ada orang yang
penampilannya begitu mengesankan. Ia dermawan; pemurah; suka memberi
sumbangan untuk berbagai keperluan. Di samping itu, ia juga rajin beribadah.
Dari bibirnya selalu meluncur kata-kata pujian kepada Tuhan. Warga Gereja
dan Masyarakat memandangnya sebagai orang beriman yang patut diteladani.
Tapi kemudian orang baru terkejut dan sadar, ketika muncul berita, sang
tokoh tadi tersangkut perkara korupsi. Orang hanya bisa berucap: “Kok bisa
ya begitu”. Karena itu Tuhan Yesus mengingatkan kita semua agar hati-hati
dan waspada: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, Tuhan, Tuhan!
Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapaku yang di Sorga”.
Korupsi dan Pertobatan 259
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ngomong atau bicara itu mudah,
berpenampilan saleh dan bersikap rohani, juga tidak sulit. Semua bisa
direkayasa. Namun yang sulit ialah bagaimana melakukan apa yang
dikehendaki Allah secara jujur. Diperlukan kesungguhan, kejujuran terhadap
diri sendiri dan terhadap Allah. Bahkan melaksanakan apa yang benar dan
apa yang sepatutnya dilakukan, sesuai dengan kehendak Allah, sering
bertentangan dengan keinginan kita. Misalnya, mendapatkan uang dalam
jumlah besar dalam waktu sekejap tanpa harus bekerja keras, sangatlah
menggoda kita. Meskipun uang tersebut memang bukan hak dan milik kita.
Untuk menolaknya, diperlukan dorongan hati nurani yang bersih, serta
penyangkalan diri. Di samping itu juga diperlukan keberanian untuk
mengatakan: “tidak” terhadap yang bukan hak kita. Kenapa harus ditolak?
Sebab korupsi pada hakekatnya bertentangan dengan hukum kasih. Orang
yang melakukan korupsi, berarti ia hanya mengasihi dirinya sendiri. Ia egois.
Lebih dari pada itu, orang yang korupsi berarti ia merampas hak orang lain
secara tidak sah. Ia membuat orang lain menderita. Karena itu dari segi
manapun, korupsi adalah dosa yang harus diberantas sampai ke akar-akarnya.
Akar dari korupsi adalah keserakahan, dan keserakahan ini adalah wujud
dari dosa. Karena itu jika kita memerangi korupsi, yang pertama-tama harus
diperbaiki adalah sikap mental. Untuk memperbaiki sikap mental ini, dasar
atau sendi-sendi keagamaan harus ditanamkan secara mendalam pada lubuk
hati seseorang. Tanpa perubahan sikap mental, korupsi tidak akan bisa
diberantas. Sikap hidup dan budaya bersih, jujur, dan tidak korup, mestinya
ditanamkan sejak dini; sejak usia muda. Contoh dan teladan dari orang tua,
dari para pemimpin masyarakat dan bangsa harus nyata.
Saudara-saudara, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis.
Salah satu cirinya adalah rajinnya orang beribadah, tidak terkecuali dari agama
manapun. Hari-hari raya keagamaan diperingati dengan meriah. Ibadahibadah
dipenuhi oleh umat. Umat pun selalu menyerukan nama Tuhan secara
seremonial. Gema pujian kepada Tuhan berkumandang di mana-mana.
Sebagai bangsa yang agamis, mengapa kolusi, korupsi dan nepotisme semakin
marak dan terjadi di mana-mana? Dari tingkat kepala desa sampai ke tingkat
menteri. Dari tukang sapu sampai ke pejabat tinggi, dari penjaga rumah ibadah
sampai ke para imam. Kenapa? Paling tidak ini membuktikan, bahwa
260 Korupsi dan Pertobatan
semaraknya ibadah tidak sebanding dengan meningkatnya mutu moral dan
etika umat. Apa yang disampaikan oleh pemimpin agama dari atas mimbar,
tidak mempu membentuk sikap moral etis religius yang benar. Semuanya
masih terbatas pada tataran wacana, belum diaplikasikan dalam tindakan
nyata. Ironis. Di dalam maupun di luar gedung ibadah, masih banyak umat
yang memakai topeng kehidupan. Hidup dalam kepura-puraan. Hidup dalam
kesalehan yang semu. Mungkin hukuman yang dijatuhkan terhadap para
koruptor masih terlalu ringan. Seandainya diterapkan seperti hukum di Israel,
contohnya dalam Keluaran 22:1 “Apabila seseorang mencuri seekor lembu
atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus
membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu, dan empat ekor
domba ganti domba itu”. Mengganti lima kali atau empat kali lipat dari apa
yang diambilnya, bisa membuat orang takut melakukan hal tersebut.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira kita semua pasti ingin
masuk Sorga. Tapi ingat, bukan setiap orang yang berseru Tuhan-Tuhan yang
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Tidak! Tapi mereka yang melakukan
kehendak Allah. Hanya yang melakukan kehendak Allah yang akan masuk
ke Sorga. Itu berarti yang mewarisi Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang
melakukan kebenaran, kejujuran, keadilan dan tidak mempraktekkan
penyelewengan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang tidak berbuat kolusi,
korupsi dan nepotisme. Bisakah semua itu kita lakukan? Dengan pertolongan
dan pimpinan Roh Kudus, kita dimampukan melakukan apa yang dikehendaki
Allah. Amin.-
*. Pendeta GKE di Jemaat Sakatik, di Palangkaraya Pendeta GKE di Jemaat Sakatik, di
Palangkaraya
Korupsi dan Pertobatan 261
T u j u h
MEMBANGUN KEMBALI KERENDAHAN HATI
DAN KEJUJURAN
Lukas 16:1-9
(Pdt. Victorius Hamel, S.Th., M.Si)*
Pengantar Teks
Bacaan dari Lukas 16:1-9 merupakan sebuah cerita mengenai seorang
bendahara yang tidak jujur. Hal ini sesuai dengan judul yang diberikan oleh
Alkitab LAI yaitu “Perumpamaan tentang Bendahara yang tidak jujur”.
Namun demikian Alkitab bahasa Inggris terjemahan NIV menterjemahkan
kata bendahara dengan kata manager sedangkan Alkitab bahasa Inggris KJV
menterjemahkannya dengan kata steward. Keduanya diterjemahkan dari kata
dalam bahasa Yunanai oikosnomos yang dapat juga diartikan manager,
steward atau treasurer (bendahara). Dari ketiga perbandingan kata tersebut
tampak dengan jelas bahwa kata oikosnomos tersebut sebenarnya
mengandung pengertian yang lebih dalam dari sekedar persoalan
perbendaharaan. Kata ini juga mengandung makna yang bersifat managerial
tetapi sekaligus juga tanggungjawab di dalam pelayananannya (stewardship).
Jadi orang yang berada dalam posisi ini merupakan seorang yang memiliki
tanggungjawab yang besar karena di dalamnya tidak saja mengatur hal-hal
yang bersifat struktural-organisasional (manager) tetapi juga mengatur dan
menata nilai-nilai etis normatif (dalam konteks penataan pelayanan –
stewardship).
Bendahara yang tidak jujur seperti cerita di atas adalah seorang yang
berada dalam posisi strategis tersebut. Ia diberikan keleluasaan untuk menata
tidak saja persoalan perbendaharaan tetapi juga menyangkut seluruh aspek
kehidupan kerumahtanggaan dari orang kaya tersebut (aspek strukturalorganisasional)
yang semuanya dirangkum dalam sebuah pelayanan yang
meyeluruh (stewardship). Ia merupakan representasi dari orang kaya tersebut
di dalam setiap urusan-urusan yang berkaitan dengan bisnis dan pekerjaan
ataupun pengaturan dalam kehidupan kerumahtanggaan sang orang kaya.
262 Korupsi dan Pertobatan
Pada akhirnya, dalam cerita tersebut, kepercayaan yang besar dari orang orang
kaya ini memberi ruang gerak yang besar pula bagi bendahara ini untuk
mengekespresikan sikapnya sebagai tuan atas rumah tangga orang kaya
tersebut. Ia telah menempatkan dirinya bukan saja sebagai representasi atas
orang kaya tersebut tetapi telah “menjadi” orang kaya itu sendiri. Dengan
demikan dari kaca mata hermeneutika persoalannya bukanlah semata-mata
ketidakjujuran dari sang bendahara ini yang menjadi penting tetapi lebih
besar dari pada itu adalah sikapnya yang merasa sebagi tuan atas rumah
rumah tangga orang lain. Pada sisi ini persoalan utama yang muncul adalah
degradasi etika dan moral yang terdapat dalam diri sang bendahara tersebut.
Seluruh persoalan ketidakjujurannya bermuara dari hilangnya nilai-nilai etika
dan moral yang ada dalam dirinya. Dalam konteks ini persoalan etika dan
moral ini menyangkut dimensi arogansi kekuasaan yaitu sikap merasa diri
sebagai tuan di atas penderitaan orang lain.
Dimensi arogansi kekuasaan ini yang kemudian berkembang menjadi
sebuah tatanan yang korup dan cenderung melakukan penindasan terhadap
orang lain. Meskipun dalam cerita ini kemudian sang bendahara terlihat
sebagai seorang yang arif dan murah hati - dengan memberikan discount
bagi orang-orang yang berhutang (Luk 16:5-7) - namun sebenarnya hal itu
dilakukan tetap dalam konteks untuk kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini
nilai moral dan etika merupakan sebuah kamuflase kebaikan bagi diri sendiri.
Pada sisi ini kemudian arti korupsi tidak saja berarti mencari keuntungan
materi secara berlebihan (uang) tetapi lebih dari pada itu mencari keuntungan
moralitas-etis ditengah-tengah kebobrokan moral dan etis tersebut.
Majikannya - sang orang kaya - memang memuji dia. Tetapi pujian ini
adalah sebuah sindirian sinis terhadap usaha keras yang dilakukan oleh
bendahara tersebut ((Luk 16:8). Apa yang dilakukan oleh bendahara tersebut
tentu baik dalam konteks mencari keuntungan bagi diri sendiri yaitu bahwa
ia telah berusaha untuk menempatkan dan memperbaiki citranya sebagai sang
bedahara yang jujur. Paling tidak citra ini diharapkan akan muncul setelah ia
tidak lagi bekerja dengan orang kaya tersebut. Namun demikian pencitraan
terhadap nilai moralitas etis yang dibangun oleh sang bendahara yaitu sebagai
bendahara yang jujur telah memanipulasi nilai moral dan etis yang sebenarnya
dimilikinya yaitu korup dan penindas.
Korupsi dan Pertobatan 263
Kebijakan Anti Korupsi: Membangun Kembali Degradasi Moral Etis
Memahami teks di atas dalam konteks Indonesia merupakan hal yang
sangat penting artinya. Dalam kaitannya dengan ketidakjujuran agaknya hal
ini dapat langsung dikaitkan dengan persoalan korupsi di Indonesia yang
telah menjadi penyebab bagi hancurnya tatanan kebangsaan yang ada. Sejarah
telah mencatat bahwa salah satu persoalan bangsa yang paling berat dihadapi
oleh bangsa Indonesia – sejak era demokrasi parlementer hingga saat ini –
adalah masalah korupsi. Hal ini semakin “terlembaga” dengan baik khususnya
di era Orde Baru dimana realitas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),
telah menjadi hal wajar dalam seluruh sistem pemerintahan di Indonesia.
Hal ini tentu dapat disimpulkan dari hasil survei Indeks Persepsi Korupsi
yang dilakukan oleh Transperancy International - sampai pada tahun 2005 –
yaitu 2,2 IPK atau Indonesia berada dalam urutan ke 137 dari 157 negara
yang disurvei. Data ini tentunya masih sangat mencemaskan terhadap tatanan
kehidupan bangsa yang menuju pada proses demokrasi. Dengan kata lain
hendak dikatakan bahwa demokrasi tidak akan dapat berjalan dengan baik
manakala tatanan sosial kehidupan bangsa masih merupakan tatanan yang
korup. Hal yang paling terlihat jelas sebagai dampak dari tatanan yang korup
tersebut adalah terciptanya sebuah ruang yang semakin lebar atas nama
kesenjangan kaya miskin, dimana hal ini telah menjadi pemicu bagi
munculnya persoalan kecemburuan sosial di Indonesia. Tentu tidak pada
tempatnya untuk menganalisa persoalan korupsi dari kaca mata ekonomi
politik pada saat ini secara mendalam. Tetapi pertanyaan yang penting adalah
mengapa kita masih bergumul dengan persoalan korupsi yang cukup besar
pada era yang menganggung-agungkan keterbukaan atau transparansi?
Jawabannya tentu ada pada dimenasi moralitas etis yang harus dibangun
secara bersama-sama. Bangsa ini telah banyak kehilangan dimensi moral
etis yang mengedepankan nilai-nilai kerendahan hati. Arogansi kekuasaan
telah menjadi sebuah piramida terbalik dimana kekuasaan yang besar
menindas yang lebih kecil di bawahnya. Setiap kekuasan mulai dari tingkat
pusat telah membangun sebuah tatanan piramidal terbalik yaitu degradasi
moral etis dimana yang lebih berkuasa menindas yang ada di bawahnya,
demikian seterusnya. Setiap strata kekuasaan – mulai dari tingkat pusat sampai
daerah-daerah - telah menjadi tuan atas dirinya sendiri dan menjadi agen
264 Korupsi dan Pertobatan
penindasan bagi kehidupan masyarakat. Kalaupun terjadi kebaikan moral
etis dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan oleh sebuah sistem
pemerintahan di setiap strata kekuasaan maka – seperti sang bendahara yang
tidak jujur – hal ini lebih diperuntukan bagi berlangsungnya sebuah
kepentingan atas nama statas quo kekuasaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan
belajar dari pengalaman sejarah pembangunan nasional di Indonesia selama
masa Orde Baru. Munculnya konsep pembangunan yang berasumsi adanya
trickle down effect dari hasil pembangunan yang berorientasi pada
pertumbuhan kepada orang-orang miskin telah telah menjadi lahan subur
bagi pertumbuhan korupsi di Indonesia. Dimensi trickle down effect berbalik
menjadi trickle up effect yaitu penikmatan roti kekuasaan dan uang oleh
segelintir orang yang dekat dengan kekuasaan di Indonesia. Hal ini diperkuat
lagi dengan dimensi kolusi dan nepotisme yang telah menjadi tembok bagi
berkembangnya sebuah kreatifitas ekonomi yang kompepetitif bagi semua
elemen masyrakat. Ada pemeo “hanya orang yang dekat dengan kekuasaan
yang dapat proyek”. proyek-proyek pembangunan demi dan untuk masyarakat
dirasakan secara fisikal oleh masyarakat tetapi tidak memiliki korelasi yang
signifikan bagi perkembangan tatanan kemasyarakatan yang madani. Hal ini
terjadi karena pelaku pembangunan sebagian besar adalah para pemegang
kekuasaan dan sedikit sekali melibatkan peran serta masyarakat secara utuh.
Kecilnya keterlibatan di dalam pelaksanaan dan penikmatan hasi-hasil
pembangunan – pada sisi lain - telah menghasilkan hilangnya dimensi lokal
sebagai hasil dari “korupsi” kekuasaan pusat terhadap kepentingan
pembangunan di daerah.
Kondisi ini telah menjadi seperti sebuah jaringan yang saling berkaitan
satu dengan yang lainnya. Dimensi hirarkis dari pusat sampai ke daerah telah
menciptakan jaringan-jaringan yang demikian. Dampaknya tentu masih dapat
dilihat sampai saat ini. Kasus-kasus yang melibatkan hampir semua sistem
kekuasaan yang ada di Indonesia telah memperlihatkan masih kuatnya
jaringan kekuasan yang korup tersebut di Indonesia. Mulai dari pungutan
liar di sejumlah jalan hingga kasus korupsi di KPU dan jual beli keadilan di
Mahkamah Agung yang nota bene adalah benteng terakhir keadilan di
Indonesia. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa pemerintah telah
melakukan berbagai upaya dan kebijakan untuk melakukan pemberantas
Korupsi dan Pertobatan 265
korpsi tersebut, namun demikian kebijakan atau upaya apapun yang dilakukan
hanyalah sebuah sarana bagi proses pengurangan keinginan untuk melakukan
KKN di Indonesia. Seluruh persoalan ini sebenarnya terletak pada dimensi
moralitas etis yang harus ditanamkan dan dimiliki oleh setiap komponen
bangsa dan masyarakat. Moralitas etis itu terfokus pada kerendahan hati untuk
melakukan tugas dan tanggungjawab yang benar di hadapan masyarakat dan
terlebih lagi bagi Tuhan. Bahwa setiap pekerjaan adalah tanggungjawab yang
harus diemban untuk kesejahteraan umat manusia. Dan hal itu tidak dapat
dilakukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk lebih dari pada itu adalah
untuk kepentingan bersama.
Oleh sebab itu dimensi yang penting untuk dikedepankan bukanlah
semata-mata terletak pada kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh
pemerintah untuk menciptakan sebuah tatanan masayrakat dan kebijakan
yang anti korupsi. Tetapi lebih dari pada itu, adalah menciptakan sebuah
tatanan moralitas etis yang memberikan penyadaran terhadap pentingnya
sebuah kerendahanhati dan kejujuran. Dua kata ini telah lama hilang dalam
kosa kata sistem pemerintahan di Indonesia. Kerendahanhati berbicara
mengenai panggilan untuk bekerja bagi kehidupan masyarakat bangsa, dan
kejujuran adalah panggilan untuk berkeja secara sungguh-sungguh bagi
kepentingan semua orang. Pada sisi inilah kemudian pembicaraan mengenai
kebijakan anti korupsi tidak saja merupakan sebuah kebijakan yang bersifat
positifistik dengan hanya menghitung nilai-nilai dan angka-angka sematamata
tetapi sebuah kebijakan anti korupsi yang memiliki dimensi spiritualitas
yang rendah hati dan jujur. Sebuah dimensi post-positifistik yang kelihatnnya
bersifat abstrak tetapi sebanarnya tidak demikian. Hal ini terjadi karena
masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai
spiritualitas yang tinggi. Kita berharap pemerintahan saat ini dapat
menciptakan sebuah kebijakan anti korupsi yang di dasarkan pada nilai
spiritualitas moral etis atas nama kejujuran dan kerendahan hati bagi setiap
komponen birokrasi pemerintahan dan masyarakat dalam seluruh strata
kelembagaan. Inilah citra diri yang sesungguhnya yang harus dibangun saat
ini.
* Pendeta Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB)
266 Korupsi dan Pertobatan
semaraknya ibadah tidak sebanding dengan meningkatnya mutu moral dan
etika umat. Apa yang disampaikan oleh pemimpin agama dari atas mimbar,
tidak mempu membentuk sikap moral etis religius yang benar. Semuanya
masih terbatas pada tataran wacana, belum diaplikasikan dalam tindakan
nyata. Ironis. Di dalam maupun di luar gedung ibadah, masih banyak umat
yang memakai topeng kehidupan. Hidup dalam kepura-puraan. Hidup dalam
kesalehan yang semu. Mungkin hukuman yang dijatuhkan terhadap para
koruptor masih terlalu ringan. Seandainya diterapkan seperti hukum di Israel,
contohnya dalam Keluaran 22:1 “Apabila seseorang mencuri seekor lembu
atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus
membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu, dan empat ekor
domba ganti domba itu”. Mengganti lima kali atau empat kali lipat dari apa
yang diambilnya, bisa membuat orang takut melakukan hal tersebut.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira kita semua pasti ingin
masuk Sorga. Tapi ingat, bukan setiap orang yang berseru Tuhan-Tuhan yang
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Tidak! Tapi mereka yang melakukan
kehendak Allah. Hanya yang melakukan kehendak Allah yang akan masuk
ke Sorga. Itu berarti yang mewarisi Kerajaan Sorga adalah orang-orang yang
melakukan kebenaran, kejujuran, keadilan dan tidak mempraktekkan
penyelewengan. Termasuk di dalamnya orang-orang yang tidak berbuat kolusi,
korupsi dan nepotisme. Bisakah semua itu kita lakukan? Dengan pertolongan
dan pimpinan Roh Kudus, kita dimampukan melakukan apa yang dikehendaki
Allah. Amin.-
*. Pendeta GKE di Jemaat Sakatik, di Palangkaraya Pendeta GKE di Jemaat Sakatik, di
Palangkaraya
Korupsi dan Pertobatan 261
T u j u h
MEMBANGUN KEMBALI KERENDAHAN HATI
DAN KEJUJURAN
Lukas 16:1-9
(Pdt. Victorius Hamel, S.Th., M.Si)*
Pengantar Teks
Bacaan dari Lukas 16:1-9 merupakan sebuah cerita mengenai seorang
bendahara yang tidak jujur. Hal ini sesuai dengan judul yang diberikan oleh
Alkitab LAI yaitu “Perumpamaan tentang Bendahara yang tidak jujur”.
Namun demikian Alkitab bahasa Inggris terjemahan NIV menterjemahkan
kata bendahara dengan kata manager sedangkan Alkitab bahasa Inggris KJV
menterjemahkannya dengan kata steward. Keduanya diterjemahkan dari kata
dalam bahasa Yunanai oikosnomos yang dapat juga diartikan manager,
steward atau treasurer (bendahara). Dari ketiga perbandingan kata tersebut
tampak dengan jelas bahwa kata oikosnomos tersebut sebenarnya
mengandung pengertian yang lebih dalam dari sekedar persoalan
perbendaharaan. Kata ini juga mengandung makna yang bersifat managerial
tetapi sekaligus juga tanggungjawab di dalam pelayananannya (stewardship).
Jadi orang yang berada dalam posisi ini merupakan seorang yang memiliki
tanggungjawab yang besar karena di dalamnya tidak saja mengatur hal-hal
yang bersifat struktural-organisasional (manager) tetapi juga mengatur dan
menata nilai-nilai etis normatif (dalam konteks penataan pelayanan –
stewardship).
Bendahara yang tidak jujur seperti cerita di atas adalah seorang yang
berada dalam posisi strategis tersebut. Ia diberikan keleluasaan untuk menata
tidak saja persoalan perbendaharaan tetapi juga menyangkut seluruh aspek
kehidupan kerumahtanggaan dari orang kaya tersebut (aspek strukturalorganisasional)
yang semuanya dirangkum dalam sebuah pelayanan yang
meyeluruh (stewardship). Ia merupakan representasi dari orang kaya tersebut
di dalam setiap urusan-urusan yang berkaitan dengan bisnis dan pekerjaan
ataupun pengaturan dalam kehidupan kerumahtanggaan sang orang kaya.
262 Korupsi dan Pertobatan
Pada akhirnya, dalam cerita tersebut, kepercayaan yang besar dari orang orang
kaya ini memberi ruang gerak yang besar pula bagi bendahara ini untuk
mengekespresikan sikapnya sebagai tuan atas rumah tangga orang kaya
tersebut. Ia telah menempatkan dirinya bukan saja sebagai representasi atas
orang kaya tersebut tetapi telah “menjadi” orang kaya itu sendiri. Dengan
demikan dari kaca mata hermeneutika persoalannya bukanlah semata-mata
ketidakjujuran dari sang bendahara ini yang menjadi penting tetapi lebih
besar dari pada itu adalah sikapnya yang merasa sebagi tuan atas rumah
rumah tangga orang lain. Pada sisi ini persoalan utama yang muncul adalah
degradasi etika dan moral yang terdapat dalam diri sang bendahara tersebut.
Seluruh persoalan ketidakjujurannya bermuara dari hilangnya nilai-nilai etika
dan moral yang ada dalam dirinya. Dalam konteks ini persoalan etika dan
moral ini menyangkut dimensi arogansi kekuasaan yaitu sikap merasa diri
sebagai tuan di atas penderitaan orang lain.
Dimensi arogansi kekuasaan ini yang kemudian berkembang menjadi
sebuah tatanan yang korup dan cenderung melakukan penindasan terhadap
orang lain. Meskipun dalam cerita ini kemudian sang bendahara terlihat
sebagai seorang yang arif dan murah hati - dengan memberikan discount
bagi orang-orang yang berhutang (Luk 16:5-7) - namun sebenarnya hal itu
dilakukan tetap dalam konteks untuk kepentingan diri sendiri. Dalam hal ini
nilai moral dan etika merupakan sebuah kamuflase kebaikan bagi diri sendiri.
Pada sisi ini kemudian arti korupsi tidak saja berarti mencari keuntungan
materi secara berlebihan (uang) tetapi lebih dari pada itu mencari keuntungan
moralitas-etis ditengah-tengah kebobrokan moral dan etis tersebut.
Majikannya - sang orang kaya - memang memuji dia. Tetapi pujian ini
adalah sebuah sindirian sinis terhadap usaha keras yang dilakukan oleh
bendahara tersebut ((Luk 16:8). Apa yang dilakukan oleh bendahara tersebut
tentu baik dalam konteks mencari keuntungan bagi diri sendiri yaitu bahwa
ia telah berusaha untuk menempatkan dan memperbaiki citranya sebagai sang
bedahara yang jujur. Paling tidak citra ini diharapkan akan muncul setelah ia
tidak lagi bekerja dengan orang kaya tersebut. Namun demikian pencitraan
terhadap nilai moralitas etis yang dibangun oleh sang bendahara yaitu sebagai
bendahara yang jujur telah memanipulasi nilai moral dan etis yang sebenarnya
dimilikinya yaitu korup dan penindas.
Korupsi dan Pertobatan 263
Kebijakan Anti Korupsi: Membangun Kembali Degradasi Moral Etis
Memahami teks di atas dalam konteks Indonesia merupakan hal yang
sangat penting artinya. Dalam kaitannya dengan ketidakjujuran agaknya hal
ini dapat langsung dikaitkan dengan persoalan korupsi di Indonesia yang
telah menjadi penyebab bagi hancurnya tatanan kebangsaan yang ada. Sejarah
telah mencatat bahwa salah satu persoalan bangsa yang paling berat dihadapi
oleh bangsa Indonesia – sejak era demokrasi parlementer hingga saat ini –
adalah masalah korupsi. Hal ini semakin “terlembaga” dengan baik khususnya
di era Orde Baru dimana realitas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme),
telah menjadi hal wajar dalam seluruh sistem pemerintahan di Indonesia.
Hal ini tentu dapat disimpulkan dari hasil survei Indeks Persepsi Korupsi
yang dilakukan oleh Transperancy International - sampai pada tahun 2005 –
yaitu 2,2 IPK atau Indonesia berada dalam urutan ke 137 dari 157 negara
yang disurvei. Data ini tentunya masih sangat mencemaskan terhadap tatanan
kehidupan bangsa yang menuju pada proses demokrasi. Dengan kata lain
hendak dikatakan bahwa demokrasi tidak akan dapat berjalan dengan baik
manakala tatanan sosial kehidupan bangsa masih merupakan tatanan yang
korup. Hal yang paling terlihat jelas sebagai dampak dari tatanan yang korup
tersebut adalah terciptanya sebuah ruang yang semakin lebar atas nama
kesenjangan kaya miskin, dimana hal ini telah menjadi pemicu bagi
munculnya persoalan kecemburuan sosial di Indonesia. Tentu tidak pada
tempatnya untuk menganalisa persoalan korupsi dari kaca mata ekonomi
politik pada saat ini secara mendalam. Tetapi pertanyaan yang penting adalah
mengapa kita masih bergumul dengan persoalan korupsi yang cukup besar
pada era yang menganggung-agungkan keterbukaan atau transparansi?
Jawabannya tentu ada pada dimenasi moralitas etis yang harus dibangun
secara bersama-sama. Bangsa ini telah banyak kehilangan dimensi moral
etis yang mengedepankan nilai-nilai kerendahan hati. Arogansi kekuasaan
telah menjadi sebuah piramida terbalik dimana kekuasaan yang besar
menindas yang lebih kecil di bawahnya. Setiap kekuasan mulai dari tingkat
pusat telah membangun sebuah tatanan piramidal terbalik yaitu degradasi
moral etis dimana yang lebih berkuasa menindas yang ada di bawahnya,
demikian seterusnya. Setiap strata kekuasaan – mulai dari tingkat pusat sampai
daerah-daerah - telah menjadi tuan atas dirinya sendiri dan menjadi agen
264 Korupsi dan Pertobatan
penindasan bagi kehidupan masyarakat. Kalaupun terjadi kebaikan moral
etis dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan oleh sebuah sistem
pemerintahan di setiap strata kekuasaan maka – seperti sang bendahara yang
tidak jujur – hal ini lebih diperuntukan bagi berlangsungnya sebuah
kepentingan atas nama statas quo kekuasaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan
belajar dari pengalaman sejarah pembangunan nasional di Indonesia selama
masa Orde Baru. Munculnya konsep pembangunan yang berasumsi adanya
trickle down effect dari hasil pembangunan yang berorientasi pada
pertumbuhan kepada orang-orang miskin telah telah menjadi lahan subur
bagi pertumbuhan korupsi di Indonesia. Dimensi trickle down effect berbalik
menjadi trickle up effect yaitu penikmatan roti kekuasaan dan uang oleh
segelintir orang yang dekat dengan kekuasaan di Indonesia. Hal ini diperkuat
lagi dengan dimensi kolusi dan nepotisme yang telah menjadi tembok bagi
berkembangnya sebuah kreatifitas ekonomi yang kompepetitif bagi semua
elemen masyrakat. Ada pemeo “hanya orang yang dekat dengan kekuasaan
yang dapat proyek”. proyek-proyek pembangunan demi dan untuk masyarakat
dirasakan secara fisikal oleh masyarakat tetapi tidak memiliki korelasi yang
signifikan bagi perkembangan tatanan kemasyarakatan yang madani. Hal ini
terjadi karena pelaku pembangunan sebagian besar adalah para pemegang
kekuasaan dan sedikit sekali melibatkan peran serta masyarakat secara utuh.
Kecilnya keterlibatan di dalam pelaksanaan dan penikmatan hasi-hasil
pembangunan – pada sisi lain - telah menghasilkan hilangnya dimensi lokal
sebagai hasil dari “korupsi” kekuasaan pusat terhadap kepentingan
pembangunan di daerah.
Kondisi ini telah menjadi seperti sebuah jaringan yang saling berkaitan
satu dengan yang lainnya. Dimensi hirarkis dari pusat sampai ke daerah telah
menciptakan jaringan-jaringan yang demikian. Dampaknya tentu masih dapat
dilihat sampai saat ini. Kasus-kasus yang melibatkan hampir semua sistem
kekuasaan yang ada di Indonesia telah memperlihatkan masih kuatnya
jaringan kekuasan yang korup tersebut di Indonesia. Mulai dari pungutan
liar di sejumlah jalan hingga kasus korupsi di KPU dan jual beli keadilan di
Mahkamah Agung yang nota bene adalah benteng terakhir keadilan di
Indonesia. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa pemerintah telah
melakukan berbagai upaya dan kebijakan untuk melakukan pemberantas
Korupsi dan Pertobatan 265
korpsi tersebut, namun demikian kebijakan atau upaya apapun yang dilakukan
hanyalah sebuah sarana bagi proses pengurangan keinginan untuk melakukan
KKN di Indonesia. Seluruh persoalan ini sebenarnya terletak pada dimensi
moralitas etis yang harus ditanamkan dan dimiliki oleh setiap komponen
bangsa dan masyarakat. Moralitas etis itu terfokus pada kerendahan hati untuk
melakukan tugas dan tanggungjawab yang benar di hadapan masyarakat dan
terlebih lagi bagi Tuhan. Bahwa setiap pekerjaan adalah tanggungjawab yang
harus diemban untuk kesejahteraan umat manusia. Dan hal itu tidak dapat
dilakukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk lebih dari pada itu adalah
untuk kepentingan bersama.
Oleh sebab itu dimensi yang penting untuk dikedepankan bukanlah
semata-mata terletak pada kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh
pemerintah untuk menciptakan sebuah tatanan masayrakat dan kebijakan
yang anti korupsi. Tetapi lebih dari pada itu, adalah menciptakan sebuah
tatanan moralitas etis yang memberikan penyadaran terhadap pentingnya
sebuah kerendahanhati dan kejujuran. Dua kata ini telah lama hilang dalam
kosa kata sistem pemerintahan di Indonesia. Kerendahanhati berbicara
mengenai panggilan untuk bekerja bagi kehidupan masyarakat bangsa, dan
kejujuran adalah panggilan untuk berkeja secara sungguh-sungguh bagi
kepentingan semua orang. Pada sisi inilah kemudian pembicaraan mengenai
kebijakan anti korupsi tidak saja merupakan sebuah kebijakan yang bersifat
positifistik dengan hanya menghitung nilai-nilai dan angka-angka sematamata
tetapi sebuah kebijakan anti korupsi yang memiliki dimensi spiritualitas
yang rendah hati dan jujur. Sebuah dimensi post-positifistik yang kelihatnnya
bersifat abstrak tetapi sebanarnya tidak demikian. Hal ini terjadi karena
masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai
spiritualitas yang tinggi. Kita berharap pemerintahan saat ini dapat
menciptakan sebuah kebijakan anti korupsi yang di dasarkan pada nilai
spiritualitas moral etis atas nama kejujuran dan kerendahan hati bagi setiap
komponen birokrasi pemerintahan dan masyarakat dalam seluruh strata
kelembagaan. Inilah citra diri yang sesungguhnya yang harus dibangun saat
ini.
* Pendeta Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB)
266 Korupsi dan Pertobatan
DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI
BADAN INFORMASI PUBLIK
JAKARTA 2005